Makan Cara Nabi [igauan]

Saya bukan pengamal syariat Islam yang baik. Tapi dengan kesadaran penuh, saya menganggap tak ada ajaran tentang pola makan melebihi ajaran Rasulullah Muhammad SAW: Kami adalah kaum yang tidak makan kecuali lapar. Dan jika makan, tak sampai kenyang.

Dari segi akhlak maupun ilmu kesehatan, ajaran ini luar biasa hebat.
Dari sisi akhlak, ajaran ini melatih kita untuk menahan nafsu. Termasuk menahan diri dari keinginan-keinginan yang halal. (Tapi saya tidak akan membahas masalah ini karena Allah Mahatahu. Para setan pun akan menertawakan saya jika membicarakannya). Saya lebih tertarik untuk membahasanya dari sisi kesehatan.

Mari kita lihat aturan pertama: makan ketika lapar.
Secara biologis, lapar adalah sinyal bahwa tubuh kita membutuhkan asupan nutrisi seketika. Ketika suplai glukosa darah mulai menipis, otak merespons dengan rasa lapar. Dengan ajaran ini, Allah menyuruh kita menambah asupan nutrisi tepat ketika kita membutuhkan.

Apa yang akan terjadi jika kita makan pada saat masih kenyang?
Makan saat masih kenyang sama dengan memaksa enzim-enzim pencernaan untuk bekerja keras di saat mereka sedang beristirahat. Tapi ini belum seberapa. Ada hal yang lebih penting.

Setelah karbohidrat dicerna, gukosa segera masuk ke dalam peredaran darah. Kondisi ini menyebabkan kadar gula darah segera meningkat. Dan ini akan memaksa pankreas untuk memproduksi insulin lebih banyak lagi.

Jika ini menjadi kebiasaan sehari-hari, sel-sel beta pulau langerhans di pankreas akan kehilangan mekanisme kesetimbangan. Dengan kata lain, kita sedang mendaftarkan diri menjadi penderita diabetes.

Makan di saat kenyang berarti kita menimbun zat gizi yang sebetulnya tidak dibutuhkan oleh tubuh. Kalau cuma sedikit karbohidrat, masalahnya tak seberapa. Ia bisa disimpan menjadi glikogen di lever. Jika tubuh memerlukan, glikogen ini bisa dipecah lagi menjadi glukosa, dan dibakar saat kita beraktivitas.

Jika jumlahnya kelewat banyak, karbohidrat ini akan diubah menjadi lemak. Lemak ini selanjutnya akan ditimbun di jaringan di bawah kulit. Timbunan ini akan semakin membengkak jika makanan yang kita santap kaya lemak. Secara estetika, timbunan lemak akan menyebabkan overweight atau bahkan obesitas. Secara medis, obesitas akan meningkatkan risiko berbagai macam penyakit.

Bagaimana dengan aturan kedua: berhenti makan ketika terasa kenyang?
Secara alami, kenyang merupakan indikasi bahwa asupan nutrisi sudah mencukupi untuk kebutuhan seketika. Makan secukupnya akan membuat kita kembali segar setelah loyo. Tapi sebaliknya, makan berlebihan akan membuat kita mengantuk. Sebab, saat kadar glukosa darah naik secara cepat dalam kadar tinggi, pankreas merespons dengan memproduksi insulin dengan cepat pula.

Ini menyebabkan kadar gula darah anjlok dari kadar tinggi menuju kadar rendah. Akibatnya, suplai glukosa ke dalam otak pun menurun. Inilah yang menyebabkan timbulnya rasa kantuk saat kekenyangan. Penjelasan ini pula yang menyebabkan kita selalu sulit menahan kelopak mata saat tarawih di bulan Ramadlan.

Bukan itu saja, semakin banyak makanan yang kita masukkan ke dalam tubuh, semakin besar kemungkinan kita terserang penyakit. Bahwa perut adalah sumber penyakit, bukan cuma mitos tetapi fakta yang sangat masuk akal.

Semakin banyak makan, semakin besar kemungkinan terkena gangguan salah cerna dan infeksi. Semakin banyak makan, berarti semakin banyak lemak dan kolesterol yang masuk ke dalam tubuh. Ini merupakan biang dari hiperkolesterolemia, hipertensi, stroke, dan semua penyakit kardiovaskular lainnya.

Semakin banyak makan, berarti semakin banyak bahan kimia yang masuk ke dalam tubuh. Kita tahu, makanan ala zaman sekarang sangat banyak mengadung bahan tambahan yang kadang tidak aman buat tubuh manusia. Semakin banyak kita menimbun zat kimia asing di dalam tubuh, semakin besar kemungkinan kita terkena efek buruknya.

Tuhan sungguh Maha Penyayang.

Pola makan inilah salah satu rahasia Rasulullah yang nyaris tak pernah sakit selama hidupnya. Makan ala Rasulullah memang punya konsekuensi tersendiri. Mungkin saja kita makan lebih dari tiga kali dalam sehari. Ini memang sulit dipraktikkan, apalagi oleh kita yang makanan pokoknya adalah nasi yang tidak praktis. Berbeda dengan kurma atau roti yang bisa dibawa ke mana saja tanpa banyak menimbulkan masalah.

Meski sulit dipraktikkan, kita bisa mengikuti ajaran ini sedapat mungkin. Paling tidak, kita menghindari pola makan berdasarkan lidah semata, bukan perut. Meskipun makan adalah sesuatu yang halal, Allah menyuruh kita, “Kuluu wasyrabuu walaa tusrifuu.”

Kadang sensor lapar memang rusak dan tidak bisa berfungsi sebagaimana mestinya. Misalnya ketika kita terlalu senang atau terlalu sedih. Jika sensor lapar rusak, tentu saja kita harus makan mengikuti irama sebagaimana saat sensor lapar tak bermasalah.

Di luar urusan kesehatan, pola makan ini juga melatih kita untuk tidak makan berlebihan, sementara di sebelah kita jutaan anak membuncit perutnya karena busung lapar.

Saya yakin, semua agama, tak hanya Islam, mengajarkan pola makan sederhana seperti ini.

Wallahu a’lam bish-shawab.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s