Surat Wasiat [doa]

Hari ini saya berutang kepada seorang kawan karib. Lumayan besar. Kepadanya saya berkirim sms, agar jika saya meninggal, ia menagih utang ke ahli waris saya. Tentu saja saya tak bermaksud bergurau. Teman saya membalas sms ini. Katanya, ia merinding membaca sms saya karena saya bicara tentang kematian. Dia bilang belum siap mati karena merasa dosanya banyak.

Dia pikir, saya tak merinding saat menulis sms itu. Sejujurnya, saya pun dihadang rasa gentar. Jangan-jangan sehari setelah itu saya mati betulan. Rupanya saya masih takut terhadap kematian. Ini membuktikan bahwa saya belum mempersiapkan diri untuk hal yang pasti ini.

Setelah mengirim sms itu, saya juga menulis di selembar kertas kecil di dompet bahwa saya punya utang kepada dia. Sekadar jaga-jaga seandainya saya mati betulan. Agar ahli waris saya tahu dan membayar utang itu. Agar kalaupun saya mati, ruh saya tak tergantung di antara langit dan bumi.

Tentu saja saya tidak berharap mati sebelum membayar utang. Tapi saya sadar, kematian bisa saja menjemput saya esok pagi. Satu jam sebelum tsunami datang, saya kira orang-orang Aceh tak pernah berpikir bahwa mereka akan bertemu Izrail di tengah gulungan ombak yang datang ke daratan.

Robbiy, tawaffaniy muslima, wa alhiqnii bish-shoolihiin.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s