Pelajaran Cinta dari Ibu


Oleh M. Sholekhudin

Ketika membuat klip video untuk lagunya
, Ummi, Haddad Alwi melakukan sesuatu yang mungkin aneh bagi kebanyakan orang di dunia industri hiburan. Ia tidak mau menggunakan model untuk tokoh ibu di klip videonya. Ia memilih mendatangkan ibunya sendiri dari Solo ke Jakarta. “Sekalipun hanya untuk sebuah klip video, tokoh ibu tidak mungkin bisa digantikan dengan orang lain,” demikian kata Haddad waktu itu. Ketika adegan Haddad Alwi mencium tangan ibunya, semua yang hadir di studio menangis haru. Keharuan yang sama hampir selalu saya rasakan tiap kali mendengar senandung itu dari kaset.
– – –

Saya mungkin tidak mencapai tingkat penghormatan dan ke-tawadhu-an seorang anak seperti Haddad. Meskipun begitu, saya sama sekali tidak ragu untuk mengatakan bahwa Ibu adalah pahlawan dan cinta sejati dalam hidup saya. Jika saya harus menggambarkan ibu saya dalam satu kata, maka kata itu adalah cinta. Tak lebih, tak kurang.

Ibu saya buta aksara. Demikian juga bapak saya. Mereka tidak pernah bersekolah. Kami tinggal di sebuah pelosok kampung di Lamongan, Jawa Timur. Saya tidak memanggilnya Ibu, Ummi, apalagi Mama, tapi Mbo’e. Ini panggilan yang satu tingkat lebih udik di bawah Emak. Saya adalah generasi terakhir di kampung saya yang memanggil ibunya dengan panggilan udik ini. Setelah generasi saya, kebanyakan anak desa memanggil ibu mereka dengan cara Indonesia: Ibu.

Saya anak terakhir dari enam bersaudara. Sebuah keluarga petani yang miskin. Sangat miskin. Karena kemiskinan itu, kakak-kakak saya tidak berpendidikan cukup. Orangtua saya hanya bisa menyekolahkan tiga anak pertama sampai tingkat madrasah ibtidaiyah (setingkat SD). Bagi orang kampung, itu bukanlah sebuah aib. Sekolah dasar sudah cukup mewah untuk kami. Dua anak berikutnya (anak ke-4 dan ke-5) bersekolah sampai tingkat SMA.
Saya beruntung. Sebagai anak terakhir, saya cukup mendapat perhatian. Ibu ingin saya bisa kuliah karena saya adalah anak terakhir yang diharapkan bisa memutus mata rantai kemiskinan. Ketika saya lahir, ibu saya mulai memiliki kesadaran terhadap pentingnya pendidikan. Karena itu, sejak kecil saya mendapat perhatian lebih besar dibandingkan dengan kakak-kakak saya. Salah satunya dalam urusan makan.

Ibu hanya orang kampung yang tidak pernah bersekolah dan tidak paham bagaimana cara mendidik anak, apalagi cara mengoptimalkan perkembangan otak anak. Dengan pengetahuannya sebagai orang udik, dia hanya meyakini satu hal sederhana bahwa anak yang makan bergizi akan menjadi siswa yang cerdas. Karena pandangannya ini, Ibu sering mengistimewakan saya dalam urusan makan.

Secara sembunyi-sembunyi, Ibu sering memberi saya telur ayam kampung rebus yang sudah dikupas sambil menyuruh saya makan cepat-cepat supaya tidak diketahui oleh kakak-kakak saya. Telur termasuk makanan mewah buat kami. Sehari-hari kami biasanya makan dengan sayur saja: jagung muda, kangkung, kacang panjang, bayam, krai, labu air, kecipir, daun kelor, lembayung, dan sayuran-sayuran lain yang tidak perlu dibeli karena bisa ditanam di ladang. Tidak setiap hari kami bertemu dengan lauk pauk. Ikan, telur, tahu, tempe, apalagi daging adalah sesuatu yang mewah bagi kami.

Jika ibu pulang dari buwuh (tradisi berkunjung ke orang kampung yang punya hajatan) dan pulang membawa berkat (nasi dari hajatan), ibu biasanya menyisihkan lauk daging sapi di berkat itu dan memberikannya kepada saya. Seandainya, waktu itu Ibu bisa membeli susu, pastilah saya juga akan diberi susu setiap hari.

