Berdamai dengan Gempa dan Tsunami [intisari]


Di telinga, kata tsunami sungguh elok didengar. Tapi ia datang membawa bencana besar. Aceh hancur, Maladewa lebur, Srilanka dan India pun babak-belur. Bahkan, Somalia yang jaraknya sekitar 4.500 km juga ikut kena gempur. Di balik itu, para ilmuwan sepakat, bahaya gempa maupun tsunami bisa diminimalkan.

Tsunami dan gempa ibarat adik berkakak. Memang tidak semua tsunami disebabkan oleh gempa. Tapi lebih dari 90 persen, tsunami merupakan efek sekunder dari gempa tektonik, termasuk tsunami Aceh Desember kemarin.

Bicara tentang gempa adalah bicara tentang alam semesta.

Bumi yang kita huni sejatinya adalah sebuah massa yang cair, panas dan pijar. Akibat proses pendinginan yang terjadi jutaan tahun, bagian paling luar kerak bumi (litosfer) menjadi padat. Bagian dalamnya tetap cairan pijar magma, sementara litosfer mengapung di atasnya. (Betapa remehnya kita di tengah semesta).

Lapisan litosfer ini berkerut-kerut, seperti kulit jeruk purut dan terbagi-bagi menjadi beberapa bagian lempeng bumi. Karena rotasi bumi, timbul aliran yang terus-menerus (arus konveksi) di bagian yang cair. Akibatnya, lapisan litosfer pun ikut-ikutan bergerak. Lempeng-lempeng tersebut saling dorong, saling geser, dan saling menjauhi.

Selama proses saling sikut itu, lempeng yang lebih lemah akan menahan energi dorongan yang ia terima. Hal ini menyebabkan pulau-pulau yang ada di atasnya ikut beringsut. Jaraknya kecil, memang. Hanya beberapa sentimeter pertahun. Namun karena dorongan ini terjadi selama ratusan tahun, maka suatu saat lempeng tidak lagi kuat menahannya.

Jika ini terjadi, lempeng akan patah dan melepaskan energi yang selama ini ditahan. Persis seperti pegas yang tidak kuat menahan beban. Inilah yang kita rasakan sebagai gempa bumi tektonik.

Itulah sebabnya, gempa paling banyak terjadi di wilayah pertemuan lempeng. Kabar buruknya, Indonesia sejak dari sononya merupakan wilayah pertemuan tiga lempeng besar: Indoaustralia, Eurasia, dan Pasifik. “Jadi, seluruh wilayah Indonesia punya potensi gempa kecuali Kalimantan Tengah, Kalimantan Barat dan Papua bagian selatan,” ujar Drs. Suhardjono, Dipl. Seis., Kepala Bidang Gempa Bumi, Badan Meteorologi dan Geofisika (BMG).

Selain di wilayah garis pertemuan lempeng (di laut), gempa bisa juga terjadi di daerah punggung (di darat). Artinya, selama kita hidup di Indonesia, mau tak mau kita harus selalu siap dengan gempa maupun tsunami. “Tapi enggak perlu takut. Yang penting selalu waspada,” tandasnya.

Tak Bisa Diramal

Gempa adalah aktivitas alam. Kita tak bisa mencegahnya dengan mantra tolak bala. Hingga saat ini pun belum ada teknologi yang bisa meramalkan gempa dengan akurasi tahun, apalagi bulan dan tanggal. Hanya Tuhan yang tahu. Kalaupun ilmuwan bisa, ramalan hanya bersifat kira-kira.

Contoh paling nyata, setahun lalu Dr. Danny Hilman Natawidjaja, ahli gempa dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) telah mensinyalir akan terjadi gempa berkekuatan besar di kawasan barat Pulau Sumatra. Ramalan ini dibuat berdasarkan catatan alat Global Positioning System (GPS) yang menunjukkan pulau-pulau di sebelah barat Sumatra bergerak mendekati Sumatra sepanjang 2 – 4 cm pertahun. Gerakan ini terjadi akibat dorongan dari lempeng Indoaustralia di sebelah barat Pulau Sumatra.

