Masuk Makanan, Keluar Makanan [intisari]

Bicara tentang nutrisi, biasanya kita hanya membahas jenis makanan bergizi. Pembahasan tak jauh dari karbohidrat, protein, lemak, vitamin, dan mineral. Enzim cerna jarang ikut dibicarakan. Padahal tanpa bantuannya, makanan bergizi itu bukan hanya tak berguna, tapi malah bisa bikin masalah.

=====

Apriandhie, seorang mahasiswa perguruan tinggi negeri merasa sedikit minder dengan postur tubuhnya yang kerempeng. Teman-temannya meledek badannya yang kurus seperti “Rambo”, Ra mbodi blas! (tidak atletis sama sekali, Jawa). Sebagian yang lain meledek lengannya yang kecil seperti lengan Popeye sebelum makan sari pati bayam.

“Makanya, banyak minum susu!” saran seorang kawan. Ia pun mencoba saran ini. Meski tak suka dengan aroma susu, ia memaksa diri minum. Tapi yang terjadi sama sekali di luar dugaan. Tiap kali minum susu, ia harus bolak-balik ke belakang. Rupanya, perutnya tidak bisa diajak kompromi dengan susu.

Kasus Popeye alias Rambo alias Apriandhie ini adalah salah satu bukti betapa pentingnya enzim pencernaan. Susu yang mestinya menjadi sumber gizi berubah menjadi penyebab diare.

Apriandhie hanyalah satu dari banyak orang yang menderita kekurangan enzim laktase. Enzim inilah yang mencerna laktosa (karbohidrat susu) sebelum diserap oleh usus. Jika seseorang mengalami kekurangan enzim ini, perutnya tidak bisa mencerna laktosa susu dalam jumlah banyak. Yang terjadi kemudian, tubuh akan berusaha mengeluarkannya dari dalam usus. Inilah yang menyebabkan Apriandhie harus bolak-balik ke belakang.

Malabsorbsi dan malagizi

Dinding usus manusia mirip saringan dengan lubang-lubang yang sangat kecil. Supaya zat makanan bisa menembusnya, ia harus berada dalam bentuk satuan terkecilnya. Nasi (karbohidrat kompleks) harus dipecah-pecah dulu menjadi glukosa (karbohidrat sederhana) sebelum diserap.

Telur atau susu (protein kompleks) harus diurai dulu menjadi asam amino (satuan terkecil protein) sebelum melewati dinding usus. Begitu pula lemak. Ia harus disederhanakan dulu menjadi rantai asam lemak paling kecil sebelum diserap.

Semua tugas pecah-memecah ini dilakukan oleh enzim pencernaan. Secara alami tubuh manusia sudah dilengkapi dengan kemampuan memproduksi enzim-enzim tersebut. Amilum (karbohidrat) dipecah oleh enzim amilase. Protein diurai oleh enzim protease. Lemak (lipid) digarap oleh enzim lipase.

Tanpa bantuan enzim-enzim ini, semua bahan makanan itu hanya akan numpang lewat di usus. Kondisi ini akan mencetuskan gangguan pencernaan (maladigesti) yang selanjutnya menyebabkan gangguan penyerapan (malabsorbsi).

Masalah tidak berhenti sampai di sini. Adanya makanan yang tidak tercerna di usus akan menyebabkan ritme gerakan usus terganggu. Yang mestinya mendorong makanan ke belakang, bisa berbalik mendorong ke depan. Atau, yang mestinya mendorong makanan pelan-pelan berubah menjadi tak terkendali.

“Gejalanya bisa kembung, mual, nyeri perut, buang angin bolak-balik, hingga diare,” kata dr. Ari Fahrial Syam, Sp.PD, KGEH, staf pengajar Divisi Gastroenterologi, Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI), Jakarta.

