Mendulang Rupiah dari Rumah [intisari]

Selain sebagai tempat tinggal, rumah bisa Anda sulap menjadi tempat mendulang uang. Syaratnya cuma kreatif dan ulet. Modal kecil bukan masalah besar. Anda bisa membuktikannya.

=====

Tak peduli pria atau wanita, Anda pasti kenal dengan produk kecantikan Mustika Ratu dan Sari Ayu. Dua raksasa merek kosmetik milik, masing-masing, Mooryati Soedibyo dan Martha Tilaar ini adalah bukti bahwa usaha yang dimulai dari garasi rumah bisa menjadi perusahaan besar.

Belajar dari keberhasilan Mooryati, Yanty Isa, mantan Manajer Merek Mustika Ratu berhasil membuktikan hal serupa. Dari rumahnya di Kebayoran Baru, Jakarta, Yanty memulai usahanya di bidang bumbu masak MagFood (2001) dan makanan cepat saji Red Crsipy (2003).

Sebelum terjun total berwirausaha, Yanty telah mencapai posisi manajerial di beberapa perusahaan nasional dan multinasional. Jelas bukan perkara mudah untuk melepas kedudukannya yang telah mapan, dan memulai usaha dari nol. Tapi itulah wirausaha. Salah satu modal penting seorang <i>enterpreneur</i> adalah keberanian mengambil risiko.

Pilihannya terbukti tidak keliru. Hanya dalam tempo beberapa tahun, kini bumbu masak MagFood dan konter Red Crispy telah menjangkau kota-kota besar di Indonesia. Dalam dua tahun saja, <i>outlet</i> waralaba Red Crispy telah mencapai 200-an di seluruh Indonesia. Uniknya, meski telah menjangkau wilayah nasional, kedua perusahaan ini masih memanfaatkan ruang tamu di rumah tinggal Yanty sebagai kantor pusat.

Dari rumah tinggal itulah, Yanty mengendalikan bisnisnya. Ruang tamu disulap menjadi ruang kerja adimistrasi. Dapur dan garasi dimanfaatkan sebagai ruang produksi dan pelatihan memasak.

Sebelum menekuni usaha bumbu masak, sarjana teknik lingkungan ITB ini mengaku telah beberapa kali menjalankan bisnis yang berhubungan dengan latar belakang kesarjanaannya. “Semuanya gagal!” akunya tanpa malu-malu.

Tapi kegagalan tak membuatnya patah arang. Ia mengaku justru banyak memperoleh pelajaran. Dengan niat membangun bisnisnya sendiri, ia mengambil program MBA di bidang pemasaran di ITB.

Dengan bekal pendidikan plus pengalamannya bekerja di Mustika Ratu dan Nestle Indonesia, Yanty mengembangkan bisnisnya. Ia mengaku pada mulanya menjalankan bisnis dengan cara <i>trial and error</i>. Belakangan ia sadar, cara itu keliru. “Bisnis itu ada ilmunya. Kalau mau jadi pengusaha, kita bisa belajar dari orang lain,” tandasnya.

Setelah sukses berbisnis, ia mendirikan Yayasan Bina Karsa Mandiri (YBKM) bersama dua rekannya sesama pengusaha yang sukses, Jackie Ambadar dan Miranty Abidin. Bidang garap YBKM pun tak jauh-jauh dari hobinya yaitu bisnis. Lewat yayasan yang juga menerbitkan buku-buku wirausaha ini, ia bersama dua rekannya menularkan ilmu bisnis untuk mencetak pengusaha-pengusaha baru.

<b>Selalu ada peluang</b>

Pedoman umum bisnis rumahan tak beda jauh dengan bisnis kantoran. Hal pertama yang perlu ditentukan adalah jenis usaha. Ini tahap yang sangat menentukan.

Untuk mendapatkan ide, Anda tak perlu menunggu wangsit dari langit atau bertanya ke paranormal. Ada banyak cara yang bisa Anda tempuh. Salah satunya, biasakan untuk mengamati keadaan sekeliling secara cermat. Amati apa saja! Anda harus yakin bahwa peluang bisnis selalu ada.

Berbisnis pada dasarnya adalah menawarkan barang atau jasa kepada orang lain. Sedangkan urusan manusia di dunia ini begitu banyak jenisnya. Kebutuhan dan keinginan manusia tak mengenal batas.

Jack Foster, penulis buku <i>How To Get Ideas</i>, punya definisi bagus: Ide adalah kombinasi dari dua unsur lama. Tak lebih, tak kurang.

Tahun 1867, ketika orang-orang hanya berpikir tentang susu cair, Henry Nestle, pendi
ri perusahaan multinasional Nestle, menciptakan ide baru untuk membuat susu bubuk. Tahun 1995, ketika orang-orang berpikir tentang permen sebagai <i>emut-emutan</i> saja, Bin Tat, bos PT Graha Estetika berpikir maju. Ia menciptakan ide untuk membuat permen sebagai alat promosi dengan cara mencetak nama perusahaan di bungkus permen.

