Mencari Makna Lewat Kecerdasan Spiritual [intisari]

Mencari Makna Lewat Kecerdasan Spiritual

Manusia punya banyak potensi. Kecerdasan intelektual membuatnya pandai. Kecerdasan emosional menjadikannya bisa mengendalikan diri. Puncaknya, kecerdasan spiritual memungkinkan hidupnya punya arti. Ini diyakini merupakan kecerdasan tertinggi.

Saat Perang Dunia II, Viktor Emil Frankl, seorang psikiater Austria menjadi salah satu korban kebrutalan Nazi. Dia bersama seluruh keluarganya disiksa di dalam kamp konsentasi. Satu demi satu dibunuh. Ayahnya mendapat giliran pertama. Lalu ibunya disiksa sampai meninggal di kamar gas. Istrinya menyusul.

Selama tiga tahun, Frankl menghabiskan hidupnya di kamp penyiksaan. Perlakukan kejam menjadi bagian hidupnya sehari-hari. Tahun 1945, Nazi kalah oleh tentara sekutu. Ia selamat.

Sebagai ahli jiwa, ia mengamati kehidupan para para korban selama di kamp. Semua korban sama-sama disiksa, tapi respons mereka berbeda-beda. Sebagian hanya pasrah menerima takdir. Sebagian lainnya sibuk meratapi nasib. Sebagian lagi terus berjuang dan bertanya, apa yang bisa dilakukan.

“Semua bisa direnggut dari manusia, kecuali satu hal: kebebasannya untuk memilih cara menyikapi hidup,” katanya menyimpulkan. Siksaan boleh sama, tapi penderitaan bisa berbeda, bergantung para cara tahanan memaknainya.

Inilah hasil kerja dari kecerdasan spiritual (spiritual intelligence, SI).

Pertanyaan Mengapa

Menurut Danah Zohar dan Ian Marshall, penulis buku SQ: Spiritual Intelligence, The Ultimate Intelligence, kecerdasan intelektual dan emosional saja tak cukup. Keduanya hanya akan bisa berfungsi secara efektif jika dikendalikan oleh SI (ia menyebutnya SQ). Ini merupakan kecerdasan puncak.

Komputer memiliki kecerdasan tinggi. Ia bisa mengalahkan kita dalam permainan catur. Hewan-hewan tertentu punya insting hebat untuk mempertahankan kelangsungan hidupnya. Tapi keduanya tak pernah bertanya, mengapa ia harus melakukan ini dan meninggalkan itu. Pertanyaan “mengapa” ini hanya khas dimiliki manusia. Di sinilah keunikan manusia. Ia punya dimensi spiritual, hati nurani.

Dibandingkan IQ dan EI, kajian tentang SI relatif masih sedikit. Di kalangan psikolog, SI masih dimaknai secara berbeda-beda. “Saya bukan ahli di bidang ini. Saya mengartikannya sederhana saja: takwa,” kata Sartono Mukadis.

“Kecerdasan emosional dan spiritual itu susah dibedakan. Batasnya tipis. Dua-duanya melibatkan emosi. Tapi dimensi spiritual itu emosi yang dalam,” kata HD Bastaman, psikolog dari Lembaga Psikologi Terapan Universitas Indonesia (LPT-UI).

Bastaman mencontohkan profesi wartawan. IQ yang tinggi akan membantunya membuat tulisan bagus dan enak dinikmati. EI akan membimbingnya bekerja dengan ulet dan tekun. Sementara SI akan menuntunnya untuk bertanya, mengapa ia harus menjadi wartawan.

“Jika niatnya hanya karena uang, itu dimensi yang rendah. Jika niatnya supaya orang banyak memperoleh manfaat dari tulisannya, itulah kerja dari dimensi spiritual,” ucap Bastaman.

Dimensi spiritual ini merupakan mata air dari sifat-sifat luhur manusia: rasa ketuhanan, cinta, pengabdian, kepedulian pada sesama, rasa estetika, kemampuan melihat ke depan (visi). Bentuknya bisa bermacam-macam. Cinta tulus seorang ibu kepada anaknya, atau perasaan terharu ketika menyaksikan nasib orang-orang lemah adalah contoh kongkret kerja SI.

Zohar menyebut nama Mahatma Gandhi sebagai contoh orang ber-SI tinggi. Kita tahu, ia berjuang untuk kemerdekaan India. Tapi ia melakukannya dengan cara damai. Mazhabnya cinta.

Kondisi Sama, Beda Makna

Kata Zohar, kita sekarang hidup di dalam dunia yang gersang nilai-nilai spiritual. Orang-orang bekerja pagi dan petang. Tapi jiwa mereka kering. Banyak yang tidak tahu makna hidupnya, dan tak pernah bertanya mengapa mereka harus melakukan itu semua.

