Tua Harus, Pikun Jangan [intisari]

Kita semua punya dua pilihan, menjadi tua atau mati muda. Menjadi tua berarti harus siap dengan dua pilihan pula, tetap sehat atau pikun dan sakit-sakitan. Jika mau tetap sehat, kita hanya punya satu pilihan: usia boleh tua, tapi otak harus tetap awet muda.

Masih ingat hidangan apa yang Anda santap tadi malam?

Jika tidak, artikel ini tak lagi penting buat Anda. Tapi sangat penting!

Menua adalah bagian dari proses alamiah. Tak bisa ditunda ataupun dicegah. Tapi, kepikunan (demensia) berbeda. Meski sama-sama proses alamiah, demensia bisa ditunda. Kuncinya ada di otak.

Otak merupakan organ paling rumit dengan fungsi paling njlimet. Dengan bobotnya yang hanya sekitar 1,3 kg, jumlah sel otak kira-kira 100 – 200 miliar. Ketika usia mulai uzur, jumlah sel ini menyusut. Sel-sel yang masih aktif pun mulai melisut.

Tiap sel otak berkomunikasi dengan sel otak lainnya lewat kabel-kabel penghubung. Satu sel punya banyak cabang yang menghubungkan ke beberapa sel lainnya.

Semakin banyak dan rimbun percabangan tersebut, makin banyak program yang ter-install. Otak semakin cerdas. Pada manula, biasanya jumlah percabangan ini meranggas, tak lagi rimbun. Banyak program yang error.

Meski umumnya terjadi pada manula, pelisutan sel ini pun bisa terjadi pada usia produktif. Ini bisa terjadi jika sel otak selalu dalam keadaan menganggur alias tidak difungsikan.

Jika percabangan ini meranggas, hubungan komunikasi antarsel menjadi terganggu. Inilah yang menyebabkan kakek-kakek lupa nama cucunya sendiri.

Dalam soal kepikunan, ada dua fungsi otak yang saling berkaitan yakni fungsi ingatan dan penukilan. Fungsi ingatan bertugas menyimpan nama cucu. Sementara fungsi penukilan bertugas memanggil data tersebut.

Kadang fungsi ingatan masih bekerja baik, tapi fungsi penukilan mengalami gangguan. Inilah yang menyebabkan si aki harus bergumam, e… e… e… ketika ditanya nama cucunya yang baru lahir.

Namun berita bagusnya, menurut Prof. dr. Soemarmo Markam, Sp.S (K), ahli saraf dari Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI), cabang-cabang sel ini tetap bisa terus tumbuh, meskipun jumlah total selnya menyusut. Bahkan pada manula sekalipun.

Beri Makan Otak

Kepikunan pada manula tidak terjadi seketika. Prosesnya panjang dan bahkan sudah dimulai sejak usia muda, ketika seseorang belum pernah berpikir tentang kepikunan. Masalah ini tak bisa dipisahkan dari masalah kesehatan secara umum.

Seperti kita, otak pun perlu makanan. Dia hanya bisa aktif jika mendapat suplai nutrisi dan oksigen yang cukup. Keduanya adalah makanan pokoknya. Meskipun bobotnya hanya sekitar 2% dari berat badan, otak paling banyak menghabiskan makanan. Ia mengambil 20% suplai darah dari jantung dan 20% suplai oksigen dari paru.

Pada usia menjelang maghrib, fungsi kerja jantung dan pernapasan mengalami kemunduran. Suplai darah ke otak pun menurun. Akibatnya, suplai nutrisi dan oksigen pun ikut menurun. Ini akan menyebabkan sel-sel otak menjadi uzur. Itulah sebabnya, cara pertama menunda kepikunan adalah adalah terus menjaga kiriman makanan ke otak.

Menurut dr. Adre Mayza, Sp.S (K), dari Bagian Neurologi FKUI/ RSUPN Cipto Mangunkusumo, ada beberapa jenis gangguan kesehatan yang bisa mempercepat kepikunan. Di antaranya, hipertensi, diabetes melitus, dan hiperkolesterol.

Pada penyakit-penyakit ini, pembuluh darah biasanya mengalami penebalan. Ini menyebabkan kiriman darah ke otak menjadi terganggu. Jika berlangsung lama dan terus-menerus, sel otak tidak berumur panjang. Daya kerjanya pun melemah.

Pada penderita diabetes, kondisinya lebih buruk lagi. Selain terjadi penebalan pembuluh darah, gangguan metabolisme gula juga menjadi sumber masalah. Pada diabetesi, kadar gula di dalam darahnya tinggi tapi sulit masuk ke dalam sel, termasuk sel otak. Ini menyebabkan otak menjadi kurang gizi dan tidak bisa bekerja dengan baik.

Dengan kata lain, untuk menunda kepikunan, semua faktor penyakit-penyakit di atas harus dikontrol. Membiarkan diri diserang diabetes dan hipertensi berarti mendaftarkan diri agar cepat-cepat pikun.

