Tipu Muslihat Licik Ala Arsenik [intisari]


Tipu Muslihat Licik Ala Arsenik

Sejak pentolan Kontras, Munir meninggal dunia, nama arsenik langsung saja masyhur. Orang-orang bergidik mendengar ia disebut. Soto buat wakil presiden pun diamankan karena dicurigai mengandung zat ini. Padahal sebetulnya setiap hari ia masuk ke dalam tubuh kita lewat makanan.

Di dunia peracunan, reputasi arsenik tak diragukan lagi. Ia menempati ranking pertama dalam hal paling sering dipakai sebagai pembunuh lewat makanan. Dalam urusan yang satu ini, ia mengalahkan konco-konconya sesama racun seperti sianida dan striknin. Maklum, arsenik punya banyak kelebihan dibanding anggota komplotan lainnya.

Secara kimia, arsenik adalah nama sebuah unsur. (Unsur merupakan unit penyusun senyawa kimia. Dalam notasi kimia, ia disingkat As.) Karena nama sebuah unsur, ia bisa tampil dalam bentuk bermacam-macam senyawa.

Sebagai racun, paling tidak ia memiliki tiga bentuk senyawa yang terpopuler. Pertama, arsenik trioksida (As2O3). Senyawa ini sering disebut sebagai arsenikum. Dalam bahasa sehari-hari ia dikenal sebagai warangan. Eyang-eyang kita dulu sering menggunakannya untuk mencuci keris.

Bentuk aslinya bubuk putih yang mudah larut dalam air, terutama air panas. “Karena itu arsenik trioksida paling cocok dicampurkan ke dalam kopi,” ujar Dr. dr. Djaja S. Atmadja, SpF, SH, DFM, ahli forensik dari Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia.

Bentuk kedua, arsenik triklorida (AsCl3). Bentuknya menyerupai minyak berwarna kuning. Senyawa ini jarang dipakai karena daya peracunannya relatif rendah. Di samping itu, penggunaannya pun susah karena harus dicampurkan ke dalam sesuatu yang berminyak.

Bentuk ketiga, arsin (AsH3). Ini merupakan bentuk arsenik yang paling beracun. Wujudnya gas dan sering dipakai sebagai senjata kimia di dalam perang.

Mati Cepat Atau Pelan-pelan

Dari ketiga bentuk itu, waranganlah yang paling banyak dipakai dalam kasus-kasus kriminal karena sifatnya yang sangat sulit dideteksi. Korban tak akan curiga bahwa dirinya sedang diracun, meskipun ia adalah juru masak dan juru icip-icip. Saat bercampur dengan makanan, arsenik sama sekali tak bisa dikenali. Ini berbeda, misalnya, dengan sianida yang punya bau khas sehingga korban yang diracun bisa curiga.

Penyebab lainnya, gejala keracunan akibat arsenik sangat mirip dengan gejala penyakit akut maupun kronis. “Jika tidak waspada, dokter pun bisa salah diagnosis,” kata Djaja. Biasanya dokter mengira korban meninggal akibat gastritis atau muntaber semata. “Bahkan sesudah autopsi pun, diagnosisnya bisa tetap keliru,” tambahnya.

Di samping itu, arsenikum mudah didapat secara bebas di toko-toko kimia. Harap maklum, bahan kimia ini sebetulnya punya banyak kegunaan di luar urusan bunuh-membunuh.

Di bidang pertanian, arsenikum sering dipakai untuk membasmi hama dan tikus. Di bidang industri, ia juga sering dipakai sebagai pengawet kayu, bahan cat, keramik, elektronik serta pembening kaca. Di bidang homeopati, dulu arsenikum pun sering dipakai untuk pengobatan. Namun sejak sering dipakai sebagai racun pembunuh, metode ini mulai ditinggalkan.

Menurut Djaja, ada dua modus operasi yang biasa dipakai pelaku dalam menghabisi korban. Modus pertama, single lethal dose. Korban diracun dengan satu dosis besar yang mematikan, di atas 200 mg.

Namun saat mencampurkan ke dalam makanan, biasanya pelaku memasukkan arsenik dalam jumlah 3 – 4 kali dari dosis letal ini. “Soalnya, begitu korban menelan arsenik, dia akan muntah-muntah sehingga sebagian arsenik akan terbuang. Jadi kalau dikasih 200 mg, korban tidak mati,” terang Djaja.

Dalam kasus Munir, para ahli forensik dari National Forensic Institute Belanda menemukan arsenik 460 mg. Diperkirakan, jumlah yang dicampur di dalam makanan jauh lebih besar lagi.

Modus ini biasanya dilakukan oleh orang yang tidak punya akses langsung terhadap makanan sehari-hari korban. Ia mempelajari aktivitas korban dari jauh. Begitu ada kesempatan, ia segera bersekutu dengan setan.

Modus kedua, multiple smaller dose. Secara terus-menerus dan berkala, korban dibombardir dengan arsenik dalam dosis di bawah letal. Setelah saatnya tiba, ia dieksekusi dengan dosis letal. Umunya cara ini dilakukan oleh orang yang punya akses terhadap makanan dan minuman korban.

