Membangkitkan Kecerdasan Emosional [intisari]

Tony Buzan, penulis buku laris Head Strong mengatakan, otak manusia adalah raksasa yang sedang tidur. Para ahli neurologi memang membuktikan bahwa segala sesuatu bermula dari organ ini. Setelah era kecerdasan intelektual (IQ), para psikolog meyakini ada kecerdasan lain yang lebih penting: kecerdasan emosional dan, belakangan, spiritual. Semua dikendalikan oleh pikiran.

=============

Tono seorang siswa SMP kelas dua yang cukup bandel. Menjelang pembagian rapor, ia dipanggil oleh gurunya. Dengan logat Bali yang kental (“t” tebal), gurunya berujar, “Ton, tahun ini kamu tidak naik kelas. Nilaimu lima semua. Yang enam cuma satu.”

Mendengar itu, Tono pun lunglai. Ia pulang ke rumah dengan jalan kaki gontai. Sampai di rumah, ibunya curiga. “Kenapa, kau?” tanyanya.

“Saya tidak naik kelas,” jawab Tono dengan pasrah. Ia menduga ibunya bakal mengomel habis-habisan.

Tapi rupanya dugaannya keliru. Ibunya diam sejenak. Bukannya marah, ia bilang, “Hadapi, Nak! Jangan pernah lari dari buah yang kau tanam!”

Dua tahun berikutnya, berkat kata-kata sakti itu, Tono lulus SMP dengan nilai prima. Angkanya 10 dan 9.

Sekarang Tono adalah seorang psikolog kawakan, Konsultan SDM Perso Data, Sartono Mukadis.

“Kata-kata ibu saya itu sampai sekarang menjadi password, kata kunci, dan simsalabim buat saya. Dia mengizinkan saya berbuat salah. Dan saya dipercaya mampu memperbaiki,” kenangnya.

Dengan kata-kata sakti itu, Tono yang bandel bisa menjadi Tono yang giat dan bertanggung jawab. Tono berubah bukan karena IQ-nya meningkat. Yang berubah adalah kemampuannya mengendalikan diri.

IQ Bukan Utama

Di dalam buku Emotional Intelligence, Danil Goleman menceritakan pengamatannya. Selama bertahun-tahun, ia mengikuti perkembangan lulusan Harvard University. Hasilnya, banyak di antara mereka yang saat kuliah nilainya biasa-biasa saja, tapi berhasil dan bahagia dalam hidupnya. Sebaliknya, banyak yang saat kuliah nilanya selalu di papan atas namun tidak begitu sukses dalam hidupnya.

Dalam kehidupan sehari-hari pun kita sering menjumpai orang-orang seperti ini. Mungkin tetangga Anda, keluarga, kawan lama, atau bahkan Anda sendiri.

Ini adalah bukti bahwa IQ bukan faktor utama yang menentukan kesuksesan seseorang. Ada faktor lain yang lebih menentukan. Goleman bahkan berpendapat bahwa IQ hanya menyumbangkan sekitar 20% terhadap kesuksesan seseorang. Selebihnya adalah faktor-faktor di luar IQ. Salah satu yang sangat penting adalah kecerdasan emosional (emotional intelligence, EI).

IQ dan EI adalah dua hal yang integral di dalam diri manusia. Keduanya saling bersinergi. “Jika salah satu tidak ada, manusia tidak lengkap. Bahkan sukar disebut sebagai human being,” ucap Sartono.

Meski diakui keberadaannya, hingga sekarang EI belum bisa diukur secara eksak seperti IQ. Untuk mengukur IQ, kita cukup datang ke psikolog dan menyelesaikan serangkaian tes. Saat pulang, kita sudah tahu hasilnya. Tapi untuk mengukur EI, urusannya tidak segampang itu.

Meski demikian, menurut Sartono, dalam praktik ada lima komponen penting yang menjadi ciri kecerdasan emosional.

1. Self awareness

Meliputi kemampuan memahami mood dan emosi diri sendiri.

Ketika Perdana Menteri Australia John Howard menyampaikan pidato anggaran belanja negara di depan parlemen, ia diserang habis-habisan oleh pihak oposisi. Bukannya marah, ia justru bercanda, “Lucu jika saya minta nasihat perkawinan pada Elizabeth Taylor.”

Elizabet Taylor adalah aktris Hollywood yang delapan kali bercerai. Dengan canda itu, Howard menyindir pihak oposisi yang ketika memerintah pun tidak becus mengelola ekonomi negara. Saat berada di depan oposisi, Howard sudah tahu bahwa dirinya akan diserang. Ia mengenali emosinya, dan sudah mempersiapkan diri agar bisa mengelolanya saat diserang.

Ini berbeda dengan kebiasaan rapat di gedung DPR Senayan yang sering diisi baku cela dan bahkan baku jotos. Jelas, ini mengindikasikan rendahnya kecerdasan emosional. “Mestinya, kalau sudah tahu mau diserang, sebelum berangkat ke Senayan, minum es mambo dulu,” canda Sartono.

