Wanita-wanita Penghuni Surga [cerpen]

Pagi itu burung gagak terbang rendah. Di atas atap rumah-rumah kumuh di langit Kenjeran. Suara koak-koaknya terasa persis di belakang pundak. Akan ada berita kematian hari ini.

Sebetulnya aku tidak begitu percaya dengan petanda-petanda semacam itu. Sebab jika gagak membawa berita kematian, maka semua orang Kenjeran yang mendengarkan koak-koaknya akan mendapat kabar duka. Itu sulit diterima akal sehat. Tapi entahlah, pagi itu aku sangat yakin, akan ada berita kematian hari ini.

Seketika aku teringat pada Emak yang telah lebih dari lima tahun meringkuk di atas tempat tidur, bergulat melawan kanker rahim. Seketika aku teringat ucapan Dokter Teguh seminggu lalu. “Kami hanya bisa berusaha. Tuhan Maha Kuasa. Tapi jujur saja, kami tidak pernah dibimbing untuk menyembuhkan kanker stadium akhir.”

Seketika aku teringat peristiwa seminggu lalu. Ketika Emak mengumpulkan kami berlima. Katanya, dia mendapat firasat. Mungkin umurnya tidak akan lama lagi, tinggal sepenggal waktu sebelum Tuhan membangunkan matahari. Dan karenanya, dia harus memberikan wasiat.

Tak ada barang berharga yang bisa diwariskan kecuali sebidang sawah di ujung desa. Itu pun bukan untuk dibagi-bagi, melainkan untuk dijual kepada Wak Sudiro untuk melunasi utang Emak selama ia sakit. Supaya arwahnya tidak tergantung di bawah sayap-sayap burung dali, di antara langit dan bumi.

Dengan sisa-sisa air mata yang telah lima tahun terkuras, Emak meminta maaf tidak bisa membayar utang-utang kami selama merawatnya. Kami pun membalasnya dengan linangan air mata, dan meminta maaf tidak bisa membalas air susunya dengan budi yang sepadan. Kami semua mencium tangannya sambil mencucurkan air mata. Satu demi satu. Hening dan penuh sungkawa, sambil kami dengarkan suara Emak menghela napasnya pelan-pelan.

Ia berpesan agar kami, anak-anak kandungnya, memandikan, mengafani dan menandunya sampai di persemayaman terakhir, di sebelah batu nisan yang bertuliskan nama Bapak. Emak berbicara kepada kami dengan sesekali menggigil seolah-olah malaikat maut telah berada di sisinya, menunggu ia menyelesaikan kalimatnya.

Emak meminta kami agar tidak pergi dari sisinya. Ia ingin menjemput ajal sambil menggenggam tangan anak-anak yang lahir dari rahimnya. Rahim yang kini mengandung anak terakhir, sel-sel kanker.

Ia yakin betul telah mencium aroma Izrail menyelusup ke dalam rumah lewat celah-celah dinding bambu dan genting tembikar yang tidak rapat.

Sambil berharap malaikat maut segera menyelesaikan tugasnya, Emak bercerita tentang masa kecil kami. Tentang kelahiran Cak Miftah ketika Bapak sedang merantau ke Bogor, berjualan tikar pandan. Tentang jatuhnya Cak Rozak waktu kecil dari tebing Bengawan Solo ketika diseruduk sapi milik Mbah Marzuki. Tentang Yuk Mar’atun yang ketika masih perawan membuat Emak bingung karena diminati banyak jejaka. Tentang Cak Irfan yang waktu kecilnya selalu sakit-sakitan, sampai diganti namanya. Tentang aku yang ketika masih di madrasah sering menjuarai lomba cerdas cermat.

Emak tersenyum. Katanya, ia bahagia bisa menyaksikan aku tumbuh sampai menjadi lelaki dewasa meski ia tak sempat menimang cucu dariku. “Mudah-mudahan di akhirat nanti,” ujarnya. Lalu, ia menanyakan kabar Surayya. Dan seperti biasa, ia lalu memintaku untuk segera menikah. “Tak perlu merisaukan Emak,” pintanya.

Sekali lagi aku menitikkan air mata.

Semalaman penuh kami berkomat-kamit melafalkan doa-doa sambil mengusap pelupuk mata yang tak sempat kering. Namun firasat Emak ternyata keliru. Kondisinya malah membaik. Paginya ia bahkan sanggup bangun dari tempat tidur dan berjalan sampai di ruang tamu, menghampiri serta mencium pipi cucu-cucunya.

Malaikat maut ternyata berada di tempat lain.

*****
Namun pagi itu tidak seperti biasanya. Burung gagak terbang rendah di atas atap rumah-rumah kumuh di langit Kenjeran. Bentangan sayapnya yang hitam pekat memenuhi seluruh angkasa dan menahan cahaya matahari jatuh ke bumi. Suara koak-koaknya terasa persis di belakang daun telinga. Akan ada berita kematian hari ini.

