Carilah Obat Hingga ke Negeri Cina [intisari]

Dalam urusan pengobatan, Negeri Tiongkok punya kelebihan tersendiri. Di Indonesia, klinik pengobatan tradisional Cina menjamur di mana-mana. Bukan itu saja, rumah-rumah sakit di Cina pun banyak kedatangan tamu dari Indonesia. Lebih murah dan banyak yang berhasil.

Salah satu dari banyak orang yang berhasil itu adalah Ir. Soekardi, pensiunan pejabat penting di PT Perusahaan Listrik Negara, yang kini jadi pengusaha. “Tahun 1997, setahun setelah pensiun, saya divonis gagal ginjal dan harus menjalani cuci darah seumur hidup,” kisahnya.

Sejak vonis itu, ia menjadi pengunjung tetap Rumah Sakit (RS) Pusat Pertamina, Jakarta. Seminggu ia cuci darah dua kali di bawah pengawasan dr. Winarni Hudoro, Sp.PD KGH. Ia sempat menjalaninya selama setahun. “Waktu itu saya tanya sama dr. Winarni, apa saya harus hidup begini terus. Athang-athang (terlentang, pen.) selama lima jam untuk cuci darah. Tiga hari kemudian kembali lagi ke rumah sakit, lalu athang-athang lagi,” katanya dengan bahasa suroboyoan yang kental.

Dari Winarni, ia memperoleh jawaban yang ia cari-cari: transplantasi ginjal. Inilah satu-satunya cara yang bisa ditempuh agar ia tak perlu cuci darah sepanjang hayat. Namun rupanya masalah tak berhenti sampai di sini. Urusan cangkok ginjal tak semudah mencangkok mangga arumanis atau durian monthong.

Di Indonesia, jual beli ginjal belum lazim. Biasanya donor ginjal berasal dari keluarga dekat. Soekardi harus memilih salah satu, anak atau saudaranya. “Tapi saya ndak mau mereka jadi donor. Soalnya, sebentar lagi saya ‘kan masuk tanah. Sementara masa depan mereka masih panjang. Kasihan ‘kan,” tuturnya beralasan.

“Lalu dr. Winarni menyarankan saya menjalani transplantasi di luar negeri. Pilihannya, Amerika, Singapura, Taiwan, atau Cina,” lanjutnya. Dengan berbagai pertimbangan, Soekardi memilih yang terakhir.

Hanya dalam hitungan minggu setelah membuat keputusan itu, ia pun berangkat ke Cina. Di sana ia ditangani oleh Prof. dr. Gao Wei, kolega Winarni di Taiping’s People Hospital, Guangzhou. Di kalangan para pemakai jasa cangkok ginjal asal Indonesia, nama Gao Wei seperti nama Tao Ming Tse di kalangan pecinta serial teve Meteor Garden. Profesor ini pula yang menangani transplantasi lever Cak Nur (Nurcholis Madjid).

“Waktu itu saya sendiri yang ngurus visa sama paspor. Saya berangkat sama istri dan anak saya. Di sana, saya dapat satu kamar. Masak sendiri, nyuci sendiri. Pokoknya semua kita urus sendiri,” katanya. Meski sedikit kerepotan mengurus segala tetek bengek, Soekardi merasa amat beruntung karena ia ditangani oleh dokter yang sangat bersahabat.

Dua belas hari setelah operasi, ia sudah bisa berjalan-jalan. Oleh Gao Wei, Soekardi dipinjami mobil dan disuruh ngelencer di Guangzhou. “Saya betul-betul terharu. Profesor Gao Wei begitu baik sama saya, padahal dia ‘kan ora sanak ora kadang (tak punya hubungan apa-apa, pen.) sama saya,” kenangnya.

Tidak sampai sebulan di Guangzhou, ia sudah bisa kembali ke Jakarta. Karena daya tahan tubuhnya pascaoperasi masih lemah, ia tidak langsung pulang ke rumah. Selama sepuluh hari, ia menginap di RS Pusat Pertamina. Kemudian selama tiga bulan, ia ke mana-mana selalu memakai masker untuk mencegah infeksi.

Tapi sejak itu, kakek dari dua cucu ini dapat bernapas lega. Ia bisa menjalankan aktivitasnya sehari-hari sebagaimana orang normal. Tidak perlu athang-athang lagi selama lima jam di rumah sakit, dua kali seminggu.