Bagi orang awam, modus macam ini sekilas tampak aneh dan buang-buang waktu. Membunuh kok pakai basa-basi. Tapi bagi para ahli kriminologi, modus seperti ini bisa dipahami. Ada udang di balik modus. Dengan cara seperti itu, pelaku berharap tidak ada yang curiga bahwa korban meninggal akibat racun. Dengan begitu pelaku punya alibi.

Penjelasannya sederhana. Saat terpapar arsenik dosis rendah, korban akan menunjukkan gejala sakit, mual, muntah dan diare. Fungsi lever dan ginjal juga akan terganggu. Ketika pelaku memberi waktu jeda, korban sehat kembali. Begitu seterusnya, hingga pada saat dieksekusi, ia akan disangka meninggal karena memang sakit-sakitan.

Dalam kasus Munir, banyak yang keliru persepsi terhadap istilah multiple smaller dose. “Mereka menyangka ini dosis kecil yang terus-menerus, yang tidak diakhiri dengan dosis letal. Yang ini namanya keracunan kronis” papar Djaja.

Jadi, menurut Djaja, kasus Munir itu jelas dosis letal. “Masalahnya, apakah peracunan itu telah terjadi sebelumnya atau tidak. Sebab dari rekam medis, Munir punya riwayat gangguan lever,” terangnya.

Tersimpan di Kuku dan Rambut

Begitu termakan, arsenik akan mengagetkan sistem fisiologis di dalam tubuh. Saluran cerna menganggapnya sebagai bahan asing yang perlu diusir. Lambung akan meresops dengan muntah. Usus merespons dengan diare. Meski demikian, tetap saja ada yang diserap masuk ke dalam peredaran darah.

Dalam tempo dua belas jam, arsenik sudah terdistribusi ke seluruh jaringan. Di dalam tubuh, ia memaksa lever berusaha keras untuk memetabolisme. SGPT dan SGOT akan meningkat. Ginjal pun harus bekerja giat menyaringnya agar keluar dari peredaran darah. Saat keseimbangan cairan terganggu akibat muntaber, kerja ginjal menjadi semakin berat. Itulah sebabnya, korban peracunan arsenik akan menunjukkan gejala gangguan lever dan ginjal tanpa sebab yang jelas.

Pada kasus peracunan dosis letal, dalam tempo 30 menit sampai 2 jam, korban bisa mengalami muntah dan diare hebat. Kematian bisa terjadi dalam hitungan jam hingga empat hari akibat kegagalan sirkulasi.

Pada kasus keracunan kronis, korban bisa mengalami neuropati perifer (gangguan saraf tepi). Kaki dan tangannya sering mengalami kesemutan dan rasa kebas atau mengalami kelemahan motorik, mirip penderita stroke. Bedanya, gangguan motorik pada stroke biasanya terjadi pada satu sisi, kanan atau kiri. Tapi pada keracunan kronis arsenik, gangguan motorik bersifat simetris, kanan dan kiri.

Di samping gejala-gejala ini, jejak arsenik juga bisa dilacak dari kuku dan rambut korban. Kita tahu, sirkulasi darah tidak menjamah kedua organ ini, sehingga sisa arsenik akan ditimbun. Residu ini tetap bisa dilacak meskipun korban tinggal rangkanya saja. Lewat deposit ini, para ahli bisa memperkirakan kapan ia diracun dan berapa kira-kira kadarnya.

Dalam penuturan Djaja, kasus seperti ini pernah terjadi pada seorang bos perusahaan di Jakarta. Kedua kakinya lumpuh simetris. Oleh dokter pertama, ia dikira menderita polio. Penyebabnya baru diketahui setelah si bos memeriksakan diri ke Singapura.

Dokter mencurigai arsenik karena sifat lumpuhnya yang simetris. Setelah sampel rambutnya diperiksa, dokter menyimpulkan biang keladinya adalah keracunan arsenik kronis. Belakangan diketahui, ternyata ia diracun oleh rekan sekantor yang menyediakan pembantu khusus untuk menyiapkan kopinya.

Di Amerika Serikat, arsenik pernah dipakai dalam kasus pembunuhan berantai. Secara cerdik (dan licik), seorang wanita membunuh suaminya untuk menguasai harta warisan. Sesudah itu ia pindah ke kota lain, menikah dengan pria lain lalu meracunnya.

Berkali-kali ia lempar arsenik sembunyi tangan. Tak seorang pun yang curiga atas kematian suaminya. Baru setelah korban yang keempat, seorang keluarga korban curiga. Setelah melalui penyelidikan rumit atas bantuan helai rambut dan ujung kuku, misteri kematian berantai itu bisa dipecahkan.

Ada di Makanan

Meski namanya menyeramkan, sesungguhnya arsenik adalah unsur normal yang ada di dalam makanan kita sehari-hari. Hanya, jumlahnya sangat kecil. Unsur ini memang secara normal ada di dalam tanah. Bersama air, arsenik diisap oleh tetumbuhan. Selanjutnya, ia masuk ke dalam tubuh hewan. Kadar arsenik paling besar dijumpai pada kerang-kerangan.

