Surat Cinta Buat Anak-anak Aceh [intisari]


Tsunami telah mengubah segalanya. Ratusan ribu korban kehilangan harapan. Sebagian besar di antaranya adalah anak-anak. Dalam kondisi serba kekurangan, kini mereka sedang bergulat melawan trauma mental.

Satu jam yang mengubah hidup. Itulah yang dialami oleh ribuan anak Nanggroe Aceh Darussalam (NAD) saat tsunami. Satu jam sebelumnya, mereka masih berkumpul dengan orang-orang tercinta. Lalu tiba-tiba ombak datang menggulung. Tanpa mampu berbuat apa-apa, mereka terseret di dalamnya, tersangkut di satu tempat dan terlempar ke tempat lain. Lalu sesudah itu segala sesuatu telah berubah. Dalam hitungan menit, mereka telah menjadi yatim atau yatim piatu yang hanya bisa ikut orang-orang berlari tak menentu.

Padahal sebelum peristiwa itu, mereka telah mengalami trauma berkepanjangan akibat konflik bersenjata. “Dua bulan sebelum tsunami, kami ke Aceh. Di sana ada 21 ribu anak yang harus kami tangani,” ucap Seto Mulyadi, Ketua Komisi Nasional Perlindungan Anak (Komnas PA). “Sekarang jumlahnya diperkirakan 100 – 300 ribu. Yang yatim piatu kira-kira 50 – 75 ribu,” sambung Kak Seto, panggilan akrabnya.

Ribuan anak itu kini harus menjalani hidup yang sama sekali berbeda dari sebelumnya. Berada di tenda-tenda kotor dengan bau busuk yang menyengat di mana-mana. Nutrisi terbatas, sanitasi buruk, kehidupan yang getir.

Banyak di antara mereka yang menunjukkan perubahan perilaku. Bengong, tak tahu harus berbuat apa, sedih, gampang terkejut, hingga paranoid dengan suara air. “Ini pengalaman pertama kami menangani musibah bencana alam yang demikian hebat. Kami belum pernah menghadapi kasus seperti ini,” aku Ieda Poernomo Sigit Sidi, psikolog dari Tim Penanggulangan Masalah Kesehatan Mental Akibat Bencana Alam di NAD dan Sumatra Utara.

Terapi Bermain

Trauma mental ibarat luka fisik. Ketika seorang anak mengalami peristiwa luar biasa seperti tragedi tsunami, mentalnya akan terguncang. Menurut Seto, tingkat keparahan trauma dipengaruhi oleh kepribadian anak dan intensitas kejadian yang ia alami.

“Ada anak-anak yang bermental tahan banting, ada pula yang lemah,” terangnya. Mereka yang hanya melihat tsunami dari atas loteng, tingkat traumanya jelas berbeda dengan mereka yang mengalami sendiri bagaimana dirinya tersapu ombak dan terseret arus.

Jika tidak diterapi dengan benar, trauma bisa menetap dalam memori anak dan akan terbawa terus hingga ia dewasa. Ibarat luka, jika tidak ditangani dengan betul, akan menyebabkan cacat atau meninggalkan jaringan parut.

Lamanya waktu terapi yang diperlukan, sangat dipengaruhi oleh tingkat keparahan trauma dan efektifitas terapi psikologis yang diberikan. “Kita tidak bisa memastikan berapa lama waktu yang diperlukan. Kita tidak bisa main target, seperti minum obat sakit kepala. Kesabaran sangat diperlukan. Tapi berdasarkan pengalaman menangani anak-anak korban konflik Timor Timur, kami butuh waktu 5 – 6 tahun,” tandasnya.

Berbeda dengan orang dewasa, menurut Seto, sebetulnya anak-anak punya mekanisme pertahanan diri yang baik. “Orang dewasa, habis berantem masih menyimpan dendam. Tapi kalau anak-anak, habis berantem, ya sudah. Mereka bisa ketawa-ketawa lagi,” ulasnya memberi contoh. “Mereka punya kelenturan untuk beradaptasi dengan suasana baru, asalkan segera dibawa ke dunia yang mereka inginkan, yaitu dunia bermain,” tuturnya.