Ibu punya kebiasaan yang, menurut saya waktu itu, agak aneh. Dia sering makan di dalam kamar yang gelap tanpa penerangan. Di rumah kami hanya ada satu kamar yang bersekat dan berpintu. Kami menyebutnya “kamar” begitu saja. Satu-satunya kamar. Waktu itu belum ada listrik PLN sehingga kamar itu hampir selalu dalam keadaan gelap. Tapi anehnya ibu sering makan di situ.

Waktu itu, sebagai anak kecil, saya tidak mengerti mengapa Ibu melakukannya. Kelak, ketika beranjak remaja saya baru tahu jawabannya. Ibu melakukan hal itu karena ia tidak ingin anak-anaknya tahu bahwa dia hanya makan nasi dengan garam. Kadang ia makan nasi aking—yang di desa kami disebut karak.

Sehari-hari kami biasanya makan nasi jagung. Nasi putih termasuk makanan yang mewah buat kami. Jika bersisa, nasi putih itu tidak dibuang tapi dijemur sampai kering. Inilah yang kami sebut sebagai karak. Selanjutnya karak ini dikukus lalu dihidangkan dengan urap kelapa dan garam. Ibu sering makan karak ini di dalam kamar yang gelap itu.
Dengan makan nasi aking di dalam gelap, ibu tidak ingin anak-anaknya merasa bersalah melihat ia tirakat sementara kami makan dengan nasi jagung atau nasi putih dengan sayur dan lauk. Dengan kasih sayangnya sebagai ibu, ia menyembunyikan tirakat yang ia lakukan di depan anak-anakya.

Ini persis seperti yang dilukiskan oleh Muhammad Yunus, peraih Nobel asal Bangladesh, ketika menggambarkan kondisi para ibu di negaranya (dan tampaknya berlau untuk kebanyakan ibu), “Jika sebuah keluarga mengalami kelaparan, maka aturan tak tertulis menyatakan ibulah orang pertama yang harus mengalaminya.”

Pengalaman masa kecil ini begitu membekas di dalam pikiran saya. Sampai-sampai, kelak ketika saya sudah bekerja dan merasakan pengalaman pertama makan enak “secara ugal-ugalan” di restoran Jepang ala all you can eat, saya diliputi perasaan bersalah sampai bayangan Ibu hadir di pikiran saya. Saya membayangkan Ibu masuk ke dalam kamar yang gelap membawa piring berisi nasi aking.

Ketika lulus SMP, saya dikirim ke sebuah pesantren untuk bersekolah di SMA Negeri di kota supaya nanti setelah lulus saya bisa ikut ujian masuk perguruan tinggi negeri (UMPTN). Karena kemiskinan masih terus membelit kami, untuk menutupi biaya saya di pesantren itu, Ibu harus berjuang keras, banting tulang. Ia tiap bulan harus berutang kiri kanan untuk membiayai pendidikan saya.

Di keluarga saya, kepala rumah tangganya bukan Bapak tapi Ibu. Bapak punya keterbatasan akibat musibah yang beberapa kali ia alami. Kebetulan Ibu juga lebih cekatan dalam urusan mengusahakan uang dan berurusan dengan orang lain. Secara psikis, ia juga lebih tegar dalam menghadapi kesulitan hidup.

Jika saya pulang dari pesantren untuk mengambil jatah bulanan, saya sering tidak tega melihat usaha yang Ibu lakukan. Secara diam-diam, saya sering menangis sendiri di dalam kamar yang biasa dipakai Ibu untuk makan nasi aking. Hanya itu yang bisa saya lakukan. Saya mencoba meringankan beban Ibu dengan mengajar adik-adik kelas saya di pesantren. Tapi penghasilannya tidak seberapa. Saudara-saudara saya juga tiap bulan iuran mengumpulkan uang beberapa puluh ribu rupiah buat saya tapi tetap saja saya masih bergantung kepada uang dari rumah. Jika saya pulang, Ibu sering terpaksa memanen cabe yang belum waktunya dipanen untuk dijual di pasar. Uang hasil penjualan cabe inilah yang kemudian diberikan kepada saya menjelang saya kembali ke pesantren.