Self awareness juga berarti kemampuan menilai diri sendiri; tidak mudah menyalahkan orang lain; punya ,sense of humor, termasuk menertawakan diri sendiri.

Sartono memberi contoh pengalaman pribadinya. Tahun 2000, kaki kirinya harus diamputasi akibat diabetes. Semua kawannya berbela sungkawa. Tiga hari setelah diamputasi, ia dibesuk oleh Tarto Sudiro, kawan karibnya.

Tarto menghiburnya. Lalu dengan memelas, Sartono yang humoris ini berbisik di telinganya, minta tolong agar Tarto menelepon Agum Gumelar. Saat itu Agum menjabat ketua PSSI.

“Jangankan Agum, Megawati pun akan saya telepon. Perlu apa?” tanya Tarto serius.

“Tolong katakan pada Agum, saya enggak bisa ikut piala dunia,” jawabnya, yang langsung disambut oleh ger-geran.

Ketika orang-orang berbela sungkawa, ia menertawakan diri sendiri. “Tidak ada untungnya bersedih. Kaki saya dipotong karena salah saya sendiri, makan enggak bener. Untung yang dipotong cuma satu, bukan dua-duanya,” selorohnya.

2. Self regulation

Meliputi kemampuan mengendalikan dan mengarahkan kembali impuls buruk.

Secara eksterm, Goleman memberi contoh Jason H. siswa sebuah SMU di Florida, Amerika. Dia murid yang sangat cerdas. Nilai ujiannya selalu di tempat teratas. Tak berlebihan jika ia bercita-cita untuk kuliah kedokteran di Harvard University.

Tapi di ujian fisika, gurunya, David Pologruto memberinya nilai 80. Jason menganggap nilai ini bisa mengubur cita-citanya. Ia marah dan tak sanggup mengendalikan diri. Ia berangkat sekolah membawa pisau. Di laboratorium fisika, ia mencarok gurunya.

Goleman menyebutnya sebagai smart but dumb, cerdas tapi dungu.

Self regulation juga meliputi kemampuan berpikir sebelum bertindak. Sartono mencontohkan kebiasaan buruk ikut-ikutan orang lain. “Kalau seseorang memakai rok mini hanya karena orang lain memakai, berarti ia tidak jujur pada diri sendiri. Ini menyebabkan ia akan sukar menghadapi keadaan yang berubah-ubah,” terangnya.

Self regulation juga berarti sikap terbuka terhadap perubahan serta bersedia menerima pendapat orang lain. Fanatisme yang berlebihan terhadap partai politik adalah contoh baik dari rendahnya EI.

3. Empati

Meliputi kemampuan mengerti perasaan dan emosi orang lain; serta keterampilan memperlakukan orang lain sesuai reaksi emosionalnya.

Sartono mengambil contoh sederhana, “Tak jarang, sebuah pertengkaran terjadi bukan karena isi perkataan, tapi karena waktunya tidak tepat. Kalau suami baru pulang kantor, panas-panas, capek, langsung ditanya kok pangkatnya enggak naik-naik, ya pasti dongkol.”

Dalam kehidupan sehari-hari pun, kita mungkin sering berinteraksi dengan orang yang gampang tersinggung. “Kalau sedang nyureng, jangan diganggu,” tambahnya.

4. Motivasi

Meliputi ketekunan dan kesabaran dalam bekerja; dorongan kuat untuk tetap optimis meskipun gagal.

Dalam dunia kerja, motivasi ini jelas sangat penting. Tanpa bermaksud melebihkan diri sendiri, Sartono menceritakan kembali pengalaman pribadinya.

Sebelum kuliah psikologi, ia sempat kuliah jurusan elektro di Insitut Sains dan Teknologi Nasional (ISTN). Karena merasa tidak cocok, ia banting setir. Akibatnya, saat kuliah psikologi di Universitas Indonesia (UI), umurnya paling tua di antara kawan-kawannya. Tak jarang, usia dosen atau asisten dosen hanya terpaut sedikit dari usianya. “Tapi saya mau mengerjakan apa saja. Saya tidak malu,” katanya.

Ia pernah menjadi salesman produk kosmetik. Waktu melamar, bosnya ngrasani di belakangnya, “Bertje aja mau jualan.” <>i>Beertje bahasa Belanda, artinya beruang. Maklum, waktu itu Si Tono hitam, gendut, dan keringetan.

Si bos mengira Sartono tidak mengerti. Mendengar ia digunjingkan, Sartono hanya balik meledek, “Beruang juga perlu makan, Bu!”

Sekarang, di Perso Data, Si Tono dari atas kursi rodanya secara berkala memberi pelatihan motivasi kerja bagi karyawan perusahaan-perusahaan terkemuka. “Dalam bekerja, jangan hanya semata-mata karena gaji. Bekerjalah sebaik-baiknya. Itu saja. Uang memang penting, tapi bukan satu-satunya,” sarannya.