Sesuai Budaya Aceh

Idealnya terapi ini dilakukan oleh psikolog yang memahami budaya Aceh. Namun mengingat rasio antara psikolog dan korban yang jauh tidak berimbang, maka terapi psikologis bisa dilakukan oleh nonpsikolog. Syaratnya, mereka harus memahamai dunia anak-anak, dan tetap berpegang pada pedoman yang disusun oleh para psikolog. “Jika keliru, anak-anak malah bisa bingung,” kata Ieda Poernomo.

“Kita harus berusaha mengerti pikiran anak-anak. Bukan sebaliknya, kita yang berharap mereka bisa mengerti,” terangnya. Ieda memberi contoh konkret. Pada usia anak-remaja, terutama mulai usia 14 tahun, anak-anak bisa mengalami rasa bersalah karena mereka hanya menyelamatkan diri sendiri, tidak ikut menyelamatkan orang tua atau saudaranya. Perasaan bersalah itu akan terus mengganggu mereka, sampai mereka merasa sebagia anak durhaka. “Itu memang pola pikir mereka,” tegasnya.

Sementara, budaya masyarakat Aceh sangat kental dengan ajaran Islam. Mereka berpikir dengan norma-norma agama. Karena itu mereka akan tersentuh jiwanya jika diajak bicara dengan bahasa agama. Misalnya, dihibur dengan hadis Rasul, “Jika seseorang meninggal, maka terhenti semua amalnya, kecuali tiga hal: sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan anak saleh yang mendoakannya.”

Bagaimana doa buat orang tua? Menurut Ieda, di sinilah pentingnya para relawan memiliki bekal pengetahuan agama dan budaya setempat. “Bahasa agama bisa menukik masuk ke dalam jiwa mereka,” ucapnya.

Senada dengan itu, Seto pun berpendapat, unsur-unsur agama merupakan faktor penting dalam terapi psikologis. Ia memberi contoh,
mereka bisa dibuat tenang jika dibacakan Ayat Kursi. Buat mereka, lagu Hasan dan Husen lebih akrab daripada lagu Di Sana Senang, di Sini Senang.

Karena alasan ini pula, Seto memberdayakan relawan-relawan setempat untuk mendidik anak-anak di sekolah-sekolah darurat. Mereka dilatih, selanjutnya merekalah yang maju di lini pertama. “Salah seorang dari mereka, remaja umur 17 tahun mendongeng buat anak-anak. Dia bangga sekali bisa melakukan ini. Dibanding kami, dia punya kelebihan sebab bisa bahasa Aceh dan bisa menyanyikan lagu-lagu daerah,” ceritanya.

“Yang tak kalah penting, dia juga bisa melakukan terapi buat dirinya sendiri,” tambahnya. Sebab bagaimanapun, ia juga kehilangan orang-orang yang ia cintai. Dengan mendongeng, ia bisa bilang: ternyata saya mampu! Dengan mendongeng, ia merasa telah menghibur orang lain. Ini akan membangkitkan harga dirinya: saya masih bisa berguna! Saya masih dibutuhkan!

Sekali terapi, dua, tiga pihak bisa terobati.

Tentang usulan adopsi, baik Ieda maupun Seto sepakat bahwa ini bukan cara terbaik dalam menangani kasus anak-anak Aceh. Ieda berpendapat, sebaiknya anak-anak Aceh dibiarkan memilih tempat yang ia merasa nyaman tinggal di situ.

Mengutip Undang-undang Perlindungan Anak, Seto menegaskan bahwa pemerintah bertanggung jawab terhadap anak-anak korban bencana alam. Menurut sarannya, anak-anak Aceh sebaiknya tetap bermain dan diasuh di Aceh. Pemerintah dan masyarakat luas bisa membantu dengan cara menjadi orang tua asuh yang menanggung biaya hidup mereka.

Jadi, tidak perlu menjadi orang tua angkat, tapi cukup menjadi orang tua asuh, seperti Gerakan Nasional Orang Tua Asuh (GN-OTA). “Kadang-kadang pengangkatan anak itu lebih disebabkan keinginan orang tua yang mengangkat, bukan keinginan si anak sendiri. Padahal prinsip perlindungan anak adalah for the best interest of the child, demi kepentingan terbaik buat si anak,” papar Seto.

