Lakum diinukum wa liya diin [grundelan]

Di sebuah negeri, murid-murid berjilbab diusir dari sekolah mereka (Republika)

Di negeri yang lain, orang-orang kristen dipersulit mendirikan gereja (Kompas)

* * *

Tuhan mungkin saja tidak ada, sebagaimana Dia mungkin saja memang ada. Bisa jadi Tuhan hanya khayalan para nabi. Tetapi, saya memilih untuk percaya bahwa Tuhan memang sungguh-sungguh ada.

Bahkan, andai kata Tuhan tidak ada sekalipun, saya tetap menganggap bahwa manusia tetap memerlukan agama. Dalam pandangan saya, agama adalah konsep paling hebat sepanjang sejarah peradaban manusia. Dan, Tuhan adalah gagasan paling agung yang pernah ada sepanjang masa. Tuhan adalah penemuan paling dahsyat. Agama, bagi saya, adalah hasil olah pikir yang jauh lebih hebat daripada filsafat. Saya tetap meyakini ini meskipun Tuhan sungguh-sungguh hanya ilusi para nabi.

Karenanya, saya memilih untuk beragama. Satu agama.

Tidak dapat saya ingkari bahwa saya menjadi orang Islam karena orangtua saya Islam, lingkungan saya Islam, dan saya dididik secara Islam. Seandainya orangtua saya kristen, lingkungan saya kristen, dan saya dididik secara kristen, mungkin saja saat ini saya kristen.

Memilih salah satu agama dari sekian banyak agama jelas tak semudah memilih sayur lodeh atau rawon. Semua agama mengaku paling benar. Saya tak mungkin mempelajarinya secara mendalam satu demi satu, menguji kebenarannya satu demi satu, dan kemudian memilih yang paling benar. Atau, kalaupun bukan yang paling benar, setidaknya yang paling unggul. Saya yakin, ini tugas musykil buat kebanyakan otak manusia, termasuk saya. Hidup terlalu singkat untuk melakukan tugas berat ini.

Jika saya belajar kristen dari kristolog Islam, jelas ini bukan cara yang sepenuhnya layak dipercaya. Para kristolog mempelajarai kristen dengan presumsi bahwa kristen keliru. Akibatnya, ayat-ayat injil akan tampak baginya sebagai pembenar nubuat Muhammad.

Ini sama persis dengan mempelajari Islam dari para islamolog kristen. Bagi mereka, ayat-ayat Al-quran tampak saling bertentangan satu sama lain kecuali ayat-ayat yang bisa ditafsirkan sebagai pembenar ketuhanan Yesus. Dalam pengamatan saya, para agamolog itu melihat agama lain dengan dasar kebencian. Padahal, di mana pun kebencian tidak pernah bisa berdampingan dengan objektivitas.

Jika tak mau kehilangan objektivitas, saya harus menempatkan diri sebagai seorang manusia yang tiba-tiba jatuh dari langit, atau lahir dari batu. Tak punya latar belakang keluarga, lingkungan, dan pendidikan. Tapi ini mustahil.

Karena keterbatasan ini, saya berpikir pragmatis saja. Dengan segala keterbatasan ilmu, saya memilih untuk percaya bahwa tidak ada Tuhan selain Allah, dan bahwa Muhammad adalah rasul-Nya. Kalaupun ternyata pilihan saya keliru, saya yakin Tuhan tidak kekanak-kanakan.

Percaya pada kerasulan Muhammad berarti percaya bahwa Isa adalah rasul seperti Muhammad; bahwa dia bukan salah satu unsur Tuhan; bahwa yang disalib di Golgota bukan dia.

Secara rasional, jelas ini merupakan kepercayaan yang pelik dan genting. Tetapi saya memilih untuk mempercayainya daripada percaya bahwa Isa adalah salah satu unsur Tuhan.
Hidup adalah pilihan.
Dan, setiap pilihan kepercayaan punya konsekuensi yang sulit diterima akal. Iman, bagi saya, adalah urusan akal yang tidak sepenuhnya rasional.
Karena dasar keagamaan inilah saya menganggap pilihan beragama adalah hak manusia yang paling dasar. Laa ikraaha fid diin. Maka sungguh tidak masuk akal jika kita menyimpan rasa benci (sekecil apa pun) kepada orang lain yang berbeda agama, apalagi sampai menghalangi mereka beribadah. Melarang pemakaian jilbab dan menutup paksa gereja, bukan hanya tak masuk akal, tapi juga menggelikan.

Tapi di negeri saya, saya banyak sekali menjumpai kegelian-kegelian itu. Di perusahaan-perusahaan swasta tertentu, saya melihat kecenderungan pelamar berjilbab brukut sulit diterima meskipun sebetulnya mereka memenuhi standar mutu. Sedangkan di institusi-institusi negeri yang didominiasi orang Islam, saya melihat kecenderungan sebalikny
a.

Mungkin saya salah, tapi menurut saya, sangat berlebihan jika kita menganggap agama adalah rahmat bagi alam semesta jika agama terus-menerus diwariskan dari generasi ke generasi dengan penuh prasangka seperti yang lazim terjadi saat ini.


Advertisements

One thought on “Lakum diinukum wa liya diin [grundelan]

  1. hem hem…kamu benar, kamu membawa pilihanmu kepada kekekalan.. dimana gak ada jalur untuk kembali…jadi pilihlah pilihanmu dengan bijaksana…termasuk soal agama…ada koreksi, salah kalau kamu bilang al quran tidak menulis bahwa isalah yang tersalib…mau bukti…carilah..kamu pasti mendapati.itu pilihanmu..termasuk kalo kamu memilih untuk tidak memilih..sesungguhnya kamu telah membuat pilihangak ada jalan tengah soal keimanan…carilah kebenaran..ini bukan soal kelahiran…gak peduli kamu lahir di keluarga islam, kristen, hindu, budha…kamu tetap punya pilihan untuk mencari Tuhan…saya adalah contoh seseorang yang mengambil resiko memilih kepercayaan yang berbeda dengan keluarga saya dan apa yang sudah diajarkan kepada saya.dan itu bisa saya pertanggungjawabkan secara pribadi kepada Tuhan yang begitu mengasihi saya sehingga menganugrahkan kebenaran itu untuk saya,kebenaran bukan tergantung apa kata orang, apa yang kau pikir atau kau rasa..tapi kamu harus berjumpa dan mengalaminya… kuncinya..carilah

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s