I Like Monday! [intisari]

Kecuali robot, hampir setiap karyawan pernah punya masalah jenuh bekerja. Tak peduli bos maupun cecunguk perusahaan. Jika Anda termasuk salah satunya, <i>don wori, bi api</i>. Kita bisa menyelesaikan masalah itu asal mau melakukan sesuatu yang tak bisa dilakukan robot: mengubah pola pikir!

=====

“<i>Kujemu dengan hidupku….. kerja keras bagai kuda, dicambuk dan didera</i>.

Ulung dan Yuni, sepasang sohib karib yang bekerja di sebuah industri kimia, suka menyanyikan lagu Koes Plus ini bareng-bareng di tahun 2001. Waktu itu mereka sama-sama jenuh setelah bekerja selama dua tahun.

Keduanya jemu dengan hidup mereka yang tak beranjak dari mes ke pabrik. Berangkat kerja saat matahari baru terbit, lalu seharian berurusan dengan mesin dan bahan-bahan kimia. Pulang kerja menjelang matahari terbenam, masuk mes, <i>nonton</i> teve, tidur, bangun, kerja lagi, dan begitu seterusnya siklus hidup mereka.

Di akhir tahun, Ulung mengundurkan diri karena merasa tak sanggup lagi bertahan. Sementara sahabat karibnya memilih tetap di tempat. Tiga bulan setelah keluar, Ulung mengirim sms kepada sohibnya, “Secapek-capeknya kerja di pabrik, masih lebih enak daripada jadi pengangguran.”

Sementara itu Yuni mengubah irama hidupnya. Ia minta kepada bosnya untuk pindah ke posisi baru di level yang sama. Tiap minggu, ia kursus bahasa Inggris. Ia juga banyak membaca buku-buku psikologi pengembangan diri sampai buku-buku agama.

Dua tahun kemudian mereka bertemu lagi. Ulung bekerja di pabrik lain dengan pola pikir lama. Sementara Yuni telah banyak berubah. Dua bulan sebelumnya, ia dinobatkan sebagai karyawan terbaik, diangkat menjadi manajer, mendapat banyak fasilitas jabatan, bahkan sudah punya rumah dan pacar baru!

<b>Jangan diam di tempat</b>

Masalah jenuh bekerja bisa terjadi pada siapa saja, di mana saja. “Itu sangat manusiawi. Saya pun pernah mengalaminya,” kata Sylvina Savitri, psikolog lembaga konsultasi SDM Experd.

Meski wajar, bukan berarti kita punya alasan untuk membiarkan masalah ini. Jika dibiarkan berlarut-larut, problem ini bisa menimbulkan masalah baru yang lebih serius, prestasi kerja yang buruk, surat peringatan dari atasan, hingga didepak dari pekerjaan.

Salah satu penyebab utama timbulnya rasa jenuh adalah kondisi kerja yang monoton sepanjang waktu. Secara mental, manusia terus berkembang, tak peduli berepa pun usianya. Di setiap tahap perkembangan itu, ia butuh stimulasi. Jenuh adalah pertanda bahwa ia memerlukan stimulasi baru.

Pada masa kanak-kanak, stimulasi bisa berupa boneka atau mainan. Pada orang dewasa, stimulasinya berupa tantangan kerja atau pengetahuan baru. Ambang batas kejenuhan bisa berbeda-beda antarorang. Orang-orang tipe tertentu cepat jenuh dengan sesuatu yang monoton dalam hitungan bulan. Sementara orang lain bisa bertahan dalam hitungan tahun. Ini pun sama persis dengan anak-anak tertentu yang cepat bosan dengan mainan lama.

Jika fase bermain sudah lewat, seorang anak tak lagi tertarik dengan Teletubbies atau mobil-mobilan. Begitu pula pada orang dewasa. Jika setiap hari ia harus berhadapan dengan “mainan” yang sama dan situasi yang monoton, ia gampang merasa jemu. Apalagi jika ia telah melakukannya selama bertahun-tahun.

Agar tak mengalami kejenuhan, ia harus menerima tantangan kerja baru dan hal-hal baru lainnya. Ini salah satu kebutuhan dasar setiap orang karena otak manusia tidak didesain untuk stagnan di satu tempat, melainkan terus-menerus belajar hal-hal baru.

