Journal of Death and Life [gedabrusan]

Di kongres APASL, saya mengikuti ceramah orang-orang pintar dari seluruh penjuru dunia. Mereka adalah dokter-dokter ahli hepatologi kelas wahid yang melakukan berbagai penelitian mutakhir di bidang ilmu penyakit hati. Tujuannya satu: membuat harapan hidup manusia lebih panjang dengan kualitas hidup yang lebih baik. Dengan mengutip berbagai jurnal ilmiah, mereka bicara tentang hepatitis, karsinoma, transplantasi lever. Sembari telinga saya mendengarkan ceramah mereka, otak saya berpikir tentang kehidupan dan kematian. (Saya selalu berpikir tentang dua hal ini. Mungkin karena itulah, wajah saya selalu tampak kusut masai).


Apalah arti umur panjang? Kualitas hidup yang lebih baik?
Apalah beda mati hari ini dengan lima tahun lagi? Saya selalu bimbang dengan makna hidup. Hingga sekarang! Akhirnya, yang bisa saya lakukan hanya menerima diri saya sebagai bagian dari sebuah teka-teki. Teka-teki alam raya. Teka-teki penciptaan. Teka-teki kehidupan dan kematian.

Dan, sambil memainkan teka-teki itu, saya meyakini satu tujuan hidup: peningkatan entalpi. Bahwa setiap manusia mengemban tugas untuk menjadi–dalam istilah agama yang saya anut–rahmat bagi semesta. Sekecil apa pun.


Hampir tiap bulan saya menulis artikel tentang kesehatan. Saking seringnya membicarakan ilmu kesehatan, saya hampir lupa bahwa sakit adalah sebuah nikmat. Bagi sebagian orang, termasuk saya, sakit adalah pengingat yang baik kepada Tuhan.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s