Home > INTISARI > Berburu Obat Cina di Jakarta [intisari]

Berburu Obat Cina di Jakarta [intisari]

Berburu Obat Cina di Jakarta

Pemakai obat tradisional Cina kini bukan monopoli warga keturunan Tionghoa saja. Mereka yang tidak mengerti arti kata “ciamik” pun banyak yang menggunakannya. Belakangan, sentra tokonya tidak hanya ada di Jakarta, tapi telah menyebar ke hampir semua kota besar di Indonesia.

Di Jakarta, sentra perdagangan obat cina berada di “China Town”, Jalan Pancoran, Jakarta Barat (dekat pusat perdagangan Glodok; bukan Jalan Pancoran, Jakarta Selatan). Dari jalan raya, toko-toko ini nyaris tidak kelihataan karena tertutup oleh pedagang kali lima yang memenuhi hampir seluruh hasta tempat kosong.

Kawasan Pancoran merupakan sentra toko obat cina terlengkap dan tertua. “Toko ini berdiri tahun 1933, sebelum saya lahir,” kata Acin, karyawan toko Ban Seng, di Jalan Pancoran. “Semua obat di sini didatangkan dari Cina,” tambahnya.

Di tempat ini tersedia obat tradisional untuk nyaris segala macam gangguan kesehatan, mulai dari penyakit kulit, kurang darah, seriawan, mag, tifus, hepatitis, kolesterol, hingga gangguan jantung dan stroke. “Tapi ya cocok-cocokan,” imbuh Acin.

Pembelinya tak cuma warga Jakarta, tetapi juga lain kota. “Saya jauh-jauh ke sini cuma untuk nyari obat ini, Mas!” kata Rusdi, warga Cikarang sambil menujukkan kemasan obat cina yang namanya pun ia kesulitan mengeja. Bahkan Acin menuturkan, tak jarang ia menerima pembeli dari lain provinsi. “Ada juga yang datang dari Surabaya,” ujarnya. Padahal, di Surabaya pun sudah ada sentra toko obat cina di Jalan Jagalan.

Kecuali Minggu, Setiap hari kawasan ini selalu ramai oleh pembeli. Perilaku jual-beli di tempat ini sangat unik dan beragam. Sebagian pembeli bercas-cis-cus dengan penjual dalam bahasa Mandarin. Bagi yang tidak mudeng bahasa Mandarin, semuanya terdengar seperti dialog film-film kungfu yang belum disulih suara.

Sebagian lagi datang membawa wadah sisa obat yang sudah habis sambil bertanya, “Ada ini, Koh?” Sebagian yang lain, hanya membawa guntingan kemasan luarnya. Ada pula yang cukup berbekal sobekan kertas kecil bertuliskan nama merek obat yang dicari. Sebagian lainnya dengan pede hanya bilang, “Obat yang biasanya!”, tanpa peduli apakah si penjual masih ingat dengan wajahnya atau tidak.

Malah ada pula yang datang dengan cool, hanya menunjukkan selembar resep dalam bahasa mandarin tanpa bicara sepatah kata pun. Yang unik, resep itu tertulis di atas kertas tebal yang dilaminating seperti ijazah. Rupanya ia sudah lama berlangganan dan menebus resep itu berulang kali.

Sebetulnya, toko obat cina di Jakarta bukan hanya di Jalan Pancoran, tapi juga di pasar dan pusat-pusat perdagangan lain. Umumnya, terkonsentrasi di wilayah Jakarta Barat dan Jakarta Utara, misalnya Muara Karang, Kelapa Gading, dan Pluit. Namun demikian, ada juga satu dua di wilayah lain, misalnya Jalan Pramuka, Jatinegara, Pasar Baru, hingga di Pasar Senen.

“Tapi kalau soal obat ramuan, di sini memang pusatnya. Toko-toko di tempat lain biasanya hanya menjual obat bermerek. Padahal resep dari sinse-sinse itu biasanya racikan, bukan obat bermerek,” terang Acin. Tidak berlebihan, memang. Sampai saat ini, Pancoran-Glodok merupakan “rujukan nasional” dalam urusan obat cina, baik ramuan tradisional maupun obat bermerek.

Di sini, sebagian toko hanya menjual obat, sebagian lainnya menjalankan fungsi ganda. Selain menjual obat, juga menyediakan layanan sinse. Persis seperti layanan satu atap praktik dokter sekaligus apotek.

Banyak Dipalsu

Di antara obat-obat tradisional Cina bermerek, Pien Tze Huang, Angong Niuhuang Wan, dan Yunnan Baiyao merupakan the three musketeers obat cina yang paling banyak dicari. Di kalangan mereka ada pameo,”Belum dianggap toko obat cina beneran jika tidak menyediakan tiga macam obat ini”.

Berdasarkan indikasi dari produsennya, Pien Tze Huang diklaim bisa memperlancar sirkulasi darah, mengatasi radang, menyembuhkan hepatitis, mempercepat penyembuhan luka pascaoperasi, hingga mengobati demam berdarah. Dalam praktik, obat ini paling banyak dipakai oleh ibu-ibu setelah menjalani operasi cesar.

