Menimbang Suplemen, Menambah Vitamin

Dua kali sehari, siap action!

Aku nggak mau capek, dan nggak boleh capek!

Ini biangnya, buat apa beli botolnya!

Anda pasti akrab dengan slogan-slogan iklan di atas. Banyaknya iklan suplemen multivitamin dan mineral di media massa mungkin membuat Anda bingung harus pilih yang mana. Semua bilang bisa menjawab masalah Anda. Padahal tanpa disadari, mungkin saja Anda tidak memerlukannya!

Siapa yang Butuh Suplemen

Suplemen makanan, menurut batasan Badan Pengawas Obat dan Makanan (Badan POM), adalah produk yang mengandung vitamin, mineral, asam amino, bahan herbal atau botanikal, dan atau substansi gizi lainnya, yang dimaksudkan sebagai tambahan terhadap konsumsi normal, untuk memelihara kesehatan.

Menurut dr. Frans D. Suyatna, PhD, SpFK, sebenarnya suplemen tidak diperlukan jika makanan kita mengandung cukup gizi dan kalori, ditunjang olahraga dan istirahat yang cukup, serta pola hidup sehat. Namun ada beberapa keadaan tertentu ketika kita membutuhkannya.

· Wanita hamil, menyusui, atau usia subur. Wanita hamil memerlukan suplemen sebab ada janin dalam kandungannya. “Ia butuh tambahan kalsium untuk pembentukan tulang janin, tambahan zat besi untuk pembentukan sel darah janin, tambahan asam folat, dan lain-lain,” papar dosen Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia Bagian Farmakologi ini. Begitu pula pada saat menstruasi, wanita juga memerlukan suplemen dari luar untuk mengganti sel-sel darahnya yang hilang.

· Olahragawan dan pekerja keras. Meskipun multivitamin dan mineral tidak mengandung kalori, tetapi diperlukan untuk membantu sistem tubuh memproduksi kalori dari makanan.

· Anak dalam masa pertumbuhan. Pada masa ini, suplemen diperlukan untuk pembentukan tulang dan sel-sel tubuhnya.

· Orang kurang gizi, sakit dalam jangka lama, terutama manula, baru sembuh dari sakit, atau mendapat terapi antibiotik jangka panjang. Dalam jangka panjang, terapi antibiotik mempengaruhi flora normal pencernaan dan mengganggu penyerapan vitamin K.

· Suplemen juga diperlukan untuk memelihara imunitas tubuh tetap tinggi, misalnya pada kasus wabah SARS. Karena obat SARS belum ditemukan, maka upaya peningkatan kekebalan tubuh menjadi sangat penting.

Larut Lemak dan Larut Air

Menurut sifat kelarutannya, vitamin dikelompokkan menjadi dua bagian: larut lemak dan larut air. Golongan pertama antara lain vitamin A, D, E, dan K. Jika vitamin-vitamin ini dikonsumsi hingga berlebihan, sisanya akan ditimbun di dalam jaringan-jaringan tubuh. Dalam jumlah yang terlalu besar, timbunan ini malah bisa berbahaya. Frans memberi contoh, kelebihan vitamin A bisa menyebabkan kulit kering, pecah-pecah, dan kondisi lain yang betul-betul berupa penyakit.

Adapun Vitamin E, meskipun juga ditimbun, namun belum ada laporan yang menyatakan bahayanya akibat timbunan di dalam tubuh. “Sepanjang tidak telalu besar, vitamin E masih bisa ditoleransi. Hanya ada penelitian yang menyebutkan bahwa jika diminum hingga 3.000 IU per hari, bisa menyebabkan diare dan meningkatkan kolesterol,” ujar dokter yang meraih doktor di Catholic University of Leuven, Belgia ini.

Golongan larut air antara lain vitamin C, kolin, biotin, dan tujuh vitamin B (tiamin (B-1), riboflavin (B-2), niacin (B-3), asam pantotenat (B-5), piridoksin (B-6), asam folat (B-9), dan kobalamin (B-12)). Karena larut di dalam air, jika dikonsumsi berlebih, tidak akan ditimbun di dalam tubuh, tapi dikeluarkan lewat urin atau feses.

