English Course Metode Wirid [intisari]

Penulis: M. Sholekhudin

Para pengelola kursus bahasa asing kini punya pesaing baru. Namanya lumayan nyleneh, program penguasaan bahasa asing lewat ilmu laduni. Penyelenggaranya bukan akademi bahasa, tapi pesantren. Metodenya: baca wirid lalu cas-cis-cus. Buka kamus, urusan belakangan.

====

Penemu metode ini bukan sarjana linguistik, tapi seorang kiai yang mengaku tak pernah kuliah di universitas. Namanya Ahmad Sholeh. Para santrinya memanggil Gus Sholeh. “Saya menemukan metode ini setelah tirakat selama setahun,” kata pendiri Pondok Pesantren Nurur Riyadlah, Desa Alas Tengah Timur, Paiton, Probolinggo, Jawa Timur. “Ini ilmu laduni yang saya peroleh dari Allah,” sambungnya dengan logat Madura.

Metode yang ia terapkan terbilang unik dan kontroversial. Sebagian kalangan mengaggapnya klenik dan irasional. Tapi ia menyanggah. Katanya, semua tahap ada penjelasannya.

Pada tahap awal, peserta harus merapalkan wirid tertentu. Wirid ini berbeda dengan doa-doa yang diajarkan di kitab kuning. Bahasanya pun bukan bahasa Arab meskipun terdengar mirip. Menurut sang inovator, wirid ini berbahasa kalam suryani. “Itu bahasa para malaikat. Hanya orang-orang tertentu yang paham,” tuturnya.

Wiridnya pendek dan sederhana: fuuh amaa nurullah yaa hamlan amuun nuun, nuun, nuun. Sambil merapalkannya, murid juga berdoa dalam bahasa Indonesia: Ya Allah, hamba mohon datangnya bahasa asing dengan sempurna. Wirid ini tertulis dalam aksara Arab dan latin di selembar kertas yang dibagikan kepada setiap murid.

Si murid harus melafalkan doa ini selama dua jam. Ia boleh membacanya sambil jalan-jalan. Setelah itu ia harus minum air mineral yang telah disuwuk (didoai) oleh Gus Sholeh.

Ritual ini ia sebut sebagai tahap pembukaan bahasa. Setelah minum air itu, si murid akan serta-merta bisa nyerocos dalam banyak bahasa asing. Saat Intisari berkunjung, delapan orang murid sedang menjalani prosesi ini di salah satu ruangan pesantren. Suasana pembukaan riuh rendah. Dari luar terdengar seperti suara gaduh anak-anak TK.

Tiga orang ustadz, Rabat, Aang, dan Nanang bertindak sebagai pembimbing. Mereka memancing murid agar bicara dalam bahasa asing. Mula-mula Inggris, lalu Cina, Italia, India, dan Jepang. Lucu, seru, aneh, dan mengherankan. Kadang mereka bicara dengan diselingi menyanyi dan tertawa terbahak-bahak. Baju mereka tampak basah oleh peluh akibat udara gerah di dalam ruangan.

Meski nyerocos seperti meracau, mereka dalam keadaan sadar. Ketika ustadz memberikan instruksi pindah bahasa, mereka mengangguk-angguk, mengiyakan. Agus, salah satu murid yang telah menyelesaikan tahap pertama bercerita, “Waktu ngomong itu, saya enggak tahu artinya. Pokoknya, ya ngomong aja!”

Lalu ia memperagakan kembali ucapannya saat meracau dalam bahasa Inggris. Yang diucapkan adalah kata-kata Inggris, tapi tidak tersusun dalam kalimat yang punya makna tertentu. “Saya tadi enggak pakai grammar (tatabahasa) ‘kan?” tambah lulusan Institut Ilmu Sosial dan Ilmu Politi (IISIP) Jakarta ini.

Tetap perlu belajar

Menurut Sholeh, kemampuan berbahasa adalah fitrah yang dimiliki semua orang. Setiap manusia dibekali suratan ini sejak lahir, seperti halnya rezeki, umur, dan jodoh. “Kalau sampeyan lahir di Belanda, ngomongnya juga pasti bahasa Belanda. Tugas saya hanya membuka fitrah itu. Sifatnya cuma melenturkan lidah dan tenggorokan,” tandasnya.

Karena hanya “membuka”, Sholeh mengaku bukan bidangnya untuk menjelaskan perbedaan simple past tense dan prese
nt perfect tense
. “Kalau urusan beginian ‘
kan sudah ada di buku,” elaknya.