Memang aku tidak pernah berharap apalagi berdoa, tapi sejujurnya kadang aku berkhayal Emak meninggal dunia. Sering kali bayangan tentang kematian itu terasa lebih indah daripada menjadi miskin dan menumpuk utang setiap bangun pagi. Ini adalah khayalan paling jahat yang pernah mampir di pikiran seorang anak.

Maafkan aku, Emak! Maafkan anakmu ini yang tega membunuh Emak meski hanya dalam sebuah khayalan. Mungkin aku memang anak terkutuk yang lebih durhaka daripada Malin Kundang. Yang tak lagi ingat bagaimana aku menumpahkan air kencing dan kotoran di lipatan kain gendong Emak.

Tuhan! Mengapa jiwaku begitu lemah menghadapi cobaan-Mu. Mengapa Engkau hanya memberi cobaan, tanpa membekaliku dengan ketabahan seperti yang Engkau berikan kepada Ayyub, kekasih-Mu.

Meskipun semua dokter telah angkat tangan, aku yakin Emak tetap bisa sembuh, sebab Tuhan Maha Kuasa. SebabTuhan Maha Kuasa! Sebab Tuhan Maha Kuasa! Itulah yang diajarkan Emak sejak aku belum bisa memakai celana sendiri. Dan hanya itulah satu-satunya hiburanku setiap kali membuat utang-utang baru. Tapi, kadang-kadang rasa putus asa menjalar di pikiran kami seperti sel kanker. Tidak hanya menyerang Emak, tapi juga kami sekeluarga.

Bahkan Emak sering bilang kepada kami agar tidak perlu membawanya ke rumah sakit supaya tidak perlu menyita semua uang yang kami punya. Agar tidak perlu berutang sana-sini untuk kemoterapi, radiasi, operasi, dan sekian banyak jenis terapi, tapi toh akhirnya tetap mati. Bahkan secara lugu Emak meminta kami untuk turut mendoakannya, “Jika kematian lebih baik bagi Emak, maka percepatlah waktunya tiba, Ya Allah.”

Kata Emak, biarlah kenker itu semakin ganas. Dan biarlah setiap huruf dalam doa itu akan menyebarkan tunas kanker baru dan membuatnya semakin ganas, menggerogoti seluruh tubuhnya sampai tak ada lagi urat nadi tempat nyawa bersembunyi.

Sungguh kami tidak sampai hati berdoa seperti itu. Bagiku, itu doa yang separuh sempurna! Mengapa kami hanya berdoa ketika Emak sedang sakit keras. Mengapa tidak sejak dulu, ketika Emak masih sehat. Ketika kami masih menikmati hari-hari bahagia.

Apakah kami harus bersuka cita atas kematian wanita yang telah melahirkan kami. Yang dari rahimnya, kami mengisap saripati makanan ketika mulut kami belum bisa menyadap air susunya.

Tidak, Emak!

Kami akan terus membawa Emak ke rumah sakit, meski kami tahu dokter merasa enggan melihat wajah kami. Sebab yang kami tahu hanya bahwa Tuhan menyuruh untuk berusaha. Perkara hidup atau mati itu bukan urusan kami.

Sungguh kami amat bersalah jika harus mengucapkan doa itu. Lagi pula, bukankah Tuhan sendiri berkata bahwa tidak seorang pun yang dibiarkan mengaku beriman, kecuali Dia akan mengujinya dengan kemiskinan, ketakutan, kelaparan, dan kematian.

Aku yakin masih banyak orang lain yang mendapat cobaan lebih berat daripada kami. Kami sadar, kami adalah manusia-manusia manja yang selalu merengek setiap kali mendapat musibah. Seolah-olah Emak telah menderita kanker selama lima ratus tahun, padahal baru lima kali musim banjir kami merawatnya.

Dan bentangan pekat sayap burung gagak di langit Kenjeran pagi itu mengingatkanku pada hari paling pekat dalam hidup Emak ketika ketika dokter memvonis ia menderita kanker rahim. Dan, katanya, kami terlambat membawanya ke rumah sakit.

Sejak itu kami sekeluarga, yang mulanya miskin, menjadi sangat miskin. Nyaris semua penghasilan kami habis untuk biaya pengobatan Emak di Rumah Sakit Karang Menjangan. Aku hanya mengambil sedikit dari gajiku untuk biaya hidup di Surabaya. Bukan itu saja, hampir setiap bulan aku juga berutang kiri kanan, pada kerabat, tetangga
, teman, hingga pada orang-orang yang kujumpai di dalam mimpi.

Begitu banyak utangku, hingga aku berubah menjadi seorang pemimpi yang tiap hari mengigau Tuhan menurunkan segepok uang di kamar kosku. Aku juga menjadi rajin mengikuti undian-undian berhadiah. Saking gilanya, aku bahkan pernah membuat testimoni palsu untuk sabun cuci Daia dan Rinso Antinoda, sambil terus berharap menjadi pemenangnya.