“Tanpa tujuan yang jelas, hidup akan akan terasa grambyang. Seperti main sepakbola tanpa gawang,” kata Bastaman mengibaratkan.

Pekerjaan dua orang bisa sama. Tapi maknanya bisa jauh berbeda. Mengutip cerita Ary Ginanjar Agustian dalam buku ESQ, Emotional Spiritual Quotient, Bastaman mencontohkan seorang montir. Selama puluhan tahun, ia bekerja memperbaiki rem. Hasil kerjanya bagus. Ia juga tidak pernah bosan. Ketika ditanya tentang rasa jenuh, ia menjawab, “Dengan melakukan pekerjaan ini, saya bisa membantu menyelamatkan orang lain.”

Makna kerja inilah yang membedakannya dari para montir lain. Setiap kali mengencangkan baut rem, ia berpikir tentang keselamatan orang lain. (Jika kita terharu dengan ketulusannya, ini adalah manifestasi dari SI).

Dengan SI manusia bisa menjadi berdaya tahan menghadapi kondisi apa pun. Ini terutama sangat diperlukan ketika menghadapi musibah dan kondisi sulit. “Kita tak bisa mengubah musibah. Tapi kita bisa mengubah cara pandang terhadap musibah,” papar Bastaman.

Dalam bahasa awam, kita menyebutnya kemampuan melihat hikmah di balik musibah. Tapi Bastaman menekankan, sikap ini sama sekali berbeda dengan fatalisme yang menerima nasib apa pun tanpa usaha memperbaiki.

Inilah yang disebut Frank sebagai kebebasan yang tidak bisa dirampas dari manusia. Dua orang bisa sama-sama terserang kanker. Tapi penderitaan yang dirasakan bisa jauh berbeda, tergantung cara pandangnya terhadap kondisi sakit.

Dengan daya spiritualnya, Viktor Frankl sanggup terus bertahan di bawah siksaan Nazi. Dengan kekuatan spritualnya, Gandhi sanggup hidup dengan baju yang kainnya ia tenun, dan benangnya ia pintal sendiri.

Bisa Diasah

Menurut Zohar, SI tidak berkaitan dengan agama tertentu. Kata spiritual tidak berhungan dengan surga dan neraka. “SI tidak bisa diukur dari seberapa banyak seseorang pergi ke mesjid atau gereja,” kata Bastaman.

Meski demikian, ajaran agama adalah cara efektif untuk mengasah SI. Syaratnya, dilakukan dengan penuh penghayatan. Bastaman mencontohkan ritual puasa. Maknanya bisa berjenjang-jenjang. Jika dilakukan dengan kesdaran penuh, puasa bisa melatih pengendalian diri dan kepedulian terhadap orang lain. Jika tidak, puasa hanya bermakna lapar dan dahaga. Tak lebih tak kurang.

Begitu pula sembahyang yang dilakukan tanpa penghayatan. Penghayatan inilah kata kunci dalam melatih SI.

Di luar ritual agama, Zohar menyebut beberapa latihan yang bisa mengasah SI. Ia menganjurkan latihan meditasi, kontemplasi, menikmati estetika sastra, dan menghayati semua pengalaman sehari-hari.

Sarannya, tulislah catatan harian, dan renungkan dengan pertanyaan: mengapa.

Boks

Sudah Built-in

Mengutip sebuah penelitian, Zohar menyebut bahwa kecerdasan spiritual telah built-in di dalam diri manusia. Di otak terdapat bagian saraf yang bertanggung jawab terhadap proses berpikir spiritual. Para cerdik pandai menyebutnya God spot, titik Tuhan.

God spot memang tidak membuktikan keberadaan Tuhan. Tapi ini menunjukkan bahwa manusia punya kecenderungan terhadap nilai-nilai luhur spiritual.

Menurut Bastaman, SI seseorang bisa tetap terjaga meskipun kesehatan mentalnya terganggu. Ia mencontohkan, banyak penderita skizofrenia yang menunjukkan rasa ketuhanan lebih baik daripada orang-orang normal.

Pada masa skizofreniknya, Vincent Van Gogh, pelukis tersohor Belanda, memotong telinga kirinya lalu ia kirimkan ke pacarnya. Meskipun mentalnya terganggu, lukisan-lukisannya tetap indah. Ini menunjukkan rasa estetikanya tidak terganggu.

“Semua orang punya potensi spiritual. Masalahnya adalah sejauh mana kecerdasan ini dioptimalkan,” kata Bastaman. SI baru dianggap optimal jika ia berguna bagi pemiliknya dan juga orang-orang di sekitarnya.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s