Jitu Menghalau Flu

Flu tak pernah pandang bulu. Siapa pun pasti pernah diganggu. Tapi tahukan Anda tip memilih obatnya agar tidak keliru?

Flu disebabkan oleh infeksi virus, dan termasuk jenis penyakit yang self limiting. Artinya, gangguan ini bisa hilang dengan sendirinya, asalkan daya tahan tubuh dalam kondisi normal, dan tidak disertai dengan komplikasi penyakit lainnya. Namun karena gangguan ini cukup menjengkelkan, biasanya kita tidak membiarkannya tanpa minum obat.

Memilih Obat Flu

Yang perlu diingat adalah bahwa semua obat flu bekerja secara simptomatis (hanya menghilangkan gejala), tidak melawan virus penyebabnya. Tugas terakhir ini tetap dilakukan oleh sistem pertahanan tubuh kita sendiri. Fungsi obat hanya membantu supaya selama perang melawan virus itu, kita tidak terganggu sakit kepala, demam, batuk, ataupun pilek.

Obat-obat flu termasuk golongan obat OTC (over the counter, boleh dibeli bebas tanpa resep dokter). Tabel berikut bisa memberi panduan untuk memilih obat yang cocok dengan flu Anda.

Jika tujuan Anda

Pilihlah obat golongan

Contoh Obat

Menghilangkan sakit kepala atau demam

Analgesik-antipetik

Parasetamol, asetosal, atau salisilamid

Menghentikan hidung meler dan bersin-bersin

Antihistamin

CTM, deksklorfeniramin, feniramin, dexbromfeniramin, atau tripolidin

Melegakan saluran napas

Dekongestan

PPA (phenyl propanolamine), pseudoefedrin, etilefedrin, atau fenilefrin

Meredakan batuk tanpa dahak

Antitusif

Dektrometorfan atau noskapin

Mengencerkan dahak

Ekspektoran

Gliseril guajakolat, ambroksol, atau karbosistein

Analgesik-antipiretik

Hampir di setiap obat flu terdapat analgesik-antipiretik (penghilang nyeri dan penurun panas), karena flu biasanya disertai sakit kepala dan demam. Contoh yang paling sering dipakai adalah parasetamol. Jika Anda menemukan kata asetaminofen di bungkus obat, itu adalah nama lainnya, alias sami mawon. Penderita gangguan lever sebaiknya berhati-hati minum parasetamol, karena obat ini dicerna di organ tersebut. Semakin banyak parasetamol masuk ke dalam tubuh, semakin berat beban kerja hati.

Analgesik-antipiretik yang juga sering dipakai di obat flu adalah asetosal. Kadang-kadang asetosal juga ditulis dengan nama lainnya, asam asetil salisilat, atau aspirin. Semua nama itu setali tiga uang. Penderita gangguan mag sebaiknya berhati-hati menggunakan asetosal. Ini karena asetosal bersifat asam, dan bisa meningkatkan keasaman lambung.

Antihistamin

Golongan kedua ini merupakan kelompok CTM (chlor-trimeton) dan kawan-kawan. Di kemasan obat, ia lebih sering tampil bergaya dengan nama panjangnya, klorfeniramin maleat. Ketiganya sama saja.

Histamin sendiri adalah substansi yang diproduksi oleh tubuh sebagai mekanisme alami untuk mempertahankan diri atas adanya “benda asing” alias virus flu. Adanya histamin ini menyebabkan hidung kita berair dan terasa gatal, yang biasanya dikuti oleh bersin-bersin.

Sayangnya, antihistamin ini punya efek samping kantuk. Inilah yang tidak disukai oleh mereka yang aktif karena bisa mengganggu produktifitas. Untuk mengatasi efek samping ini, sebagian produk obat flu diformulasi tanpa antihistamin. Ada juga yang memisah obat flu menjadi dua bagian di dalam satu kemasan. Satu bagian tidak mengandung antihistamin, untuk diminum di siang hari. Bagian yang lain mengandung antihistamin, untuk diminum pada malam hari. Dengan demikian aktivitas di siang hari tidak terganggu akibat rasa kantuk.

Dekongestan

Di antara beberapa nama di atas, PPA merupakan obat yang paling banyak diributkan setelah Dirjen POM (Sekarang Badan POM) menarik obat-obat flu yang mengandung PPA lebih dari 15 mg. Di Amerika Serikat, PPA ini selain dipakai di dalam obat flu, juga digunakan sebagai obat penekan nafsu makan yang dijual bebas.

Dalam dosis tinggi, PPA bisa meningkatkan tekanan darah. Jika digunakan terus-menerus, dapat memicu serangan stroke. Untuk mencegah efek buruk inilah, Dirjen POM membuat kebijakan membatasi PPA di dalam obat flu atau obat batuk, maksimal 15 mg per takaran.

Antitusif & Ekspektoran

Golongan antitusif bekerja dengan menekan refleks batuk di saraf pusat. Sedangkan ekspektoran bekerja dengan cara mengencerkan dahak sehingga lebih mudah dikeluarkan dari saluran napas. Kedua golongan ini telah dibahas pada edisi sebelumnya.

Karena obat-obat di atas tidak melawan virus, maka usaha meningkatkan daya tahan tubuh adalah kata kunci dalam melawan flu. Ini bisa diperoleh dengan cara makan cukup gizi, cukup istirahat, banyak minum air putih, dan jika perlu minum suplemen vitamin. Dan karena penyebab flu adalah virus, maka kebiasaan minum antibiotik ketika flu bukan sesuatu yang rasional. Antibiotik hanya diperlukan jika terjadi infeksi sekunder oleh bakteri. Pemakaian antibiotik yang tidak tepat justru menyebabkan bakteri menjadi kebal.

Pada umumnya kita fanatik pada satu merek obat untuk semua jenis flu. Ini bukanlah kebiasaan yang keliru. Namun akan lebih baik jika memilih obat sesuai dengan gejalanya, bukan obat flu “sapu jagat” yang berisi semua golongan di atas. Semakin banyak obat yang masuk ke dalam tubuh, semakin banyak efek samping yang terjadi. Jika flu tidak disertai dengan batuk, tentu tidak masuk akal kita minum dekstrometorfan atau gliseril guajakolat. Kebiasaan minum o
bat sapu jagat sebaiknya dihindari, terutama untuk anak-anak.

Walhasil, langkah paling jitu sebelum memilih obat flu adalah membaca komposisi yang tertera di kemasannya. Bukankah tingkat kesadaran konsumen ditunjukkan oleh kesediaan untuk membaca label obat? (sol)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s