Sedangkan Angong Niuhuang Wan dipercaya bisa merangsang kesadaran pada penderita serangan stroke. Sementara Yunnan Baiyao diyakini bisa menghentikan berbagai macam perdarahan.

Meskipun harganya relatif mahal, Pien Tze Huang tetap saja laris manis. Harga satu tablet dipatok Rp 155 ribu. Kepopulerannya pun tak surut meski sebagian kalangan dokter berkeberatan pasiennya minum obat ini. Saking ngetopnya, obat ini sekarang juga bisa didapatkan di ritel-ritel farmasi macam Century Healthcare dan Boston Drugs Pharmacy.

Selain laris, obat ini juga sering membingungkan pembeli. Namanya memang satu: Pien Tze Huang. Tapi di toko-toko obat cina, pembeli bisa mendapati banyak versi. Selain versi bajakan, banyak juga yang bukan bajakan, tetapi lain produsen. Seolah-olah nama Pien Tze Huang adalah nama generik.

“Kami tidak bisa bilang yang lain palsu, tapi kami hanya menjual Pien Tze Huang buatan Zhang Zhou,” aku Acin. Yang ia maksud adalah Zhang Zhou Pien Tze Huang Pharmaceutical Co., Ltd, Cina. Di Indonesia, obat ini didistribusikan oleh agen tunggalnya, PT Saras Subur Ayoe.

Bukan konsumen saja yang bisa keliru. Acin pun mengaku kadang sulit membedakan yang asli dan plasu. Untuk mencegah kekeliruan, saat menjual ke pembeli, ia harus membuka tabet dari kemasannya. Dengan begitu, ia bisa mengenali tabletnya dalam keadaan telanjang. “Kami sudah kenal betul dengan bentuknya,” tutur Acin.

Masalah pemalsuan bukan hanya membuat pusing pembeli dan penjual. Distributor pun dibuat pening. “Kami yang sudah puluhan tahun berkecimpung di sini saja kadang masih sulit membedakan Pien Tze Huang yang asli dan yang palsu. Jadi, kami mesti buka kemasannya dulu,” papar Ida Binyanti, Sales and Marketing Managing Director PT Saras Subur Ayoe. “Dulu kemasannya kan masih jelek, sehingga gampang ditiru. Tapi sekarang kami sudah pakai stiker hologram laser. Sudah pakai stiker pun masih dipalsu juga! Karena kami enggak bisa mengawasi, maka kami hanya bisa bikin brosur: Ini lo yang asli!” tambahnya.

Saat membeli, umumnya konsumen akan minta tablet ini sekalian digerus dan dibagi menjadi enam kapsul. Karena aturan pakainya dua kali sehari, enam kapsul ini bisa menjadi tiga hari. “Lama pemakaian tergantung keperluan. Kalau lukanya udah kering, ya udah,” tambah Acin.

Dicampur Obat Kimia

Meski Badan Pemeriksaan Obat dan Makanan (BPOM) telah berusaha menertibkan, namun kenyataannya masih banyak obat-obat cina beredar tanpa nomor registrasi. Ruwetnya lagi, obat-obat ini hanya mencantumkan tulisan cina, sehingga sulit ditelusuri kandungannya. “Persoalan bahasa memang masih menjadi kendala dalam pemasyarakatan obat cina di Indonesia. Soalnya, kalau cuma tulisan cina, siapa yang ngerti?” ujar Ida.

Karena itulah Saras Subur Ayoe kemudian minta kepada produsen di Cina untuk meyertakan tulisan bahasa Indonesia dalam etiketnya. “Paling tidak, ada bahasa Inggrisnya-lah,” ujarnya.

Setelah pemerintah menerapkan Undang-undang Perlindungan Konsumen, kini semua produk obat cina yang punya nomor registrasi, mau tak mau harus menyertakan etiket dalam bahasa Indonesia. Sebagian ada yang sudah dicetak dalam kemasan, sebagian lagi berhemat, hanya menempelkan stiker di atas tulisan cina, di kemasan aslinya.

Selain masalah registrasi, problem laten obat cina hingga sekarang adalah pencampuran obat tradisional dengan bahan aktif kimia sintetis. Banyak yang mengklaim seratus persen alami, namun ternyata dicampur obat kimia. Susahnya lagi, konsumen masih banyak yang telanjur fanatik. Sebagai gambaran, sampai sekarang pun masih banyak pembeli yang datang ke toko obat cina mencari Ancom.

Sekadar mengingatkan, Ancom adalah obat tekanan darah tinggi yang terkenal murah sangat. Harga perbotol hanya Rp 8 ribu. Isinya 100 tablet. Oleh Departemen Kesehatan obat ini dilarang beredar karena mengandung Diazepam, obat kimia yang termasuk kelas psikotropika. “Kami sudah enggak menjual. Labanya enggak seberapa, tapi risikonya besar. Karena itu kami hanya jual yang ada Depkes-nya,” aku Acin.

