Siasat Hidup Kaum Vegetarian [intisari]


Menjadi penganut vegetarian bukan urusan gampang. Apalagi kaum veggie (sebutan populer buat mereka) tidak hidup di komunitasnya saja. Mereka hidup di lingkungan yang nyaris semua produk konsumsi tak lepas dari unsur hewani. Tapi, secara unik mereka terbukti pandai menyiasati keadaan.

“Saya sudah delapan belas tahun menjadi vegetarian,” ungkap Susianto, Ketua Operasional Keluarga Vegetarian Maitreya Indonesia (KVMI). “Kebetulan saya lulusan kimia. Sedikit banyak tahu makan daging itu tidak sehat, lalu saya putuskan jadi vegetarian, selain karena alasan spiritual,” kata jebolan Universitas Gadjah Mada ini.

Selama ini vegetarisme sering dipandang sebagai urusan isi perut belaka. Padahal faktanya, kesehatan dan pertimbangan spiritual hanyalah salah dua alasan menjadi vegetarian. Albert Einstein punya alasan ekonomi dan lingkungan saat memutusakn jadi vegetarian. Katanya, hanya ada satu cara untuk mengatasi masalah kelaparan dunia, yaitu evolusi ke arah pola makan vegetarian.

Lain lagi dengan Paul McCartney. “Saya menjadi vegetarian karena menyadari ayam kecil pun bisa merasakan sakit dan ketakutan,” tulis pentolan The Beatles ini dalam sebuah iklan yang diterbitkan koran Louisville Courier Journal, Amerika Serikat.

Lewat surat terbuka itu, Paul mengajak para penikmat ayam goreng cepat saji mengingat bagaimana ayam-ayam itu ketika dijagal, dijejalkan dalam satu bangsal sempit dan digantung satu kaki dalam posisi terbalik. Lalu masih dalam keadaan sepenuhnya sadar, mereka dipenggal lehernya, atau langsung dilempar ke dalam tangki berisi air mendidih untuk merontokkan bulu-bulunya.

Vegetarian memang telah menjadi budaya di seluruh belahan dunia. Di Inggris, jumlah kaum veggie diperkirakan mencapai dua belas jutaan orang. Ini merupakan persentase penganut paling besar di seluruh dunia. Maka tak mengherankan markas International Vegetarian Union (IVU) berada di negara ini. Sementara di Indonesia, penganutnya diperkirakan sekitar satu juta. Umumnya mereka berasal dari kalangan profesional muda dan mahasiswa.

Rendang Vegetarian

Berdasarkan jenis makanan yang dikonsumsi, kaum vegetarian dikelompokkan dalam tiga tingkatan: lakto-ovovegan, laktovegan, dan vegan. Lakto-ovovegan masih mengonsumsi susu dan telur. Laktovegan tak lagi makan telur, tapi masih mengonsumsi susu. Sedangkan vegan merupakan tingkatan paling tinggi. Sama sekali tak mengonsumsi telur, susu, madu, dan semua produk hewani lainnya.

“Saya sudah vegan. Aturannya paling ketat. Jangankan madu, ikat pinggang, sepatu, tas, maupun dompet tidak boleh mengandung materi hewan,” papar Susianto sambil berdiri dan menunjukkan tali pinggangnya. Meskipun produksi susu, telur, madu, kain sutra, dan wol tidak menyebabkan kematian hewan, namun dalam pandangan kaum vegan, menggunakan barang-barang konsumsi itu sama dengan mengeksploitasi hewan.

Aturan ketat ini pun tetap berlaku untuk makanan yang tergolong abu-abu, misalnya es krim (yang mengandung susu) atau kue (yang berbahan telur). Bahkan ketika sakit dan harus minum obat pun, aturan ini tetap dipegang teguh. “Saya jarang sakit. Kalaupun sakit, saya obati sendiri dengan cara alami. Saya punya bukunya. Kalau terpaksa ke dokter, saya minta selain kapsul. Kalau terpaksa kapsul, saya buka cangkangnya, baru saya minum obatnya,” ujar Susianto memaparkan siasatnya. (Sebagaimana kita tahu, bahan cangkang kapsul adalah gelatin yang dibuat dari materi hewani.)

