Hidup Pas dengan Gaji Pas-pasan [intisari]

Supaya keuangan keluarga tidak tekor, ada dua aturan penting: menambah pemasukan dan atau menghemat pengeluaran. Jika dua unsur ini dipenuhi, neraca keuangan tak bakal defisit. Bahkan dengan gaji standar, seorang pegawai negeri sipil (PNS) pun bisa hidup layak tanpa perlu korupsi. Mana mungkin?

=====

Sangat mungkin!

Suhirman, Ahli Peneliti Utama, mantan Kepala Kebun Raya Indonesia, telah membuktikannya. Di zaman serbagesek ini, mencari keluarga yang tak pernah berutang jelas bukan urusan gampang. Tapi Suhirman bisa berkata dengan mantap, “Seingat kami, kami tidak pernah berutang.”

Padahal dari segi penghasilan, keluarga Suhirman adalah potret keluarga dengan penghasilan pas-pasan. Dengan gaji PNS di Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Suhirman harus berjuang agar bisa hidup layak dengan status sosial yang ia sandang.

Sejak awal berkeluarga, ia telah menerapkan aturan pertama, menambah pemasukan. Di samping menjadi peneliti LIPI, ia juga mengirim tulisan dan kartun ke media massa. Istrinya, Hartati, menjahit dan mengajar di sebuah SMP.

“Kebetulan saya tidak pandai pegang uang. Jadi yang mengelola, istri saya,” ujar doktor lulusan Portsmouth University, Inggris, ini. Tiap tanggal muda, ia menyerahkan semua gaji tunai kepada istrinya yang punya cara unik mengatur uang.

Tiap mendapat setoran, Hartati membagi-bagi uang tunai itu ke dalam amplop-amplop khusus. Masing-masing amplop berisi jatah untuk keperluan tertentu, antara lain zakat, jatah untuk orangtua, santunan anak yatim, tabungan bulanan, keperluan dapur, biaya untuk tiga putrinya, dan seterusnya. Dengan cara itu, biaya untuk satu kebutuhan tak akan menggerogoti jatah kebutuhan lainnya.

Semua pengeluaran dicatat. Bahkan jika butuh uang pun, Suhirman harus menjelaskan keperluannya kepada istri. “Kalau ada sisa, baru jajan. Sekali-sekali ke Excelso-lah,” ujarnya sambil tertawa lepas.

Karena dikelola dengan rapi, berapa pun pemasukannya, tiap bulan keluarga Suhirman selalu bisa menyisihkan uang untuk tabungan. Semua rencana ke depan diatur dengan tabungan. Dana haji, pendidikan anak, bahkan dana untuk kurban hari raya pun dikumpulkan sedikit demi sedikit dengan cara menabung. Butuh waktu lama, memang. Tapi dengan cara itu, semua rencana bisa berjalan mulus tanpa beban. “Jika menabung, uang itu kami ‘lupakan’ begitu saja, seolah-olah bukan uang kami,” kata Hartati.

Untuk menghemat pengeluaran, Suhirman tak merasa kehilangan gengsi dengan gaya hidupnya yang sederhana. Meski pangkatnya setingkat guru besar, ia berangkat ke kantor dengan pakaian yang sehari-hari dipakai di rumah. Prinsip yang ia anut, orang lain tak akan merendahkan dia asalkan ia berkelakuan baik dan berprestasi. “Yang penting, saya ‘kan tidak bau. Sederhana dan bau itu ‘kan lain,” katanya sambil ngakak.

Hingga sekarang pun, keluarga Suhirman masih menerapkan manajemen cara amplop. Tiap menerima uang, baik gaji maupun honor mengajar lukis dan aikido, Suhirman langsung menyerahkan ke istrinya. Lalu, sesuai prosedur tetapnya, Hartati membaginya ke dalam amplop-amplop khusus untuk zakat, jatah orangtua, santunan anak yatim, dan seterusnya.

Sekarang kakek-nenek dari tiga cucu ini menikmati hari tuanya dengan aman sentosa. Badan sehat, rumah punya, mobil tersedia, tabungan ada, haji sudah ditunaikan, tiga putrinya telah lulus kuliah dan berkeluarga, zakat jalan terus, santunan anak yatim tak berhenti, kurban hari raya tak pernah lupa, kiriman untuk orangtua tak pernah macet, penghasilan bulanan pun masih terus mengalir. Hingga kini Suhirman masih aktif sebagai peneliti, mengajar aikido dan melukis, sementara Hartati mengajar privat bahasa Inggris.