Tak jarang Bapak marah kepada Ibu karena memanen cabe yang masih belum waktunya dipanen. Alasannya, cabe yang masih muda dan hijau harganya rendah. Kalau dipanen pada saat sudah berwana merah, harganya bisa lebih tinggi. Tapi Ibu selalu mengatakan cabe itu sudah waktunya dipanen. Ia tidak bilang terus terang bahwa ia butuh uang segera untuk biaya sekolah saya. Ibu bicara dengan bahasa cinta, Bapak bicara dengan bahasa logika.
Bahasa cinta inilah yang membuat saya merasa lebih dekat kepada Ibu daripada Bapak. Secara tabii, menurut saya, perempuan memang memiliki perasaan cinta dan kasih sayang lebih besar daripada laki-laki. Mungkin itu sebabnya, menurut saya, Allah Yang Rahman dan Rahim itu memberikan tugas kepengasuhan seperti mengandung, melahirkan, dan menyusui kepada perempuan.

Kebetulan Bapak agak keras dalam mendidik anak. Jika sepulang dari salat subuh Bapak melihat saya masih meringkuk di atas tempat tidur, ia tak segan-seg
an membangunkan saya dengan cara menyabet kaki saya dengan kain sarung. Tapi Ibu tidak pernah melakukan itu. Ia selalu melakukannya dengan lembut. Jika ia melihat saya masih tidur dan tidak segera menunaikan salat subuh, ia akan memijit kaki saya dengan lembut sambil melafalkan surat-surat pendek Juz Amma. Biasanya, saya menikmati pijitan itu sebentar lalu segera bangun untuk salat subuh.

Jika saya tidak juga bangun, Ibu akan menjumputi rambut dan kulit kepala saya seperti melakukan pijat refleksi di kulit kepala. Entah dari mana Ibu menemukan teknik ini. Tiap kali rambut dan kulit kepala saya dijumputi, rasa kantuk seperti apa pun langsung hilang. Saya pasti akan bangun. Inilah bedanya cara mendidik yang dilakukan oleh Ibu dan Bapak. Bapak mendidik dengan sifat keras seorang laki-laki, sementara Ibu mendidik dengan perasaan lembut seorang perempuan: dengan cinta dan kasih sayang.

Lulus SMA, saya tidak begitu berharap bisa kuliah. Dengan logika mana pun, keluarga saya terlalu miskin untuk membiayai kuliah saya. Tapi Ibu bersikeras bahwa saya harus kuliah. Bagaimanapun caranya. Ibu selalu membandingkan saya dengan beberapa orang sepupu dan famili saya dari keluarga yang cukup terdidik. Mereka semua kuliah dan “menjadi orang”. Ini istilah orang kampung untuk menyebut mereka yang punya pekerjaan terpandang, seperti pegawai negeri sipil, mantri kesehatan, pemuka agama, atau guru yang dihormati.

Saya pun ikut UMPTN dan diterima di Fakultas Farmasi Universitas Airlangga, Surabaya. Untuk membiayai kuliah saya, Ibu harus menjual gabah di setiap musim panen yang mestinya kami gunakan untuk makan beberapa bulan ke depan. Kakak saya yang bekerja sebagai petugas Satpam di sebuah pabrik menambahi kekurangannya. Tiap saya pulang kampung dan melihat kemiskinan yang dialami keluarga saya, saya selalu berpikir untuk berhenti kuliah. Tapi lewat kakak saya, Ibu selalu meyakinkan saya bahwa kebutuhan biaya kuliah masih bisa diusahakan sampai saya lulus. Ibu tidak pernah menasihati saya secara langsung. Jika ia ingin mengatakan sesuatu kepada saya, ia minta kakak saya yang melakukannya.

Tiap menjelang kembali ke Surabaya, saya selalu diserang perasaan bersalah karena telah membuat Ibu bersusah payah mencari uang. Waktu memberikan uang kepada saya, Ibu selalu bilang bahwa uang itu hasil jualan jagung, kacang tanah, kedelai, kacang tunggak, cabe, atau hasil bumi yang lainnya. Waktu itu saya percaya begitu saja.

