Santri Juga Manusia [hikayat]

[hikayat ini ditulis untuk sebuah proyek yang tidak jelas juntrungnya]

* * *

Saya mulai membuat tulisan ini ketika hati saya sedang diliput rindu. Bukan rindu kepada seseorang, tapi rindu pada masa lalu ketika saya menjadi santri di Pesantren Muhammadiyah, Babat, Lamongan, Jawa Timur. Ini merupakan pengalaman paling mengesankan dalam hidup saya. Juga merupakan tahap hidup yang paling banyak mempengaruhi jalan pikiran saya, hingga sekarang.

Pesantren ini tak begitu dikenal orang. Model pendidikan yang diterapkan pun, menurut saya masih jauh dari ukuran pesantren ideal. Maklum, pesantren ini sebetulnya hanya asrama. Para santri hanya mengaji pada malam hari. Siangnya, mereka masuk sekolah-sekolah “umum” yang bertebaran di Babat.

Saya sendiri waktu itu adalah siswa SMA Negeri Babat. Sebelas tahun lalu. Waktu yang sangat cukup lama. Tapi entahlah, saya tak pernah bisa melupakan pengalaman ini. Guru ngaji saya, Kiai Muchlis Sulaiman sering datang dalam mimpi saya, ketika saya banyak durhaka pada Tuhan. Seolah dia datang mengingatkan agar saya tak menjauh dari Tuhan.

Di pesantren inilah saya melewati masa-masa pembentukan diri paling awal. Saya sangat bersyukur sempat masuk dunia ini. Meski hanya tiga tahun, saya memperoleh sangat banyak sekali pelajaran yang tidak saya dapatkan di tempat lain.

Kiai saya seorang hafidz. Saya tidak memanggilnya Kiai, melainkan Pak Muchlis. Selama setahun, ia pernah membimbing saya menghapalkan Alquran. Waktu itu saya sempat hapal dua juz di bawah bimbingannya. (Saya selalu terharu jika mengingat hal ini).

Di pesantren, saya terbiasa puasa Senin-Kamis. Kadang puasa nabi Dawud. Tiap hari membaca Al-quran. Sholat dluha tak pernah ketinggalan. Sering tahajud, atau paling tidak, sholat witir sebelum tidur. Tapi sekarang: kondisinya berkebalikan seperti langit dan bumi.
Saya sekarang tak pernah puasa sunnah. Sholat sering tidak tepat waktu. Membaca Al-qur’an pun kadang-kadang saja.

Dulu, jika pikiran sedang suntuk, saya mengambil wudlu lalu sholat, berdzikir, dan membaca Alquran. Tapi sekarang, jika pikiran sedang kusut, saya melampiaskannya dengan cara nonton film. (Ya Allah, Engkau Mahatahu isi hatiku)

Di pesantren, saya mendapat pelajaran penting: kesediaan untuk hidup berbagi. Kamar saya hanya seukuran 3 x 3 m. Tapi penghuninya 9 orang. Secara matematis, satu orang mendapat jatah rata-rata 1 m persegi. Karena itu, kamar kami tak cukup menampung semua penghuninya di malam hari. Biasanya, dua orang tidur selonjor di lantai. Satu orang tidur di atas bangku. Satu orang meringkuk di atas lemari. Dan sisanya menjadi ikan pindang di musholla.

Sebagian besar kami hanya berkemul sarung, tanpa tikar. Yang punya tikar hanya beberapa santri yang bapaknya orang berduit. Jumlah semua santri laki-laki sekitar 150-an. Tapi kamar mandinya hanya tiga, WC-nya dua. Satu kamar mandi diperebutkan oleh sekitar 50 orang. Satu WC dipakai oleh sekitar 75 santri. Tapi justru karena fasilitas yang serba terbatas ini, kami terbiasa hidup berbagi dan tidak egois.

Dalam batas tertentu, ini menyebabkan kami seperti masyarakat komunis. Sandalmu juga sandalku. Sabunmu juga sabunku. Odolku juga odolmu.

Dalam beberapa hal, memang komunisme ala pesantren ini menimbulkan masalah. Tapi kami semua menikmatinya dan menganggap kehidupan di pesantren sebagai sebuah rekreasi layaknya berkemah.