Siapa menanam, dia menuai.

Manajemen angin bertiup

Mengelola keuangan keluarga bisa dibilang gampang-gampang susah. Gampang jika direncanakan matang. Susah jika mengikuti cara “nanti sajalah”.

Agar pengelolaan uang bisa matang, tentu saja Anda tak harus datang ke konsultan perencana keuangan. Muhamad Ichsan, konsultan Prime Planner, membagikan kiatnya untuk Anda. Gratis!

Kiat pertama, biasakan berpikir jangka panjang.

Penelitian AC Nielsen di Asia Tenggara membuktikan, gaji kaum profesional Indonesia umumnya lebih rendah dibanding di negara lain. Tapi tingkat konsumsi mereka lebih tinggi. Jika punya uang, mereka cenderung konsumtif dan membelanjakannya “mengikuti angin bertiup”. Perkara esok tak punya uang, itu urusan nanti. Umumnya mereka tak punya bayangan jika ditanya rencana 10 – 20 tahun ke depan.

Sekilas mungkin terdengar konyol membicarakan rencana belasan tahun ke depan. Tapi itulah perencanaan keuangan. Jika Anda ingin menyekolahkan anak di sekolah terbaik, Anda harus mulai menabung untuknya meskipun ia masih di dalam kandungan.

Menabung sejak dini punya banyak keuntungan. Pepatah lama masih belum berubah: sedikit demi sedikit, lama-lama menjadi bukit. Dari segi investasi pun cara ini menguntungkan. Semakin lama Anda menyimpan tabungan di bank, jumlahnya akan semakin meningkat, bukan lagi mengikuti persamaan linier tapi eksponensial. Kenaikan bunganya tak lagi lurus, tapi semakin menanjak.

Pada masa-masa awal berkeluarga, masalah keuangan keluarga relatif belum kompleks. Segalanya masih terasa manis madu cinta suam-suam kuku. Cerita akan menjadi lain saat usia suami-istri mencapai 40 – 50 tahun. Pada usia ini, mereka memiliki banyak tanggungan, terutama pendidikan anak. Pada saat itulah manfaat perencanaan keuangan betul-betul dirasakan.

Karena itu, sejak awal menikah setiap pasangan harus mulai membicarakan rencana keuangan keluarga. Jika kebetulan suami tak pandai memegang uang, seperti Suhirman, istri harus menjadi bendahara. Jika kebetulan istri hobi belanja, suami harus bisa menjadi rem. Paling tidak, salah satu dari pasangan harus memiliki kesadaran tentang manajemen uang.

Berpikir terbalik

Kiat kedua, nabung dulu, belanja belakangan.

Umumnya kita terbiasa berpikir sebaliknya. Begitu menerima gaji, kita akan menyisihkan untuk membeli ini itu. Jika ada sisa, baru menabung. Cara berpikir macam ini harus diputar 180 derajat. Menabung harus masuk daftar pertama begitu menerima gaji.

Besarnya tabungan, saran Ichsan, paling tidak sepuluh persen dari penghasilan bulanan. Lebih bagus lagi jika bisa lebih. Kalau sudah terbiasa dengan sepuluh persen, Anda bisa meningkatkan persentasenya sesuai dengan tujuan jangka panjang yang ingin Anda capai.

Berapa pun penghasilan Anda, jatah tabungan harus diprioritaskan. Jika tidak, maka gaji Anda hanya akan numpang lewat di rekening, tak peduli berapa pun besarnya. Gaji naik pun dijamin tak akan bersisa.

Tabungan ini harus dipisahkan di dalam rekening khusus dan tidak boleh diutak-atik untuk belanja. Jika bisa, tabungan itu sebaiknya disimpan di bank yang tepercaya tapi tidak gampang diakses. Yang kantor cabangnya jauh dari kantor Anda, dan jika hendak diambil, Anda harus melewati antrian. Dengan cara itu, Anda tak gampang tergoda untuk memakainya.

Jika Anda menyimpan di bank yang ATM-nya tersebar di mana-mana, Anda akan mudah tergoda untuk mengambilnya. Begitu melihat poster Diskon Gila-gilaan, Anda bisa ikut gila dan terdorong untuk pergi ke ATM.

Bagi yang tak suka menabung, Ichsan punya saran bagus: ikut asuransi. Ini bisa menjadi cara lain agar Anda disiplin menyisihkan uang. “Kalau enggak bayar premi ‘kan ditelepon,” katanya. Kalau tak bisa menabung atau ikut asuransi, Anda bisa ikut arisan. Pendek kata, segala macam cara harus Anda tempuh agar bisa menyisihkan uang untuk rencana ke depan.

