Mengikuti Siklus Hidup di Lereng Tengger [intisari]

Di Jakarta, tujuh hari dalam seminggu kadang terasa belum cukup. Tapi di lereng Tengger, waktu seperti beringsut lamban. Di sini tak tampak orang bekerja tergesa-gesa. Semua dilakukan pelan-pelan sewajarnya. Harmoni dengan alam.

—–

Matahari belum bangkit. Kabut masih menutupi jarak pandang. Tapi warga Desa Wonotoro, Sukapura, Probolinggo, sudah mulai membuka pintu rumah. Setiap orang yang berpapasan mengajak kami tersenyum.

Dengan berkemul sarung, mereka pergi berkelompok menuju pekuburan. Pagi itu Hari Jumat Manis (Jumat Legi), waktu untuk berziarah ke makam anggota keluarga yang telah meninggal.

Saat cikal semburat fajar mulai rekah, awan yang menggantung di atas Tengger tampak memerah. Bersaing dengan warna merah nyala pucuk-pucuk pohon kastuba di sekeliling makam.

Sambil memanggul anak di pundak, Maryani menabur bunga-bunga di pusara Nasib, ayahnya yang telah marhum. Entah apa makna kehidupan dan kematian buat Maryani. Yang pasti, kembang pandan, mawar dan kenikir mewakili doanya buat orang yang ia cintai.

Saat matahari muncul dari balik awan, mereka telah beranjak pulang meninggalkan makam. Dengan bersepatu selop, mereka pergi ke ladang yang berada di balik bukit di sebelah desa. Sambil menahan dingin, mereka berjalan kaki melintasi bukit, menembus kabut. Dari kejauhan, jalan setapak yang mereka lintasi tampak seperti guratan tipis di dinding bukit.

Di lereng-lereng itu, mereka mengolah bumi. Kubis, kentang, dan bawang perei tumbuh subur di tanah gembur. Ketiga sayur inilah sumber penghidupan mereka. “Panennya empat bulan sekali. Sekali panen biasanya dapat Rp. 200 ribu,” kata Supratoyo, lelaki yang tak pernah ingat tahun lahirnya ini.

“Saya cuma ingat, dulu di sini banyak perampok. Orang-orang memakai celana goni. Presidennya Pak Karno. Tak ada makanan di sini. Kami hanya makan daun-daunan,” katanya. Sehari-hari, ia menghabiskan waktu di ladang sampai sore, ditemani aroma daun bawang, dan suara kersik daun-daun jagung yang terusik angin.

Mereka berladang dengan mengandalkan air hujan. Karena itu, di musim kemarau mereka tak banyak panen. Untuk menyiasati paceklik, mereka nyiwil (memanen separuh) bawang perei yang mereka tanam di musim hujan. Jika ada sepuluh batang, mereka hanya mengambil lima. Setengahnya lagi dibiarkan tumbuh, untuk mereka panen lagi jika memerlukan uang.

Selain berladang, kebanyakan penduduk Tengger juga memelihara kuda. Tiap pagi, mereka membawa kudanya ke lautan pasir Bromo, berharap ada wisatawan yang menyewa. Sekali sewa, mereka bisa memperoleh Rp. 40 ribu.

“Sekarang kuda kalah sama jip. Biasanya sehari saya cuma dapat satu penumpang. Kalau pas ramai, kadang-kadang bisa dapat tiga,” ungkap Sunoyo, bapak seorang anak. Embusan napas yang keluar dari mulutnya segera mengabut di depan wajahnya, akibat begitu dinginnya udara Tengger.

Ringkik kuda, kabut, dan udara dingin adalah bagian hidup mereka sehari-hari.

Di pagi hari, kuda membantu mereka mencari nafkah. Siang harinya giliran mereka yang mencarikan makan buat kuda. Untuk mendapatkan sepikul rumput, mereka harus berjalan naik turun bukit selama dua jam.

Nyari rumputnya di sana. Jauh,” kata Sunoyo sambil telunjuknya mengarah ke Gunung Batok yang tegak di samping Bromo. Jika tak mau capek jalan kaki, ia bisa membeli. Harga sepikul rumput Rp. 10 ribu.

Tapi, bukan orang Tengger namanya jika tak kuat berjalan kaki. Tungkai mereka sama terlatihnya dengan tungkai kuda. “Saya masih bisa jalan kaki sampai Malang,” kata Sutaji, kakek yang mengaku umurnya sekitar 70-an. Jika kudanya disewa untuk acara pengantin sunat, ia harus menuntunnya sampai Malang, sejauh kira-kira 50 km.

Manunggal dengan alam

Kebanyakan warga Tengger hanya lulusan SD. “Di sini cuma ada penjual es teh. Saya mau nyari es satu, enggak ada yang jual,” guyon Sutrisno, bapak dari tiga anak. Uniknya, meski hanya lulusan SD, mereka rata-rata mengerti percakapan sederhana dalam bahasa Inggris. Ini karena mereka setiap hari bertemu dan bercakap dengan turis asing.

“Kalau turis tanya yang gampang-gampang, saya bisa njawab. Misalnya, tarif sewa sekali jalan, saya jawab: foti tausen,” ujar Sutaji yang mengaku tak tamat sekolah rakyat. “Tapi kalau ngomongnya panjang, saya diam saja,” imbuhnya polos.

Yanti, pemilik warung “25 Hours”, lebih hebat lagi dari Sutaji. Meski hanya tamatan SD, ia bisa mengobrol akrab dengan Eike, seorang turis Jerman. “ They come and go,” katanya kepada Eike, tentang kabut yang menutupi Bromo.

Di lereng Tengger, kabut dan cuaca adalah isyarat al
am. Ketika kami sampai di sana, puncak Bromo seharian tertutup oleh kabut tebal. “Karena tadi pagi ada orang yang mati,” kata Sunoyo menjelaskan makna isyarat kabut itu.

Esoknya, kabut yang menyaput Bromo dihalau angin seperti sekawanan ternak yang digiring gembala. Bayangannya tampak bergerak cepat di hamparan lautan pasir. Bromo tampak cerah. Uap asam belerang mengepul dari kawahnya. Debu sisa letusan tahun lalu tampak seperti bedak di wajahnya. Dan, tak ada kabar kematian hari itu.

“Waktu upacara kasodo (tahun baru Tengger), malam harinya pasti cerah, meskipun saat itu musim hujan,” kata Andri, pemilik Hotel Cemara Indah di Dusun Cemara Lawang, pintu masuk menuju kawasan wisata Bromo.

Mereka menyatu dengan alam. Alam pun menyatu dengan mereka.

Siklus hidup mereka pun mengikuti terbit-terbenamnya matahari. Saat hampir senja, mereka pulang dari ladang. Hanya sekitar dua jam sejak matahari terbenam, mereka telah mengunci pintu rumah. Sunyi. Tak banyak yang berada di luar kecuali beberapa lelaki yang berjaga di poskamling.

Pukul delapan, malam telah senyap. Yang terdengar hanya suara serangga malam dari balik daun kubis yang mereka tanam di pekarangan rumah. Mereka sudah terlelap, menunggu siklus hidup esok pagi.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s