Flek Paru, Suka Menyaru dan Bikin Keliru [intisari]


Pada anak-anak, penyakit ini benar-benar bikin pusing. Bukan hanya orang tua, dokter spesialis anak pun kadang dibuat pening. Tak jarang, seorang anak sudah telanjur minum banyak obat, ternyata sehat. Sebaliknya, yang disangka tidak sakit, ternyata diam-diam sudah terjangkit.

Sehari-hari, orang awam menyebutnya flek paru. Tapi tak sedikit dokter anak bersungut-sungut mendengar istilah itu. Maklum, istilah flek paru tidak dijumpai dalam kamus kedokteran mana pun. Seperti masuk angin, panas dalam dan saraf kejepit.

Entah siapa yang memulai penggunaan istilah ini, yang jelas kata flek berasal dari bahasa Belanda, vlek. Artinya, bintik alias bercak atawa noda. Para ahli radiologi menggunakannya untuk gambaran noda yang khas di foto rontgen. Tapi belakangan, istilah ini dipakai sebagai eufemisme untuk tuberkulosis (TB) paru, yang disebabkan oleh Mycobacterium tuberculosis.

“Padahal flek di foto rontgen tak selalu TB,” kata Dr. dr. Muljono Wirjodihardjo, Sp.A (K), ahli respirologi anak dari Rumah Sakit Internasional Bintaro. “Di sinilah susahnya. TB pada anak berbeda dengan orang dewasa, sehingga diagnosisnya pun lebih sulit,” tambahnya.

Pada orang dewasa, kuman TB bisa dilacak dari dahak. Tapi pada anak-anak, kuman TB sulit dilacak sebab mereka belum bisa berdahak seperti sang bapak.

Selain itu, gejala TB pad anak sering tersamar oleh gejala sakit yang lain, misalnya flu atau batuk. Tak jarang dokter terkecoh dan menganggapnya sebagai batuk biasa.

Pada orang dewasa, gejala TB tampak jelas. Gambaran radiologisnya pun khas. Tapi pada anak, banyak kesulitan yang dihadapi, bahkan oleh dokter spesialis anak sekalipun.

Kemal, seorang karyawan perusahaan asuransi punya cerita tentang hal ini. “Anak saya pernah divonis TB. Waktu itu umurnya baru setahun. Awalnya berat badannya enggak naik-naik. Dokter curiga TB. Waktu dites Mantoux, hasilnya negatif. Lalu dokter minta tes rontgen. Ternyata ada flek di parunya.”

“Dari hasil rontgen itu, dokter menyimpulkan anak saya kena TB dan disuruh minum obat jangka panjang. Setelah tiga bulan, saya tanya apakah obat perlu diteruskan. Dokter bilang, terus. Tapi pada bulan keempat, saya disuruh menghentikan tanpa ada penjelasan. Waktu itu saya enggak ngerti apa-apa. Tak tahunya, setelah mencari second opinion, anak saya enggak apa-apa,” tuturnya.

Naik Kelas

Selama ini TB identik dengan penyakit orang miskin. Orang tua akan merunduk malu jika anaknya diketahui mengidap. Tapi menurut Muljono, dalil ini sekarang tak lagi berlaku seratus persen. Ini berdasarkan pengalamannya menangani pasien anak-anak dari kelas ekonomi mapan. “Banyak yang enggak percaya. Tertular dari mana? Wong di rumah enggak ada yang kena kok,” ujarnya.

Berdasarkan pengalaman Muljono, sumber penularan yang diketahui hanya sekitar 10%. “Ada yang tertular dari baby sitter, orang tua, atau orang lain yang tinggal serumah,” terangnya.

Selebihnya, 90% biang keladi tidak diketahui secara pasti. “Yang jelas, si anak pasti tertular dari orang dewasa, bukan dari teman bermain. Sebab pada anak, TB bersifat tertutup, tidak menular,” tandas Muljono.

Kuman ini diyakini menular secara tidak langsung dari orang lain yang tidak tinggal serumah. Saat penderita batuk, kuman TB keluar dari paru bersama percikan air ludah, lalu bertahan hidup sambil beterbangan di udara, dan akhirnya terhirup oleh si anak.

Dalam tubuh anak, kuman ini bersarang di kelenjar getah bening. Itulah sebabnya, orang tua harus waspada jika si upik punya benjolan kelenjar getah bening di leher bagian belakang telinga.