Walhasil, agar tak cepat pikun, Adre menyarankan pola hidup sehat secara umum, makan seimbang, dan olahraga. Poin yang terakhir ini menjadi penting karena aktivitas fisik bisa meningkatkan oksigenasi dan sirkulasi darah ke otak, sehingga sel-sel otak selalu dalam keadaan bugar.

Ini semua baru langkah pertama, memberi makan otak. Langkah kedua adalah menggunakannya!

Use It or Lose It

Otak merupakan organ fungsio
nal. Ia hanya bisa berfungsi dengan baik jika dipakai bekerja. Diberi makan saja tidaklah cukup. Ia harus dikaryakan sesuai fungsinya. Tak boleh dibiarkan bengong.

Dibandingkan organ-organ lain, otak punya fungsi yang jauh lebih kompleks. Masing-masing aktivitas tubuh diatur oleh bagian khusus. (Masing-masing bagian ini kita sebut saja kompartemen.)

Di dalam otak terdapat sangat banyak kompartemen: pusat penglihatan, penciuman, gerakan, berpikir, berinisiatif, emosi, dan seterusnya. Gerakan tangan kanan dan tangan kiri diatur oleh kompartemen yang berbeda. Gerakan jempol dan kelingking diatur oleh bagian yang berbeda. Pendek kata, rapi, rumit, bin canggih.

Agar vitalitasnya terjaga sampai tua, fungsi-fungsi itu harus diaktifkan. Para ahli saraf bilang, train your brain. Use it or lose it. Jika selalu menganggur, sel-sel otak akan cepat pensiun. Itulah sebabnya, lansia yang cuma bengong di rumah akan lebih cepat pikun daripada lansia yang masih aktif.

Cara mengaktifkan otak bermacam-macam. Pusat penglihatan harus dilatih dengan latihan penglihatan; pusat gerak dengan latihan gerak; pusat berpikir dengan latihan berpikir; dan seterusnya.

“Lakukan kegiatan apa saja. Mau belajar agama, main bridge, main catur, atau ngisi TTS, terserah,” kata Soemarmo. Kegiatan otak ini akan menjaga sel-sel otak tetap aktif sehingga tidak cepat uzur. “Sampai usia pensiun pun, otak harus selalu diaktifkan. Jangan sampai nganggur,” ujar guru besar yang mengaku telah mendapatkan bonus umur 10 tahun ini. (Harapan hidup rata-rata orang Indonesia 65 tahun).

Fisik Sekaligus Otak

Jika kita melakukan olahraga fisik seperti joging dan jalan kaki, berarti kita menunda demensia lewat cara pertama, memberi makan otak. Jika kita melakukan aktivitas pikiran seperti membaca dan belajar, berarti kita memperlambat kepikunan lewat cara kedua, mengaktifkan otak.

Keduanya efektif. Cuma, cara seperti ini punya kelemahan karena dua kegiatan ini terpisah satu sama lain. Tidak ada kerjasama dan keselarasan di antara keduanya. Di samping itu, olahraga fisik butuh waktu khusus, kegiatan otak juga perlu waktu tersendiri.

Inilah yang dipikirkan oleh para ahli saraf, bagaimana merancang sebuah olahraga fungsional yang, selain melatih fisik, juga merangsang otak sekaligus. Maka lahirlah kemudian senam-senam otak, dengan berbagai tekniknya. Salah satunya adalah Latihan Vitalisasi Otak (LVO) yang dikembangkan Soemarmo, Adre, dan kawan-kawan.

Menurut Adre, latihan fungsional yang baik harus merangsang semua komponen manusia, fisik, mental, dan spiritual. Jadi, bukan hanya olah-raga, tapi juga olah-pikir dan olah-rasa. Ada harmoni antarsemua unsur tersebut. Inilah kekhasan LVO.

Latihan ini mirip meditasi gerak. Unsur budaya Indonesia ikut terangkum di dalamnya. Ini pula yang membedakannya dengan senam otak made in Amerika. Maklum, pembuatan latihan ini, selain dikerjakan oleh ahli saraf dan fisioterapi, juga dibantu oleh ahli musik, silat dan tari tradisional.

Gerakannya sederhana sehingga latihan ini bisa dilakukan oleh siapa saja, di mana saja, dan kapan saja (seperti minum Coca-Cola). Soemarmo menjamin latihan ini tidak melejitkan tekanan darah dan denyut jantung secara drastis sehingga aman buat manula. Bahkan bagi mereka yang punya masalah tekanan darah dan jantung sekalipun.

Di dalamnya terdapat beberapa “jurus”. Masing-masing jurus melatih fisik dan kompartemen otak yang berbeda. Tidak hanya melatih pusat gerakan otot, tetapi juga melatih fungsi-fungsi otak yang lebih tinggi (high cortical functions).

Adre memberi contoh gerakan Merangkai Bunga Melati. Pemilihan nama melati ini berdasarkan pertimbangan budaya, dengan anggapan orang Indonesia sudah akrab dengan bunga ini. Asosiasinya putih, indah, wangi, dan melambangkan kesucian. “Ini akan melatih memori. Memori ‘kan hakikatnya mengingat sesuatu yang pernah dialami. Emosi yang timbul akan lain jika misalnya diberi nama bunga kamboja,” ujar Adre.

