SGOT – SGPT SERING BIKIN KECELE [intisari]

Di telinga awam, SGOT-SGPT bukan istilah baru. Meski begitu, umumnya kita hanya tahu sepintas lalu. Belum banyak yang paham bahwa angka laboratorium kadang tak selalu bisa dijadikan patokan baku. Kadar di atas normal tak mesti sakit. Kadar normal pun tak selalu berarti sehat.

====

“Wah gawat nih, SGPT gue tinggi! Padahal gue gak ngerasa sakit apa-apa tuh,” keluh Indra, seorang pelamar kerja yang baru saja melakukan tes kesehatan. Wajahnya tampak gusar memandangi hasil tes laboratorium di tangannya.

Kegusaran Indra adalah kegusaran banyak orang yang serta-merta risau ketika kadar SGPT dan SGOT-nya melampaui batas atas normal (selanjutnya kita singkat BAN). Padahal, SGOT-SGPT yang sedikit di atas normal tak selalu menunjukkan bahwa seseorang sedang sakit.

Bisa saja peningkatan itu terjadi bukan akibat gangguan lever. “Kalau kita tes darah sesudah main bola atau kerokan, sangat mungkin SGOT-SGPT kita bakal naik,” kata dr. Rino A. Gani, Sp.PD-KGEH, hepatolog Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia.

Selain itu, kadar SGOT-SGPT juga gampang naik turun. Mungkin saja saat diperiksa, kadarnya sedang tinggi tapi setelah itu normal. Mungkin pula, saat diperiksa kadarnya sedang normal padahal biasanya tinggi. Karena itu, satu kali pemeriksaan saja belum bisa dijadikan dalil untuk membuat kesimpulan.

Lebih dari itu, angka BAN dibuat berdasarkan statistik. Di dalam statistik, selalu ada simpangan baku. Artinya, ada sebagian kecil orang yang memang berbeda dari kebanyakan orang. Menurut American Gastroenterological Association, penyimpangan ini terjadi pada 1 – 4% dari populasi. Mereka punya nilai SGOT-SGPT yang sedikit lebih tinggi dari BAN, tapi mereka tidak menunjukkan gejala sakit.

Apakah itu berarti kadar SGOT-SGPT sedikit di atas normal boleh dianggap enteng? Tentu tidak! Bahkan sebaliknya, bisa saja seseorang mengidap sakit lever kronis, tapi kadar SGOT-SGPT-nya normal.

“Sekitar 30% penderita hepatitis C kronis memiliki kadar ALT (SGPT) normal,” kata Goerge K. K. Lau, guru besar Department of Medicine, Queen Mary Hospital, University of Hong Kong, di kongres Asian Pacific Association for the Study of Liver (APASL) 2005 di Bali, belum lama ini. Sisanya, 40% penderita hanya menunjukkan kenaikan sedikit SGPT di atas BAN.

Rino pun sependapat dengan George Lau. “Sekitar 60-70% pasien kami, nilai ALT (SGPT)-nya hanya sekitar 1,3 – 1,5 kali batas atas normal,” ungkapnya. Meski tidak begitu “tinggi” (tak sampai dua kali BAN), mereka sudah positif terinfeksi virus hepatitis C.

Tak cuma di hati

SGOT-SGPT adalah dua enzim transaminase yang dihasilkan terutama oleh sel-sel lever. Bila sel-sel lever rusak, misalnya pada hepatitis atau sirosis, kadar kedua enzim ini meningkat. Karena itu, keduanya bisa memberi gambaran adanya gangguan hati.

Gangguan hati bentuknya berjenis-jenis. Penderitanya pun tak sedikit. Jumlah pengidap hepatitis C saja sekitar 3% dari populasi. Belum lagi hepatits A dan B yang jumlahnya jauh lebih banyak lagi. Apalagi jika ditambah dengan perlemakan hati, sirosis, intoksikasi obat, fibrosis hati, dan penyakit-penyakit lain yang namanya jarang kita dengar. Penyakit-penyakit ini umumnya ditandai dengan peningkatan SGOT-SGPT.

Namun, kedua enzim ini tidak seratus persen dihasilkan lever. Sebagian kecil juga diproduksi oleh sel otot, jantung, pankreas, dan ginjal. Itu sebabanya, jika sel-sel otot mengalami kerusakan, kadar kedua enzim ini pun meningkat.

