Ines Atmosukarto: Doktor Juga Manusia [intisari]

Usianya masih terhitung muda. Tapi soal prestasi, jangan ditanya. Tamat SMA, ia langsung mendapat beasiswa di Australia. Lulus S1 langsung meloncat ke S3. Di usia 28 tahun, gelar doktor sudah diraihnya. Tahun lalu menyabet penghargaan internasional mewakili Indonesia.

Nama lengkapnya sama panjang dengan prestasinya, Ines Irene Caterine Atmosukarto. Tapi sehari-hari ia lebih dikenal sebagai Ines Atmosukarto (saja).

Peneliti bioteknologi di Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Cibinong ini warga negara Indonesia. Tapi ia menghabiskan dua per tiga perjalanan hidupnya di luar negeri. Lahir 8 Oktober 1972 di Piatra Neamt, Rumania. Ibunya orang Rumania tulen. Tapi ayahnya, Atmosukarto, wong Banyumas asli yang mendapat beasiswa belajar di Rumania pada era Bung Karno.

Saat usianya enam bulan, keluarganya boyong ke Aljazair mengikuti tugas kerja Atmosukarto yang ahli perminyakan. Di sana ia menghabiskan masa kecilnya bersama dua adiknya selama tiga belas tahun. Tahun 1985, ayahnya memutuskan untuk kembali ke Indonesia karena rindu tanah air.

Maka, begitulah, sebulan berikutnya ia sudah menjadi siswa kelas dua SMP Sang Timur, Kemanggisan, Jakarta. “Bisa dibayangkan betapa susahnya. Saya tidak ngerti satu kata pun yang diucapkan guru,” kenang Ines. Jelas saja, sebab selama tiga belas tahun ia bicara dalam bahasa Rumania dan Prancis. (Karena Aljazair bekas koloni Prancis).

Agar bisa mengejar pelajaran, ia harus mati-matian belajar bahasa Indonesia. Maka si saat banyak orang kursus bahasa Prancis, ia kursus bahasa Indonesia di Centre Culturel Francais (CCF), Jakarta. “Makanya, semua buku SMP saya penuh dengan coretan. Pulang sekolah, saya terjemahin kata per kata ke dalam bahasa Prancis,” kisahnya.

Tak cuma masalah bahasa, ia pun tertinggal jauh dalam pengetahuan lokal. Maklum, di Aljazair ia tidak pernah belajar tentang Mahapatih Gajah Mada dan Kerajaan Majapahit. Apalagi butir-butir Pancasila. Tapi, justru dari situlah ia mendapatkan pelajaran penting tentang cara survive dalam kondisi sulit.

Pelajaran yang kelak banyak menolongnya.

Lulus SMP, ia masuk ke SMAN 78 Kemanggisan, Jakarta. Di sini, kemahirannya berbahasa Asterix menuai berkah. Ia mewakili Indonesia ke Paris dalam lomba bahasa Prancis.

Di SMA ia penyuka pelajaran kimia. Saat lulus pada tahun 1992, Ines muda mengikuti Ujian Masuk Perguruan Tinggi Negeri (UMPTN), dan diterima di program studi teknik gas dan petrokimia Universitas Indonesia (UI). Sempat diplonco senior-seniornya saat masa orientasi mahasiswa, tapi tak sampai dua bulan ia menerima beasiswa dari Menteri Riset dan Teknologi untuk kuliah di Australia.

Ia pun lalu hengkang dari UI ke Universty of Adelaide. Di sana, ia mengambil dua major sekaligus: biokimia dan genetika. Dua bidang yang saat itu masih jarang ditawarkan beasiswanya di Indonesia.

Tahun 1995, ia lulus Bachelor of Science Honours, dengan kelulusan first class honours. Karena prestasinya ini, ia tidak perlu mengikuti program S2, dan langsung lenggang kangkung ke program S3.

Tahun 1997, saat liburan pertama program S3, ia menikah dengan Ario Tejo, seorang penerbang yang ia kenal di negeri kanguru ini. Selesai melangsungkan pernikahan, ia kembali lagi ke Australia meneruskan penelitiannya.

Program doktoral di bidang biologi molekuler diselesaikan ketika usianya baru 28 tahun. Usia di mana kebanyakan wanita Indonesia, masih sibuk melamar kerja.