Pendidikan Afektif

Dalam kondisi trauma dan serba darurat, pola pendidikan anak sangat menentukan keberhasilan terapi. Karena itu Komnas PA mengusulkan kepada Menteri Pendidikan untuk memberi kelonggaran buat anak-anak Aceh dalam hal kurikulum. “Pendidikan buat mereka hendaknya lebih ditekanakan pada sisi afektif, bukan kognitif. Bukan hanya otak kiri yang dirangsang, tapi juga otak kanan. Mereka harus belajar dalam kondisi menyenangkan,” ujar Seto.

Di kelas, mereka tidak hanya disodori pertanyaan-pertanyaan dengan jawaban tunggal, melainkan jawaban-jawaban alternatif. Dalam tinjauan psikologi anak, pertanyaan-pertanyaan dengan jawaban tunggal bisa membuat anak-anak stres. Seto memberi contoh sederhana, “Mereka tidak cuma ditanya berapa jumlah kaki sapi, tetapi hewan apa saja yang berkaki empat.”

Dalam mengungkapakan ekspresi pun, mereka harus diberi peluang sebebas-bebasnya. “Asalkan jangan terlalu detail jika bicara tentang kejadian tsunami. Sebab, hal ini dikhawatirkan bisa membuat mereka mengalami trauma ulang,” terang Seto.

Dalam hal ini, Ieda juga menegaskan, “Yang diperlukan bukan hanya guru yang bisa mengajar, tapi juga mendidik. Yang bisa memperlalukan siswa sebagai manusia seutuhnya. Jika seorang guru hanya bisa mengajar, dia harus didampingi oleh guru lain yang bisa mendidik.”

Dalam memilih materi dongeng, misalnya, guru harus berhati-hati. Jika anak-anak itu mendengar dongeng tentang kehidupan seorang Putri bersama kedua orangtuanya, mereka malah bisa bersedih. Soalnya, mereka sadar tidak lagi memiliki keluarga dan orang tua.

Dalam mendidik pun, guru sebaiknya tidak mendayu-dayu seperti mengajar anak-anak TK pada umumnya. “Ini bukan masalah punya perasaan atau tidak. Tujuan kita adalah mengajak anak-anak untuk bangkit,” ungkap Ieda.

Atas alasan ini pula, kedua psikolog ini menyarankan media massa, terutama televisi tidak terus-menerus menampilkan kepiluan tragedi tsunami. “Tunjukkan gambar-gambar yang optimis. Sekolah sudah mulai lagi. Anak-anak bisa riang gembira. Bahwa kita bisa bangkit kembali,” saran Seto.

Berkirim Surat

Untuk membantu program-program di atas, pemerintah juga akan mencanangkan gerakan nasional menulis surat buat anak-anak Aceh. (Saat tulisan ini dibuat, mekanismenya sedang dimatangkan). Ide dasar dari rencana ini adalah bahwa anak-anak akan lebih cepat pulih dari trauma jika mereka merasa diperhatikan dan segera dibawa ke rutinitas sehari-hari. “Mereka tidak hanya butuh makan, tapi juga butuh perhatian dan cinta. Ini juga bagian dari terapi psikologis,” jelas Seto.

Gerakan ini akan diawali oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono yang akan menulis surat buat mereka. “Mungkin nanti tulisan Bapak Presiden akan dicetak. Tapi itu ‘kan tetap sebuah kebanggaan buat anak-anak, menerima surat langsung dari presiden, tutur Seto.

Semua nama anak korban tsunami akan didata. Selanjutnya nama-nama itu akan dibagi-bagi secara merata ke sekolah-sekolah lain di seluruh Indonesia. Alamatnya tunggal, PO Box BNA
1. Untuk mempermudah, PT Pos Indonesia akan menyediakan warkat pos, sehingga pengirim surat tidak dibebani biaya perangko. “Ini ‘kan sederhana, tapi bisa dilakukan siapa saja,” lanjut Seto.

Jika Anda punya anak usia sekolah dasar atau sekolah lanjutan pertama, ini adalah cara yang bagus untuk menunjukkan kepada mereka: kami semua mencintaimu!

Semoga Aceh segera pulih menjadi “darussalam”, negeri yang damai sejahtera!

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s