Sigap di Saat Darurat [intisari]


Luka dan cedera bisa terjadi pada siapa saja, kapan saja, dan di mana saja. Jika hanya berupa luka ringan, mungkin kita tak akan panik. Namun masalahnya akan lain jika cederanya berat dan lokasinya jauh dari layanan medis. Di saat seperti inilah, kita baru menyadari pentingnya belajar teknik pertolongan pertama .

Luka Ringan

Misalnya, luka kecil akibat tersayat pisau, pecahan beling, atau luka tusuk dangkal. Untuk menghentikan perdarahan, lakukan teknik balut tekan. Gunakan pembalut atau sapu tangan bersih untuk menutup perdarahan, lalu tekan sampai perdarahan berhenti.

Bila perdarahan telah berhenti, bersihkan luka dengan air sabun dan antiseptik. Luka jenis ini akan cepat mengering bila dibiarkan terbuka. Jika kedua tepinya terlalu menganga, rapatkan kedua sisinya sehingga lukanya menutup. Untuk menutup luka, gunakan cara “plester kupu-kupu”. Anda bisa menggunakan plester luka, macam Handyplast dan Hansaplast, atau plester biasa.

Untuk membuat plester kupu-kupu, lipat plester pada sisi yang tidak berperekat. Gunting kedua sudutnya seperti pada gambar. Sterilkan plester dengan cara melewatkannya di api lilin atau korek. Raparkan kedua tepi luka, lalu rekatkan plester tersebut sehingga luka menutup.

Untuk luka sayat kecil biasanya akan cepat sembuh dengan sendirinya. Jika setelah ditutup, timbul tanda-tanda infeksi, buka kembali plester penutupnya, dan biarkan luka dalam keadaan terbuka.

Untuk luka yang dalam, cara penutupan ini hanya boleh dilakukan jika lukanya bersih dan terjadi kurang dari 12 jam. Jika sudah lama dan kotor, penutupan luka malah bisa menyebabkan infeksi.

Hal utama yang perlu diingat, kebersihan adalah kunci paling penting dalam merawat luka. Saat merawatnya, pastikan Anda melakukannya secara higienis. Cuci tangan lebih dulu dengan sabun dan air hingga bersih. Cuci luka dengan sabun dan air matang. Mungkin timbul rasa perih, namun tak ada pililahn lain. Sebab, jika tidak dibersihkan, kemungkinan besar luka akan menjadi infeksi.

Jika memakai pembalut, gunakan pembalut bersih. Lebih baik tidak memakai pembalut sama sekali daripada memakai pembalut yang kotor. Lupakan mitos yang menyuruh membubuhkan lumpur, bubuk kopi, abu, atau kapur pada luka.

Jika benda tajam penyebab luka tusuk masih menancap dalam di luka, jangan sekali-kali berusaha mencabutnya. Sebab, bila dicabut, justru akan menyebabkan perdarahan yang lebih hebat. Sebaliknya, ikat supaya benda itu tidak bergerak-gerak. Biarkan pencabutan dilakukan di rumah sakit.

Pada luka terbuka, sebaiknya gunakan antiseptik cair. Hindari penggunanaan salep sebab lapisan salep akan menghalangi permukaan luka dari udara luar sehingga bakteri mudah tumbuh. Jika perlu, balut luka dengan kasa steril dan perban. Ganti balutan setiap hari sampai luka sembuh.

Untuk luka memar, misalnya akibat tergencet palu atau terjedot pintu, tekan bagian yang memar dengan tangan. Jika perlu kompres dengan air dingin dan beri balutan yang menekan.

Perdarahan Berat

Untuk kasus cedera berat, hal pertama yang harus Anda lakukan adalah minta pertolongan. Sembari menunggu pertolongan datang, Anda bisa melakukan pertolongan pertama. “Tapi sebelum memberikan pertolongan, pastikan semua dalam keadaan aman, baik korban, penolong, maupun lingkungan sekitar,” pesan dr. Kusdijanto, Kepala Subdinas Kesehatan Gawat Darurat dan Bencana, Dinas Kesehatan DKI Jakarta.

