Pemeriksa Jantung Made In Malang [intisari]

Hanya dengan biaya pembuatan Rp 200 ribu, alat ini bisa menggantikan fungsi Fetal Doppler yang harganya jutaan rupiah. Dalam urusan pemeriksaan kesehatan janin, akurasinya sama baik. Penggunaannya lebih mudah. Buat janin pun lebih ramah.

=====

Kreativitas sering lahir dari kondisi serba-terbatas. Ini pula yang terjadi pada Mokhamad Sholihul Hadi, mahasiswa teknik elektro Universitas Brawijaya (Unibraw), Malang.

Awalnya hanya sebuah kebetulan. Di Rumah Sakit (RS) Lavalette, Malang, ia melihat Doppler rusak. Tak ada yang berani membuka dan mereparasi. Akibatnya, pemeriksaan kesehatan janin pada ibu-ibu hamil menjadi terganggu.

Seolah mendapat wangsit, ia menemukan ide tanpa perlu garuk-garuk kepala. “Bidang ini sangat dibutuhkan masyarakat, tapi belum terjamah oleh inovasi,” kata arek nJombang yang kini menjadi kera ngalaM (sebutan gaul untuk arek Malang) ini.

Belakangan ia tahu harga Doppler paling murah Rp 1,5 juta. Sedangkan Doppler yang bisa sekaligus mencetak, harganya sekitar Rp 40 juta.

Di atas Doppler, ada alat yang lebih canggih, USG (ultrasonography). Namun harganya lebih gila lagi, ratusan juta rupiah. Walhasil, distribusi alat-alat ini hanya terbatas di RS yang punya cukup duit.

Serbaotomatis

Karena alasan harga inilah, Sholihul mendapat ide tambahan. Bukan hanya membuat alat serupa Doppler, tapi juga yang harganya lebih murah, semurah mungkin. Sebagai mahasiswa, modal di dompetnya jelas pas-pasan. “Saya memang spesialis bikin alat-alat murah,” aku Sholihul yang telah menghasilkan hampir 20-an penelitian ini. Harga boleh murah, tapi kualitas jelas tak boleh murahan.

Sejak menemukan ide itu, ia mulai bertualang. Dari buku ke buku ia berguru. Dari banyak dosen, ia menimba ilmu hingga ke Fakultas Kedokteran di universitas yang sama. Dari kuliah lintas-jurusan itulah ia tahu bahwa detak jantung janin normal berada di kisaran 120 – 140 per menit.

Masalah pertama timbul, bagaimana cara menangkap degup jantung janin yang nyaris tak terdengar itu. Solusinya ternyata sederhana saja: stetoskop. Alat ini biasa digunakan dokter untuk menguping suara jantung. Oleh Sholihul, stetoskop ia ambil bagian pengeras suaranya. Bagian yang menuju kuping, ia sambung ke rangkaian elektronik pengolah suara. Sinyal suara dari setetoskop ia ubah menjadi sinyal elektrik.

Stetoskop yang ia pakai pun bukan stetoskop yang bandrolnya ratusan ribu rupiah. Cukup yang harganya Rp 20.000,- saja. “Bedanya cuma sedikit. Yang murah, rasanya sakit di kuping. Itu saja,” terangnya. Karena kuping tidak diperlukan di alat ini, ia memilih stetoskop murah saja.

Masalah kedua menghadang, suara yang ditangkap oleh stetoskop masih bercampur antara detak jantung ibu dan janin. Dari kuliah lintas-fakultas juga, ia tahu bahwa detak jantung janin dan ibu bisa dibedakan dari frekuensinya. Degup ibu berada di kisaran 40 Hz. Sedangkan detak jantung jabang bayi berkisar di 12 – 20 Hz. Untuk memisahkan suara berdasarkan frekuensi, bukanlah sebuah urusan rumit. Itu memang pekerjaannya sebagai ahli elektronika.

Dengan komponen rangkaian filter, ia memisahkan detak jantung berdasarkan rentang frekuensinya. Interferensi dari detak jantung ibu disingkirkan. Yang lolos ke tahap berikutnya hanya detak jantung janin.

Setelah melalui tahap ini, sinyal tersebut diubah ke dalam bentuk digital yang selanjutnya masuk ke rangkain prosesor. Hasil akhirnya berupa tampilan angka di layar LCD (liquid crystal displays). Bu Bidan tinggal membaca berapa detak jantung janin per menit. Dengan begitu, ia tak perlu lagi menekuk ruas-ruas jarinya sambil melirik jarum jam dinding untuk mengitung jumlah detak janin per menit. Semua tugas ini sudah dikerjakan oleh alat temuan Sholihul.