Di kalangan mereka, minum obat dokter berbarengan dengan obat cina bukanlah sebuah pantangan. “Asalkan diberi jarak dua jam. Soalnya obat tradisional dan obat kimia kan beda,” ucap Acin. Dalam keyakinan mereka, efek sampingan obat-obat tradisional Cina ini lebih sedikit daripada obat-obat kimia.

“Kalau obat kimia, begitu diminum, sakitnya kan langsung ilang tuh. Tapi kalau obat tradisonal, enggak bisa. Harus rutin, baru terasa khasiatnya. Makanya kalau ada obat tradisional, begitu diminum langsung sakitnya ilang, kita harus curiga jangan-jangan itu udah dicampur obat kimia,” terangnya. Tip yang sederhana, tapi bisa kita praktikkan.

Permasalahan ini jadi semakin ruwet karena ada perbedaan aturan di Cina dan di Indonesia. Di Cina, obat tradisional lazim dicampur obat kimia, asalkan disebutkan secara jelas di kemasannya. Namun di Indonesia, jika obat kimia dicampurkan ke dalam obat tradisional, maka registrasinya tidak lagi mengikuti aturan registrasi obat tradisional. Tujuannya jelas, untuk mencegah pemakaian obat kimia dalam jangka panjang.

Meski sebagian kalangan melihat obat cina kini sedang naik daun, tapi Ida Binyanti berpendapat lain, “Penjualan obat cina masih lambat, karena kita masih kurang komunikasi.” Selama ini pemasaran obat cina lebih banyak berdasarkan mekanisme tutur-tinular. “Kami sangat jarang pasang iklan. Soalnya, kita kan cuma distributor.”

Akhirnya, begitulah: tak kenal obat cina, maka tak sayang! Tak tahu yang palsu, bisa keliru!

Boks:

Tip mengonsumsi obat cina: (dari dr. Kiswojo, Sp.Akp. konsultan PT Saras Subur Ayoe)

  • Konsumsi obat cina sesuai kebutuhan
  • Gunakan sesuai dengan petunjuk pemakaian
  • Jangan mudah percaya dengan obat yang mempunyai banyak indikasi. Semakin banyak indikasi, semakin meragukan
  • Gunakan pedoman umum: Jika sudah menggunakan obat dokter, obat tradisonal cina tidak perlu dikonsumsi. Begitu pula sebaliknya. Tapi jika keduanya dianggap saling menunjang, beri jeda waktu antara keduanya 30 – 60 menit.

Untuk mencegah pemakaian obat palsu:

  • Periksa logo distributor di kemasannya
  • Pastikan membeli obat yang punya nomor registrasi dari Badan POM
  • Datangi beberapa toko obat tradisional cina sebagai perbandingan
  • Jangan membeli obat yang sama, dengan harga yang jauh lebih murah. Sebab, umumnya harga obat palsu jauh lebih murah dari yang asli
About these ads
  1. July 15, 2005 at 6:10 am | #1

    saya lagi minum obat yunan baiyao,mudah2an sih luka diusus bisa sembuh nih.

  2. July 15, 2005 at 6:10 am | #2

    mba… aku merry… tinggalnya aku di jakarta utara…aku pengen beli obat jerawat neo medrol, tapi di daerahku udah gak ada yang jual lagi… setelah aku searching di internet, ternyata aku baru tau pasar pramuka… tapi sayangnya aku ga tau cara menuju kesananya…Hem,,,, boleh minta tolong kalo mba kesana lagi, aku mau titip obatnya..nanti pembayaranya aku tranfer melalui ATM BCA…tolong email ke saya, taipid@yahoo.comThanks!Smoga ortu emba cepet sembuhGBU =)

  3. July 15, 2005 at 6:10 am | #3

    Ibu aku kena KANKER RAHIM, teman-teman ada saran tidak yah obat cina apa yang paling tepat untuk pengobatan ibu saya. karena selain kena kanker ibu saya sering pendarahan seperti Menstruasi. Kirim ke Email akau yah sarannya di “irsalputra@yahoo.co.id” terima kasih

  4. July 15, 2005 at 6:10 am | #4

    saya ingin tanya apa benar obat grow up pill for girls produksi hainan phoenix international pharmaceutical co,Ltd didistributor oleh PT.SARAS SUBUR AYOE? karena saya membeli obat tersebut dengan harga 53.000 rupiah. kirim ke email aku ke dheva24_des@yahoo.com

  5. July 15, 2005 at 6:10 am | #5

    angong niuhang wan memang maknyus. pernah dokter syaraf saya sampe bingung kok bisa sembuh dengan cepat dari stroke. biasanya kalau kena stroke kan pemulihannya lambat. skr rutin mengkomsumsi obat ini. tp karena harganya mahal sekitar 300ribuan per butir maka dibatasi setiap 3 bulan sekali.

  6. July 15, 2005 at 6:10 am | #6

    obat cina untuk ngecilin perut apa ya…??

  7. July 15, 2005 at 6:10 am | #7

    saya mau tau no telepon PT Saras Subur Ayoe. apa bs ?

  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.