Selain itu, orang tua juga bisa mengamati gejala-gejala yang lain. Di antaranya, batuk tak kunjung sembuh, gampang sakit, nafsu makan hilang, berat badan yang tidak naik-naik atau bahkan turun, serta demam berulang-ulang tanpa sebab yang jelas.

Namun, gejala-gejala ini bersifat subjektif sehingga tidak selalu menjamin diagnosis yang tepat. Sebagai contoh, batuk bisa saja disebabkan oleh alergi atau asma. Demam yang berulang-ulang bisa saja karena infeksi virus langganan. Pembesaran kelenjar getah bening pun bisa disebabkan kuman yang lain.

Untuk memperkuat diagnosis, diperlukan tes-tes lain yang lebih akurat, antara lain tes Mantoux dan foto rontgen dada. Tes Mantoux bertujuan untuk menguji apakah tubuh pernah terpapar kuman TB, ataukan tidak. Sedangkan foto rontgen untuk mengetahui ada tidaknya infiltrat di paru. Infiltrat adalah massa seperti dahak yang terjadi akibat aktivitas kuman TB. Namun, lagi-lagi di tahap ini pun ada banyak hal yang bisa mengecoh diagnosis.

Tipuan pertama timbul pada saat tes Mantoux. Kalaupun hasilnya positif, itu tidak berarti si anak pasti menderita TB. Muljono memberi contoh, “Anak yang pernah mendapat vaksin BCG akan memberikan respons positif terhadap tes Mantoux. Begitu pula anak yang pernah terpapar kuman TB, tapi daya tahannya cukup kuat untuk melawan. Jadi, meskipun kemasukan kuman, dia enggak sakit.”

“Tapi kalau kemerahan di kulitnya sangat tebal, misalnya lebih dari 20 mm, kemungkinan besar dia memang sakit. Apalagi jika benjolan di belakang telinganya sangat besar. Lebih-lebih jika ada riwayat anggota keluarga yang sakit TB,” tambahnya.

Karena tes Mantoux saja tidak cukup, untuk memperkuat diagnosis diperlukan tes foto rontgen.
Tapi di sini pun tipuan masih terus berlanjut.

Pada orang dewasa, foto rontgen biasanya menunjukkan gambaran flek paru di bagian atas. Sebab di sinilah kuman TB membangun sarangnya.Tapi pada anak-anak, kuman TB tidak membangun sarangnya di paru bagian atas, tetapi di kelenjar getah bening.

Susahnya, lokasi kelenjar ini berdekatan dengan jantung. Jika hanya difoto dari depan, kadang flek tertutup oleh bayangan jatung. Apalagi jika teknisi rontgen kurang terampil. Itulah sebabnya, untuk memperkuat diagnosis, foto rontgen juga harus dilakukan dari samping. Dengan begitu, gambaran paru tidak diganggu oleh jantung.

Ruwetnya lagi, kalaupun hasil rontgen menujukkan flek, itu tidak berarti si anak positif TB. Ada kemungkinan lain. Muljono memberi contoh anak-anak yang sedang batuk grok-grok. Saat dirontgen, mungkin saja menunjukkan flek, meskipun ia tidak menderita TB.

“Karena itu, foto rontgen harus dilakukan pada saat kondisi terbaik. Jika mungkin, setelah batuknya disembuhkan. Atau paling tidak, saat batuknya minimal,” papar Muljono.

Kuman Paling Bandel

Karena banyaknya faktor pengecoh, maka diagnosis TB harus ditegakkan berdasarkan banyak pemeriksaan. Selain pemeriksaan-pemeriksaan di atas, masih ada jenis tes-tes yang lain. Masing-masing pemeriksaan punya skor tertentu. Yang ini urusan dokter. Jika misalnya total skornya enam atau lebih, maka itu berarti si anak memang menderita TB.

Jika orang tua perlu mencari second opinion, Muljono menyarankan agar pendapat kedua dicari dari dokter lain yang lebih kompeten dan berpengalaman. Bukan sekadar ke dokter lain. “Mencari second opinion ‘kan seperti naik banding. Karena itu, jangan sekadar ke dokter lain,” ujar dokter yang menyelesaikan pendidikan S1 sampai S3-nya di Keio University, Jepang ini.

