Entalpi [igauan]

Kadang misteri datang kepada kita dengan cara yang menakjubkan. Ketidaktahuan kita akan makna yang dikandung, dan segala bentuk yang ada di belakangnya, membuat kita seperti diserang bau harum dari surga.

Kau pasti menganggapku membual jika kuceritakan kepadamu bahwa beberapa hari lalu aku baru saja bertemu Nasruddin di kereta api. Betul-betul Nasruddin yang sering aku lihat dan aku baca di humor-humor sufi. Wajah kartunal, sepatu padang pasir, jenggot pandir, dan lilitan sorban di kepala. Awalnya aku tidak percaya dengan penglihatanku.

“Apakah Engkau memang benar Nasruddin,” tanyaku.
“Ya. Aku memang Nasruddin. Tapi mengapa wajahmu begitu bodoh dan terkejut melihatku?” balasnya.
“Mengapa engkau ada di dalam kereta api ini? Bukankah engkau hanya ada di dalam anekdot-anekdot?” tanyaku lagi.
Mendengar pertanyaanku, ia terperanjat sampai sorban yang melilit kepalanya terjuntai.
“Bukankah memang kita sekarang ada di dalam anekdot?” tukasnya.
Kali ini aku yang terperanjat.
Ia benar. Aku dan dia memang sedang berada di dalam anekdot. Bukan di dalam gerbong kereta api jurusan Surabaya.

Aku merasa bukan tanganku yang menulis ini, tapi tangan pribadi yang lain. Aku dalam keadaan hampir tidak sadar dengan kata-kata yang kutulis.

Aku telah menjadi nabi, Kawan!

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s