Jangan Sampai Ketergantungan

Sebagaimana makanan, suplemen multivitamin dan mineral sebetulnya tidak menyebabkan ketergantungan. Namun jika seseorang telah terbiasa minum dosis tinggi tiap hari kemudian mendadak dihentikan, tubuhnya akan merasa seperti keadaan kurang gizi. “Ini disebabkan karena tubuhnya telah terbiasa mengeliminasi vitamin dengan cepat, sehingga jika tidak mengonsumsi suplemen, ia akan menderita gejala seperti defisiensi vitamin,” terang Frans.

Konsultasikan ke dokter

Meskipun suplemen bisa dibeli tanpa resep dokter, Food and Drug Administration (FDA) tetap menyarankan konsumen berkonsultasi pada dokter lebih dulu sebelum mengonsumsinya. Ini perlu dilakukan terutama jika sedang hamil, menyusui, menderita penyakit kronis, sepert
i diabetes, hipertensi, atau penyakit jantung lainnya, karena komponen tertentu dari suplemen dapat berinteraksi dengan obat atau kondisi fisik. FDA mencontohkan ginkgo biloba, vitamin E, dan K, bisa berinteraksi dengan aspirin atau Coumadin (obat pengencer darah), dan bisa meningkatkan risiko perdarahan internal.

Selain bisa berinteraksi dengan obat atau kondisi tubuh, jika diminum secara keliru, suplemen juga malah dapat merugikan kesehatan. Sebagai contoh, suplemen yang mengandung campuran ginseng dan kafein bisa menyebabkan hipertensi jika diminum dalam jangka panjang. Padahal sebagian dari kita mungkin tidak bisa memulai aktivitas harian sebelum dipacu oleh kafein dan ginseng. Itulah sebabnya, untuk melindungi konsumen, Badan POM mengharuskan suplemen kategori ini mencantumkan label peringatan di kemasannya.

Perhatikan Angka Kecukupan Gizi

Pada label suplemen, biasanya dicantumkan suatu daftar yang memuat kandungannya, berikut persen Angka Kecukupan Gizi (AKG). AKG menyatakan rata-rata jumlah vitamin atau mineral yang diperlukan tiap hari untuk mencapai kondisi sehat.

Biasanya, AKG disusun berdasarkan kebutuhan orang pada diet 2.000 kalori. Namun ini tidak sama untuk semua orang. Besarnya kebutuhan vitamin dan mineral dipengaruhi oleh usia, jenis kelamin, aktivitas, kondisi fisik, dll. Anda yang sangat aktif, bisa membutuhkan lebih dari 2.000 kalori per hari. Sebagai akibatnya, AKG-nya juga tentu lebih besar daripada mereka yang kurang aktif.

Gizi Makanan Tetap Lebih Baik

Setidak-tidaknya ada dua alasan mengapa mendapatkan zat gizi dari makanan lebih baik daripada lewat suplemen. Yang pertama, makanan mengandung zat gizi yang lebih kompleks. Segelas susu, misalnya, memberi Anda kalsium, vitamin A, B-12, D, fosfor, magnesium, seng, dan masih banyak lagi zat gizi lain dalam komposisi yang seimbang. Komposisi ini tidak mungkin Anda ganti dengan suplemen.

Alasan kedua, di dalam makanan terdapat bahan-bahan fitokimia lain yang berguna dan tidak bisa ditemukan di dalam suplemen. Sebagai contoh, buah-buahan dan sayuran. Selain mengandung serat, vitamin, dan mineral, juga mengandung puluhan bahan fitokimia yang berguna bagi tubuh, semisal flavonoid, alkaloid, minyak atsiri, dll. Meskipun mekanisme kerja bahan-bahan ini belum diketahui sepenuhnya, namun para ilmuwan yakin bahwa mendapatkan zat gizi dari sumber makanan lebih baik daripada dalam bentuk senyawa murni atau ekstrak seperti di dalam suplemen.

Jangan Mudah Percaya Iklan

Menurut Drs. Ruslan Aspan, MM, Apt., Deputi Bidang Pengawasan Obat Tradisional, Kosmetik, dan Produk Komplemen, Badan POM, hingga kini jumlah suplemen yang beredar di Indonesia lebih dari 3.700 produk. Semua berlomba menggaet konsumen dengan iklan-iklan yang menggiurkan. Bahkan ada juga produsen yang mengiklankan produknya dengan cara yang sebetulnya tidak diperkenankan menurut undang-undang Badan POM.