Idealnya, setiap orang bekerja di tempat yang memungkinkan ia bisa terus bertemu dan belajar hal-hal baru. Dengan adanya variasi, otak akan terus-menerus terstimulasi sehingga tak gampang jenuh.

Lebih ideal lagi jika setiap orang bekerja di bidang yang memang sesuai dengan karakter, minat, dan bakatnya. Jika ia senang bicara dan bergaul, sebaiknya dia bekerja di bidang yang memungkinkannya banyak bertemu orang lain.

Namun dalam praktiknya, kondisi ideal ini sulit dicapai. Banyak ora
ng bertipe ekstrover (suka bergaul) memperoleh pekerjaan yang mengharuskannya berkutat sepanjang hari dengan mesin-mesin industri. Jika tak pandai menyiasati, ia bakal gampang dihinggapi rasa jemu.

Untuk mengakalinya, “Orang seperti itu harus pandai-pandai mencari hal baru di luar pekerjaannya,” saran Sylvina, “Kalau libur Sabtu-Minggu jangan diam di rumah <i>aja</i>.” Harus ada keseimbangan antara urusan kerja dengan kehidupan di luar kerja.

Secara psikologis, masa libur bisa menjadi penyeimbang atas rutinitas monoton di kantor. Bentuk kegiatan pengisi liburan boleh berupa apa saja sesuai hobi: olahraga, nonton film, rekreasi, kegiatan sosial, <i>mancing</i>, atau bahkan sekadar jalan-jalan ke mal. Jika kejenuhan sudah sampai tahap kritis, ia bisa mengambil cuti selama beberapa hari untuk berlibur. Saat berlibur, pikiran tentang urusan kerja harus dimasukkan ke dalam laci.

Menurut Sylvina, jika masa liburan itu tidak dimanfaatkan untuk kegiatan di luar urusan kerja, maka kejenuhan pada minggu sebelumnya bisa terakumulasi pada minggu berikutnya. Saat Senin tiba, ia malah akan lebih merasa berat berangkat ke kantor.

<b>Pola pikir baru</b>

Jika memungkinkan, kita bisa secara asertif minta tantangan dan tugas baru kepada bos. Jika hal ini sulit dilakukan, setidaknya kita bisa menciptakan suasana baru di tempat kerja. Bentuknya bisa bermacam-macam mulai dari yang paling sederhana sampai yang sangat ekstrem.

Yang sederhana misalnya mengubah tata letak komputer dan meja kerja, rak buku, pot tanaman, foto pajangan, hingga <i>wallpaper</i> di monitor komputer. Jika perlu, kita bisa mengubah potongan rambut atau penampilan dan gaya berpakaian. Meski tampak sepele, perubahan-perubahan kecil ini tetap akan mempengaruhi <i>mood</i> kita. “Segala hal sebetulnya berpengaruh terhadap kita. Meja teman kita pun berpengaruh,” tandas Sylvina.

Supaya efek perubahan ini nyata, kita pun harus mengimbanginya dengan perubahan gestur tubuh. Dalam tinjauan psikologi, gestur tubuh dan suasana hati saling mempengaruhi. Seorang karyawan yang sedang jenuh bekerja biasanya cenderung duduk tidak tegap dengan posisi tulang belakang bengkok, air muka tak bersemangat, dan tampak lemas.

Hubungan ini bersifat timbal balik. Di dalam gestur yang sehat, terdapat pikiran yang sehat. Artinya, kita bisa mengubah suasana hati dengan cara mengubah gestur tubuh. “Kalau <i>mood</i> kita sedang enggak enak, senyum <i>aja</i> ke orang lain,” kata Sylvina memberi contoh. Secara langsung ini akan mempengaruhi suasana hati kita ke arah yang lebih positif.

Jika posisi duduk kita sudah mulai doyong, itu pertanda bahwa kita harus menegakkan kembali tulang punggung. Selanjutnya, kita harus berusaha menyelesaikan pekerjaan sebaik mungkin. Jika hasil kerja kita buruk, kita tak memperoleh kepuasan kerja, dan semakin terbebani dengan tugas kantor. Itu berarti kita lebih rentan mengalami kebosanan kerja.

Setelah mengubah penampilan luar, langkah berikutnya adalah mengubah “penampilan” dalam, yaitu pola pikir seperti yang dilakukan Yuni. Faktor kognitif ini tak kalah penting dibandingkan perubahan tampilan fisik.