Indonesia Tak Kalah

Hingga sekarang, layanan cangkok-mencangkok organ tubuh ini masih menjadi salah satu andalan rumah-rumah sakit di Cina. “Di RS Taiping, cangkok ginjal seperti khitanan massal. Dalam satu malam bisa delapan belas orang,” kata dr. Herman Yuliantama, koordinator cangkok ginjal Nusantara Medical Center (NMC), Jakarta, rekanan Taiping’s People Hospital di Indonesia.

Menurut Herman, setidaknya ada dua alasan yang menyebabkan Cina menjadi pilihan banyak orang Indonesia untuk urusan cangkok ginjal. Alasan pertama, biaya cangkok di sana relatif murah jika dibandingkan dengan Singapura, misalnya. “Bisa sampai separuhnya,” kata Herman. Bagusnya, meskipun murah, transplantasi tetap dilakukan secara profesional. Menurut Herman, tingkat keberhasilannya mencapai 98 persen.

Alasan penting kedua, di sana tersedia donor dalam jumlah cukup, sehingga pasien tidak perlu mengambil ginjal dari saudara atau anaknya. Ini merupakan kelebihan Cina yang tidak dimiliki oleh negara-negara lain. “Perangkat hukum di sana memungkinkan adanya jual beli ginjal,” terang Herman.

Di Indonesia, perangkat hukum semacam ini tidak ada. Selain itu, donor ginjal dari kerabat pun tetap bisa menimbulkan masalah di belakang hari. Herman pernah menjumpai kasus semacam ini.

“Awalnya, si pendonor oke. Perjanjiannya juga dilakukan di depan notaris. Setahun kemudian, si pendonor ini sering jatuh sakit. Lalu dia komplain karena menganggap sakitnya itu akibat donor ginjalnya dulu. Padahal ‘kan enggak ada hubungan apa-apa,” tuturnya.

Karena alasan-alasan inilah banyak pasien yang memilih cangkok ginjal di Cina. Di sana, pasien hanya berurusan dengan rumah sakit, dan tak perlu khawatir mendapat komplain dari pemilik ginjal.

Dalam soal teknik cangkok, sebetulnya dokter-dokter Indonesia tak kalah pintar dari Cina. Herman menyebut beberapa contoh RS di Indonesia yang punya reputasi sebagai pencangkok ginjal seperti RS PGI Cikini dan RS Gatot Subroto, Jakarta, RS dr. Sardjito, Yogyakarta, serta RS dr. Soetomo, Surabaya. Tapi dalam hal ketersediaan donor, Cina tetap lebih unggul.

Kombinasi Barat-Timur

Selain cangkok-mencangkok, layanan andalan lain rumah sakit di Tiongkok adalah pengobatan tradisonal Cina (traditional Chinese medicine, TCM). Terang saja, Tiongkok adalah tempat lahir sistem pengobatan ala yin-yang ini.

Yang pergi ke sini umumnya para penderita penyakit kelas berat yang sulit disembuhkan dengan pengobatan ala kedokteran Barat, terutama kanker. “Biasanya pasien kanker datang ke saya saat stadium tiga atau empat,” ujar Prof. dr. Wu Zheseng, onkologis dari Yusheng Hospital, Guangzhou.

Menurut pengakuan Wu, selama satu dasawarsa terakhir, ia telah kedatangan ratusan pasien kanker asal Indonesia. Secara jujur ia mengaku tidak semua pasien bisa disembuhkan. “Pada stadium tiga atau empat, pengobatannya tidak gampang,” bilangnya. Meski demikian ia mengaku tidak sedikit pasiennya yang bisa sembuh secara klinis atau mengalami perbaikan kualitas hidup.

Karena saking banyaknya pasien asal Indonesia, sejak 1995, Wu secara rutin mengunjungi Indonesia. Bekerjasama dengan Ikatan Naturopati Indonesia (IKNI), Wu kemudian membuka unit layanan TCM di RS Harapan Bunda, Jakarta. Terakhir, ia mengunjungi Jakarta dan Bandung bulan April lalu.

Dalam mengobati pasiennya, Wu memadukan konsep pengobatan Barat dan Timur. Selain memegang pisau bedah, ia juga mengantungi jarum akupunktur. Di samping meresepkan obat-obat kimia, ia juga memberi pasiennya ramuan tradisional, serta infus yang terbuat dari saripati bahan-bahan herbal.

