Saya orang Cina, Mas! [gedabrusan]

Waktu : pukul sebelas malam lewat

Tempat : jalan layang tol Kebon Jeruk


Saya berpapasan dengan seorang pemuda. Ia berjalan kaki, saya berjalan kaki. Dengan sedikit ragu-ragu, ia menegur saya dan bertanya arah ke Joglo. Setelah sedikit cakap-cakap, singkat cerita ia minta uang kepada saya karena, katanya, ia baru saja kecopetan di angkot. Sejujurnya saya ragu dengan ceritanya. Saya memang suka membantu orang lain, tapi saya tak suka ditipu. Seminggu sebelumnya di tempat yang sama, saya juga berpapasan dengan seseorang yang juga minta uang kepada saya. Tapi melihat wajah si pemuda yang bersih, saya ragu dengan keraguan saya. Saya tak bermaksud menyinggung perasaanya, tapi ketika saya bertanya tentang ceritanya, ia tersinggung, “Saya orang Cina, Mas! Saya tidak diajari untuk minta-minta!”


Luar biasa! Saya langsung terdiam mendengar jawabannya. Saya sadar telah melakukan kekeliruan.


Setelah berbagi sedikit uang sekadar ongkos pulang, saya berjalan gontai ke rumah kos.
Di telinga saya terus berdenging kata-katanya: Saya orang Cina, Mas! Saya tidak diajari untuk minta-minta! Saya yakin ia tidak bermaksud buruk dengan kata-katanya itu. Saya yakin dia hanya sedang membela diri karena saya meragukan ceritanya. Tapi saya pun yakin bahwa kata-kata itu adalah percikan pikiran bawah sadar: ketika seseorang mengklaim superioritas kelompoknya, sesungguhnya pada saat yang sama ia sedang meledek inferioritas kelompok yang lain. Tampaknya ia menyimpan kebencian kepada ras saya, persis seperti kebencian serupa yang terjadi pada ras saya terhadap ras dia.


Ras!


Sejak kecil, saya hidup di lingkungan yang membenci ras dia. Untungnya, Tuhan masih memberi saya akal sehat sehingga bisa melihat bahwa perbedaan ras tak ubahnya perbedaan jenis tebu atau bengkuang. Hanya masalah warna dan bentuk. Dia bermata sipit, saya bermata sayu. Dia berkulit putih, saya berkulit hitam. Itu saja. Dan Tuhan tak pernah melihat warna. Tuhan menciptakan kami berbeda-beda agar kami belajar untuk saling memahami. Saya orang Jawa. Saya juga tak pernah diajari untuk meminta-minta karena tangan di atas lebih baik daripada tangan di bawah. Mungkin si pemuda melihat orang-orang ras saya yang pemalas dan suka meminta-minta. Saya tahu itu, dan saya mafhum. Saya pun tak menyukainya.


Si pemuda minta nomor telepon saya dan menawarkan diri untuk mengembalikan uang itu. Jantan sekali! (Cina sekali?) Tapi saya tidak bersedia memberinya nomor telepon. Esok paginya, saya mendapat kabar bahwa tulisan saya menang lomba dan saya berhak atas hadiah uang dari penerbit. Saya jadi teringat dia. Kalau saja saya tahu akan dapat uang, dia bukan hanya saya beri ongkos ngojek, tapi juga saya traktir makan.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s