Baca Buku Sambil Nongkrong di Kafe [intisari]


Baca novel di toko buku sambil berdiri? Itu sudah kuno. Setidaknya, ini berlaku bagi Marina Mayangsari (25) yang hobi kongko-kongko di QB World Books (QB) Kemang. “Di sini, suasananya nyaman. Bisa baca sambil duduk di sofa, bisa main internet,” tuturnya.

Maya, panggilan akrab Mayangsari, memang tidak melebih-lebihkan. Anda yang rajin ke toko buku “konvensional” pasti akrab dengan kalimat ini: “Demi kelancaran dan kenyamanan bersama, kami mengharap para pengunjung tidak membaca sambil duduk.” Tapi di “Kyubi” (demikian toko buku ini biasa dieja), Anda tak akan pernah mendengarnya.

Bagi Maya, membaca adalah hobi. Tapi kenyamanan saat membaca, tak kalah penting. Itulah yang digarap dengan apik oleh QB.“Kami memadukan konsep perpustakaan dan kafe,” terang Syarif Anggraito, Manajer Operasional QB. Tak salah, memang itulah yang dicari oleh para penggemar buku seperti Maya.

Di tempat ini, urusan baca buku tak lagi sekadar menilik isi buku, tapi telah menjadi gaya hidup, seperti menyantap hidangan Italia. Begitu masuk QB, yang pertama menyambut pengunjung adalah suasana yang bersahabat. Di sini, buku-buku ditata dalam posisi hadap depan (bukan ditumpuk miring) sehingga pengunjung bisa melihat sampulnya. Selain itu, buku-buku tidak dibungkus plastik sehingga pembeli tidak akan tertipu oleh sampul yang menggoda.

Dekorasi ruangan sengaja dibuat warna-warni, sehingga terkesan dinamis. Berbeda dengan toko buku biasa, di sini disediakan kursi empuk untuk membaca sambil leyeh-leyeh. Pengunjung pun tak perlu berdesak-desakan di lorong hingga adu pinggul dan bilang, “Permisi!”. Apalagi dengan iringan musik jaz, pengunjung semakin dimanja untuk betah membaca berlama-lama. Kalau perut terasa minta diisi, tinggal pindah kursi dan bilang, “Spageti!”

Di sini, sebagian besar bukunya berbahasa Inggris. Hanya sebagian kecil yang berbahasa Indonesia. Umumnya buku sastra yang masuk kategori best seller. Yang unik, sebagian buku itu ditandatangani oleh penulisnya. Lebih dari itu, toko ini pun melayani pemesanan buku-buku asing yang tidak tersedia di sini.

“Saya paling suka buku Seno Gumira Ajidarma,” kata Maya, yang konsultan fashion di rumah produksi Human Plus Production ini. Lalu dengan tangkas ia menyebut karya-karya Seno: Negeri Senja, Dunia Sukab, Affair, Sepotong Senja untuk Pacarku, Aku Kesepian Sayang. Datanglah, Menjelang Kematian. Selain Seno, Maya juga sering mendapat inspirasi dari buku-buku Ayu Utami dan Djenar Maesa Ayu.

Meski buku-buku itu juga bisa didapat di Gramedia atau Gunung Agung, Maya mengaku lebih suka membelinya dari QB yang ia kunjungi seminggu dua kali. “Saya punya kartu anggota,” katanya menjelaskan. Dengan menjadi anggota, Maya berhak atas diskon setiap pembelian, bebas memakai internet sambil ngopi atau nge-teh tanpa biaya tambahan, serta memperoleh informasi dari QB lewat email pribadi.

Dari QB juga, Maya mengenal dan kemudian jatuh cinta pada Paulo Coelho, penulis kondang dari Brasil. Lewat salah satu karya Coelho, Veronika Decides to Die, jebolan Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Prof. Dr. Mustopo ini kemudian jatuh cinta pada masalah-masalah psikologi. Lalu, tetap di toko buku yang sama, ia berburu buku-buku tentang personality disorder.

Di QB Maya biasa berselancar di internet mencari bahan untuk presentasi kerja. Di toko buku ini pula ia bersama anggota gengnya sesama pekerja seni, nongkrong bareng sambil nonton film indie yang diputar secara berkala dan gratisan.