“Testimoni-testimoni di iklan adalah bagian dari strategi pemasaran. Yang patut dipercaya adalah jika suatu produk telah melewati uji klinis dari lembaga yang terpercaya,” terang mantan Kepala Balai POM Pontianak dan Semarang ini. Ruslan juga menambahkan, tidak semua bahan alam pasti aman dikonsumsi jangka lama.

Memang tidak bisa disangkal bahwa komponen suplemen (semisal ekstrak ginkgo biloba, ginseng, ekinase, omega-3, dll) berdasarkan penelitian menunjukkan manfaat bagi kesehatan. Namun, menurut Frans, tidak lantas boleh diklaim punya khasiat seperti obat, misalnya bisa menyembuhkan diabetes, kanker, meningkatkan kemampuan otak, menurunkan kolesterol, dll. Kenyataannya, iklan-iklan seperti ini masih banyak kita jumpai di media massa.

Untuk produk suplemen, klaim yang masih diperkenakan, misalnya: “Dapat menurunkan risiko osteoporosis” (untuk suplemen yang mengandung kalsium), atau “Bagus dikonsumsi penderita hipertensi” (untuk produk rendah natrium).

Pengaruh iklan bisa membuat konsumen berharap terlalu banyak dari suplemen, apalagi jika melihat model iklan yang ditampilkan. “Padahal model iklan itu memang cantik, meskipun tidak minum suplemen,” ujar Frans serius sambil bercanda. (M.Sholekhudin)

Boks

Tip Memilih Suplemen

Jika Anda yakin butuh suplemen, beberapa hal berikut bisa Anda pertimbangkan.

· Hindari suplemen megadosis atau yang komposisinya tidak berimbang, misalnya 500% dari Angka Kecukupan Gizi (AKG) untuk satu jenis vitamin, tetapi hanya 20% AKG untuk vitamin lain.

· Periksa tanggal kedaluwarsanya. Hindari suplemen tanpa tanggal kedaluwarsa.

· Teliti juga kemasannya. Kebanyakan senyawa vitamin mudah terurai, terutama jika disimpan dalam
kondisi panas (misalnya di etalase yang terkena sinar matahari langsung) dan lembap. Kemasan buram, kotor, atau terdapat endapan pada larutannya, menunjukkan isinya sudah mengalami penurunan kadar.

· Pada dasarnya semua suplemen yang terdaftar di Badan POM telah memenuhi kualitas minimal. Meski demikian, kualitas tambahan (misalnya kemudahan diserap tubuh) bisa berbeda meskipun komposisinya sama. Kualitas tambahan ini ditentukan oleh bahan-bahan tambahan dan teknologi formulasi masing-masing produsen. Namun ini pun tidak berarti kualitas suplemen yang mahal pasti lebih baik daripada suplemen murah. Harga sebuah produk dipengaruhi oleh banyak faktor, misalnya kemasan dan biaya iklan. Menurut Ruslan, yang juga mantan Kepala Pusat Pengujian Obat dan Makanan Nasional, ada kalanya produsen memosisikan produknya pada harga premium karena ingin menunjukkan sifat eksklusifnya, padahal mutu produk sebenarnya biasa saja.

· Hindari suplemen yang belum terdaftar di Badan POM, termasuk suplemen impor. Selama ini kita menganggap suplemen impor pasti berkualitas. Namun Anda pasti masih ingat, Mei lalu Badan POM melarang peredaran seratus produk suplemen produk PAN Pharmaceuticals dari Australia. Meskipun produk-produknya sudah terdaftar, namun setelah diteliti ternyata proses produksinya tidak sesuai dengan aturan Good Manufacturing Practices.

· Untuk Anda yang alergi, hindari suplemen yang mengandung komponen alergen. Sebagai contoh, jika Anda alergi terhadap makanan laut, hindari suplemen yang mengandung komponen bahan dari laut.

Jika ingin melayangkan pengaduan terhadap suatu produk suplemen, Anda bisa menyampaikannya ke Unit Layanan Pengaduan Konsumen Badan POM di (021) 426 3333 tiap hari pada jam kerja.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s