Selain menghitung detak per menit, alat ini juga sekaligus menampilkan parameter kedua, yakni keteraturan irama jantung. Keteraturan irama ini diperiksa dengan melihat selisih detak tiap lima detik.

Pada pengukuran secara manual, bidan menguping jantung janin sambil menghitung jumlah detak pada lima detik pertama. Lima detik berikutnya, detak tidak diukur. Lima detik berikutnya, diukur lagi. Begitu seterusnya untuk lima detik keempat dan kelima.

Untuk memastikan jantung bayi sehat, selisih detak tiap lima detik itu tak boleh lebih dari dua. Sebagai contoh, jika detak jantung lima detik pertama adalah 8, sementara lima detik ketiga adalah 8, berarti detak jantung janin normal karena selisihnya tak lebih dari 2 satuan.

Pada pengukuran manual, bidan harus mengh
itungnya dengan konsentrasi penuh, tak bisa diganggu. Tapi dengan alat temuan Sholihul, bidan tak perlu melakukan ini. Ia tinggal membaca tampilan hasil di layar LCD, normal atau tak normal. Sambil memeriksa, ia masih bisa bercanda dengan si ibu, bahwa anak di dalam kandungannya tak mau lahir di tahun ayam.

Pinard, Doppler, Sholihul

Dibanding Doppler, temuan Sholihul ini punya beberapa kelebihan. Selain lebih murah, penggunaannya lebih mudah. Bagi janin pun, lebih ramah. Pada Doppler, alat penangkap suara bukan stetoskop, tapi sebuah elektrode. Cara kerjanya berdasarkan prinsip Doppler (diambil dari nama Christian Andreas Doppler, ilmuwan Austria yang menemukan teori ini).

Agar bisa menangkap suara detak jantung, elektrode ini memancarkan gelombang ke arah jantung janin. Gelombang ini dipantulkan oleh jantung janin dan ditangkap kembali oleh elektrode. Pantulan gelombang inilah yang diolah oleh Doppler menjadi sinyal suara.

Sinyal suara ini selanjutnya diamplifikasi. Hasil akhirnya berupa suara cukup keras yang keluar dari mikrofon. Dug dug dug dug, seperti magic!

Supaya gelombang bisa merambat antara dinding perut ibu dan elektrode, daerah pemeriksaan tersebut perlu diolesi gel khusus lebih dulu. Pada alat temuan Sholihul, hal ini tidak lagi diperlukan karena cara kerjanya bersifat pasif, hanya mendengarkan. Teknik ini dikenal sebagai metode auskultasi (periksa dengar).

Karena Doppler memancarkan gelombang, alat ini tidak bisa dipakai terus-terusan. Ada batas maksimal pemakaian, supaya tidak mengganggu kesehatan janin.

Karena harga Doppler masih di kisaran jutaan rupiah, bidan-bidan di desa terpencil banyak yang belum memiliki. Umumnya mereka masih memakai alat periksa kuno, Lynex atau Pinard. (Diambil dari nama Dokter Pinard, ilmuwan Prancis yang pertama kali memperkenalkan metode ini).

Alat ini berupa sebuah corong sederhana. Cara pakainya masih sangat kuno. Sumiyati, bidan desa yang baru buka praktik di Lamongan, Jawa Timur, harus bekerja ekstra keras untuk memeriksa jantung janin di perut Jeng Sutiyem. Mula-mual ia mencari posisi tepat untuk menguping. Corong Pinard ia tempelkan di perut Jeng Sutiyem dalam posisi horizontal.

Lalu ia mulai menguping, seperti mendengarkan detak jarum jam yang tertindih bantal tebal. Suara yang dihasilkan pun masih berupa campuran antara detak ibu dan janin. Ia membedakan keduanya secara manual dengan cara memeriksa denyut nadi ibu.

Setelah bisa membedakan, ia baru mulai menghitung. Satu, dua, tiga, empat, sambil berkonsentrasi. Sebagian bidan mungkin sampai perlu memejamkan mata. Mungkin juga sampai berpeluh. Hasil pemeriksaan bisa saja keliru jika sebelum menguping, Bidan Sumiyati bertengkar dengan suaminya.

Karena keruwetan ini, bidan-bidan kini lebih suka memakai Doppler. Sekali tempel, degup jantung bisa langsung didengar. Ngebas!

Tak Mau Dibajak

Sholihul menyelesaikan penelitian ini dalam waktu efektif enam bulan, di bawah bimbingan Prof. Dr. Ir. Soehardjono, MPd., Dipl., HE., dan dr. Retty Ratnawati MSc. Untuk memperoleh data statistik, ia mengujinya di RSUD Saiful Anwar, Malang, membandingkan alat temuannnya dengan Doppler. Hasilnya, akurasinya terbukti sama bagus.