Bahasa Tarzan

Di samping beberapa kelebihan itu, rumah-rumah sakit di Cina juga tak luput dari beberapa kelemahan. Kekurangan yang paling menonjol adalah masalah bahasa. “Sebelum berangkat ke sana, saya sudah belajar bahasa Mandarin, tapi ketika saya praktikkan di sana ternyata ndak ada yang ngerti,” aku Soekardi sambil tergelak-gelak. “Jadi, selama di Taiping, saya berkomunikasi pakai bahasa Tarzan. Kalau saya ngomong, ya ah-eh-ah-uh gitu,” kata Soekardi sambil menirukan mimik bahasa isyarat.

“Waktu saya dirawat, istri dan anak saya tinggal di hotel. Mau nelpon, tidak bisa karena ndak bisa ngomongnya. Mau njenguk juga ndak bisa, karena sopir taksinya juga ndak ngerti,” kisahnya. Ia selalu tertawa menceritakan pengalamannya yang konyol ini.

Herman juga sepakat dengan masalah bahasa ini. “Di sana, jumlah dokter yang lancar berbahasa Inggris tidak begitu banyak. Kalau ada apa-apa biasanya kita panggil dia,” ungkapnya.

Profesor Wu pun tidak menyangkal adanya masalah komunikasi ini. “Sebagian kecil pasien yang berasal dari Indonesia memang bisa bahasa Hokkian, misalnya warga keturunan Guangdong. Tapi sebagian besar tidak bisa,” ungkapnya. Karena alasan inilah dokter yang lancar bicara dalam bahasa Inggris ini merasa perlu belajar bahasa Indonesia. “Tapi bahasa Indonesia saya pelan-pelan. Tidak lancar(r),” ujarnya pelan-pelan, tidak lancar, dengan suara “r” pudar.

Lucunya, menurut penuturan Soekardi, Prof. Gao Wei pun belum begitu lancar berbahasa Inggris saat mengoperasi dirinya tahun 1998. Padahal, dia adalah guru besar cangkok yang keahliannya tak layak diragukan. “Jadi, kalau kita ke sana tapi ndak bisa bahasa sana, apalagi ndak punya channel, dijamin bakal repot,” sambung Soekardi.

Karena alasan inilah, Soekardi bersama para “alumni” cangkok ginjal lainnya membuat Paguyuban Cangkok Ginjal (PACGI). Sebelum berangkat ke sana, para peminat cangkok ginjal bisa “berguru” lebih dulu kepada para lulusan RS Taiping. “Supaya kalau ke sana ndak kayak kethek kena tulup (monyet kena tembak, pen.),” sambungnya.

Dengan latar belakang ini pula, sejak 2004 NMC menyediakan layanan “tahu-beres” buat para peminat cangkok ginjal. Lewat NMC sebagai makcomblang, penderita gagal ginjal bisa berangkat ke Taiping tanpa harus disibukkan dengan tetek bengek semacam mengurus parpor, visa, transportasi, akomodasi, dan sebangsanya.

“Kebetulan saya kenal baik dokter-dokter di sana. Kalau ada hubungan pertemanan ‘kan biasanya pasien dicarikan ginjal yang kualitasnya baik. Kualitas ginjal donor ini sangat menentukan kualitas kesehatan pasien penerima,” kata Herman yang juga alumni cangkok ginjal RS Taiping angkatan 2000 ini.

Sebelum berangkat ke Taiping, semua data pasien dikirim ke sana. Kemudian pihak RS Taiping mencarikan donor yang cocok. Dengan begitu, ketika sampai di sana, pasien bisa langsung operasi tanpa harus menunggu lama. “Donor ginjal ‘kan tidak bisa main pasang gitu aja. Kalau enggak cocok bisa terjadi penolakan. Donor dan penerima harus cocok. Ada tes HLA (Human Leukocyte Antigen), dan PRA-nya (Panel Reactive Antibody). Kalau enggak ada pertemanan, kadang enggak dikasih donor yang bagus,” kata Herman sambil tertawa renyah.

Selain masalah bahasa, menurut Herman, kelemahan lain adalah sistem pengambilan keputusan yang masih serba-terpusat. Segala sesuatu harus menunggu lampu hijau dari atasan, sehingga kadang menyebabkan proses mengambil keputusan menjadi kurang efisien. Ini tak terlepas dari ideologi komunisme yang mereka anut.