Sistem pencernaan makanan bekerja secara sambung-menyambung mulai dari mulut, lambung, hingga usus. Prosesnya sendiri sebetulnya sudah dimulai bahkan sebelum kita menyuapkan makanan ke dalam mulut. Saat kita melihat ayam panggang bumbu Thailand terhidang di meja, air liur langsung terbit. Bukan hanya liur di mulut, tapi juga air liur di lambung (gastric juice). Dua jenis air liur ini sama-sama berisi enzim cerna yang siap bekerja.

Saat kita mengunyah nasi, proses awal pencernaan sudah mulai berjalan. Karbohidrat kompleks dari nasi mulai dipecah-pecah oleh enzim cerna dari air liur, menjadi disakarida (gula sederhana). Inilah yang menyebabkan nasi akan terasa manis jika dikunyah terus.

Sebagian kecil enzim cerna diproduksi di kelenjar liur di bagian mulut. Namun, kebanyakan enzim cerna diproduksi oleh kelenjar pankreas, kelenjar ludah perut. Jika pankreas terganggu, misalnya mengalami peradangan atau kerusakan, produksi enzim pun bakal ikut terganggu.

Jika produksi enzim menurun, perut gampang berontak saat kemasukan makanan yang kaya nutrisi. Jika produksi enzim protease berkurang, perut gampang bermasalah saat kemasukan protein. Jika produksi enzim laktase kurang, perut gampang berontak saat kemasukan susu, seperti yang terjadi pada Apriandhie.

Menurut penelitian yang dilakukan di Divisi Gastroenterologi FKUI/RSUPN Cipto Mangunkusumo, sekitar 30 – 40%
diare kronis disebabkan oleh gangguan produksi enzim cerna. Hampir separuhnya mengalami gangguan enzim pankreatik kategori berat. Separuhnya lagi masuk kategori ringan hingga sedang.

Di Indonesia, Apriandhie punya banyak teman sesama penderita kekurangan enzim laktase. Ari Fahrial punya pengalaman menarik. Saat awal-awal kampanye gemar minum susu digalakkan, Divisi Gastroenterologi FKUI/ RSUPN Cipto Mangunkusumo kedatangan banyak pasien diare. Rupanya, mereka sebelumnya jarang minum susu, seperti Apriandhie. Begitu minum, perut mereka tak bisa diajak kompromi.

Tak hanya terjadi pada orang dewasa, intoleransi laktosa juga sering dijumpai pada anak-anak. Karena alasan ini, banyak produsen susu yang memformula produknya sebagai susu rendah laktosa atau bahkan bebas laktosa.

Tak selalu permanen

Efek negatif dari gangguan enzim cerna bukan hanya maladigesti dan malabsorbsi. Jika berlangsung kronis, gangguan ini akan menyebabkan penderita juga mengalami malagizi (kurang gizi). Berat badan berkurang, daya tahan tubuh juga menurun.

Menurut Ari Fahrial, kurangnya satu jenis enzim umumnya disertai oleh kurangnya enzim yang lain. Jika seseorang kekurangan enzim protease, biasanya ia juga kekurangan enzim amilase dan lipase.

Penderita gangguan enzim cerna umumnya menunjukkan gejala-gejala maladigesti seperti gampang kembung, buang angin, atau diare saat menyantap makanan-makanan tertentu. Ini adalah petunjuk awal. Untuk memastikannya, diperlukan serangkaian pemeriksaan laboratorium.

Salah satunya adalah pemeriksaan feses. Jika di dalam tinja ditemukan banyak karbohidrat, protein, atau lemak yang masih belum tercerna, itu pertanda bahwa ada sesuatu yang tidak beres dengan enzim cerna.

Untuk lebih memastikan, diperlukan USG abdomen (ultrasonografi di daerah perut). Jika dari pemeriksaan ini ditemukan adanya peradangan pada pankreas, berarti memang produksi enzim cerna sedang mengalami gangguan.