Catatan sejarah menunjukkan wilayah ini tidak mengalami gempa selama lebih dari 300 tahun. Artinya, lempeng Eurasia telah terdorong sekitar 10 m. Ini merupakan angka yang sanggup membuat gempa “cukup matang” untuk dilepaskan. Karena itu Danny meramalkan gempa akan terjadi di wilayah ini (tentu saja, tanpa ramalan tentang waktunya). Namun ternyata saat ramalan ini dibuat, gempa yang dipergunjingkan telah memulai hitungan mundur.

Secepat Pesawat

Sebetulnya tsunami bukan pertama kali ini mampir ke wilayah Indonesia. Menurut catatan Dr. Hamzah Latief, ahli tsunami dari Institut Teknologi Bandung, tsunami di Nanggroe Aceh Darussalam dan Sumatra Utara kemarin adalah yang ke-106.

Meski sama-sama tak bisa diramal, tsunami bisa diakali. Dengan kecanggihan teknologi, ia bisa diperkirakan kapan akan menghantam pantai. Sehingga, masyarakat di wilayah pesisir bisa melakukan upaya penyelamatan diri.

Gelombang tsunami bisa terjadi jika kolom air di tengah laut terusik. Penyebabnya bermacam-macam. Tahun 1883, misalnya, terjadi tsunami dahsyat akibat meletusnya Anak Gunung Krakatau. Penyebab utamanya bukan gempa, tapi materi erupsi yang terpental ke laut.

Jika sebuah gempa terjadi di tengah laut, getaran yang terjadi akan menyebabkan air lautan beriak. Karena tenaga yang menggerakkan gelombang ini gedenya bukan alang kepalang, maka ombak yang dihasilkan pun bukan main dahsyatnya.

Sebagai gambaran, gempa yang menimbulkan tsunami di Aceh sebulan lalu berkekuatan 8,9 Skala Richter (berdasarkan momen magnitudo). Tenaga ini kira-kira setara dengan daya ledak 60 ribu megaton bom Trinitro toluen (TNT). Ken Hudnut, seorang ahli geofisika Amerika Serikat, bahkan mengatakan bahwa gempa ini sampai mempengaruhi rotasi bumi pada porosnya.

Dari episentrum (pusat gempa), gelombang ini menjalar ke segala arah mengikuti hukum fisika kuno: air beriak tanda tak dalam. Di perairan yang dalam, tinggi gelombang hanya mencapai puluhan sentimeter. Kapal yang berada di atasnya bisa saja tidak merasakan apa-apa.

Namun, semakin ke arah pantai, gelombang semakin membesar. Tingginya bisa mencapai puluhan meter, tergantung kekuatan gempa dan formasi pantai. Di Aceh, perahu segede rumah pun bisa terempas hingga 3 km ke daratan.

Saat menjalar meninggalkan episentrum, kecepatan tsunami bisa mencapai 800 km perjam. Sanggup berpacu dengan pesawat terbang. Selama perjalanan, kecepatan gelombang tsunami menurun. Namun demikian, ketika menerjang pantai, lajunya masih jauh lebih cepat daripada kecepatan seseorang yang berlari lintang pukang.

Semakin jauh pusat gempa dari pantai, semakin lama waktu yang diperlukan tsunami sampai di bibir pantai. Sebagai contoh, tsunami kemarin butuh waktu sekitar 20 menit untuk mencapai pantai Aceh, 2 jam untuk sampai di Srilanka, dan 5 jam untuk sampai ke Somalia. Jeda waktu inilah yang bisa dimanfaatkan untuk melakukan penyelamatan diri.

3 Menit Diketahui

Indonesia bukan satu-satunya wilayah penghasil tsunami. Jepang, Kalifornia, dan Hawai adalah contoh baik pabrik tsunami, namun terbukti berhasil mengelola dampaknya dengan bantaun early warning system (sistem peringatan dini).

Di Jepang, misalnya, begitu gempa terjadi di laut lepas, semua variabel gempa-tsunami selesai diolah dalam tempo tiga menit. Variabel ini meliputi kekuatan gempa, lokasi, kedalaman, topografi dasar laut dan sejenisnya. Dengan data ini, mereka bisa memperkirakan berapa menit lagi tsunami akan datang menerjang. Begitu data keluar, semua acara televisi dan radio distop, ganti menyiarkan berita tentang tsunami.

Tak tanggung-tanggung, instruksi evakuasi ini berada langsung di tangan Perdana Menteri. Selama sisa waktu yang ada, mereka segera melakukan evakuasi penduduk. Masyarakat pun tak kaget dengan kondisi darurat semacam ini karena mereka sudah sering melakukan simulasi.