Siasat ini pula yang melatarbelakangi inovasi resep-resep “aneh” di kalangan vegetarian. Jangan heran jika restoran-restoran vegetarian menyediakan menu iga asam manis, ham cincang, bakso, rendang, sushi, maupun usus vegetarian. Kalaupun terpaksa heran, jangan bayangkan resep-resep itu dibuat dari daging hewani. Tidak sama sekali. Semuanya merupakan bentuk tiruan berbahan nabati. Tahu, rumput laut, jamur, tepung terigu, atau gluten (protein yang berasal dari tepung terigu).

“Kadang-kadang saya mencoba resep-resep itu. Rasanya memang enggak betul-betul persis bakso, cuma mirip. Tapi bentuknya persis,” jelas Luciana, seorang sekretaris yang telah setahun menjadi vegetarian. Tapi, meski rasanya hanya mirip, kreasi resep-resep ini cukup membantu para veggie bernostalgia.

Namun, bagi Susianto yang telah lama menjadi vegan, resep-resep ini bukan menu vegetarian sejati. Meski demikian, ia mengaggap kreasi itu bisa membantu pemula yang masih dalam masa transisi. “Biar enggak kaget,” katanya.

Untuk memudahkan para veggie mengenali makanan hewani atau nabati, ke mana-mana mereka selalu mengantungi kartu animal ingredients. Kartu ini berisi daftar bahan-bahan pangan yang berasal dari materi hewani. Selain itu, mereka juga mengantungi kartu keanggotaan komunitas vegetarian yang beraliansi ke IVU. Dengan kartu ini mereka bisa memperoleh diskon setiap kali mengunjungi restoran atau toko-toko afiliasi.

Kuartet Nabati

Di Amerika Serikat, gerakan vegetarian ini dipelopori oleh kalang
an dokter. Pada tahun 1956, para ahli gizi Amerika memperkenalkan konsep empat sehat yang lama (di Indonesia, konsep ini diadaptasi menjadi konsep empat sehat lima sempurna, 4S-5S). Mulai tahun 1991, konsep lama tersebut diubah menjadi konsep empat sehat yang baru, the new four food group. Terlambat satu dasawarsa, KVMI pada tahun 2002, mengadopsi konsep ini menjadi Kuartet Nabati.

Padi, jagung, biji-bijian dan ubi-ubian sebagai sumber karbohidrat. Kelompok sayuran dan buah sebagai sumber mineral dan vitamin. Ini tidak berbeda dengan konsep 4S-5S. Bedanya terletak di sumber protein. Konsep 4S-5S masih memasukkan daging, susu dan ikan sebagai sumber protein. Namun konsep kuartet nabati menggantinya dengan legum (polong-polongan), misalnya kedelai (termasuk tahu dan tempe), kacang hijau, dan kacang merah.

Tidak takut kurang gizi?

“Tahun 2003 kami melakukan penelitian melibatkan 163 orang yang telah menjadi vegetarian minimal setahun. Hasilnya, mayoritas dominan gizi baik. Tekanan darah normal. Berat badan ideal. Tidak underweight, juga tidak overweight. Hb rata-rata 13,” ulas dr. Hendry Widjaja, MARS, dari Rumah Sakit Medika Griya, Sunter, Jakarta Utara.

Rumah sakit ini merupakan “rumah sakit vegetarian”. Di sini, semua pasien dirawat dengan cara vegetarian. Tak ada menu daging. Semua dokternya pun makan di kantin vegetarian. “Jadi, kalau selama ini ada yang bilang pola makan vegetarian akan menyebabkan kurang gizi dan kurang darah, itu hanya mitos,” cetusnya. Bahkan menurut Hendry, penganut pola makan vegetarian punya risiko lebih kecil terhadap masalah obesitas serta penyakit-penyakit jantung dan pembuluh darah seperti kolesterol atau tekanan darah tinggi.

“Saya sudah tujuh tahun lebih jadi vegetarian. Sebelum jadi vegetarian, saya gemuk sekali, 76 kg. Tekanan darah saya juga tinggi. Tapi setelah jadi vegetarian, bobot saya turun 20 kg. Tekanan darah saya juga normal,” aku Hendry.