Belakangan, setelah hampir lulus kuliah, saya baru tahu bahwa selama ini Ibu telah berbohong kepada saya. Tiap kali saya pulang kampung, sebetulnya Ibu tidak menjual jagung, kacang tanah, atau hasil bumi lainnya. Ia meminjam uang kepada kerabat kami dan menjadikan sawah kami sebagai jaminan. Mirip pergadaian tapi dengan sistem kekerabatan.

Seiring dengan masa kuliah saya, utang itu pun semakin besar. Setelah utang itu semakin besar dan ibu tidak bisa mengembalikannya, sawah yang menjadi jaminan itu pun akhirnya berpindah tangan. Padahal, sawah itu adalah sumber utama penghasilan kami sebagai keluarga petani. Ibu melakukan semua itu hanya agar saya bisa menyelesaikan kuliah. Ia menyembunyikan tirakatnya agar orang yang ia cintai tidak merasa bersalah kepadanya. Inilah altruisme sejati dalam hidup saya. Kesediaan untuk mengorbankan diri sendiri demi rasa cintanya kepada orang lain. Sungguh tepatlah kalau Iwan Fals menyebut ibu sebagai sosok yang “masih terus berjalan walau tapak kaki penuh darah, penuh nanah.”

Seandainya sejak awal Ibu memberi tahu bahwa uang yang ia berikan kepada saya itu adalah uang dari menggadaikan sawah, mungkin saya akan menolaknya. Mungkin juga saya akan memutuskan berhenti kuliah. Saya dan kakak saya yang Satpam sudah berusaha meringankan beban Ibu dengan berbagai cara. Saya juga memperoleh beasiswa yang cukup besar dari sebuah perusahaan Jepang. Tapi bagaimanapun juga kami tidak berhasil membuat Ibu benar-benar terbebas dari tanggungan biaya kuliah saya. Di sinilah saya melihat betapa cinta seorang ibu kepada anaknya benar-benar tanpa syarat.

Ibu sama sekali tidak mengerti urusan sekolah dan kuliah. Sejak saya masih di madrasah ibtidaiyah sampai perguruan tinggi, Ibu tidak pernah bertanya saya kelas berapa, semester berapa, peringkat berapa di kelas, berapa nilai rapor atau indeks prestasi saya, dan sejenisnya. Semua urusan itu jauh dari pikiran seorang perempuan udik seperti ibu saya yang buta huruf. Yang ia tahu hanya satu hal, yaitu bahwa saya membutuhkan banyak biaya untuk menyelesaikan pendidikan saya hingga tingkat sarjana. Untuk mencukupi kebutuhan itu, ia bersedia melakukan apa saja. Termasuk mengorbankan diri sendiri.

Pemahaman terhadap kata “sarjana” ini sempat membuat Ibu sedih ketika saya hendak lulus tingkat sarjana farmasi. Waktu itu kakak saya memberi tahu Ibu bahwa saya sebentar lagi lulus setelah kuliah selama lima tahun. Ibu mendengar berita itu dengan gembira. Ia bahkan sudah memberi tahu kerabat yang biasa ia mintai utang bahwa sebentar lagi ia akan berhenti berutang. Tapi kegembiraan ini tak berlangsung lama setelah saya beri tahu bahwa lulus sarjana bagi saya tidak berarti lulus kuliah. Sebab, setelah lulus sarjana, saya harus melanjutkan kuliah profesi selama satu tahun lagi. Tapi di sini Ibu kembali menunjukkan ketegarannya sebagai kepala keluarga yang selalu meyakinkan saya bahwa saya bisa menyelesaikan kuliah.

Begitu lulus kuliah, saya langsung bekerja di Bogor, dan belakangan pindah ke Jakarta. Sebagai anggota keluarga dengan penghasilan paling besar, tiap bulan saya mengirimkan separuh gaji saya ke kampung. Saya hidup dengan separuh gaji yang saya terima. Saat itu saya membayangkan diri saya sebagai—meminjam ungkapan Rendra di sajak Ada Tilgram Tiba Senja—“lelaki yang kuat”.

