Cara Tepat Mengatasi Anak Demam

Demam merupakan alasan paling banyak orangtua membawa anaknya ke dokter. Sayangnya, gejala ini lebih sering ditangani dengan kepanikan ketimbang rasio.

Sebagai sebuah sistem yang lengkap, tubuh manusia dilengkapi dengan termostat (pengatur suhu) yang ada di di otak. Hipotalamus, demikian ia disebut. Pada kondisi normal, set point-nya diatur pada suhu konstan yang berkisar pada 37 oC.

Jika suhu dingin, hipotalamus menaikkan set point dengan cara menggigil dan mengerutkan pembuluh darah. Karena itulah di musim hujan kita akan menggigil dan tampak pucat. Sebaliknya, jika suhu panas, hipotalamus menurunkan set point dengan cara menyuruh tubuh membuang panas lewat pengeluaran keringat, pelebaran pembuluh darah, dan peningkatan ritme napas.

Jika mekanisme pengaturan suhu sedemikian canggih, bagaimana demam masih bisa terjadi?

Demam adalah kondisi di mana otak mematok suhu di atas setting normal, lebih dari 38 oC. Menurut dr. Purnamawati S. Pujiarto, SpA (K), MMPed, panas yang “sungguh-sungguh demam” adalah ketika suhu di atas 38,5 oC.

Tidak Selalu Akibat Infeksi

Peningkatan suhu badan terjadi akibat beredarnya suatu molekul kecil di dalam tubuh, yang disebut sebagai pirogen (zat pencetus panas). Pembentukan pirogen dipengaruhi oleh banyak faktor. Bisa infeksi, radang, keganasan, alergi, maupun teething (tumbuh gigi).

Berkaitan dengan suatu proses penyembuhan, pirogen melakukan dua fungsi. Mengerahkan sel-sel darah putih ke lokasi infeksi, dan menimbulkan panas sebagai mekanisme untuk melawan virus.

Menurut Purnamawati, banyak orangtua yang datang ke dokter dengan permintaan yang berlebihan. “Pokoknya, anak saya lekas sembuh,” demikian mintanya. Padahal dokter bukan tukang sihir. Sementara demam punya sifat alamiahnya sendiri.

Dalam pandangan Wati, demikian ia akrab dipanggil, pasien yang tidak rasional akan mendorong dokter untuk juga tidak rasional. Akibatnya, dokter cenderung memberi obat untuk semua gejala yang diderita anak, meskipun sebenarnya tidak diperlukan.

Tip Praktis Menangani Demam

Selama ini kita selalu menganggap demam sebagai sesuatu yang negatif. Padahal sebetulnya ia merupakan mekanisme alamiah tubuh mempertahankan diri. Demam bukanlah sebuah penyakit, melainkan gejala. Dalam banyak kasus, ia tidak memerlukan obat.

Bahkan meski disebabkan oleh infeksi sekalipun, tidak berarti demam harus diobati antibiotik, karena penyebab infeksi paling sering pada anak adalah virus, bukan bakteri. Dan sebagaimana diketahui, antibiotik tidak efektif melawan virus. “Banyak orangtua yang terperangah bila saya tidak memberikan obat, dan menyarankan kompres saja,” kata Purnamawati.

Berikut tip dari Purnamawati untuk mengatasi anak demam:

· Jaga ruangan agar tidak panas, bila perlu pasang kipas angin.

· Hindarkan anak dari memakai pakaian tebal.

· Beri dia minuman lebih banyak (air, kuah sup, jus buah segar yang sudah dicampur air, es batu, es krim).

· Jika dia sering muntah atau diare, beri dia minuman yang mengandung elektrolit (oralit, Pedialyte).

· Biarkan anak makan apa yang ia inginkan, jangan dipaksa. Namun hindarkan dia dari makanan berlemak tinggi, atau makanan yang sulit dicerna.

· Kompres dengan air hangat. Ya, air hangat, Anda tidak sedang salah baca. Karena jika langsung dikompres dengan air dingin, justru akan dibaca oleh tubuh sebagai sinyal untuk menaikkan suhu.

· Biarkan dia tidak masuk sekolah (tapi tidak berarti seharian di tempat tidur).

Cara Mengompres Anak:

·
Taruh anak di ember mandi yang berisi air hangat bersuhu 30 – 32 oC, atau

· Usapkan air hangat di sekujur tubuhnya

· Bila ia menolak, suruh duduk di ember, beri mainan dan ajak bermain

Risiko Dehidrasi dan Kejang

Secara umum, demam pada anak tidak membahayakan jiwa. Artinya, orangtua tidak perlu menghadapinya dengan panik, sebagaimana yang lazim kita jumpai. Namun demikian orangtua tetap perlu mewaspadai risiko buruk dari suhu tubuh yang abnormal. Dua risiko yang paling perlu diwaspadai adalah dehidrasi dan kejang.

