Cita Rasa Belanda di Kota Malang [menusehat]

Ingredients:
Kota ini tak begitu kaya makanan khas. Tapi di sini Anda bisa mencicipi masakan yang tak bisa Anda dapatkan di kota-kota lain. Sebut saja, masakan ala zaman Belanda di Toko Oen dan rawon tutup dengkul di Rumah Makan Rawon Nguling.

Tak berlebihan jika Toko Oen masuk dalam daftar wajib-kunjung jika Anda pergi ke Malang. Di Indonesia hanya ada dua Oen, di Malang dan Semarang. Di restoran yang terletak di Jl. Jend. Basuki Rachmat ini Anda bisa mencoba masakan Eropa, Jawa, dan Cina. Yang unik, semua resepnya masih tetap seperti saat restoran ini buka tahun 1930.

Selain bisa mendapatkan rawon dan sop buntut, di sini Anda juga bisa mencoba salah satu menu andalan Toko Oen, biefstuk van de haas (bistik daging lulur dalam). Lulur adalah daging bagian leher sampai tulang belakang sapi.

Salah satu ciri khas bistik di sini, selain dagingnya empuk, bumbunya disertai dengan sayur lengkap. Klop dengan aturan gizi seimbang. Ukuran porsinya terhitung gede. Sekadar perbandingan, sepuluh tusuk sate di kebanyakan restoran setara dengan tujuh tusuk sate di sini.

Kekhasan lainnya, yang dipakai untuk steak hanya bagian daging. Steak ayam misalnya, dijamin bebas dari bagian kulit, otot, apalagi tulang. Tentang rasa masakan ala meneer ini, Anda tak perlu bertanya. Kalau tak percaya, buktikan sendiri.

Bukan hanya resepnya yang masih ala VOC, semua unsur lain juga dipertahankan tetap seperti aslinya. Meja bulat, kursi rotan berkaki pendek, bangunan kuno, dan suasana era kolonial masih sangat terasa di sini. Maklum, selain sebagai restoran, Toko Oen telah menjadi cagar budaya Malang.

Ketenarannya tak cuma di kalangan wisatawan domestik tapi juga di kalangan wisatawan mancanegara. Nyaris semua panduan wisata ke Indonesia, mencantumkan toko ini dalam daftar objek yang perlu dikunjungi.

Setelah menyantap bistik ala VOC, Anda bisa mencoba es krim Oen. Salah satu favoritnya, es krim jagung. Lagi-lagi, dalam urusan es krim pun, Toko Oen punya kekhasan. “Kami tidak memakai bahan pengawet maupun perekat. Semuanya alami, dikerjakan dengan cara manual, tidak pakai mesin,” jamin Peter Siswono, manajer Toko Oen.

Tak mengherankan, hanya dalam tempo dua menit sejak dihidangkan di meja, es krim langsung meleleh. Jika ingin menikmati dalam bentuk aslinya, Anda harus menikmatinya segera setelah diletakkan di meja. Aturan nonpengawet ini juga berlaku untuk semua jenis makanan lain, termasuk roti. “Risikonya, roti kami hanya bisa tahan sehari,” kata Siswono.

Untuk menjaga cita rasa zaman dulu, semua resep di sini dibuat prosedur tetapnya. Ilmu resepnya pun diwariskan secara turun-temurun. Ahli raciknya hanya diganti setelah usia pensiun, dan setelah mewariskan ilmunya.

Rawon tutup dengkul
Selain masakan era kolonial, Anda juga bisa mendapatkan rawon tutup dengkul di Rumah Makan Rawon Nguling yang terletak di Jl. KH Zainul Arifin, dekat Plasa Malang. Dalam soal bumbu, rawon ini tak beda jauh dengan rawon-rawon lain. Bedanya, daging yang dipakai bukan daging merah tapi tutup dengkul sapi. (Dengkul, bahasa Jawa, artinya lutut.)

Tutup dengkul sapi adalah bagian tulang rawan yang membungkus lutut sapi. Asal tahu saja, menurut Ny. Nursiati Madjid, pemilik rumah makan, seekor sapi hanya punya dua dengkul (kaki belakang saja).

Sebagaimana tulang rawan, komposisi utama tutup dengkul adalah jaringan ikat, mirip kikil (kaki) sapi. Satu tutup dengkul dipakai untuk satu porsi. Karenanya, satu mangkuk rawon tutup dengkul tampak “kurang manusiawi” jika hanya disantap oleh satu orang. Saking banyaknya!

Jika Anda penggemar rujak, Anda bisa mencoba rujak buah Semeru di Jl. Semeru, di depan Stadion Gajayana. Porsinya lumayan banyak, sehingga tak cocok dinikmati saat perut masih cukup kenyang. Bumbu utamanya kombinasi antara kacang tanah dan kecap, dijamin membangkitkan air liur saat dihidangkan.

Selain itu, Malang juga terkenal dalam soal bakso dan cwi mie. Untuk dua jenis makanan ini anda bisa menjajal Bakso Kota dan Hot Cwi Mie.

Bakpao rasa apa saja
Dalam urusan oleh-oleh, Anda punya banyak pilihan. Salah satunya, Bakpao Sayang yang terletak di dekat Plasa Dieng. Toko ini menyediakan bermacam-macam jenis bakpao. Total jenderal tersedia 30-an rasa, mulai dari rasa stroberi, sirsak, mangga, cokelat, vanila, durian, hingga rasa-rasa yang tak lazim untuk bakpao pada umumnya.

Bakpao Sayang termasuk salah satu oleh-oleh favorit Malang. Teksturnya lembut, rasanya lezat. Selain bakpao, di sini Anda juga bisa mendapatkan aneka jajan tradisional. Banyak di antaranya yang kurang akrab di telinga. Sebut saja pestre, denis, iwel-iwel, ongol-ongol, putu cengkir, dan sejenisnya.

Beberapa di antaranya memakai bahan baku yang jarang ditemui di tempat lain. Misalnya, kue mangkok yang terbuat dari ketela ungu Gunung Kawi, atau getas yang terbuat dari bentul (umbi-umbian), dan talam dari labu kuning. Jika ingin mendapatkan semua jenis kue ini secara komplet, datanglah hari Sabtu atau Minggu.

Di sini, kue-keu ini dijual dalam kemasan kotak karton. Rata-rata harganya Rp 15 – 20 ribu per kotak. Tanpa dimasukkan ke dalam kulkas, bakpao bisa tahan dua hari. Sementara jajanan pasar hanya tahan satu hari.

Jika ingin memperoleh kripik tempe, Anda bisa pergi ke Toko Ardani di daerah Blimbing. Untuk mendapatkan aneka kripik buah, Anda bisa datang ke Istana Keripik, di Jl. Urip Sumoharjo. Di sini, Anda bisa mendapatkan kripik apel, nanas, nangka, salak, dan masih banyak lagi.

(foto-foto Toko Oen, Tutup Dengkul, dan Bakpao Sayang, ada di Agung).

Directions:
Malang

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s