Saking seringnya memakai barang secara berjamaah, jika ada satu santri yang kudisan, semua bakal ketularan. Nyaris semua santri pernah kudisan, termasuk saya. Sehingga ada pemeo di antara kami, “Belum dianggap lulus nyantri, jika belum kudisan.”

Di tempat ini, saya juga mendapatkan pelajaran hidup hemat dan menahan diri dari keinginan-keinginan. Orangtua saya sedemikian miskin sehingga tak mampu membiayai pendidikan saya. Tiap bulan, saudara-saudara saya patungan mengumpulkan uang Rp. 30 – 40 ribu untuk biaya hidup dan biaya sekolah. Waktu itu harga sepiring nasi tak lebih dari Rp. 250,-. Saya terbiasa makan cuma dua kali sehari. Kadang hanya sekali. Karena itu, uang jatah saya sering bersisa. Biasanya saya gunakan untuk membeli baju atau sarung.

SPP sebulan di pesantren hanya Rp. 3.500,-. Sementara, saya juga mengajar nahwu-shorof buat adik-adik kelas. Gaji sebulan Rp. 5.000,-. Jadi, tiap bulan saya masih bisa mengantungi sisa Rp. 1.500,-. Ini merupakan jumlah yang sangat besar waktu itu, karena bisa untuk makan tiga hari.

Kadang-kadang jika ingin lebih berhemat, kami membawa beras dari rumah. Sebagai lauknya, kami membawa sambel goreng atau srundeng yang bisa tahan sampai beberapa minggu. Jika habis, kami menggoreng ikan asin yang kami beli di pasar bersama teman-teman sealiran.
Di pesantren, saya terbiasa menahan diri dari keinginan-keinginan. Bahkan sekadar untuk membeli bakso pun, saya harus menabung dan menunggu sisa jatah bulanan.

Ini merupakan pengalaman hidup yang buat saya, luar biasa. Sampai sekarang pun, saya masih sering merindukan pengalaman hidup semacam ini. Ada kenikmatan spiritual tersendiri ketika menahan diri dari sesuatu, meskipun itu keinginan yang halal.

Sekarang saya bekerja dengan gaji jauh di atas kebutuhan primer hidup saya. Akibatnya, saya kini hampir tidak pernah menahan diri jika ingin membeli sesuatu. Sebagai manusia, tentu saja saya senang Tuhan memberi rezeki yang cukup. Tapi hati nurani saya mengakui, rezeki yang banyak ini kadang malah menjadikan saya jauh dari Tuhan.

Satu hal yang tak bisa saya lupakan, di tempat ini pula saya masuk akil baligh. Sebagaimana anak puber lainnya, sejak itu otak saya selalu terganggu oleh pikiran-pikiran tak baik. Saya selalu melawannya, tapi tak pernah menang. (Dan saya yakin, apa yang saya alami ini juga terjadi pada santri lainnya.)

Saya menganggap ini merupakan musuh paling berat yang sampai sekarang pun belum berhasil saya kalahkan. Di pesantren, kami dididik untuk menundukkan pandangan mata jika melihat wanita. Tapi begitu lulus, kami harus menghadapi kehidupan nyata yang jauh berbeda dengan dunia pesantren yang serba diatur. Jelas, ajaran untuk menundukkan mata bukan urusan gampang. Apalagi di zaman sekarang, ketika seorang lelaki bisa berganti tidur dengan tujuh puluh wanita dalam semalam.

Di pesantren, kami tak boleh membawa radio, dilarang menonton televisi, apalagi pergi ke bisokop. Karena itu kami nyaris terputus dari dunia luar. Belakangan, saya menganggap cara semacam itu tidak efektif mendidik santri. Kalau televisi dan bioskop, mungkin masih bisa dipahami karena menyebarkan syahwat yang sulit dibendung. Tapi melarang santri mendengarkan radio, saya anggap berlebihan. Bagaimanapun, santri juga manusia yang butuh hiburan.

Seorang teman saya secara sembunyi-sembunyi membawa radio. Saya sering ikut mendengarkan. Tentu saja dengan sembunyi-sembunyi pula. Di sinilah saya pertama kali mendengarkan Scorpions berdendang Wind of Change. Enak sekali, waktu itu.
Saya bukan seorang pemberani dan suka berkelahi. Tapi anehnya, di pesantren inilah saya punya pengalaman berkelahi, dan kalah! (ini merupakan satu-satunya pengalaman berkelahi sepanjang hidup saya).