Sistem ini pula yang diterapkan di Kalifornia dan Hawai. Di Hawai, menurut penuturan Hamzah, bangunan gedung didesain dengan mempertimbangkan kemungkinan diterjang tsunami. Di depan gedung-gedung dibuat ”parit” untuk menahan gelombang.

Vegetasi hutan mangrove juga sengaja dibudidayakan sebagai green belt. Meski tidak bisa menghentikan tsunami seratus persen, setidaknya hutan mangrove bisa meredam lajunya.

Di Jepang, daerah pantai yang dianggap rawan tsunami dibangun tanggul atau pemecah ombak. Seperti hutan mengrove, benteng buatan ini juga bisa mengurangi daya terjang tsunami sehingga memperkecil bahaya.

Di sini, konsep ruang tinggal pun ditata dengan memperhatikan kemungkinan bencana. Pemukiman tidak dibangun di daerah yang menurut perhitungan masih bisa diterjang gelombang tsunami. Sebagai tempat penyelamatan, mereka menyiapkan bangunan bertingkat yang terbuka dan tahan gelombang.

Jika misalnya, tsunami menyebabkan aliran listrik padam, warga tak perlu khawatir bergelap-gelap, karena mereka memiliki sitem listrik cadangan. Pendek kata, dalam setiap perencanaan, analisis bencana selalu disertakan.

Di Indonesia?

Dalam urusan teknologi, kita memang tak perlu membandingkan diri dengan mereka. Jepang punya ribuan sesimograf (alat pencatat gempa). Kalifornia, yang hanya sebuah negara bagian, punya ratusan. Sementara kita hanya memiliki 31 gelintir untuk seluruh wilayah Indonesia.

Indonesia pernah punya TREMORS, alat penghitung tsunami di Tretes, Jawa Timur. Sayangnya saat ini tidak lagi berfungsi. Alat ini pernah berhasil menghitung tsunami Biak tahun 1996, meski kalah cepat dengan yang dihitung. Soalnya, tsunami menerjang pantai 5 menit setelah gempa, padahal data selesai diolah setengah jam kemudian.

Okelah, kita memang belum punya early warning system. Kalau begitu apa yang bisa kita lakukan? Hamzah memberikan beberapa pengetahuan praktis yang bisa digunakan oleh mereka yang berada di pantai untuk mendeteksi adanya tsunami.

Pertama, jika tanah di daerah pesisir bergetar, itu pertanda pusat gempa berada tak jauh dari pantai alias mungkin saja berada di laut. Artinya, tsunami bisa saja datang dalam beberapa menit lagi. Jika ini terjadi, segera lakukan upaya penyelamatan diri paling sederhana: lari menuju tempat yang tinggi.

Kedua, tsunami biasanya ditandai dengan surutnya air di pantai secara tiba-tiba. Ini sesuai dengan sifat gelombang yang punya puncak dan lembah. Begitu gempa terjadi, air akan terisap ke arah pusat gempa, kemudian dibalikkan lagi dalam bentuk gelombang besar. Persis seperti ketika kita mengibaskan karpet. Artinya, jika perahu yang ditambatkan tiba-tiba kandas, atau ikan-ikan tiba-tiba tergelepar, itu bukan undangan pesta barbecue.

Ketiga, timbul bau garam dan angin dingin di pantai. Ini menunjukkan bahwa air laut sedang mengalami turbulensi (gerakan bergolak) yang dahsyat di laut lepas.

Keempat, ketika gelombang tsunami telah sampai di bibir pantai, akan terjadi suara gemuruh yang hebat. Gemuruh yang terjadi tergantung pada formasi pantai. Jika pantainya landai, gemuruh mirip suara drum band. Jika pantai berbentuk tebing yang terjal, suara gemuruhnya seperti ledakan bom, ak
ibat tumbukan hebat antara air dan dinding pantai. Ini bisa berguna buat mereka yang tidak berada tepat di pantai.

“Semua tanda ini tidak dikarang-karang, tapi berdasarkan survei,” tandas Hamzah.

Dalam praktik, hal ini pun telah dibuktikan oleh warga Simeulue. Secara turun-temurun mereka mendapat pelajaran, jika gempa diikuti oleh surutnya air laut secara drastis, itu berarti pertanda akan datang tsunami. Mereka menyebutnya, smong. Karena itu, saat gempa dan laut surut, mereka langsung berbondong-bondong pergi ke dataran tinggi sehingga korban di pulau ini relatif jauh lebih sedikit.