Begitu menggondol gelar doktor, ia menerima beberapa tawaran kerja dari perusahaan Singapura dan Australia. Tapi ia memilih tetap balik kampung dan berkarya di LIPI. “Saya pegawai negeri yang baik, kok,” kelakarnya sambil tersenyum. Senyuman khas seorang yang suka bercanda.

“Terus terang saya waktu itu sempat mempertimbangkan bekerja di luar negeri. Tapi saya pikir, kalau semua orang berpandangan seperti itu, kapan Indonesia bisa maju,” akunya jujur.

Pilihannya memang tidak keliru. Dua tahun di LIPI, ia sudah menunjukkan reputasinya dengan memenangkan Third World Academy of Science Grant. Dua tahun berikutnya, lagi-lagi ia berhasil membuktikan kelasnya sebagai peneliti andal. Proposal penelitiannya tentang end
ofit memenangkan L’Oreal-UNESCO Fellowship for Young Women in Science, mengalahkan 300 peneliti lain di seluruh dunia. Ia merupakan peneliti pertama Indonesia yang mendapatkan penghargaan prestisius ini.

Atas kemenangan tersebut, Ines berhak atas dana penelitian sebesar US$20.000. Ia juga berhak mengunjungi laboratorium mana pun di dunia untuk menimba ilmu. Pilihannya jatuh ke Montana State University, Amerika Serikat. Selama empat bulan di sana, ia berguru kepada Prof. Gary A. Strobel, peneliti utama dunia di bidang endofit.

Susahnya Jadi Peneliti

Menjadi peneliti sebetulnya bukan cita-citanya sejak awal. Waktu kecil, ia sebenarnya ingin menjadi guru karena cinta kepada anak-anak. Tapi setelah kuliah di Australia, ia berubah pikiran. “Di sana dosennya masih muda-muda dan energik. Itu yang membuat saya tertarik menjadi peneliti,” tuturnya.

Itu kondisi di Australia. Bagaimana dengan Indonesia?

“Jauh!” jawabnya dengan memanjangkan vokal “u”. Menjadi peneliti di sini jelas bukan profesi yang menggiurkan. “Di sana black forest, di sini kue semprong,” ujarnya mengibaratkan. Tawanya lepas dari balik deretan giginya.

Perbedaan paling jelas tentu saja masalah dana. “Tapi untuk urusan ini, kita harus tahu dirilah. Di Indonesia ‘kan masih banyak orang yang enggak bisa makan,” katanya empatik.

Tapi celakanya, dana yang pas-pasan itu pun masih kena potong sana-sini. Belum lagi problem harga alat dan bahan yang kadang dua kali lebih mahal. Itu pun datangnya harus menunggu empat kali lebih lama. Tak jarang, bahan penelitian dikenakan pajak barang mewah.

“Jadi, dengan dana yang sama, secara efektif kita hanya bisa melakukan penelitian seperlimanya. Di sana, alat dan bahan penelitian tidak dikenakan pajak,” ungkapnya membandingkan dengan penelitian serupa di Australia.

Untungnya, Ines telah belajar cara berkelit dalam keadaan sulit. Kondisi serbakurang itu tidak membuatnya kurang akal. “Dana penelitian kami tidak berasal dari APBN,” ujarnya. Ini aturan pertama yang ia terapkan. Peneliti tak boleh manja.

Lewat LIPI, ia aktif menjalin kerjasama dengan pihak swasta sebagai penyandang dana. Dengan niat mandiri pula, ia ikut bertarung di L’Oreal-UNESCO Fellowship. “Jika ke luar negeri, saya kadang pulang membawa barang sisa yang di sini masih bisa dipakai,” katanya. Ini aturan kedua. Peneliti harus banyak siasat.

“Kalau tidak begitu, bagaimana kita bisa mengejar?” tambahnya. “Jangankan dengan Australia, dengan Malaysia pun kita kalah jauh. Mereka sudah beberapa kali mendapatkan fellowship itu. Kita memang harus angkat topi buat mereka. Di Australia, mahasiswa program kedokteran yang berasal dari Malaysia bisa sampai separuh kelas,” tandasnya.

Menjadi peneliti di Indonesia memang sulit. Lebih-lebih peneliti wanita. “Apalagi yang masih muda,” ucap Ines. Kebetulan semua itu ada pada dirinya: peneliti muda wanita Indonesia.

Belum lagi masalah keluarga. “Jika seorang perempuan sudah menikah dan punya anak, biasanya kariernya akan dikorbankan. Ini ‘kan tidak terjadi pada pria,” cetusnya.