Kiat ketiga, bedakan kebutuhan dan keinginan.

Ini saran yang menarik. Dalam praktik sehari-hari, kita sering sulit membedakan kebutuhan (need) dan keinginan (want). Menurut Ichsan, kebutuhan adalah sesuatu yang harus Anda miliki. You have to have it. Sedangkan keinginan adalah sesuatu yang tidak harus Anda miliki, tapi membuat Anda puas jika memiliknya. It’s nice to have it.

Jika tanpa mobil, Anda tak bisa bekerja, berarti Anda sedang berhadapan dengan kebutuhan. Tapi jika masalahnya adalah memilih BMW atau Kijang, Anda sedang berhadapan dengan keinginan.

Tas kerja pun bisa masuk sebagai kebutuhan. Tapi jika masalahnya menyangkut tas buatan Prancis warna pink yang kesebelas, itu berarti Anda sedang berhadapan dengan keinginan. Jika tidak dibedakan secara jelas, keinginan bisa menjadi sumber pengeluaran uang yang sulit dikontrol.

Agar terbedakan jelas, Anda dituntut untuk tidak gampang terbujuk iklan. Sebagian besar produk yang ditawarkan iklan bukan kebutuhan melainkan keinginan. Dengan memberi batas yang jelas, Anda bisa membedakan ketika butuh televisi dan ingin home theatre.

Variasi dan bumbu

Kiat keempat, dokumentasikan keuangan keluarga.

Meski tampak sepele, manfaat dokumentasi tak seremeh kelihatannya. Tentu saja catatan tidak harus sedemikian detail seperti akuntansi betulan. Jangan sampai waktu tidur apalagi jam kerja Anda terganggu hanya karena mencatat harga jarum pentul atau minyak angin. Yang penting, catatan itu harus bisa memberi gambaran buat Anda jika melakukan evaluasi.

Sebab, bisa saja tanpa sadar Anda tiap bulan mengeluarkan uang untuk sesuatu yang semestinya bisa dicoret dari daftar pengeluaran. Jika terjadi defisit anggaran, catatan itu akan membantu Anda mengidentifikasi biang keladi pengeluaran, misalnya ternyata karena Anda hobi membeli gadget atau barang elektronik.

Secara berkala, misalnya tiap enam bulan sekali, lakukan financial check-up. Periksa kesehatan keuangan keluarga agar kalau ada tanda-tanda defisit, Anda bisa mengantisipasinya.

Kiat kelima, sesuaikan kapasitas.

Jika terpaksa berutang atau kredit, usahakan tak melampaui kapasitas Anda. Besar cicilan per bulan tak boleh lebih dari 30 persen dari penghasilan bulanan. Sebagai contoh, jika gaji Anda Rp 1 juta, total cicilan yang Anda bayar per bulan tak boleh lebih dari Rp 300 ribu. Ini batas lampu merah yang tak boleh dilewati.

Agar pengeluaran terkontrol, Anda bisa meniru cara Ichsan. Ia membiasakan diri pergi ke ATM, mengambil sejumlah uang tiap hari Kamis, bukan setiap punya niat belanja. Uang ini ia gunakan untuk biaya kebutuhannya selama seminggu. Kecuali ada hal tak terduga, ia tidak akan datang ke ATM lagi sebelum hari Kamis. Dengan cara ini, pengeluaran uang menjadi terkontrol.

Kiat keenam, jangan lupa bumbu.

Bagi sebagian orang, model perencanaan keuangan macam ini bisa membuat hidup terasa monoton dan mekanis bahkan terkesan pelit. Untuk menghindari itu, Anda perlu membuat variasi dan memberi bumbu di tengahnya. Hidup harus sederhana, tapi tak ada salahnya sesekali minum kopi di Excelso atau berlibur sekeluarga.

Model perencanaan keuangan keluarga, tandas Ichsan, bukanlah harga mati yang kaku. Ia tidak dibuat sekali untuk dipakai seumur hidup. Dalam perjalanan, model ini bisa direvisi dan dikoreksi sesuai dengan kondisi. Bisa saja tanpa diduga Anda mendapat durian runtuh, misalnya memenangkan kuis Who Wants To Be A Millionaire. Siapa tahu?

Dengan memberi bumbu, hidup Anda tak akan terasa monoton. Dan yang lebih penting, Anda bisa hidup cukup dengan penghasilan pas-pasan, tanpa harus memiara tuyul.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s