Saat mengimajinasikan bentuk melati, pusat ingatan bentuk di otak ikut aktif. Ketika menggerakkan jari-jari, pusat gerak jari tangan juga aktif. Saat membayangkan warna melati, pusat penglihatan pun aktif meskipun bunga tersebut tidak ada di depan mata. Begitu pula saat membayangkan wangi melati, pusat penciuman pun aktif, meskipun hidung tak mencium baunya langsung.

Waktu merangkai bentuk melati, mata mengikuti gerakan tangan. Ini akan merangsang koordinasi antara pusat penglihatan dan pusat gerak.

Olah Emosi

Unsur lain y
ang dilatih dalam senam ini adalah keseimbangan sebab pada lansia, fungsi ini umumnya mengalami gangguan. Latihan keseimbangan ini dilakukan lewat gerakan tumit kaki menyusuri tulang kering (betis) kaki lainnya. Menurut Soemarmo, latihan keseimbangan ini juga bisa meningkatkan kecerdasan secara tidak langsung.

Mirip gerakan taichi atau meditasi gerak lainnya, LVO menyelaraskan tiga unsur: gerak, napas, dan konsentrasi. Gerakannya lambat mengikuti irama napas. Ini pula yang membedakannya dengan senam otak lainnya. Menurut Adre, cara ini akan melatih kestabilan emosi, seperti pada latihan meditasi.

Unsur emosi merupakan hal yang sangat penting di dalam latihan ini. Salah satu contonya, di jurus penutup terdapat gerakan tangan seperti merangkul. Gerakan ini dilakukan dengan disertai emosi we love you all.

Di luar urusan LVO, Adre berpendapat, melatih otak bisa dilakukan lewat banyak cara, misalnya meditasi dan seni beladiri pernapasan. “Ritual agama yang dilakukan dengan khusyuk pun punya manfaat serupa,” katanya.

Ringkas kata, agar tak cepat pikun, kita harus e… e… e…

Boks-1

Qui Sera, Sera

Menurut Soemarmo, ada dua faktor psikologis penting yang bisa mempercepat pikun. Faktor pertama, stres. Ia mengutip hasil sebuah penelitian yang dilatarbelakangi oleh fakta, banyak orang yang pola hidupnya tidak sehat (perokok berat dan pecandu kopi) tapi tetap sehat di usia lanjut.

Ternyata, faktor yang lebih dominan adalah kestabilan emosi. Meski tidak berarti menyarankan merokok, Soemarmo menganggap kuncinya adalah menjauhi stres. Selalu berpikir positif, tak mudah marah, tak gampang sedih. “Stres akan mengacaukan mekanisme biokimia di otak, sehingga mempercepat kerusakan otak, termasuk kepikunan,” terangnya.

Faktor kedua, perasaan tidak lagi berguna.

Soemarmo tidak sekadar berteori. Pengetahuan ini ia terapkan pada dirinya sendiri. Meskipun telah pensiun, ia masih banyak melakukan aktivitas. Mulai dari memberi kuliah di UI, menulis buku, ceramah gratisan untuk warga di kampung-kampung, sampai bermain klepper (seni musik langka yang alatnya hanya berupa dua bilah bambu sederhana dan dimainkan lewat kecepatan gerakan jari tangan).

Tak mengherankan, meskipun usianya sudah tiga per empat abad, ia masih bisa menceritakan runut dan detil proses pembuatan Latihan Vitalisasi Otak yang idenya muncul sejak tahun 1988.

Bersama Adre, Soemarmo membuat program Neurobehavior di Komunitas untuk Memelihara Kesehatan Otak. Anggotanya para lansia dari puskesmas-puskesmas. Salah satu pogramnya adalah mendongeng agar para lansia tetap merasa berguna.

Mengutip Bertrand Russel, seorang filsuf Inggris, Soemarmo membagi resepnya menjalani masa tua dengan bermakna, “Kita harus meniru aliran sungai. Di hulu, alirannya deras. Tebingnya curam. Semakin ke hilir, tebingnya makin landai. Arusnya semakin tenang, dan akhirnya menyatu dengan lautan.”

Menjadi tua berarti menjadi lebih tenang. Tak perlu ada yang dirisaukan.

Saat memberikan ceramah di Rumah Sakit Pusat Pertamina, Jakarta, Soemarmo mengundang kawan-kawannya naik panggung dan mendendangkan langgam nostalgia Que Sera, Sera, “… whatever will be, will be…”

Boks-2

Karena keterbatasan Intisari, langkah-langkah gerakan LVO tidak bisa ditampilkan di artikel ini. Untuk lebih detilnya, Anda bisa mendapatkan VCD-nya di Bagian Fisioterapi Rumah Sakit Cengkareng. Telp. 021-543728 ext 107.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s