Kombinasi Warna

Menurut Hendry, secara anatomis dan fisiologis, organ pencernaan manusia sebenarnya dirancang untuk mencerna makanan nabati. Ini bisa dilihat dari struktur gigi, enzim cerna, serta bentuk lambung dan usus manusia yang lebih menyerupai sistem pencernaan hewan herbivora.

Bahkan, anak kecil pun tidak perlu takut menjadi vegetarian. Mengutip American Dietetic Association, Hendry menjamin vegetarian bisa dipraktikkan oleh semua kelompok umur. Kuncinya, kombinasi makanan yang bervariasi dan seimbang.

Untuk sarapan, Hendry minum jus sayur. Biasanya kombinasi lima macam sayur yang berbeda-beda warna. Misalnya wortel, timun, brokoli, kol, dan kentang. Pilihan warna-warni bukan tanpa alasan. Menurutnya, perbedaan warna sayur punya korelasi terhadap kandungan fitokimianya.

Beranjak siang, Hendry melanjutkan dengan makan buah. Untuk makan siang dan makan malam, barulah nasi boleh naik meja makan.

Sama dengan Hendry, Susanto pun memilih jus sayur sebagai sarapan. Kadang ditambah buah. Wortel, bit, tomat, kentang, brokoli, bayam, apel. Setengah jam kemudian, dilanjutan dengan menyantap sumber karbohidrat. Jagung, ubi merah, atau singkong rebus. Nasi hanya dihidangkan pada jam makan siang dan malam.

Meski konsep vegetarian adalah makanan nabati, namun ini tidak berarti semua tumbuhan boleh dikonsumsi. Susianto mencontohkan rokok, kopi dan bawang. Meski semuanya berbahan nabati, namun ia menghindarinya. “Ganja pun tumbuhan,” jawabnya memberikan analogi ketika seorang pemirsa televisi bertanya padanya di sebuah acara talk show.

Tidak pernah tergoda masakan berdaging? Mendengar pertanyaan itu, Susianto malah membaliknya. “Bukan hanya tidak pernah tergoda, tapi saya justru mual jika mencium bau daging-dagingan,” jawabnya. “Kuncinya ada di sini,” tambahnya sambil menempelkan telunjuk di dahi.

Senada dengan Susianto, Hendry pun berpendapat, “Kalau orang menganggap makan harus dinikmati, susah jadi vegan. Tapi kalau meyakini makan itu sebagai kebutuhan untuk sehat, enggak masalah. Tergantung mind set kita, bukan urusan enak atau enggak.”

Meski bekerja di sebuah perusahaan multinasional, Susianto mengaku, “Saya tidak pernah mengalami masalah dengan tugas-tugas kantor. Kalau pergi sama bos untuk sebuah acara perjamuan, saya milih menu vegetarian, dia milih menu biasa. Bahkan, kadang-kadang dia ikut saya,” tuturnya.

Berdasarkan pengalamannya menjadi vegan, dia tidak pernah kesulitan mencari menu vegetarian di acara apa pun. “Enggak mungkin enggak ada menu vegetarian. Pasti ada. Paling tidak, buah atau salad,” tandasnya. “Malah enak, saya enggak perlu antri. Waktu orang antri makan, saya bisa langsung ke meja buah,” tambahnya.

Masih menurutnya, hampir semua hotel dan restoran menyediakan menu vegetarian, meskipun tidak menyebut diri sebagai restoran vegetarian. “Di sini pun ada,” katanya ketika bicara tentang menu makan di Hotel Santika.

Baik Susianto maupun Hendry, keduanya menularkan vegetarisme ini pada anaknya. “Bahkan Santi ini sudah menjadi vegetarian sejak di dalam kandungan,” kata Susianto sambil memangku anaknya yang masih duduk di kelas lima sekolah dasar. Maklum, ia dan istrinya telah menjadi vegetarian ketika Santi masih dilindungi air ketuban.

Like father like daughter, Santi pun bersin-bersin jika mencium aroma daging. Bedanya, jika Susianto sudah vegan, Santi masih lakto-ovovegan. Artinya, ia masih diperkenankan menjadi belalang kupu-kupu: siang makan nasi, kalau malam minum susu.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s