Tak Hanya Guangzhou

Karena paham komunisme pula, kebanyakan rumah sakit di sana dikuasai pemerintah, bukan swasta. Sebagai sebuah negara besar yang relatif maju, Cina punya banyak rumah sakit bereputasi internasional. Sekadar contoh, Wu menyebut Nan Fang Hospital dan Sun Yat-sen Hospital.

Menurut William Adi Teja, MD, MMed, lulusan Beijing University of Chinese Medicine, rumah-rumah sakit papan atas di Cina terpusat di Beijing dan Shanghai. Ia menyebut Beijing Hospital, Xi Yuan Hospital, Guang Ang Men Hospital, Dong Zhi Men Hospital, dan Xuan Wu Hospital. “Ini karena dokter-dokter top di seluruh wilayah Cina ditarik oleh pemerintah pusat ke ibu kota,” kata pria yang tinggal sepuluh tahun di Cina ini.

Namun selama ini pasien-pasien dari Indonesia lebih banyak pergi ke Guangzhou, yang merupakan kota terbesar ketiga setelah Beijing dan Shanghai. Menurut William, fenomena ini disebabkan oleh banyak faktor. Pertama, posisi Guangzhou dari Indonesia relatif lebih dekat dibandingkan ke Beijing atau Shanghai.

Faktor kedua, kebanyakan warga Indonesia keturunan Tionghoa punya silsilah yang berasal dari Guangdong. (Guangzhou adalah ejaan baru untuk ibu kota Provinsi Guangdong). “Mereka sudah akrab dengan masakan Guangdong. Mungkin juga mereka punya saudara di sana,” terang William.

Faktor ketiga yang tak kalah penting, rumah-rumah sakit Guangzho rajin beriklan ke Indonesia, seperti rumah-rumah sakit Singapura. Ini berbeda dengan rumah-rumah sakit Bejing atau Shanghai yang sepi iklan.

Untuk urusan terakhir ini, William memberi saran, “Jangan mudah termakan iklan. Apalagi iklan rumah sakit spesialis. Di sana, mendirikan rumah sakit spesialis bukan urusan gampang. Dokter di sana hanya boleh praktik di satu tempat. Dan dokter-dokter kelas satu biasanya bekerja di rumah sakit pemerintah.”

Karena itu, sebelum memutuskan berangkat ke Cina, sebaiknya cari informasi seakurat mungkin. Jangan sampai pergi jauh-jauh ke negeri orang hanya untuk mengumpat, “Xia lan, owe olang ketipu.”

Boks

Murah Tapi Masih Jutaan Rupiah

Meski relatif murah dibanding Singapura, namun biaya berobat ke Cina masih cukup jauh dari jangkauan kebanyakan orang Indonesia. Sebagai gambaran, saat cangkok ginjal tahun 1998, Soekardi menghabiskan total jenderal sekitar Rp 200 juta.

Sekarang, angka ini tentu saja lebih besar lagi. Herman Yuliantama mengaku sulit menyebut angka pasti, namun ia bisa memberi rentang kira-kira. Untuk satu paket biaya paket cangkok ginjal yang ditawarkan oleh Nusantara Medical Center, biayanya berkisar $ AS 25 – 35 ribu (sekitar Rp 250 – 350 juta, dengan asumsi $ AS 1 = Rp10.000).

Menurut Herman, besarnya biaya ini dipengaruhi oleh banyak fdaktor, antara lain umur, berat badan, dan kondisi kesehatan pasien. Semakin banyak komplikasinya, perawatan menjadi semakin sulit. Ini menyebabkan biaya perawatan juga meningkat. Sekadar contoh, jika pasien juga menderita diabetes, biayanya bertambah $ AS 1000. Jika pasien juga menderita gangguan jantung, biayanya juga bertambah lagi.

Hal ini juga berlaku buat pasien kanker Prof. Wu. Tingkat keparahan dan stadium kanker juga berpengaruh terhadap besarnya biaya perwatan. Untuk satu paket perawatan selama 1 – 1,5 bulan di RS Yusheng, biayanya berkisar antara Rp 40 – 80 juta. Karena itu, Wu memberi saran, usahakan berobat ketika masih stadium dini. Dengan begitu, dokter tidak terlalu pusing, pasien juga tak terlalu pening.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s