Ia menjamin, “Semua orang isya Allah bisa dibuka di tahap ini.” Pemeluk agama apa pun tak masalah. “Fitrah itu ‘kan tidak berkaitan dengan agama tertentu,” sambungnya.

Meski semua orang bisa dibuka, tingkat kefasihan nyerocos bisa saja berbeda antarmurid. Saat proses pembukaan, seorang ibu tampak malu-malu dan tak banyak bicara meski dipancing berulang-ulang oleh Aang. Di tahap ini, diam bukan emas, tapi kesalahan besar. “Waktu proses pembukaan, jangan diam aja. Tak usah malu. Pokoknya ngomong aja,” kata Aang.

Setelah melewati tahap pembukaan, murid masuk tahap kedua, pemisahan bahasa. Jika tahap pertma harus dilakukan di pesantren, tahap kedua ini bisa dilakukan di rumah.

Prosesnya berlangsung selama tiga hari. Selama itu, murid harus membaca wirid tahap dua yang lebih pendek: hundimuu hundifar. Wirid ini tak harus dibaca terus-menerus. Murid diperbolehkan menjalankan aktivitasnya sehari-hari. “Saya biasanya membaca wirid ini di rumah, di depan kaca,” kata Agus.

Sambil melafalkan wirid, murid harus melatih lidah dan tenggorokannya untuk terus meracau dalam bahasa yang ia tuju. Jika ia ingin lancar berbahasa Cina, ia harus banyak meracau dalam bahasa Cina.

Setelah melewati tahap pemisahan, murid masuk ke tahap penguasaan arti. Di tahap ini, murid harus banyak-banyak membaca wirid Yaa huu’ binuuri dzaati wa shifati yaa hamlan wajhi fil wujuudi yaa ruuhannuur, ya nuuror ruuh, ruuh, ruuh. Prosesnya berlangsung selama dua bulan.

Seperti pada tahap dua, pada tahap ini pun murid bisa melakukannya di rumah. Boleh sambil kuliah atau bekerja. Yang membedakan, pada tahap ini murid juga harus belajar dengan cara konvensional, seperti yang kita lakukan jika kursus bahasa asing.

Jika ia ingin memperdalam bahasa Inggris, ia bisa mendengarkan siaran BBC, membaca buku, dan membuka kamus! Jika ingin belajar bahasa Korea, murid bisa mendengarkan drama Winter Sonata yang belum disulih suara. Ini merupakan tahap terakhir program bahasa ala ilmu laduni. Sholeh menjamin, setelah dibuka, penguasaan bahasa asing menjadi lebih mudah.

Banyak salah paham

Sebagian kalangan menganggap cara ini menggunakan bantuan jin. “Ini mah perdukunan modern! Pembodohan masyarakat!” komentar pihak yang kontra. Menanggapi komentar kecut itu, Sholeh menyangkal dengan kalem, “Ilmu laduni itu di luar kemampuan akal. Akal manusia ‘kan memang terbatas.”

“Saya ikut program ini karena menurut saya, penjelasan Kiai Sholeh masuk akal,” kata Agus yang berangkat ke pesantren ini bersama dua kawannya sesama sarjana hubungan internasional.

Awalnya Sholeh hanya mempraktikkan ilmu ini untuk orang-orang sekitar pesantren yang hendak berangkat sebagai TKI di luar negeri. Tapi kemampuannya ini segera kesohor setelah sebuah majalah memuat beritanya.

Meski demikian, ia merasa disudutkan karena majalah itu menyebut dengan judul yang menurutnya cukup horor: Mahir Bahasa Asing dengan Ilmu Ghaib. Zainullah, ketua pelaksana pesantren yang juga adik Sholeh menegaskan, “Program ini tidak memakai bantuan jin, tapi dengan asma Allah.”

Pesertanya banyak dari kalangan terdidik. Sebagian besar lulusan S1. Bahkan, menurut pengakuan Sholeh, ada juga yang lulusan S2. Ia mengaku tak ingat lagi jumlah orang yang pernah ia buka. “Pokoknya banyaklah!” ucapnya ringan.

Sebagai mahar (sumbangan pengganti biaya), pihak pesantren mengutip Rp 350.000,- per orang. Belakangan, nama Ahmad Sholeh dicatut oleh orang tak dikenal yang ingin mencari keuntungan. Dengan mengatasnamakan pesantren Nurur Riyadlah, ia membuka situs di internet. Situs itu menawarkan program jarak jauh untuk penguasaan bahasa. Sebagai mahar, peserta hanya perlu mengirim sejumlah uang ke nomor rekeningnya.