Sejak Emak sakit, aku juga menunda rencana berkeluarga, meski sebetulnya keinginan itu sudah memasuki stadium empat. Tapi karena kondisi Emak yang semakin parah dan membutuhkan segenap perhatian, aku menundanya. Sampai kapan, hanya Tuhan yang tahu. Mungkin beberapa bulan atau tahun lagi, sambil menunggu kondisi Emak membaik atau, paling tidak, stabil. Mungkin juga batal.

Sungguh aku tidak tega mengajak Surayya menikah dalam kondisi seperti ini. Menjadi istriku adalah malapetaka terbesar yang mungkin tidak pernah ia bayangkan. Dengan penuh rasa cinta, aku secara ikhlas dan sadar menyarankannya untuk menikah dengan pria lain saja. Aku tahu banyak teman pria yang menyukainya.

Tapi dia menolak saranku. Katanya, ia tidak menemukan hubungan antara sakitnya Emak dengan rencana menikah. Masalah nafkah, setiap orang punya bagian dari Tuhan. Justru, pernikahan adalah kunci dari pintu-pintu rezeki yang selama ini tertutup, katanya.

Aku setuju dan tak bisa berkata apa-apa, kecuali bilang padanya bahwa utangku saat ini baru akan lunas dicicil selama lima tahun. Bahwa aku lebih suka menikah tanpa pesta, sekecil dan sesederhana apa pun. Bahwa setelah berkeluarga, aku hanya bisa mengajaknya berteduh di sebuah rumah kontrakan sempit yang jika salah seorang sedang tidur, maka yang lain tidak bisa sembahyang.

Bahwa kalaupun berkeluarga, aku tak bisa menghidupinya secara berkecukupan. Bahwa aku hanya bisa memberi nafkah yang sekadar cukup untuk makan dua kali sehari dengan sambal atau ikan teri. Bahwa aku tak bisa membelikannya baju baru yang bisa membuatnya tampak hidup wajar-wajar saja.

Dan, demi Tuhan yang jiwaku ada di dalam genggaman-Nya, sungguh Surayya membuatku takjub. Dia bersedia menerima semua syarat yang kuajukan, tanpa syarat. Bahkan katanya, ia akan turut membantu merawat Emak.

Beruntunglah Emak yang akan mendapat menantu titisan manik-manik surga. Beruntunglah saudara-saudaraku yang akan memperoleh ipar malaikat berujud wanita. Beruntunglah aku yang akan menjadi suami dari bidadari langit.

Betapa Tuhan menyayangiku. Juga menyayangi Emak.

*****
Namun pagi itu tidak seperti biasanya. Burung gagak terbang rendah di atas atap rumah-rumah kumuh di langit Kenjeran. Sayapnya mengepak pelan-pelan, mengikuti irama nyanyian duka dari pesan yang ia bawa. Suara koak-koaknya terasa persis di belakang pundak. Akan ada berita kematian hari ini.

Dan kali ini firasatku ternyata benar. Ketika sampai di rumah kos, Heri bilang, dua jam lalu aku mendapat telepon. Sebuah berita duka, seperti yang sudah aku sangka.
Siang itu, matahari tepat berada di atas kepala, menjadi saksi dari akhir sebuah balada. Ataukah justru ini baru sebuah mula? Mungkin saja.

Siang itu Tuhan menasehatiku bahwa Dia Maha Kuasa atas apa yang Dia kehendaki. Dan Dia akan melakukan apa pun kehendak-Nya, meskipun berkebalikan dengan yang aku harapkan.
Siang itu ada berita duka untukku. Wanita yang sangat aku cintai baru saja meninggal dunia.

Entah berapa lama waktu yang akan kubutuhkan untuk menghapus duka ini. Mungkin lima ratus tahun, seperti lamanya waktu yang kami lewatkan untuk merawat Emak. Mungkin seribu tahun. Mungkin lebih dari itu. Hanya Tuhan yang tahu.

Yang kutahu hanya bahwa Tuhan pasti telah menyiapkan sebuah istana baginya di atas pelangi seperti istana yang telah ia janjikan buat wanita-wanita penghulu surga, di sebuah taman yang di bawahnya mengalir sungai-sungai. Yang para penghuninya tiada henti bertakbir dan memuji nama-Nya, sambil bertawaf mengitari kaki ‘arsy.

Seperti sebuah nyanyian rindu yang muram sempurna, berita kematian itu membuat aku tak merasa memiliki apa-apa dan siapa-siapa. Karena sayap-sayap malaikat maut telah mendekap Surayya dalam sebuah gempa 5,9 skala Richter. Sebuah kematian yang penuh mengapa: mengapa Surayya dan bukannya Emak yang meninggal dunia.

Seolah-olah Tuhan baru saja menegur egoku, “Telah Aku wasiatkan padamu, wanita yang mengandungmu dengan penuh kesusahan dan menyusuimu tanpa mengharap imbalan.”

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s