Dari Ujung Pedal, Sehat Berawal [intisari]

Dari Ujung Pedal, Sehat Berawal

Bersepeda tak cuma urusan mengengkol pedal. Jika dilakukan dengan tepat, ia bisa menjadi olahraga sekaligus rekreasi. Tapi jika tekniknya keliru, bisa-bisa malah membuat urusan pria di atas ranjang jadi berabe.

=====

Dulu, kakek kita menggunakan sepeda pancal alias sepeda onthel sebagai alat transportasi. Dengan sepeda kumbang yang melaju di jalanan berlubang, Pak Guru Oemar Bakri menyangklong tas hitam dari kulit buaya, berangkat ke sekolah untuk mengajar ilmu pasti.

Tapi sekarang, kejayaan sepeda jengki dan sepeda unta sebagai alat transpotasi sudah usai. Mengayuh pedal kini tak lagi identik dengan berangkat kerja, tapi olahraga. Bersepeda kini identik dengan membakar kalori, menurunkan berat badan, mengecilkan perut buncit, dan merampingkan lingkar pinggangnya yang tidak mau diajak kompromi.

“Dulu perut saya gendut. Tapi setelah rajin bersepeda, sekarang enggak gendut lagi,” aku Dasuki, seorang wiraswastawan yang tinggal di Depok. ” Sekarang, kalau enggak sepedaan, badan rasanya enggak enak, pegel-pegel gitu,” sambungnya.

Dasuki jelas tidak melebih-lebihkan. Bersepeda memang olahraga yang bisa diandalkan. “Sebagai olahraga, bersepeda punya dua fungsi sekaligus: endurance dan strength training,” kata dr. Nani Cahyani Sudarsono, Sp.KO, pengajar Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI).

Two in One

Berdasarkan fungsinya, olahraga dibagi menjadi dua kelompok besar. Kelompok pertama, olahraga yang melatih ketahanan jantung dan paru. Ini biasanya disebut sebagai olahraga endurance. Contoh paling gampang adalah senam aerobik, joging, dan jalan kaki. Latihan-latihan ini masuk kategori endurance karena membakar kalori dengan disertai peningkatan aktivitas jantung memompa darah, serta aktivitas paru menyuplai oksigen.

Kelompok kedua, olahraga yang melatih otot-otot tertentu. Ini biasa dikenal sebagai strength training. Contoh paling gampang adalah latihan mengangkat dambel. Fokus latihan ini adalah otot-otot lengan.

Berdasarkan pengelompokan itu, kegiatan bersepeda masuk kedua kategori tersebut. Dengan mengayuh pedal, vaskularisasi dan oksigenasi meningkat. Jantung memompa lebih aktif, paru pun bekerja lebih giat.

Di samping itu, saat menggenjot pedal dengan kuat, otot-otot paha dan sekitarnya juga bisa terlatih. “Kalau jalannya santai dengan kecepatan sedang di tempat yang datar, kita melatih daya tahan jatung-paru. Tapi kalau lewat jalan menanjak, kita ‘kan butuh kekuatan ekstra. Ini bisa berfungsi sebagai strength training,” papar Nani.

Hanya saja, Nani setuju bahwa otot yang dilatih terbatas pada otot paha dan sekitarnya saja. “Kalau mau ngelatih otot lengan, ya kurang optimal,” ujarnya.

Gampang Dikendalikan

Selain kelebihan tersebut, menurut Nani, bersepeda juga termasuk latihan aerobik yang relatif mudah dikendalikan. Tapi urusan kendali di sini tak ada sangkut pautnya dengan setang alias kemudi sepeda.

Maksud “mudah dikendalikan” adalah intensitas latihan bisa diatur sesuai kebutuhan. Contoh gampang, jika pesepeda merasa terlalu enteng, ia bisa meningkatkan kecepatan kayuhan pedal. Jika sudah ngos-ngosan, ia bisa memperlambatnya sesuai kebutuhan.

Ini berbeda, misalnya, dengan senam aerobik. Meskipun capek, biasanya pesenam tetap mengikuti apa pun yang dilakukan instrukturnya. Termasuk saat instruktrunya loncat-loncat. Ini yang menyebabkan pesenam sulit mengendalikan intensitas latihan.