“Mudah-mudahan saya salah. Tapi menurut saya, agar peneliti perempuan diperhitungkan, ia harus dua kali lebih cerdas dari yang lain,” tambahnya. Meskipun berharap pendapatnya salah, ia mengucapkannya dengan sangat mantap.

Ikut Ngerumpi

Sejak kecil, Ines memang telah terbiasa dengan tradisi pendidikan. “Di keluarga kami, pendidikan adalah modal utama dalam hidup. Pendidikan adalah kekayaan yang tak mungkin hilang,” ujarnya. Kali ini ia bicara dengan mimik serius.

Keluarganya termasuk genus kutu buku. Kedua adik perempuannya juga mengikuti jejaknya, mendapatkan beasiswa di Singapura dan Amerika Serikat. “Ibu saya sangat disiplin mendidik kami. Jika tulisan saya tidak rapi, lembar itu ia robek. Saya disuruh nulis lagi. Makanya buku saya tipis-tipis,” kenangnya.

Di rumah, mereka biasa bicara dalam bahasa hibrida. Subjeknya bahasa Indonesia, predikatnya bahasa Prancis, objeknya bahasa Rumania.

Di luar profesinya sebagai peneliti, Ines adalah potret wanita biasa. Seorang istri dan ibu yang bersahaja. Sambil menulis proposal penelitian, ia masih menyempatkan diri menelepon Adeline, putrinya yang masih kelas satu SD, mengingatkan ulangan. Pulang kantor masih harus memandikannya, membantu mengerjakan PR, mendongeng, meninabobokkan.

Secara jujur ia mengaku bisa bekerja dengan baik karena dukungan keluarganya, orangtua, mertua dan suami. Baginya, lembaga keluarga adalah pilar utama dalam hidup.

Tak mengherankan, ia mengaku bahwa tokoh idola yang paling banyak mempengaruhinya adalah Ioana Scutaru. Jika Anda belum pernah mendengar nama ini, wajar saja. Sebab ia bukanlah seorang pahlawan nasional negara mana pun, bukan pula tokoh yang namanya banyak ditulis di buku-buku sejarah. Dia, tak lain tak bukan, adalah ibundanya sendiri.

Sehari-hari penampilan Ines jauh dari kesan peneliti yang biasanya identik dengan pembawaan serius dan jarang bergurau. Pada diri Ines, hal ini tidak berlaku. Sikapnya akrab, penampilannya gaul, gayanya modis. “Di lab(oratoium), saya suka ikut ngerumpi. Biasa aja,” katanya enteng.

Yah, kalau grup musik Seurieus berdendang Rocker Juga Manusia, Ines juga boleh bilang doktor juga manusia.

Boks

Endofit: Mahluk Renik, Manfaat Besar

Endofit sebetulnya bukanlah objek penelitian yang sama sekali baru. Di Indonesia pun banyak ilmuwan lain yang meneliti. Cuma, penelitian Ines dan timnya adalah satu-satunya riset yang dilakukan secara sistematis dalam skala besar.

Endofit adalah mikroba yang hidup di dalam jaringan tanaman. Bisa bakteri, bisa jamur. Jika kita mengambil sepotong kecil batang, di dalamnya terdapat sekitar 25-an jenis endofit. Mahluk-mahluk ini indekos tanpa mengganggu tanaman tempat ia menumpang. Sebaliknya, mereka diyakini bersimbiosis saling menguntungkan dengan tumbuhan inang.

Sebagian mikroba itu menghasilkan senyawa yang berpotensi sebagai antijamur, antibakteri, antioksidan, dan efek farmakologis lainnya. Dari hasil penelitian Ines dkk, LIPI telah mendokumentasikan 5.000 jenis endofit. Mulai tahun ini, penelitian difokuskan pada potensi sebagai antivirus hepatitis C.

“Bioteknologi adalah masa depan ilmu pengetahuan. Dan Indonesia sangat kaya sumber daya alam hayati. Ini salah satu keunggulan kita,” paparnya.

Okelah, Madame, selamat berkarya!

Advertisements

One thought on “Ines Atmosukarto: Doktor Juga Manusia [intisari]

  1. Salut buat mba Dr Ines, Indonesia sebenarnya memang punya banyak SDM yg bs bersaing di dunia internasional, namun kadang kesempatan dan peluang yg tak kunjung datang . Nah disini kita harus mengejar peluang itu. Terus berkarya mba Ines….

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s