Di samping petunjuk-petunjuk tersebut, gelombang tsunami juga punya sifat multipel. Biasanya gelombang tidak hanya tunggal, tapi dua atau tiga. Umumnya, gelombang kedua lebih besar dari gelombang pertama. Jaraknya bisa 10 – 20 menit, tergantung konfigurasi pantai. Jika selamat pada gelombang pertama, jangan berhenti. Terus saja pergi ke tempat yang lebih tinggi.

Hanya dengan memahami isyarat-isyarat alam semacam inilah, kita bisa berdamai dengan tsunami.

Boks-1

Penyelamatan Diri Saat Gempa

· Bila berada didalam rumah
Jangan panik. Berlindunglah di bawah meja atau tempat tidur. Bila tidak ada tempat berlindung, lindungi kepala dengan bantal atau benda lainnya. Jauhi rak buku, almari dan jendela kaca. Hati-hati terhadap benda-benda di atas kepala, yang bisa runtuh. Tentang petunjuk lari keluar ruangan, menurut Suhardjono, hanya dianjurkan jika bisa dipastikan bahwa kita sanggup keluar ruangan lebih cepat dari runtuhnya bangunan.

· Bila berada di luar ruangan

Jauhi sesuatu yang bisa runtuh misalnya bangunan, dinding, tebing terjal, tiang listrik, papan reklame, pohon yang tinggi dan semacamnya. Usahakan dapat mencapai daerah yang terbuka. Waspadai terjadinya rekahan tanah.

· Bila sedang mengendarai kendaraan
Segera hentikan di tempat terbuka. Jangan berhenti di atas atau di bawah jembatan (penyeberangan maupun layang). Segera keluar dari mobil.

· Sesudah gempa

Segera keluar dari bangunan. Jangan menggunakan lift, gunakan tangga biasa. Periksa lingkungan, apakah ada arus pendek, kebocoran gas atau kebocoran pipa. Untuk sementara, jangan masuk ke dalam bangunan untuk menghindari kemungkian gempa susulan. Pantau terus informasi.

Sepuluh Gempa dan Tsunami Terbesar di Dunia

  1. Cile, 22 Mei 1960 (9,5 SR, momen magnitudo). Ini merupakan gempa terbesar di dunia. Korban meninggal 2.000 orang. Gempa ini diikuti tsunami setinggi 25 meter. Gelombangnya sampai menjalar ke Hawai, Jepang dan Filipina.
  2. Alaska, 28 Maret 1964 (9,2 SR). Menewaskan 125 orang. 155 lainnya hilang akibat tsunami. Gelombang tertinggi yang t
    ercacat 67 m.
  3. Alaska, 9 Maret 1957 (9,1 SR). Gempa ini menimbulkan dua tsunami, setinggi 14 dan 8 meter yang menerjang sampai Hawai, Cile, El Salvador, dan Jepang. Tercatat lebih dari 300 gempa susulan.
  4. Rusia, 4 November 1952 (9,0 SR). Gempa ini menyebebakan tsunami setinggi 13 meter. Tapi tak ada korban meninggal yang tercatat.
  5. Sumatra, Indonesia, 26 Desember 2004 (8,9 SR). Jumlah korban akibat tsunami, merupakan yang terbesar sepanjang sejarah.
  6. Ekuador, 31 Januari 1906 (8,8 SR). Tsunaminya mencapai Amerika Tengah hingga Jepang, menewaskan lebih dari 1.500 orang.
  7. Alaska, 4 Februari 1965 (8,7 SR). Menyebabkan tsunami setinggi 10 m, namun tak ada korban meninggal dunia yang tercatat.
  8. India, 15 Agustus 1950 (8,6 SR). Korban meninggal 1.500-an orang. Pusat gempa ada di Perbatasan Cina-Tibet. Namun kerusakan paling parah terjadi di Assam, India.
  9. Rusia, 3 Februari 1923 (8,5 SR). Tsunami yang terjadi sampai menerjang Hawai.
  10. Laut Banda, Indonesia, 1 Februari 1938 (8,5 SR). Tsunami yang ditimbulkan mencapai Papua Nugini dan Australia.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s