Home > Uncategorized > Yang Bisa Dicuri Tak Hanya Batik [intisari]

Yang Bisa Dicuri Tak Hanya Batik [intisari]

Penulis: M. Sholekhudin

Beberapa bulan yang lalu kita ribut menuduh Malaysia memanfaatkan kekayaan budaya Indonesia untuk tujuan komersial. Mulai dari batik tulis, angklung, reog ponorogo, sampai lagu <i>Rasa Sayange</i>. Tak semua orang sadar bahwa sebetulnya yang bisa “dicuri” tidak hanya kekayaan budaya. Sumber daya genetika Indonesia pun bisa saja dimanfaatkan pihak asing. Jika ini sampai terjadi, Indonesia bisa sangat tergantung kepada negara lain.

Salah satu sumber daya genetika yang bisa saja dicuri itu adalah virus. Virus? Kelihatannya janggal memang. Tapi sistem ekonomi dunia memang memungkinkan virus menjadi ladang bisnis yang berpotensi merugikan negara kita. Jika tidak, tentu November 2007 yang lalu, Menteri Kesehatan Siti Fadilah Supari tak akan menuntut Badan Kesehatan Dunia WHO untuk mengembalikan sampel virus flu burung yang berasal dari Indonesia.

Seperti kita tahu, sampel-sampel virus ini dikirim oleh Indonesia sejak ditemukan kasusnya dua tahun yang lalu. Karena Indonesia belum mampu melakukan pemeriksaan sendiri, maka setiap kali ditemukan kasus flu burung, virusnya dikirimkan laboratorium rujukan WHO di Hongkong. Pengiriman ini semata-mata untuk tujuan penelitian. Waktu pengiriman, tak ada perjanjian apa-apa, termasuk Material Transfer Agreement (MTA, perjanjian yang mengatur hak dan kewajiban kedua pihak).

Belakangan, karena khawatir virus itu digunakan untuk tujuan komersial, Indonesia kemudian menuntut sampel itu dikembalikan. Sejak itu juga Indonesia kemudian memutuskan untuk menyetop pengiriman sampel virus flu burung. Yang dikhawatirkan, virus itu diberikan kepada perusahaan farmasi negara maju untuk tujuan pembuatan vaksin tanpa sepengetahuan Indonesia. Lalu ketika vaksin sudah diproduksi, Indonesia hanya bisa menjadi pembeli yang tak punya hak apa-apa. Kekhawatiran ini memang belum sampai menjadi kenyataan. Tapi jika tidak dicegah sejak dini, peluang itu bisa saja terjadi.

Jika ini sampai terjadi, masalahnya bisa serius. Jauh lebih serius daripada pemanfaatan lagu <i>Rasa Sayange</i> untuk pariwisata Malaysia. Indonesia bisa menjadi sangat tergantung pada produsen vaksin itu. Apalagi ini menyangkut penyakit yang bisa menjadi wabah berbahaya bagi 200 juta lebih penduduk Indonesia.

<b>Perang informasi genetika</b>

Kasus virus flu burung hanya salah satu contoh kemungkinan pencurian sumber daya genetika. Contoh lain yang juga bisa saja terjadi adalah sel induk. Beberapa tahun belakangan ini, terapi sel induk mengalami perkembangan yang revolusioner. Teknik ini diyakini bisa menjadi terapi masa depan dari aneka macam penyakit yang hingga kini masih belum bisa diobati.

Karena prospeknya yang cerah, negara-negara maju berlomba melakukan penelitian. Rumah-rumah sakit modern menawarkan jasa terapi ini. Sebagian lainnya menawarkan jasa penyimpanan sel induk dari darah tali pusar. Di Indonesia, jasa ini banyak ditawarkan oleh perusahaan-perusahaan asing lewat agen-agen mereka di sini.

Bentuk jasa yang ditawarkan, orangtua (yang punya duit banyak) bisa menyimpan darah tali pusar bayinya di negara penyimpan. Tiap bulan mereka cukup membayar biaya penyimpanan. Jika nanti si bayi sudah besar dan membutuhkan sel induk, misalnya untuk mengobati penyakit yang diderita, pemiliknya tinggal mengambil simpanan sel induknya di bank darah tali pusar tadi.