Gangguan produksi enzim bisa berlangsung sementara, bisa juga berlangsung seterusnya. Kasus Apriandhie adalah salah satu contoh gangguan yang tidak permanen. Salah satu penyebabnya karena ia tak terbiasa minum susu. Akibatnya, pabrik laktase di organ cerna pun jarang terpakai. Karena jarang terpakai, kemampuan produksinya turun. Problem ini sedikit demi sedikit berkurang setelah Apriandhie membiasakan diri minum susu.

Risiko bisa diperkecil

Defisiensi enzim cerna bisa disebabkan oleh banyak faktor. Salah satunya faktor bawaan. Salah satu contohnya adalah defisiensi laktase. Umumnya, kapasitas produksi laktase pada orang-orang Indonesia lebih rendah daripada orang-orang bule. Inilah yang menyebabkan banyak orang mengalami diare saat minum susu.

Namun, selain faktor bawaan, defisiensi enzim bisa juga disebabkan oleh kesalahan pola makan atau gangguan kesehatan lainnya. Mereka yang jenis makanannya monoton, punya risiko lebih besar terkena gangguan produksi enzim cerna. Karena alasan ini, Ari Fahrial menyarankan, “Jenis makanan harus bervariasi. Jangan terlalu banyak karbohidrat saja, atau protein saja.”

Selain faktor ini, defisiensi enzim bisa juga disebabkan oleh kerusakan pankreas, misalnya akibat konsumsi alkohol atau infeksi saluran cerna yang terjadi berulang-ulang.

Untuk mencegah timbulnya masalah, penderita gangguan enzim dianjurkan untuk tidak mengonsumsi makanan pencetus salah cerna. Sebagai contoh, jika kekurangan enzim protease, ia disarankan untuk tidak mengonsumsi protein dalam jumlah banyak. Ia bisa mengonsumsinya dalam jumlah sedikit-sedikit secara bertahap.

Namun pada kondisi defisiensi enzim parah, cara ini kadang tak mungkin dilakukan. Pasalnya, kebutuhan terhadap karbohidrat, protein, dan lemak tak bisa ditawar-tawar lagi. Jika ini yang terjadi, cara sulih enzim bisa ditempuh. Kebutuhan enzim dicukupi dari luar dengan cara suplementasi enzim, menggunakan obat yang berisi enzim.

Jika gangguan enzim dibiarkan berlangsung kronis, problem ini bisa menimbulkan masalah kesehatan kronis pula. Bila tak ditangani dengan tepat, penderita bisa mengalami malagizi meskipun telah makan makanan bergizi.

Masuk susu, keluar susu. Masuk protein, keluar protein.

Boks-1

Terapi Enzim

Di kalangan ahli kesehatan, istilah terapi enzim kadang dimaknai secara berbeda. Sebagian kalangan memakai istilah ini untuk satu jenis terapi alternatif. Prinsip terapi tak beda jauh dengan suplementasi enzim.

Bedanya, terapi ini ditujukan untuk mengobati banyak macam penyakit, tak hanya problem salah cerna. Rentang penyakit yang diobati sangat luas, mulai dari insomnia, hipertensi, kecemasan, alergi, gangguan kekebalan tubuh, hingga kanker.

Dasar pemikiran terapi ini adalah bahwa berbagai gangguan kesehatan itu berpangkal pada satu hal: kurang enzim. Dengan minum enzim dalam bentuk suplemen, penyakit-penyakit itu diyakini bisa diatasi.

Enzim yang dipakai sebagai terapi bukan hanya enzim cerna, tapi juga enzim metabolik, dan enzim yang terdapat di dalam bahan nabati mentah (raw food). Karenanya, isi suplemen bukan hanya enzim amilase, laktase, lipase, dan protease, tapi juga enzim diastase, selulase, katalase, dan sebangsanya.

Menurut Ari Fahrial, enzim hanya bekerja jika ada objek yang digarap. Karena itu suplementasi enzim hanya diperlukan jika tubuh mengalami gangguan produksi enzim. Jika tidak ada objeknya, penambahan enzim dari luar tidak bermakna.

Advertisements

One thought on “Masuk Makanan, Keluar Makanan [intisari]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s