Tak Harus Anggota

Bicara tentang toko buku eksklusif, selain QB, tak lengkap jika kita tidak menyebut Kinokuniya dan Aksara. Semua toko ini berlokasi di pusat perbelanjaan atau kawasan elite. Plasa Indonesia, Plasa Senayan, Thamrin, Kemang, dan Pondok Indah. Semuanya di Jakarta. Di luar ibu kota, sejauh ini baru ada satu cabang QB di Bandung. Dengan kalimat lain, hingga saat ini toko buku berkafe masih lebih banyak dinikmati oleh—meminjam istilah Seno Gumira—Homo Jakartensis.

Dari sekian banyak toko itu, Kinokuniya Plasa Senayan adalah yang paling besar dan paling lengkap. Dengan luas 1.850 m persegi, pengunjung bisa cari-cari buku sambil mendorong kereta bayi.

Selain menjual buku dan cendera mata, toko-toko ini juga sering mengadakan acara peluncur
an buku, pameran, diskusi, pemutaran film, hingga pagelaran musik. Semuanya serba gratis. Jika Anda berminat, datang saja ke QB atau Aksara Kemang.

Sebagian besar pengunjung toko-toko ini berasal dari kelas penikmat jaz dan capucino. Bahkan menurut Anggraito, untuk QB Kemang, sekitar 70 persen pengunjungnya adalah kaum ekspat. Umumnya mereka memiliki kartu keanggotaan yang bisa didapat dengan cara mengumpulkan bon pembelian minimal Rp.1 juta dalam waktu sebulan.

Meski demikian, tak berarti semua pengunjung toko-toko ini punya kartu keanggotaan. Ida Bagus Adi Sudewa (26), spesialis teknologi informasi (TI) dari IBM Indonesia punya cara sendiri menikmati hobinya membaca buku. Meski rajin mengunjungi Aksara, Kinokuniya, dan QB, ia mengaku, “Saya enggak punya anggaran khusus perbulan untuk beli buku”. Aturan yang ia pakai sederhana saja, jika menemukan buku bagus, lulusan Institut Teknologi Bandung ini tak perlu pikir panjang untuk merogoh kantong.

Sebagai spesialis TI, Dewa, panggilan akrabnya, sering menangani proyek-proyek IBM di Malaysia, Singapura, dan Brunei Darussalam. Di mana pun bertugas, ia selalu rajin mengunjungi Kinokuniya, kecuali di Brunei. “Di sana enggak ada toko buku yang bagus,” keluhnya. Karena itulah, saat balik ke Jakarta tiap tiga minggu sekali, ia selalu menyempatkan diri pergi ke Aksara, Kinokuniya, atau QB.

Di toko-toko ini, Dewa lebih banyak menghabiskan waktu di seksi buku-buku bisnis, membaca riwayat para Chief Executive Officer (CEO) kelas dunia yang sukses, macam David Packard, pendiri perusahaan Hewlett-Packard. Mau jadi David Packard? “Mudah-mudahan,” katanya sambil tertawa lebar.

Dalam urusan ketawa pun, ia mencarinya di toko buku. Pria murah tawa ini menemukannya dari buku Surely, You’re Joking, Mr. Feynman! Sekadar diketahui, Feynman bukan artis komedi, tapi pemenang nobel fisika kenamaan yang nyentrik. Lewat buku itu, ia menampilkan urusan fisika dengan anekdot-anekdot lucu sekaligus cerdas.

Secara kebetulan, Dewa juga penggemar Paulo Coelho seperti Maya. Bedanya, jika Maya lebih terpesona dengan Veronika, Dewa lebih terpikat dengan kisah perjalanan bocah Santiago di The Alchemist. “Saya bukan penggemar berat sastra. Saya hanya beli buku sastra yang benar-benar ngetop,” tambahnya.

Demikian terpikatnya, sampai ia mengoleksi edisi terjemahan Indonesia, maupun edisi Inggrisnya. “Saya memang ingin mengembangkan kemampuan dalam bahasa Inggris,” katanya memberi alasan. Menyelam sambil kursus bahasa! Cara yang cerdas untuk ditiru.

Secara jujur ia mengaku dulu sering tertipu oleh sampul buku. “Buku luar kan cover-nya bagus-bagus tuh. Setelah dibeli, ternyata isinya enggak menarik.” Tapi sekarang enggak keliru lagi kan? Lagi-lagi ia ketawa.

Jalan-jalan Dapat Pengetahuan

Sebagai kegiatan pengisi waktu senggang, umumnya pengunjung pergi ke toko-toko ini pada hari libur. “Paling ramai hari Sabtu dan Minggu, jam makan siang atau malam,” papar Dhitri Arga, Store Manager Aksara-Prodak. Tak beda dengan Kinokuniya atau QB.