Pada olahraga bersepeda, hal seperti ini tidak terjadi. Pesepeda bisa mengatur intensitas genjotan kapan saja ia mau. Meski demikian, menurut Nani, pesepeda harus tetap mengikuti aturan umum dalam berolahraga. Harus dimulai dengan pemanasan dan diakhiri dengan pendinginan. “Saat baru mulai, jangan langsung pakai kecepatan tinggi. Begitu pula kalau selesai, jangan langsung berhenti, tapi kurangi kecepatan sedikit demi sedikit,” sarannya.

Dasuki sependapat dengan aturan ini. “Sebelum bersepeda, kita biasanya stretching otot dulu. Kalau enggak pemanasan dan langsung lewat tanjakan, kadang mata bisa berkunang-kunang, kadang paha atau betis sampai kram,” katanya.

Disfungsi Ereksi

Exercise is medicine, kata para ahli kesehatan olahraga. Apa pun jenisnya, olahraga biasanya dianjurkan para dokter buat mereka yang punya masalah di tempat tidur. Bukan hanya masalah sulit tidur (insomnia), tetapi juga masalah sulit “bangun” (disfungsi ereksi).

Tapi untuk urusan yang terakhir ini, para pesepeda sebaiknya berhati-hati. Pasalnya, bentuk sadel yang tidak bersahabat buat selangkangan ditengarai bisa menimbulkan masalah disfungsi ereksi.

Nah, lo!

Masalah ini sudah lama menjadi bahan diskusi para ahli kesehatan olahraga. Tahun 2002, National Institute for Occupational Safety and Health (NIOSH) Amerika, melakukan penelitian terhadap para polisi yang berpatroli mengendarai sepeda. Hasilnya, desain sadel yang tidak ramah-perineum diduga bisa menurunkan kemampuan ereksi. (Perineum adalah daerah pangkal paha yang menjadi rute pembuluh darah menuju penis).

Penjelasannya sederhana.

Saat nangkring di atas sadel, pembuluh di wilayah perineum tertekan sehingga sirkulasi darah terganggu. Jika berlangsung lama dan terus-menerus, kondisi ini bisa menyebabkan suplai darah ke penis berkurang. Akibatnya, si buyung menjadi ogah-ogahan jika diajak bekerja giat.

Meski demikian, para pesepeda tak perlu khawatir. Para ahli sepakat, penyebab timbulnya masalah ini bukan kegiatan bersepedanya, melainkan caranya. Masalah seks ini diyakini tidak akan timbul asalkan pesepeda mematuhi prosedur tetap cara bersepeda yang baik.

Aturannya, sadel tak boleh terlalu keras. Desain sadel juga sebaiknya punya bagian lubang di tengah untuk menjaga agar daerah perineum tidak terlalu tertekan. Selain itu, NIOSH juga menyarankan pesepeda untuk mengangkat pantat setiap beberapa saat tertentu, misalnya tiap sepuluh menit. Tujuannya memberi kesempatan sirkulasi darah yang macet agar bisa mengalir.

Untuk menghindari timbulnya masalah, Nani memberikan resep sederhana, “Jika timbul rasa tidak nyaman apalagi sampai baal di daerah itu, berarti ada yang tidak beres.”

Dasuki pun sependapat. “Saya juga pernah dengar masalah ini. Makanya saya pakai sadel yang ada bolongannya di tengah. Sepeda saya juga punya per di batang jok-nya. Dan sejauh ini, saya enggak punya masalah apa-apa,” katanya.

Olahraga Rekreasi

Dengan semakin banyaknya pilihan, kini acara bersepeda tak selalu harus di jalanan. Dengan sepeda statis, mengayuh pedal di dalam rumah pun oke.

Dalam urusan melatih ketahanan jantung-paru, manfaat bersepeda statis relatif sama dengan bersepeda luar ruang. Meski demikian, menurut Nani, keduanya tetap punya perbedaan. Perbedaan pertama, bersepeda statis tidak melatih keseimbangan. “Padahal keseimbangan itu unsur yang sangat penting dalam kesehatan. Apalagi jika umur semakin menua,” tandasnya.