Rusaknya sel-sel otot bisa disebabkan oleh banyak hal, misalnya aktivitas fisik yang berat, luka, trauma, atau bahkan kerokan. Ketika kita mendapat injeksi intramuskular (suntik di jaringan otot), sel-sel otot pun bisa mengalami sedikit kerusakan dan meningkatkan kadar enzim transaminase ini. Pendek kata, ada banyak faktor yang bisa menyebabkan kenaikan SGOT-SGPT.

Dibanding SGOT, SGPT lebih spesifik menjukkan ketidakberesan sel hati karena SGPT hanya sedikit saja diproduski oleh sel nonlever. Biasanya, faktor nonlever tidak menaikkan SGOT-SGPT secara drastis. Umumnya, tidak sampai seratus persen di atas BAN. Misalnya, jika BAN kadar SGPT adalah 65 unit/liter (u/l), kenaikan akibat bermain bola lazimnya tak sampai dua kali lipat.

Jika kadarnya melampaui dua kali lipat, ini adalah lampu merah yang harus diwaspadai. Jangan sakit hati jika dokter curiga kita sakit hati.

BAN bisa saja berbeda antarlaboratorium. Jika Anda pernah tes darah di dua laboratorium yang beda, dan mendapatkan BAN yang berbeda, Anda tak perlu heran.

“Batas atas normal tergantung dari reagen dan alat yang digunakan,” jelas Rino. Di rumah sakit tertentu, BAN kadar SGPT bisa 40 u/l, tapi di klinik lain bisa 65 u/l. Ini hanya masalah teknis pemeriksaan. Itu sebabnya, kita tak bisa mengatakan tinggi rendahnya SGOT-SGPT dari angka absolut, tetapi dari nilai relatif (dibandingkan dengan BAN).

Bunuh diri terencana

Sebagaimana organ lain, lever punya mekanisme pertahanan diri. Ketika diserang virus, ia berusaha melawannya. Jika kalah, ia punya dua pilihan: berjuang sampai akhir hayat atau bunuh diri.

Pada hepatits A dan B, lever mengambil pilihan pertama, berjuang sampai mati. Begitu sel-sel lever mati. Dindingnya jebol, dan akhirnya lever mengalami radang. Kondisi ini menyebabkan naiknya kadar SGOT-SGPT di dalam darah. Karena kadarnya meningkat, dokter lebih mudah mendiagnosis.

Tapi pada hepatitis C, urusannya lebih kompleks. Tak semua sel lever merespons kekalahan dengan tetap berjuang sampai mati. Sebagian yang lain bunuh diri secara terencana. Dalam istilah dokter, ini disebut apotosis (programmed cell death).

Acara bunuh diri ini bukan tanpa tujuan. Dengan bunuh diri, sel-sel lever berusaha “membunuh” virus secara tidak langsung. Salah satu kelemahan virus adalah mereka tidak punya mekanisme sendiri dalam berkembang biak. Mereka beranak pinak dengan cara memenfaatkan mekanisme hidup sel mahluk hidup lainnya. Dalam kasus hepatitis, sel yang ditumpangi adalah sel-sel lever. Dengan bunuh diri, sel lever berusaha membuat virus tak bisa berkembang biak.

Karena bunuh diri, sel-sel lever tidak pecah, tapi menciut. Yang terjadi selanjutnya bukan proses peradangan, tapi pengerutan. Karena lever tak meradang, kadar SGPT pun tak terpengaruh. Inilah yang menyebabkan penderita hepatitis C bisa memiliki kadar SGPT normal, meskipun sebenarnya ia telah menderita penyakit kronis. Ini pula yang membuat dokter harus berulang-ulang membetulkan letak kaca mata karena sulit menegakkan diagnosis.

Perlu tes lain

Menurut Rino, SGOT-SGPT hanya menggambarkan tingkat kerusakan sel hati. Kedua enzim ini tak bisa menggambarkan tingkat kemampuan sel hati untuk meregenerasi diri.

Dalam kondisi normal, sel-sel tubuh kita memiliki kemampuan regenerasi. Jika rusak, mereka akan menggantinya dengan sel-sel baru. Kemampuan regenerasi inilah yang akan mengimbangi kerusakan sel. Ini yang tidak tergambar dari hasil tes SGOT-SGPT. Bisa saja seseorang mengalami kenaikan SGOT-SGPT hingga di atas normal, tapi sebetulnya lever tidak dalam kondisi sakit karena sel yang telah mati segera diganti oleh sel baru.