Banyak yang pergi sendiri saja. Ada yang bersama pasangannya. Tak jarang pula yang satu keluarga, bersama anak-anaknya. Maklum, semua toko ini memang menyediakan seksi khusus untuk anak-anak. Koleksi buku, tata ruang, dan dekorasinya bisa membuat para ibu harus bekerja keras membujuk anaknya pulang.

Sebagian besar pengunjung adalah orang-orang kantoran. Namun, tak sedikit pula yang belum bekerja. Rusli Halim (20) mahasiswa Fakultas Psikologi Universitas Indonesia menuturkan, “Di sini buku filsafatnya lebih lengkap.” Ia memuji koleksi buku Aksara yang sering ia kunjungi.

Pemuda berkumis tipis ini memang penggemar berat buku-buku berat. Bukan hanya buku semacam Plato, Not Prozac! yang ia suka, tapi juga tulisan Carl Gustav Jung, Friedrich Nietzche, Michael Foucault, dan Bhagwan Shree Rajnesh (Osho). Semua penulis ini tak jauh-jauh dari psikologi dan filsafat, dua bidang yang sangat ia gandrungi.

Selain rak buku filsafat, ia juga suka menghabiskan waktu di rak buku seni menikmati lukisan surealis Salvador Dali. Lagi-lagi, dalam urusan seni pun ia menyukai seni yang mengekspresikan alam kesadaran manusia. Bagi Rusli, toko buku telah menjadi “tempat kuliah” kedua.

Dari sekian banyak rak, agaknya seksi sastra merupakan bagian yang didatangi hampir semua pengunjung, termasuk Rusli. The Prophet-nya Kahlil Gibran, Saman-nya Ayu Utami, dan Supernova-nya Dewi Lestari, adalah beberapa contoh buku sastra yang ia sukai.

Tiap minggu, ia selalu mengunjungi toko-tok
o ini. Sekali kunjungan, ia bisa menghabiskan waktu sampai tiga jam. “Habis itu makan, jalan-jalan, lalu pulang,” ungkapnya. Cuci mata sambil mengisi kepala.

Segala Umur

Belakangan, budaya baca di toko-toko ini bukan hanya monopoli orang dewasa, tapi telah menular ke kalangan putih abu-abu. Sebut saja Carissa Savira (15), siswi SMU 6 Jakarta. “Pulang sekolah, suka bosan,” jelas Caca, panggilan akrabnya. “Di sini enak, ada tempat duduknya, enggak berebutan, enggak dipelototin. Bukunya bagus-bagus, enggak dibungkusin. Penjaganya enggak mondar-mandir. Enggak beli juga enggak apa-apa,” tambahnya memaparkan (tak tanggung-tanggung) delapan alasan sekaligus. Tanpa sela.

“Saya suka bacaan yang pendek-pendek. Yang banyak gambarnya. Kalau panjang, pusing,” akunya lugu. Itulah sebabnya, ia lebih suka menghabiskan waktu di seksi chick lit, sastra untuk remaja dan buku-buku traveling yang berisi foto-foto berbagai negara. “Saya suka sastra, tapi sering enggak ngerti,” ungkapnya polos sembari menyebutkan buku sastra buat orang gede yang pernah ia baca, Supernova dan Larung.

Bahkan, hobinya ini lalu menular ke kakaknya, Cindy Savanty (22). Sambil “menuding” adiknya, mahasiswi Program Studi Akuntansi Universitas Atmajaya ini mengaku, “Dia yang ngajak saya”. Yang dituding cuma nyengir. Tapi di balik ekspresinya yang lugu, Caca memberi sebuah pelajaran penting. Bahwa di luar urusan jaz dan capucino, membaca buku adalah budaya yang patut mendapat acung jempol. Semua jempol, jika mungkin. Uang bukan faktor utama. Semua orang bisa melakukannya. Bukankah seperti kata Caca, “Enggak beli juga enggak apa-apa.”?

Advertisements

2 thoughts on “Baca Buku Sambil Nongkrong di Kafe [intisari]

  1. Kalao vanilla smile, awak kayaknya gak kenal. Kalao Marina Mayangsari, …. Hola, hola,…. Sampeyan punya sedikit royalti atas tulisan ini, mestinya. (d:)(:p)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s