Jika punya akses telepon, Anda bisa menghubungi ambulans gawat darurat di nomor 118. Selain menyediakan ambulans, layanan 118 juga bisa Anda manfaatkan untuk konsultasi darurat jarak jauh, tentang teknik pertolongan pertama.

Kusdijanto juga menandaskan, sebelum memberikan pertolongan apa pun, pastikan kondisi ABC korban dalam keadaan tak terganggu. Yang dimaksud dengan ABC adalah Airway (jalan napas tidak tersumbat), Breathing (korban masih bernapas), dan Circulation (jantung korban masih berdetak). Ini merupakan faktor kritis yang paling berpengaruh terhadap jiwa korban.

Setelah memastikan kondisi ABC korban, lakukan pertolongan pertama sesuai kondisinya. Jika terjadi perdarahan hebat, pertolongan paling awal yang perlu Anda berikan adalah: stop perdarahan
!

Untuk menghentikan perdarahan, lakukan teknik berikut:

Pastikan penderita selalu dalam keadaan berbaring. Perdarahan berat tidak boleh ditangani sementara korban dalam keadaan duduk atau berdiri.

Jika mungkin, posisikan kepalanya sedikit lebih rendah daripada badan, atau angkat bagian tungkai kaki. Posisi ini bisa mengurangi risiko pingsan dengan cara meningkatkan aliran darah ke otak.

Angkat bagian yang berdarah setinggi mungkin dari jantung. Misalnya, jika yang berdarah bagian betis, letakkan betis tersebut di atas tumpuan, sehingga posisinya lebih tinggi dari badan.

Buang kotoran dari luka, tapi jangan mencoba mencabut benda yang menancap dalam.

Berikan tekanan langsung di atas luka. Gunakan pembalut yang bersih. Jika tidak ada, gunakan sapu tangan atau potongan kain. Jangan sekali-kali “memeriksa” perdarahan dengan cara menyingkap pembalut.

Jika darah masih terus merembes, kuatkan tekanan. Tambahkan sapu tangan lagi di atasnya, tanpa perlu membuang sapu tangan pertama. Sebab, di dalam darah yang keluar terdapat faktor-faktor pembekuan.

Pertahankan tekanan hingga perdarahan berhenti. Jika telah mampet, balut luka dengan perban, langsung di atas kain penyerap. Jika tidak ada perban, gunakan potongan kain biasa. Segera bawa korban ke rumah sakit.

Jika dengan teknik balut tekan biasa ini, perdarahan tidak juga berhenti, lakukan terus sampai ada pertolongan lebih lanjut. “Sebetulnya ada teknik torniquet, tapi sebaiknya teknik ini hanya dilakukan oleh mereka yang pernah mendapatkan pelatihan,” tutur Danang Susanto, Kepala Seksi Siaga Gawat Darurat dan Bencana. Jika keliru, teknik ini justru membahayakan.

Sekadar sebagai gambaran, tourniquet berupa tali yang mengikat kuat sehingga aliran pembuluh darah tersumbat. Ikatan ini punya simpul yang bisa dikencangkan dan dikendurkan. Tiap sepuluh menit, ikatannya harus dikendurkan selama 30 detik untuk memberi kesempatan darah mengalir lagi. Tujuannya, mencegah matinya jaringan akibat tidak mendapat suplai darah.

Tulang Patah

Pada kecelakaan yang parah, perdarahan sering disertai dengan tulang patah (fraktur). Jika ini terjadi, hal utama yang perlu diperhatikan, jangan gerakkkan bagian tulang yang patah. Hal ini malah akan memperburuk kondisi. “Jika sulit dihindari, usahan gerakannya sesedikit mungkin,” tandas Kusdijanto.

Tulang yang patah biasanya ditandai dengan nyeri hebat akibat kontraksi otot, bengkak, memar, bentuk organ yang bengkok, terkulai secara tidak wajar, atau adanya bunyi patah pada saat kecelakaan. Namun kadang-kadang, tulang patah tidak disertai dengan tanda-tanda yang jelas seperti ini. Jika ragu, untuk amannya, anggap saja terjadi tulang patah. Dengan kata lain, perawatannya pun berdasarkan prosedur perawatan tulang patah.