Meski kenaikan SGOT-SGPT bisa disebabkan banyak faktor, Rino menandaskan, peningkatan keduanya harus tetap diwaspadai. Sepanjang masih punya dua mata, kita tak boleh memandangnya dengan sebelah mata. Meski hanya sedikit di atas normal pun, penyebabnya harus ditelusuri sampai yakin bahwa kita memang tidak sakit. Kadar di atas normal adalah pertanda bahwa kita harus mencurigai adanya gangguan lever.

Pada hepatitis C, jika SGPT sampai dua kali lipat dari BAN, para hepatolog sepakat untuk mengambil tindakan terapi. Untuk kasus SGPT normal atau sedikit di atas BAN, terjadi perbedaan mazhab. Mazhab pertama mengharuskan terapi segera. Mazhab kedua, pasien harus dipantau secara ketat sebelum diterapi.

Selama masa pemantauan itu, pasien harus 4 – 5 kali pergi ke laboratorium untuk menjalani tes fungsi hati tiap 1 – 2 bulan sekali. Tes fungsi hati di sini bukan hanya tes SGOT dan SGPT. Ada banyak komponen kimia darah lain yang perlu diperiksa. Untuk memastikan, dokter perlu melakukan biopsi. Secuplik sampel jaringan diambil dari lever untuk diperiksa dengan mikroskop.

Jika hasil pemeriksaan menunjukkan nilai normal, pasien boleh sedikit lega hati. Ia hanya perlu kontrol setahun lagi. Tapi jika serangkain pemeriksaan itu menunjukkan pasien telah sakit hati, ia harus berbesar hati untuk menjalani terapi.

Boks (usul: diletakkan di halaman 3-4)

Beda Nama, Maksud Sama

Dalam bahasa medis, SGOT (serum glutamic-oxaloacetic transaminase) dan SGOT (serum glutamic-pyruvic transaminase) punya banyak nama lain. Umumnya kalangan awam lebih akrab dengan dua singkatan ini.

Namun di kalangan hepatolog seperti George Lau dan Rino A. Gani, kedua nama ini mulai jarang dipakai. Sebagai gantinya, mereka menggunakan istilah ALT (alanine transaminase) untuk menyebut SGPT. Sedangkan untuk SGOT, mereka menyebutnya AST (aspartate transaminase). Kedua cara penyebutan ini sami mawon alias tak beda makna.

Boks-1 (usul: diletakkan di halaman 5-6)

Minum Jamu Pun Ada Aturannya

Sudah menjadi kelaziman di masyarakat kita untuk menurunkan SGOT-SGPT dengan cara minum jamu. Menurut Rino, ini masalah dilematik. Di satu sisi, pasien berhak minum jamu atas kehendak sendiri. Tapi di sisi lain, jamu bisa mengganggu interpretasi dokter dalam menegakkan diagnosis.

Jamu-jamu tertentu memang terbukti bisa menurunkan kadar SGOT-SGPT. Jika kenaikan SGOT-SGPT hanya bersifat sementara, minum jamu tak akan menimbulkan masalah. Problem akan muncul jika kenaikan SGOT-SGPT memang disebabkan oleh penyakit lever yang masih malu-malu untuk membuka identitas.

Dalam keadaan ini, jamu bisa menimbukan efek masking. SGOT-SGPT turun, tapi sebetulnya proses perusakan lever terus terjadi.

Bila kadar SGOT-SGPT turun, dokter mungkin akan menganggap pasien sehat-sehat saja. Padahal, mungkin saja ia telah menderita penyakit kronis. Akibatnya, pasien tidak mendapat terapi yang diperlukan. Dengan kata lain, ini justru akan merugikan pasien sendiri.

Sebagai jalan tengah, Rino menyarankan agar pasien memberi tahu dokter ketika minum jamu. Dengan begitu, proses diagnosis tak terganggu. Selain itu, Rino juga menyarankan agar pasien mengurangi aktivitas fisik yang berat. Jika ada undangan bermain futsal, misalnya, lupakan saja untuk sementara.

———————————————————————-
Dapatkan buku karya pemilik blog ini, BUKU OBAT SEHARI-HARI,

terbitan Elex Media Komputindo, di Gramedia dan toko-toko buku.

Buku Obat Sehari-Hari

Advertisements

2 thoughts on “SGOT – SGPT SERING BIKIN KECELE [intisari]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s