Perbedaan kedua, bersepeda luar ruang juga melatih otot lengan, sementara bersepeda statis tidak. “Boro-boro melatih lengan, banyak yang bersepeda sambil tangannya berlenggang kangkung. Malah ada yang sambil baca majalah. Karena itu, kalau mau melatih keseimbangan dan fleksibilitas, bersepeda statis saja tidak cukup. Harus ditambah senam,” saran Nani.

Selain dua perbedaan di atas, bersepeda luar ruang juga punya kelebihan penting lainnya, yaitu memiliki unsur rekreasi. “Saya pilih bersepeda karena ada unsur fun-nya. Kebetulan saya suka adventure,” kata Dasuki. Alasan Dasuki memang masuk akal. Bagi mereka yang hidup di kota, unsur petualangan alam merupakan daya tarik tersendiri.

“Awalnya cuma dua, tiga orang tetangga yang ikut. Sekarang anggotanya sudah 20-an orang,” imbuhnya. Kini Dasuki dan kawan-kawannya menamai “organisasi tanpa bentuk” yang mereka dirikan itu Biking Adventure Demasiti. (Demasiti diambil dari nama kompleks perumahan mereka di Depok Maharaja, Sektor I, tahap I).

“Waktu itu rutenya masih dekat dari rumah. Kebetulan kita sama-sama suka adventure, jadi sekarang rutenya jauh-jauh, ke Sawangan, Parung, Cinere, Sentul, Gunung Putri, bahkan kadang ke Puncak. Tapi kalau jaraknya jauh, kita berangkat naik mobil pick-up. Sepedanya dinaikin mobil. Sampai di sana, kita turun,” tambahnya.

“Pokoknya enaklah. Ada tantangannya. Bisa ngelihat alam, ngelintasin sawah, lewat tanjakan, nyeberang kali. Udaranya juga masih segar. Masih banyak pohon. Musim hujan pun kita masih main. Lebih seru,” ujarnya seru.

Dasuki mengaku tak suka dengan rute jalan beraspal. “Rute kita 70 persen di jalanan tanah, bukan di aspal. Kalau lewat jalan aspal, asapnya bikin enggak kuat. Kita juga sudah tahu tembusnya ke mana. Enggak seru lagi, dan cepet capek. Kalau lewat pedalaman, adrenalin kita terpacu. Enggak kerasa, tahu-tahu sudah tembus di tempat tak terduga. Kita sering pulang enggak tahu jalan. Pokonya kita jalan aja, main tebak. Kalau tembusnya ke kali, ya sepedanya
kita gotong,” tambahnya dengan lebih seru.

Saking serunya acara naik “kereta angin” itu, Dasuki mengaku selalu menunggu-nunggu datangnya hari Minggu. Semboyannya, I really love Sunday! Maklum, di hari itulah ia bersama gengnya bertualang ke daerah pedalaman.

Biasanya mereka berangkat sebelum pukul tujuh pagi. “Kita tidak terus-terusan naik sepeda. Kalau capek, misalnya habis lewat tanjakan yang curam, kita istirahat 5 – 10 menit dulu. Enak. Istirahatnya di sawah, di saung. Ada kenikmatan tersendiri,” katanya bersemangat, seolah tak sabar menunggu tibanya hari Minggu.

Karenanya rutenya off-road, Dasuki mengaku pernah mengalami kecelakaan ringan. “Makanya, kita mewajibkan anggota pakai pelindung. Paling tidak helm sama kacamata sport,” sambungnya. Olahraga memang penting, tapi keamanan pada saat olahraga jelas tak kalah penting.

Menurut Dasuki, di daerah Jabodetabek terdapat banyak perkumpulan sepeda seperti paguyuban yang ia dirikan. Mereka membentuk komunitas MTB (Mountain Biking) Indonesia. Biasanya mereka membentuk sub-sub komunitas lebih kecil berdasarkan daerah tempat tinggal. “Di tengah jalan, kita sering ketemu. Biasanya kita kenalan, dan saling tukar info,” sambungnya dengan lebih bersemangat.

Pokoknya, seru dah!

Iya, iya, percaya deh.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s