Jika kita berpikir negatif dan beranggapan bahwa pekerjaan kita membosankan, maka kita pun akan gampang bosan sungguhan. Sebaliknya, jika kita berpikir bahwa pekerjaan kita menyenangkan, maka kita akan betul-betul menikmati pekerjaan itu.

Meskipun mungkin sulit, tapi secara bertahap kita bisa belajar mencintai pekerjaan. Kita bisa mulai dengan cara mencari sisi-sisi positif dari pekerjaan. Seorang akuntan yang pekerjaannya monoton dan tiap hari berurusan dengan angka-angka, pun bisa menemukan banyak sisi positif. Bahwa dengan kerja itu, ia bisa menyelamatkan uang perusahaan atau bahkan uang negara.

Semua pekerjaan punya sisi positif, bahkan termasuk satpam atau buruh pabrik sekalipun. Bahwa dengan bekerja, kita paling tidak bisa berguna bagi diri sendiri, keluarga, dan orang lain. Bahwa dengan bekerja, kita bisa berkarya, sekecil apa pun.

Jika pola pikir sudah kita ubah, gestur tubuh pun otomatis akan mengikuti. Sehingga, ketika kita duduk tegak dan tersenyum kepada rekan kerja atu bos, gestur dan senyuman kita memang benar-benar keluar dari hati. Bukan sekadar bermanis-manis muka.

<b>Ciptakan suasana nyaman</b>

Secara alamiah, manusia suka berada di dalam kondisi yang nyaman. Ia tak gampang bosan dengan sesuatu yang menyenangkan. Suasana nyaman bisa kita dapatkan dengan menciptakan kondisi kerja yang <i>gue banget</i>.

Jika Anda suka musik, manfaatkan kegemaran ini. Musik, kata Sylvina, punya pengaruh positif bagi penikmatnya terhadap ambang batas kejenuhan. Telinga adalah pintu masuk yang baik bagi rangsangan energi. Semangat kita bisa terus menyala jika kita mendengarkan “suara be
rgizi” yang bisa menjadi tonikum penjaga stamina kerja.

Menurut Sylvina, orang-orang yang bekerja di tempat kedap suara memiliki ambang batas jenuh yang lebih rendah. Artinya, mereka lebih gampang lelah dan bosan dengan kerja. “Kalau ada bos atau sekretaris yang minta ruangan kedap suara, itu keliru. Suasana seperti itu malah bikin <i>cepet</i> capek,” katanya.

Jika Anda penggemar musik klasik, Anda beruntung. Menurut Sylvina, musik klasik terbukti menunjukkan pengaruh paling bagus terhadap kesiagaan pikiran, dibandingkan jenis musik lainnya. Jika Anda bukan penggemar musik klasik, Anda tetap beruntung sebab suara bergizi bisa juga berasal dari musik jenis lain. Untuk melihat jenis musik yang paling nyaman buat Anda, tentu tak ada yang lebih tahu kecuali Anda sendiri.

Suara yang bergizi bukan cuma musik, tetapi juga humor atau obrolan ringan rekan kerja di meja sebelah. Jika Anda bukan pencipta humor yang baik, paling tidak carilah kawan yang humoris. Lebih bagus lagi, jika dia juga bisa menjadi tempat <i>curhat</i> sekaligus tempat belajar. Apalagi jika dia mau menjadi pacar.

Amboi!

Anda dijamin tak bakal jenuh bekerja.

Selain cara-cara di atas, kita pun bisa mengatasi kejenuhan kerja dengan cara belajar dari rekan sekantor yang semangat kerjanya tak pernah kendur. Aturannya sederhana dan klise: kalau teman kita bisa, kita pun bisa. Sekali lagi (agar semakin klise): kalau teman kita bisa, kita pun bisa!

Saran terakhir, jaga kesehatan. Ini bukan iklan suplemen multivitamin. Kesehatan tubuh adalah salah satu faktor yang menentukan ambang batas kejenuhan kerja. Mereka yang stamina fisiknya kuat punya risiko lebih kecil terhadap kejenuhan. Dalam kaitan inilah, olahraga punya dua fungsi, rekreasi sekaligus penyehat badan.

Pendek kata, ada banyak hal yang bisa membuat kita jenuh bekerja, tapi ada lebih banyak hal yang bisa kita lakukan untuk mengatasinya.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s