Lelaki yang kuat biarlah menuruti darahnya
Menghunjam ke rimba dan pusat kota
Tinggal bunda di rumah menepuki dada
Melepas hari tua melepas doa-doa

Saya membayangkan Ibu akan menikmati hari tuanya dengan damai dan sentosa karena tiap bulan mendapat kiriman uang dari saya. Tapi rupanya menjadi lelaki yang kuat itu tidak semudah yang saya bayangkan. Di tahun awal kerja, separuh gaji itu ternyata (menurut saya) tidak cukup untuk hidup layak dan wajar. Di tahap ini saya menyadari betapa cinta saya kepada Ibu sama sekali tidak bisa dibandingkan dengan cinta Ibu kepada saya. Buktinya, saya masih merasa kurang dengan separuh gaji itu. Sementara Ibu tidak pernah satu kali pun mengeluh dalam hidupnya selama ia mengasuh dan membiayai pendidikan saya mulai madrasah ibtidaiyah sampai kuliah.

Tapi untungnya, saya sudah belajar dari Ibu bagaimana melakukan tirakat. Ini pelajaran yang Ibu berikan kepada saya secara tidak ia sadari saat ia makan nasi aking di dalam kamar tanpa lampu.

Setiap saya pulang kampung, Ibu berulang-ulang mengatakan agar saya tidak usah mengirimkan uang kepadanya. “Tabung saja untuk keperluanmu sendiri,” ia selalu mengatakan itu menjelang saya kembali ke kota. Ia berusaha meyakinkan saya bahwa keluarga di kampung bisa hidup dari menjual hasil bumi dari sisa sawah yang tidak ikut tergadaikan. Tapi kali ini saya sudah tahu: ia berbohong. Berbohong demi rasa cintanya kepada saya.

Tak jarang Ibu mengembalikan uang yang saya kirim kepadanya dengan cara memasukkan uang itu ke dalam tas saya ketika saya hendak kembali ke kota. Jika ia melakukan itu, giliran saya yang berbohong kepadanya. Saya mengatakan bahwa gaji saya jauh lebih dari cukup. Saya sudah bisa hidup dengan sangat layak hanya dengan separuh gaji saya. Kali ini saya belajar untuk menyembunyikan tirakat saya agar Ibu tidak merasa bersalah makan dari uang kiriman saya.

Hingga sekarang, tiap kali saya pulang kampung, Ibu selalu mengajukan sebuah pertanyaan yang mungkin tidak semua orang mendengarnya dari ibunya, “Kamu minta didoakan apa?” Saya selalu terharu dan menutupi muka dengan bantal jika mendengar Ibu mengucapkan pertanyaan ini sambil memijit kaki saya selagi saya tidur. Bagi saya, pertanyaan ini adalah puncak ketulusan cinta yang ta
k putus-putus dari seorang ibu yang merasa tidak bisa memberikan materi kepada anaknya.

Doa jelas tak bisa dibandingkan dengan materi. Saya memang tidak mendengarkan doa itu tapi saya yakin seyakin-yakinnya bahwa nama saya pastilah disebut dalam setiap doa yang Ibu panjatkan tiap selesai salat. Saya bisa merasakan kehadiran doa-doa itu dalam setiap kebaikan dan anugerah Allah yang saya peroleh dalam hidup. Sekalipun selalu diliputi kemiskinan, saya sungguh beruntung memiliki ibu yang penuh cinta. Saya sangat beruntung dibandingkan dengan semua kakak saya. Saya bisa kuliah sekalipun dengan perjuangan pontang-panting. Setelah kuliah, saya bisa memilih pekerjaan yang sama sekali berbeda dari pekerjaan kakak-kakak saya yang sebagian besar menjadi buruh kasar pabrik. Saya yakin seyakin-yakinnya bahwa semua anugerah yang saya peroleh ini tak lepas dari doa yang diucapkan oleh ibu saya siang dan malam.

Bagi saya, sosok ibu persis seperti syair senandung Ummi yang dilantunkan Haddad Alwi dan Sulis:

Ummi yaa ruuhi wahayaati,
Yaa bahjata nafsii wa munaati
Unsi fil haadhiri wal aati

Ibu, jiwa dan hidupku
Sumber kebahagiaan dan harapanku
Di masa kini dan di masa depanku

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s