Bagi masyarakat awam, urusan penyimpanan darah tali pusar barangkali tak lebih dari urusan uang. Asal seseorang mampu membayar, tak ada masalah yang perlu dikhawatirkan. Apalagi manfaat darah tali pusar ini sudah terbukti dan tidak diragukan lagi.

Tapi Prof. Dr. dr. Amin Soebandrio, Sp.MK, staf ahli Bidang Teknologi Pangan dan Kesehatan Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) punya pandangan lain. Menurutnya, sekalipun masalahnya tampak sederhana, penyimpanan darah tali pusar di negara lain berpotensi membuat kita tergantung kepada negara penyimpan. Ini bukan hanya perkara duit tapi juga perkara manusia Indonesia secara keseluruhan.

Sel induk di darah tali pusar menyimpan informasi genetika paling komplet. Sel ini bisa ditumbuhkan menjadi sel ginjal, jantung, liver, otak, dan organ-organ tubuh lainnya. Di dalamnya terkandung informasi genetika si pemiliknya secara lengkap, mulai dari A sampai Z. Artinya, semakin banyak orang Indonesia menyimpan sel induknya di negara lain, maka semakin besar kemungkinan negara itu menguasai informasi genetika manusia Indonesia. Pada gilirannya, pihak yang menguasai informasi akan mampu membuat negara lain tergantung kepadanya. Persis seperti hukum persaingan di dunia modern.

“Tapi ini sedikit suuzan (berburuk sangka),” kata Amin sambil tertawa. Ia menegaskan ini karena memang hingga sekarang tidak ada indikasi sekecil apa pun pihak penyimpan sel induk melakukan penelitian semacam ini. Yang dikhawatirkan oleh Amin adalah kemungkinan dan potensi ke arah sana di masa depan. Yang terjadi sekarang, pihak penyimpan darah tali pusar itu menawarkan jasa penyimpanan secara sah. Sama sekali tak ada hukum dilanggar. Apalagi sel darah tali pusar itu juga jelas manfaatnya.

Namun, kata Amin, yang perlu diwaspadai adalah kemungkinan sel itu menjadi bahan penelitian tanpa sepengetahuan pemiliknya. Jika misalnya (sekali lagi misalnya) itu terjadi, maka informasi genetika itu bisa saja dimanfaatkan untuk tujuan komersial lainnya. Misalnya, informasi itu digunakan untuk mengembangkan obat atau terapi yang spesifik untuk masyarakat Indonesia. Lalu pada gilirannya, ini bisa membuat kita semakin tergantung kepada negara lain. “Tapi sekali lagi ini suuzan,” katanya sekali lagi. Lagi-lagi dengan tertawa.

<b>Bisa menjadi senjata</b>

Amin menambahkan, kemungkinan lebih jauh bisa saja terjadi jika (andai kata) orang semacam Hitler hidup lagi. Di tanga
n ilmuwan yang fasis, informasi genetika bisa digunakan sebagai senjata yang sangat berbahaya. Dengan rekayasa teknologi, informasi genetika itu bisa saja digunakan untuk mengembangkan senjata biologis. Misalnya, dengan mengembangkan sebuah virus atau bakteri yang bekerja selektif. Mikroba ini hanya menyerang suatu populasi tertentu dan tidak berbahaya bagi populasi lainnya.

Dengan kecanggihan teknologi molekuler zaman sekarang, ini bukan sebuah andai-andai yang hanya ada di dalam film Hollywood. Semua mungkin saja dilakukan sekalipun ini masih pengandaian yang terlalu jauh. Kemajuan teknologi memungkinkan semua itu terjadi. Jadi, apa yang dikhawatirkan oleh Amin bukan sebuah paranoia yang tak beralasan.

Selain contoh-contoh di atas, masih ada kemungkinan lain pencurian kekayaan Indonesia, yaitu obat herbal. Seperti kita mafhumi, negara kita punya kekayaan sumber daya hayati yang berpotensi menjadi obat. Masalah ini juga sempat menjadi kekhawatiran para peneliti dalam negeri karena banyak ilmuwan asing yang melakukan penelitian tanpa ada perjanjian mengenai hak atas kekayaan inteletual yang kelak dihasilkan.