Bila si anak memang benar-benar menderita TB, maka tak ada pilihan lain: orang tua harus siap-siap merayu si buah hati untuk minum obat setiap hari. Lamanya berkisar antara enam bulan hingga satu tahun.

Selama waktu itu, orang tua harus memastikan si anak minum obat sesuai aturan dokter. Ini sangat penting karena biasanya anak-anak susah diajak kompromi untuk minum obat. Karena itulah, orang tua harus telaten dan disiplin. (Sekali lagi telaten dan disiplin).

Muljono menegaskan hal ini sebab banyak orang tua yang, karena kasihan pada si buyung, lantas menghentikan obatnya begitu gejala sakitnya hilang. Padahal, hilangnya gejala sakit TB bukan berarti kuman telah terbasmi semuanya. Kuman ini dikenal sebagai kuman yang sangat bandel. Ia tidak bisa dibasmi dengan satu macam antibiotik saja. Biasanya kombinasi dari beberapa obat anti-TB (OAT).

Dalam kondisi digempur habis-habisan, ia akan berusaha “mengawetkan diri” dengan membentuk lapisan pelindung dan tidur tanpa makanan. Ia bisa bertahan dalam kondisi itu dalam jangka berbulan-bulan. Itulah sebabnya, pengobatan TB membutuhkan kedisiplinan ekstra.

Jika pengobatan dihentikan di tengah jalan, maka suatu saat kuman-kuman yang tidur itu akan bangun lagi dan menggerogoti tubuh si anak di kemudian hari. Jika ini sampai terjadi, pengobatan berikutnya menjadi lebih sukar. Waktu terapi pun menjadi lebih lama.

Pasalnya, kuman generasi kedua ini lebih kebal terhadap OAT yang terdahulu. Akibatnya, pemilihan obat menjadi lebih sulit. Orang tua harus menyiapkan lebih banyak duit. Masalah yang timbul pun menjadi lebih rumit. Soalnya, semakin banyak si anak minum obat, semakin besar kemungkinan fungsi hatinya terganggu.

Mulai dari Kita

Sebagaimana penyakit infeksi lainnya, hal terpenting dalam pencegahan TB adalah menghindari penularan. Orang tua harus memastikan tidak ada anggota keluarga yang menderita TB. Jika ada, itu adalah lampu merah buat seisi rumah.

Penderita harus segera diobati agar tidak menulari anggota keluarga yang lain, terutama anak-anak. Mereka adalah kelompok yang paling rentan tertular karena daya tahan tubuh mereka relatif masih lemah.

Meskipun dari pemeriksaan, si anak terbukti tidak menderita TB, ia tetap harus minum OAT. Jika tidak, dikhawatirkan ia akan tertular dari penderita selama masa pengobatan.

Bedanya, dosis untuk anak hanya setengah dari dosis terapi. Waktunya pun tidak sampai enam bulan. Umumnya hanya sampai tiga bulan. Setelah itu, si anak harus tetap dievaluasi kembali. Jika hasilnya negatif, pemberian obat bisa dihentikan.

Selain vaksin BCG, pencegahan TB pada anak harus dimulai dengan pemberantasan TB pada orang dewasa. Merekalah sumber penularan. Anak-anak hanyalah korban. “Sekarang masalahnya lebih serius. Kasus TB pada anak, trennya mulai meningkat,” kata Muljono.

Di Indonesia, penyakit ini masih merupakan ancaman serius. Pemberantasan TB adalah tanggung jawab bersama. Semua orang yang dicurigai mengidap, harus segera pergi ke dokter. Jika positif TB, ia harus menjalani pengobatan sampai tuntas tas! Semua orang di sekitarnya juga harus ikut mengingatkan agar terapi benar-benar komplet plet! Tak boleh kurang satu hari pun.

Ini harga pas, tak bisa ditawar!

Advertisements

One thought on “Flek Paru, Suka Menyaru dan Bikin Keliru [intisari]

  1. hm..hm.. anak saya Deandra sejak lahir ada benjolan di belakang telinga kiri, tapi keras seperti tulang. Namun tidak sakit kayanya karena kalau ditekan Andra tidak menangis. Wahhh tapi gak ada salahnya kalau diperiksa lebih lanjut oleh Dokter Ahli Tulang atau Ahli Kulit kali ya?? hm… mudah-2an jauh ah dari TB 🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s