Untuk memastikan tulang tidak bergerak-gerak, pasang bidai pada bagian yang mengalami tulang patah. Caranya, ikat bagian yang patah dengan sesuatu yang kuat sehingga tidak bergerak-gerak. Jika ada, gunakan kayu atau balok. Namun dalam kondisi darurat, umumnya benda yang kita butuhkan tidak berada di lokasi kejadian.

“Untuk menyiasatinya, Anda bisa menggunakan benda lain yang
kaku, misalnya kardus,” kata Danang. Jika ini pun tidak tersedia, gunakan anggota badannya sendiri. Misalnya, jika yang patah adalah betis kanan, ikat betis tersebut dengan betis kirinya. Sebagai tali pengikat, Anda bisa menggunkan sobekan pakaian.

Untuk memastikan tulang tidak bergerak, gunakan aturan dua sendi. Maksudnya, bagian yang patah diikat sepanjang dua sendi. Satu sendi di atasnya, dan satu sendi di bawahnya. Misalnya yang patah adalah betis (tungkai bawah), pasanglah bidai di betis, melampaui sendi lulut dan sendi pergelangan kaki.

Luka bakar

Termasuk dalam kategori ini, luka terbakar api, tersiram air panas, tersiram bahan kimia (asam atau basa kuat), maupun terlindas setrika. Apa pun jenisnya, pertolongan pertama dan utama adalah siram dengan air. Jangan tunggu ini itu. Meskipun sudah tidak kontak dengan sumber panas, namun jaringan yang luka sebetulnya masih menyimpan panas. Semakin lama ditunda, proses perusakan jaringan semakin lama berlangsung.

Jika mungkin, letakkan bagian yang luka di dalam air mengalir. Jika tidak tersedia, setidaknya rendam di dalam air sampai rasa perihnya hilang. Jangan gunakan air es. Menurut panduan pertolongan pertama dari Mayo Clinic, penggunaan es langsung pada luka bakar malah bisa menyebabkan “luka dingin” (frost bite) akibat perubahan suhu yang terlalu rendah. Sambil menunggu pertolongan dokter, untuk meringankan nyeri, korban bisa diberi antinyeri seperti parasetamol.

Bagaimanapun kondisi luka, tetap pegang aturan kedokteran, do no harm. Jangan menambah bahaya. Lupakan mitos tentang olesan mentega, kecap, atau odol. Yang paling penting, hindarkan luka dari kotoran, lalat, dan segala penyebab infeksi.

Teknik mentega ini bukan hanya tidak membantu penyembuhan luka, tapi justru akan menambah penderitaan korban. Di rumah sakit, benda-benda ini malah akan membuat korban meringis saat proses pembersihan luka.

Pada luka bakar yang sampai melepuh, jangan sekali-kali mengelupaskan bagian lepuh. Jika tersedia, tutupi luka secara longgar dengan kasa steril. Selama masa perawatan, penutup luka harus sering-sering diganti untuk menghindari infeksi.

Pada luka bakar yang serius, korban bisa mengalami shok. Ini terjadi karena sebagian volume cairan dikirim ke daerah yang luka, sehingga volume darah ke otak dan jantung menurun drastis. Apalagi ditambah rasa nyeri dan takut. Karena itu, selain pertolongan pada lukanya, Anda juga harus membuat korban tenang.

Risiko shok ini perlu diwaspadai jika luas luka lebih dari 20 persen dari luas permukaan tubuh. Sebagai patokan untuk menghitung luas permukaan tubuh pada orang dewasa, gunakan “aturan sembilan” seperti pada gambar.

Untuk mencegah shok, baringkan penderita dengan kepala lebih rendah dari bagian tubuh lainnya. Jika penderita sadar dan dapat menelan, beri ia banyak minum dan segera bawa ke rumah sakit. Petunjuk pertolongan pertama ini hanya berfungsi untuk menyelamatkan korban dari bahaya lebih lanjut. Pertolongan selanjutnya tetap di tangan dokter.

———————————————————————-
Dapatkan buku karya pemilik blog ini, BUKU OBAT SEHARI-HARI,

terbitan Elex Media Komputindo, di Gramedia dan toko-toko buku.

Buku Obat Sehari-Hari

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s