“Kalau memberi ceramah buat mahasiswa, saya happy banget meskipun imbalannya cuma “vandalisme”,” kelakarnya sambil tergelak. Maksudnya, mahasiswa hanya memberi kenang-kenangan vandel.

5. Social skills

Meliputi kemampuan persuasi, komunikasi, manajemen, kepemimpinan, dan membina hubungan dengan orang lain.

Tidak diragukan lagi, kemampuan ini jelas sangat diperlukan, lebih-lebih buat seorang pemimpin. Tak sedikit orang yang sangat ahli dalam satu bidang, tapi tidak bisa membangun hubungan baik dengan orang lain.

Dengan melihat kelima komponen di atas, kita bisa menilai seberapa bagus EI kita. Jika masih di batas bawah, mari menertawakan diri sendiri (bersama penulis). Setidaknya, ini adalah bentuk self awareness.

Bisa Dipelajari

Meski telah banyak mempelajari emosi, seorang psikolog pun tak punya jaminan memiliki EI tinggi. “Waktu lulus kuliah, saya berkata pada diri sendiri: saya tidak akan menilai orang lain kalau saya sendiri tidak melakukannya,” tegas Sartono.

Meski mencontohkan pengalaman pribadi, ia tidak menjadikan dirinya sebagai tamsil orang ber-EI tinggi. “Orang ber-EI tinggi jumlahnya banyak, berkelimpahan,” lanjutnya. Tapi untuk menyebut contoh, ia diam selarik kalimat. Setelah sekitar satu menit, ia teringat nama dua seniornya di Fakultas Psikologi UI, Ng Tjong Ping dan Enoch Markum. Empat hari kemudian dia baru ingat nama Indonesia Pak Tjong Ping: Sudirgo Wibowo.

Anda kenal?

Jika tidak, sekadar gambaran, Sartono melukiskan, “Orang yang punya EI tinggi itu hangat, jujur, tulus, wise, menimbulkan aura. Orang yang dekat dengan dia rasanya adem dan merasa dirinya berguna.”

Paling akhir, dan ini yang paling penting, EI bukanlah sebuah nilai mati. Meskipun sulit diukur, tapi ia bisa ditingkatkan dengan latihan yang penuh kesadaran. Tono yang bandel adalah contohnya. “Saya tidak yakin kecerdasan emosional itu ada sejak lahir. Yang ada adalah kecenderungan. Yang saya yakin, kecerdasan ini bisa dipelajari dan dilatih,” tegasnya.

Sartono mencontohkan kepribadian pemarah. Marah sesuatu yang normal. Masalahnya adalah bagaimana mengelolanya.

Mengutip pepatah Cina, Sartono memberi tip sederhana, “Kalau sedang marah, hitung 1, 2, 3, sampai 10. Kalau masih marah juga, hitung sampai 100. Masih marah juga, hitung sampai 1000. Kalau masih marah juga, terserah. Mau berguling-guling di lantai, silakan,” selorohnya.

Ada banyak cara yang bisa ditempuh untuk meng-upgrade EI. Membaca buku-buku yang menggugah, belajar langsung dari orang lain, atau mengikuti pelatihan.

Kepribadian bukanlah sebuah nasib, kata Goleman. Sifat pemarah atau gampang stres misalnya, bukanlah takdir yang tak bisa diubah. Ia terbentuk sejak masa kecil. Meski sudah terbentuk pun, ia bisa dikendalikan saat dewasa. Tidak mudah, memang. Tapi justru inilah yang menarik. Tidak mudah berati bisa.

Klise, memang.

Larry King, pembawa acara kenamaan di stasiun teve CNN punya guyonan bagus. Katanya, suatu ucapan menjadi klise karena terlalu sering diulang-ulang. Itu menunjukkan bahwa ucapan tersebut memang benar, dan kita belum melaksanakannya. Anda setuju?

Boks-1:

EI, please!

Kecerdasan emosional belakangan lebih sering disebut sebagai emotional quotient (EQ). Menurut Sartono, istilah ini kurang tepat. Quotient adalah istislah matematik yang menunjukkan hasil bagi.

Sebagai contoh, seorang anak yang usia kalendernya baru delapan tahun, tapi bisa mengerjakan tugas anak usia sepuluh tahun, berarti IQ-nya adalah (10/8) x 100, alias 125. Dengan kata lain, kecerdasannya di atas rata-rata.

Sebaliknya, jika usia kalendernya sepuluh tahun, tapi usia mentalnya baru 8 tahun, berarti IQ-nya adalah (8/10) x 100, atau 80. Artinya, kecerdasan anak ini di bawah rata-rata.

Parameter ini dinamakan intelligence quotient (IQ) karena berasal dari hasil pembagian. Tapi pada kecerdasan emosional, parameternya tidak eksak. “Dibandingkan dengan apa?” kata Sartono mempertanyakan.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s