Tak sedikit yang tertipu. “Banyak yang ke sini mencak-mencak. Mereka sudah membayar lalu datang ke pesantren. Kami ‘kan enggak tahu-menahu. Waktu kami lacak penipu itu, alamatnya sudah pindah,” ceita Aang.

Pesantren ini menjadi semakin kondang setelah tampil di sebuah stasiun teve. Banyak peminat yang datang dari luar provinsi untuk menjajalnya. Umumnya mereka minta bisa lancar bahasa Inggris. Bahasa Mandarin menempati urutan kedua.

Hampir tiap hari ada tamu yang datang. “Paling ramai pas hari libur,” kata Rabat yang pernah menjadi pemandu turis di Batam dan Singapura setelah dibuka Sholeh. Meski begitu, ia jujur mengaku bahasa asing yang dikuasai hanya bahasa Inggris.

Bahasa lainnya? Ini yang sering disalahsangkakan.

Saat menjadi instrukur pembukaan bahasa, ia memang bisa ngomong banyak bahasa. Meski begitu, ia tak tahu artinya. Maklum, meskipun punya program bahasa asing,
pesantren ini tak menyediakan kamus bahasa Italia maupun buku ajar bahasa Putonghua. Sehari-hari, para santri bercakap-cakap dengan bahasa Jawa, Madura, atau Indonesia. Tak ada ucapan thank you, arigato gozaimasu, xie xie, ataupun merci.

“Di sini, kami hanya membuka. Penguasaan selanjutnya kami serahkan pada orang yang bersangkutan,” kata Anang. Program bahasa asing pun sebetulnya bukan bidang utama pesantren ini. “Orang-orang sudah kadung mengenal pesantren ini sebagai pesantren bahasa asing. Padahal ini pesantren salaf biasa. Ngajinya juga kitab kuning seperti pesantren-pesantren lain,” lanjutnya. “Kami orang-orang kampung. Kemampuan berbahasa asing bukan sesuatu yang begitu penting,” sambung santri sekaligus ustadz yang murah senyum ini.

Menurut Rabat, banyak orang salah paham tentang program ini. Mereka menyangka, setelah ikut program ini mereka akan langsung bisa berbahasa asing tanpa proses belajar dulu. “Hidup itu ‘kan perjuangan dan pengorbanan,” selorohnya sambil menirukan lagu Pengorbanan milik Bang Haji Oma Irama.

Gambar Osamah bin Laden di kaos Rabat seolah ikut tersenyum.

Boks-1

Rekaman Bawah Sadar
Di luar urusan kontroversi, dr. Tb. Erwin Kusuma, Sp.KJ (K), psikiater Klinik Prorevital, Jakarta, mencoba memberi penjelasan fenomena ini. Manusia adalah mahluk rohani yang punya jasmani halus dan jasmani kasar. Jika dianalogikan dengan komputer, jasmani halus mewakili isi disket, sementara jasmani kasar adalah print out dari isi disket.

Hasil cetak sepenuhnya tergantung dari isi disket. Isi disket bisa berasal dari dalam diri kita sendiri maupun dari luar. Pada para nabi dan wali, isi disket berasal langsung dari Tuhan. Ketika nabi menerima wahyu, ia dalam keadaan hulul, unio mystica, yoga, manunggal.

Ketika seseorang membaca wirid, ia bergeser dari keadaan konsentrasi (gelombang beta, > 12 Hz) menjadi relaksasi (gelombang alfa, 8 – 12 Hz). Dalam keadaan relaksasi, ia dapat menggunakan extra sensory perception (indra keenam). Dalam keadaan ini pula, disket-nya bisa menerima file dari rekaman bawah-sadar kolektif yang ada di masyarakat, misalnya kemampuan berbahasa.

Advertisements

6 thoughts on “English Course Metode Wirid [intisari]

  1. Ayam sori, baru tahu ada reply. Alamatnya: Pondok Pesantren Nurur Riyadlah, Desa Alas Tengah Timur, Paiton, Probolinggo, Jawa Timur. Talipun: 0335-772466 (kalao belum berubah). BTW, secara pribadi, ane tak menganjurkan. Lebih baik bareng ane, kursus di PPBUI (:P).

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s