Tapi jangan keliru, tidak semua arsenik adalah racun. Untuk membedakannya, para ilmuwan membagi senyawa arsenik menjadi dua: organik dan anorganik. Warangan dan komplotannya adalah contoh arsenik anorganik yang bersifat racun. Sedangkan arsenik yang ada secara normal di dalam sayuran maupun daging hewan termasuk golongan organik yang tidak bersifat toksik.

“Kalau kita periksa makanan kita, semuanya pasti mengadung arsenik,” tandas Djaja. Karena itulah, jika bicara arsenik sebagai racun, kita tak cukup hanya berbekal data kualitatif (ada atau tidaknya), tapi harus dilengkapi data kuantitatif (berapa kadarnya).

Data kuantitatif ini hanya bisa didapatkan melalui pemeriksaan kimiawi dengan alat-alat modern seperti spektrofotometer serapan atom (AAS) atau GC/ MS. Belum semua laboratorium mampu melakukannya.

Arsenik tanah hanya akan menjadi masalah jika kadarnya terlalu tinggi. Biasanya ini dijumpai di daerah sekitar penambangan, misalnya Buyat. Melalui air minum, penduduk sekitar daerah penambangan terpapar arsenik dalam kadar kecil secara kronis.

Menurut penelitian World Health Organization (WHO), kadar 0,5 – 1 mg dalam makanan masih dianggap normal. Atas dasar ini Anda bisa mengambil kesimpulan mengenai kasus arsenik di dalam soto Wakil Presiden yang dulu pernah diributkan.

Berdasarkan pemeriksaan laboratorium, kuah soto tersebut mengadung arsenik 0,09 ppm (mg/ liter). Dengan asumsi soto mengandung kuah 200 ml (1/5 liter), berarti kadar arsenik di dalamnya adalah 0,018 mg. Tukang soto pun bisa menyimpulkan!

Advertisements

4 thoughts on “Tipu Muslihat Licik Ala Arsenik [intisari]

  1. Apakah makan udang terus minum vitamin c bisa menyebabkan kematian seperti yang terjadi di Taiwan ? Apakah ada penyembuhan akibat keracunan arsenik ?arsenik = warangan ? bila berbahaya kenapa di jual bebas

  2. Setahu saya, email yang banyak beredar di internet tentang bahaya makan udang bersamaan dengan minum vit. C itu adalah hoax. Sekalipun kita tidak bisa memastikan benar tidaknya kasus di Taiwan itu, saya yakin kematian itu bukan akibat vit C yang mereduksi arsenik di udang menjadi senyawa beracun. Kalaupun (KATAKANLAH) cerita itu benar, gejala keracunan arsenik sama sekali berbeda dengan gejala yang dialami orang Taiwan itu. Orang itu mati dengan “kelima panca inderanya mengeluarkan darah” (gaya bahasanya oi!). Sementara, gejala keracunan arsenik adalah (seperti yang dialami alm. Munir) muntah dan diare hebat yang menyebakan dehidrasi berat. Dehidrasi inilah yang menyebabkan korban meninggal dunia. Sekali lagi (katakanlah) cerita di Taiwan itu benar, dugaan saya, yang paling mungkin adalah reaksi alergi udang, yang memang bisa menyebabkan shok berat. Ada contoh kasus menarik di Mayo Clinic, AS (http://emshol.multiply.com/journal/item/2/Jangan_Buru-buru_Cium_Gue_intisari.) Hoax ini menggunakan logika sederhana (menurut saya, terlalu menyederhanakan) ilmu kimia: (1) bahwa vit C bersifar reduktor; (2) proses reduksi bisa mengubah arsen pentoksida menjadi arsen trioksida; (3) udang mengandung arsen pentoksida; dan (4) arsen trioksida bisa membunuh manusia. Ini logika yang hanya menggunakan ukuran kualitatif. Padahal dalam hal peracunan ini, yang paling penting adalah ukuran kuantitatif (seberapa kuat daya reduksi vit C saat berada di dalam tubuh, berapa miligram arsennya). Asalkan tak punya alergi, tak usah khawatir makan udang. Kalau khawatir, kirimkan saja udangnya ke saya, sekalian vit C-nya (:p). Faktanya, setiap hari kita secara tidak sengaja mengonsumsi vit C dan arsenik dari makanan. Sayuran dan buah mengandung vit C. Udang dan kerang-kerangan mengandung senyawa arsenik. Tapi, arsenik yang ada di dalam hewan laut ini golongan ORGANIK, yang sifat racunnya berbeda dengan arsenik ANORGANIK (seperti yang digunakan untuk meracun Munir). Selain jenisnya berbeda, kandungannya juga sangat kecil. Arsen dijual di toko-toko kimia karena memang bahan kimia ini punya banyak manfaat di bidang industri. Memang, mestinya bahan kimia ini dijual dengan pengawasan. Mestinya! (=seharusnya begitu tapi kenyataannya tidak).

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s