Di pesantren, nyaris setiap saat kami selalu bercanda. Humor adalah bagian tak terpisahkan dari kehidupan. Bahkan redaksi Alquran, hadits, dan kaidah-kaidah ushul fiqih pun kadang diplesetkan.

Kami punya seorang kawan berambut amat keriting. Kepadanya kami suka berseloroh, “Jangan mensyukuri rambut keriting. Kalau kamu bersyukur, maka rambutmu akan tambah keriting. Sebab Allah berfirman, ‘Jika kamu bersyukur, niscaya akan Aku tambah.”. Tentu saja kami tidak bermaksud melecehkan QS Ibrahim ayat 7. Kami hanya bergurau.

Lelucon pesantren bukan melulu sesuatu yang menerbitkan tawa. Banyak yang justru membuat saya merenung. Saat menjadi imam sholat, Pak Muchlis sering sesenggukan ketika membaca ayat suci Alquran. Lucunya, meskipun tak begitu memahami tafsir ayat itu, saya pun ikut terharu. Bukan karena mer
enungkan keagungan ayat Tuhan, tapi terharu dengan pengorbanan orangtua dan saudara-saudara saya untuk menyekolahkan saya.

Kali lain, Pak Muchlis membaca ayat sajdah dalam salah satu rakaatnya. Ketika sampai di ayat itu, ia langsung sujud. Beberapa santri senior, termasuk saya (:p), sudah paham dengan ini. Kami pun langsung ikut sujud.

Tapi banyak di antara santri, terutama santri baru, belum mengerti ayat sajdah. Mereka kaget melihat kami langsung sujud, padahal belum ruku’. Selama beberapa detik, mereka tetap berdiri ragu-ragu, sambil saling melirik kiri kanan. Akhirnya, mereka mengikuti kami satu demi satu, tak serentak. Begitu salam, mereka saling tengok kiri kanan, tertawa, dan saling tunjuk hidung.

Saat lulus SMA, saya harus meninggalkan pesantren. Ini merupakan salah satu masa berat dalam hidup saya karena saya telanjur cinta dengan dunia ini. Orangtua saya ingin saya kuliah di perguruan tinggi negeri. Mereka ingin saya kelak menjadi pegawai negeri. Maklum, di desa tak ada status yang lebih terhormat dari pegawai negeri. Saya ikut UMPTN, dan diterima.

Pak Muchlis sebetulnya mengharapkan saya menjadi muballigh. Dia berharap suatu saat saya berkhutbah Jum’ah seperti dia. Saya selalu terharu dengan wasiat ini. (Ya Allah, Engkau Mahatahu isi hatiku). Seandainya ia tahu apa yang terjadi pada saya hari ini, mungkin ia akan masygul. Jangankan berkhutbah, bahkan menasihati diri sendiri pun saya tak mampu.

Sejak lulus pesantren, beberapa kali saya mengunjunginya. Tapi, setiap kali berkunjung, ia selalu bertanya kepada saya, “Sekarang kamu mengajar di mana?” Maksudnya jelas. Ia tidak bertanya tentang mengajar kimia atau matematika. Ia bertanya, apakah saya telah menularkan ilmu pesantren kepada orang lain. (Sebetulnya saya ingin membagi ilmu pesantren yang saya miliki, tapi saya selalu dihantui oleh rasa malu yang sangat kepada diri saya sendiri).

Setiap Pak Muchlis bertanya, saya selalu menjawabnya dengan tersenyum. Karena setiap berkunjung, saya selalu mendapat pertanyaan ini (dan tidak pernah punya jawaban), belakangan saya menjadi sungkan dan jarang berkunjung.

Meski demikian, di lubuk hati yang paling dalam, saya masih menyimpan kerinduan seorang santri. Hanya saya dan Tuhan yang tahu.

Dan kini, jika sedang ditikam rindu, saya memutar senandung Cinta Rasul. Terima kasih, Mas Haddad! Terima kasih, Sulis! Andai saja saya masih kanak-kanak, saya ingin mendaftar untuk menjadi ashabul koorin!

(Jakarta, 22 Mei 2005)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s