Dehidrasi bisa terjadi karena selama demam, terjadi peningkatan pengeluaran cairan tubuh. Jika tidak diimbangi dengan pemasukan yang cukup, anak bisa mengalami dehidrasi.

Adapun risiko kejang, menurut Purnamawati, kemungkinannya sangat kecil. Kejang demam hanya terjadi pada anak usia 6 bulan sampai 5 tahun, di hari pertama demam. Serangan pertama jarang sekali terjadi pada usia kurang dari 6 bulan atau lebih dari 3 tahun. Pada umumnya kejang demam tidak berbahaya, dan tidak menyebabkan kerusakan otak.

Dalam pengamatan Purnamawati, orangtua sering kali sulit membedakan antara menggigil dengan kejang. Pada saat menggigil, anak tidak kehilangan kesadaran. Napasnya juga tidak berhenti. Ia menggigil karena demamnya akan meningkat lagi.

Akibat penampilannya yang menakutkan, tidak jarang orangtua merasa anaknya kejang dalam waktu lama, meski sebetulnya hanya berlangsung selama beberapa detik atau menit.

Yah, namanya juga orangtua.

Boks-1

Menangani Anak Kejang

· Tetap tenang, jangan panik, amati kondisinya dengan saksama

· Baringkan ia di tempat yang aman (lantai)

· Saat kejang, jangan di-”rejeng”, untuk mencegah terjadinya fraktur tulang

· Cegah jangan sampai ia tersedak (atur posisinya tengkurap atau miring)

· Jangan menaruh benda apa pun di dalam mulutnya (misalnya sendok)

· Bawa ke dokter setelah kejang reda, atau bila kejang berlangsung lebih dari sepuluh menit

Obat Demam

Obat yang sering dipakai untuk gejala demam adalah parasetamol (atau asetaminofen, misalnya Panadol, Tempra) dan ibuprofen (misalnya Proris). Sedangkan asetosal (misalnya Aspilet) tidak boleh diberikan pada anak berusia kurang dari 16 tahun karena dapat menyebabkan sindrom Reye (kondisi yang menyebabkan gagal hati dan penurunan kesadaran).

Fungsi obat-obat ini bukanlah untuk menormalkan suhu tubuh, melainkan untuk sedikit menurunkan suhu dan mencegah kenaikan suhu lebih lanjut. Juga untuk membuat anak merasa nyaman apabila tampak kesakitan dan rewel.

Dari keempat jenis obat itu, parasetamol merupakan yang paling aman, sepanjang dosisnya tidak melebihi takaran. Di luar itu, ada beberapa hal yang harus diperhatikan:

· Jika demam disertai muntah atau diare, hindari pemberian ibuprofen. Selain dapat menyebabkan iritasi atau perdarahan lambung dan saluran cerna, obat ini juga bisa menganggu fungsi ginjal.

· Hindari pemberian dua obat demam sekaligus maupun secara bergantian.

· Paling akhir, demam yang tidak tinggi tidak perlu diberi obat demam.

Boks-2

Jika Suhu Anak Anda

Anjuran American Academy of Pediatrics

< 38,3 oC

> 38,3 oC, dan merasa tidak nyaman

> 40 oC

Beri minum banyak, tidak perlu obat penurun panas

Beri obat penurun panas, kompres hangat

Beri obat penurun panas, kompres hangat, hubungi dokter

Boks-3

Kapan Harus ke Dokter

American Academy of Pediatrics menyarankan orangtua agar menghubungi dokter:

Jika Usia Anak

Dengan Suhu

< 3 bulan

3 – 6 bulan

> 6 bulan

³ 38 oC

³ 38,3 oC

³ 40 oC

Selain itu, ada beberapa kondisi di mana orangtua perlu berkomunikasi dengan dokter, antara lain bila anak:

· tidak mau minum atau sudah mengalami dehidrasi

· iritabel atau menangis terus-menerus dan tidak bisa ditenangkan

· tidur terus, lemas dan sulit dibangunkan

· mengalami kejang

· kaku kuduk leher

· sesak napas

· gelisah, muntah, diare

· sakit kepala hebat

* Yang ditulis dengan warna biru, bisa dibuang jika jumlah karakternya lebih.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s