Saat meneliti, ia tidak menyangka temuannya bakal memperoleh penghargaan tingkat nasional. Dosen-dosen pembimbingnya memuji inovasi yang ia ciptakan. Bukan itu saja, hasil karyanya ini menjadi juara pertama Program Kreativitas Mahasiswa Bidang Penulisan Ilmiah (PKMI) yang diselenggarakan Departemen Pendidikan Nasional, tahun 2004.

Masih di tahun yang sama, alat temuannya ini juga menyabet medali emas pada Pemilihan Peneliti Remaja Indonesia (PPRI) bidang rekayasa teknik yang dihelat oleh Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI). Penemuannya menyisihkan sekitar 60-an penelitian lain dari seluruh Indonesia.

Atas prestasinya yang terakhir ini, ia juga mendapat tambahan uang saku Rp. 5 juta. “Berangkat ke Jakarta naik Kereta Gajayana. Karena dapat uang, pulangnya pakai dasi, naik pesawat terbang,” katanya sambil tersetawa (tersenyum campur tertawa) lugu. Sisa keluguan seorang mahasiswa.

Sejak memenangi kontes ini akhir tahun kemarin, ia menjadi orang sibuk. Banyak wartawan mewawancarainya. Beberapa perusahaan menawarinya kerjasama untuk memproduksi massal alat temuannya. Tapi ia memilih untuk tidak tergesa-gesa. “Saya mau ngurus h
ak patennya dulu,” ungkap cowok berusia 23 tahun.

Secara jujur ia mengaku alatnya mudah dicontek, meskipun hanya dengan melihat diagramnya. Komponen-komponennya juga mudah didapat di toko komponen elektronik. Jika tidak dipatenkan dulu, ia khawatir temuannya akan menjadi korban pembajakan. “Bisa-bisa saya baru bikin 100 unit, sudah ada bajakannya 1000 unit,” cetusnya.

Tentang urusan bajak-membajak ini Sholihul punya cerita menarik. Kisah nyata ini menimpa seorang kawan temannya yang melakukan penelitian tentang fenomena pembajakan software komputer. Dari hasil survei, 95% responden mengaku memakai peranti lunak bajakan. Saat presentasi, si peneliti memulai, “Maaf, Dewan Juri, saya mempresentasikan makalah saya dengan software bajakan.”

Tapi apa lacur? Ternyata juri pun menimpalinya dengan mengakui bahwa software yang mereka pakai juga bajakan!

Si empunya inovasi tak ingin hal itu tidak terjadi pada alat temuannya. Ia tidak menampik bahwa kinerja alat temuannya memang sederhana dan mudah dibajak. “Alat saya ini memang sederhana. Yang sulit itu idenya,” tukas pria sederhana ini.

Ia mengaku alatnya belum bisa dibandingkan dengan USG yang dapat digunakan untuk memotret janin. “Saya belum meneliti sampai ke situ. Mungkin nanti,” imbuh mantan mahasiswa teladan Unibraw ini.

Hingga kini, alat temuannya ini belum punya nama. Secara berkelakar, bujang yang kini kini mengajar di program studi Teknik Elektro Universitas Negeri Malang ini bilang dalam bahasa Jawa, “Mungkin nanti namanya Sholihul Meter.” Ia ketawa sambil matanya terjungkit-jungkit.

Boleh juga!

Sekali-sekali orang Indonesia perlu meninggalkan namanya di dalam alat rekaannya. Seperti Pinard dan Christian Doppler. Jika banyak orang Indonesia menjadi penemu, nanti akan kita jumpai hukum Timbul, efek Lesus, dan persamaan Bolot.

Advertisements

7 thoughts on “Pemeriksa Jantung Made In Malang [intisari]

  1. Wow, brilliant skali ide dan penemuannya Mas Sholeh!! Salut! smoga sukses dengan penemuannya ya, n smoga pengurusan hak patennya jg mudah, amin.Awalnya saya nggak sengaja lagi nyari2 artikel tentan cara mendeteksi detak jantung janin (untuk orang awam), karena terinspirasi para ahli pengobatan cina, akupungtur yang bisa mengetahui bahwa seorang wanita itu sedang hamil atau tidak sebelum diakupungtur (karena setahu saya, wanita hamil tidak dianjurkan untuk akupungtur), begitu…eh nggak taunya nemu artikel mas sholeh yang menarik ini. Good work!!Ide cari info cara mendeteksi adanya detak janin sendiri berawal dari ingin mendeteksi saya sendiri, pengen tau, lagi hamil apa nggak, begitu…

  2. terima kasih banyak atas informasinya, Pak.kebetulan saya sedang mencari data tentang frekuensi jantung bayidan orang tua untuk tugas kuliah.saya izin menuliskan alamat blog bapak untuk dimasukkan daftar pustaka

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s