Kevin Davies, penulis buku <i>Cracking the Genome</i>, punya contoh bagaimana informasi genetika dari suatu populasi bisa dimanfaatkan untuk kepentingan komersial. Tahun 1990-an, Noe Zamel, seorang ilmuwan dari Universitas Toronto, melakukan penelitian terhadap penduduk Tristan da Cunha, sebuah kepualaun kecil yang masuk wilayah Kerajaan Inggris.

Penduduk pulau ini memiliki keunikan, sekitar sepersepuluhnya menderita asma. Penelitian ini untuk mengetahui informasi genetika yang berkaitan dengan penyakit asma. Begitu penelitian selesai, informasi genetika itu digunakan untuk mengembangkan obat asma oleh sebuah perusahaan farmasi. Sementara itu penduduk Tristan da Cunha sendiri tidak kebagian apa-apa.

<b>Indonesia harus mandiri</b>

Di tengah kemajuan teknologi kesehatan yang makin canggih, segala kemungkinan ini memang bisa saja terjadi. Ada banyak titik lemah yang bisa membuat kita kecolongan. Namun, ini sama sekali bukan alasan untuk pesimis. Amin justru berpandangan sebaliknya.

Dalam kasus virus flu burung, misalnya, ia berpendapat Indonesia bisa mandiri dan tidak tergantung kepada pihak lain. Kompetensi ilmuwan dalam negeri saat ini pun sebetulnya tidak kalah dibandingkan negara lain. Ini terbukti ketika Pemerintah bersedia mendanai Laboratorium Eijkman di Jakarta, ternyata laboratorium ini mampu melakukan pemeriksaan virus flu burung secara mandiri. WHO juga mengakuinya. Kini, Indonesia tak perlu harus mengirim sampel virus ke Hongkong jika menemukan kasus flu burung.

Bahkan, lanjut Amin, untuk membuat vaksin virus flu burung pun Indonesia sebetulnya mampu. Jika proyeknya dimulai dari sekarang, dalam tempo dua tahun ke depan, kemampuan itu sudah kita miliki.

Dalam hal teknologi sel induk pun sebetulnya dokter-dokter Indonesia tidak kalah dibandingkan dokter asing. Kita sudah mampu melakukannya di sini. Apalagi sekarang di Indonesia juga sudah tersedia jasa penyimpanan darah tali pusar. Sekalipun teknologinya masih tergantung pihak asing, setidaknya ada jaminan darah itu tidak disimpan luar negeri.

Agar kita tidak kecolongan, Amin menegaskan perlunya semua penelitian di Indonesia terkoordinasi di bawah satu payung. Harus ada harmoni antara akademisi, industri, dan pemerintah. Penelitian harus berorientasi pada kebutuhan riil masyarakat. Bukan sekadar meneliti karena ingin melakukannya.

Untuk melindungi kekayaan sumber daya hayati Indonesia, Amin menyarankan para ilmuwan untuk mendokumentasikan semua temuan. Dokumen ini akan sangat berguna untuk memperoleh pengakuan hukum ketika terjadi sengketa dengan pihak asing.

Amin memberi contoh kasus yang pernah terjadi di India. Tahun 1995, peneliti University of Mississippi Medical Center, Amerika Serikat, mematenkan obat herbal dari turmeric. Turmeric adalah empon-empon yang biasa dipakai sebagai bumbu masak di India. Para ilmuwan India melihat paten ini sebagai <i>biopiracy</i> karena turmeric sudah dipakai secara turun-temurun di India sebagai obat tradisional. Council of Scientific and Industrial Research India kemudian membawa kasus ini ke pengadilan dan menang.

Dua tahun kemudian, paten itu digugurkan. Lewat catatan buku-buku kuno, para ilmuwan India berhasil membuktikan bahwa turmeric sudah dipakai sebagai obat di India sejak ribuan tahu lalu. Jauh sebelum diteliti dan dipatenkan.

Jika Indonesia punya catatan lengkap seperti India, maka tak akan ada ilmuwan asing yang bisa mematenkan cabe puyang, beras kencur, temu lawak, dan obat-obat herbal asli Indonesia lainnya.

  1. No comments yet.
  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.