Terbukti, kedua ide ini sukses menjadi bisnis besar. Nestle mengombinasikan dua unsur lama: susu cair dan sereal. Bin Tat pun menggabungkan dua unsur lama: permen dan iklan.

Dengan kata lain, jika orang lain sudah hiruk-pikuk membuat wartel atau konter telepon seluler, Anda sebaiknya tidak melakukan hal yang sama. Anda bisa saja membuka konter yang sama, tapi harus punya nilai tambah dari konter-konter serupa. Inilah yang Anda jual.

Jangan ikut-ikutan bisnis orang lain, temukan sendiri bisnis Anda. Saat awal Aqua memulai bisnis air mineral, banyak orang mencibir. Tapi sekarang, puluhan merek air mineral dalam kemasan menjadi bebek, mengekor kesuksesan Aqua.

Ide bisnis bisa juga datang dari pengalaman bekerja di perusahaan. Resep ini pula yang dipakai Yanty. Saat bekerja di Nestle Indonesia, ia banyak menangani proyek pengembangan produk bumbu masak. Begitu memutuskan berwirausaha, ia menggeluti bidang ini tapi dengan sentuhan tangannya sendiri.

“Jadilah <i>inventor</i>. Kalau mau bikin bisnis, jangan yang sama dengan orang lain. Usaha saya memang rumahan, tapi tidak sama dengan kebanyakan ibu-ibu rumah tangga,” kata Yanty. Agar beda dari produk bumbu masak serupa, Yanty menawarkan konsep <i>taylor made</i> kepada konsumennya. Konsep yang ia jual, <i>lu minta, gue bikinin</i>. Jika misalnya sebuah perusahaan keripik atau mi instan minta dibuatkan rasa balado atau sup bakso yang berbeda dari produk-produk lain, MagFood akan melayani sesuai permintaan.

Itu sebabnya, meski berupa bisnis rumahan, MagFood memiliki divisi Research & Development. Divisi inilah yang bertugas mengembangkan formula ratusan rasa bumbu masak.

Untuk produk Red Crispy, Yanty pun menawarkan sesuatu yang beda. Slogan yang ia usung: <i>harga lokal, rasa internasional</i>. Soal rasa, ia menjamin cita rasa ayam gorengnya tak kalah dengan ayam goreng serupa di restoran-restoran cepat saji kelas mal. Bedanya, Red Crispy membidik pasar anak-anak dan remaja. Gerai-gerainya pun tidak mengambil tempat di mal-mal tetapi <i>bergerilya</i> di sekolah, kampus, dan perumahan.

<b>Belajar dari orang lain</b>

Pada tahap pencarian ide, Anda bisa membebaskan kreativitas sebebas-bebasnya. Setelah itu saring ide-ide tersebut dan tentukan mana yang paling tepat untuk Anda, dengan sumber daya yang Anda miliki. Yang jelas, bisnis itu harus bisa dijalankan dari rumah.

Yanti mengaku memulai bisnis MagFood dengan modal Rp 180 juta. Lumayan besar. Maklumlah, ia sengaja membidik pasar industri produk-produk makanan. Namun untuk ukuran sebuah perusahaan skala nasional, angka ini tergolong kecil.

Di dalam dunia wirausaha ada satu pedoman bahwa untuk memulai bisnis tak selalu diperlukan modal besar. Jackie Ambadar, rekan Yanty di YBKM, mengawali bisnis perlengkapan bayi merek Le Monde tahun 1982 dengan modal Rp 900 ribu yang dikumpulkan secara patungan bersama saudara-sudaranya. Kini bisnis ini punya omzet miliaran rupiah.

Modal besar bukan faktor utama. Buktinya, banyak ahli waris konglomerat yang tidak bisa meneruskan bisnis orangtuanya karena mereka hanya mewarisi uang tapi tak mewarisi kreativitas dan keuletannya. “Kreativitas bisa menghasilkan uang. Tapi uang tidak bisa menghasilkan kreativitas,” tandas Yanty.

Untuk memacu kreativitas dan keuletan berwirausaha, saran Yanty, rajin-rajinlah membaca dan belajar dari kesuksesan para pebisnis. Ia sendiri mengaku banyak belajar dari Mustika Ratu dan Nestle, dua perusahaan yang pernah menjadi tempat ia berkarya dan menimba ilmu.

<b>Rumahan bukan murahan</b>

Bisnis di rumah memiliki keuntungan jelas dalam hal penghematan modal. Pada contoh MagFood dan Red Crispy, Yanty mengaku bisa menghemat modal ratusan juta rupiah, yang mestinya ia gunakan untuk biaya sewa tempat. Bisnis rumahan juga memudahkan pengawasan. Saat waktu luang di malam atau pagi hari, Yanty bisa mengecek dokumen-dokumen bisnis.

Hanya saja, berbagai keuntungan ini harus ditebus dengan hilangnya sebagian fungsi rumah tinggal. Karena dipakai sebagai ruang kerja, ruang tamu kehilangan fungsi privatnya. Yanty harus menemui tamu-tamunya di sebelah empat karyawan yang sedang mengetik atau menerima telepon. Ruang khusus keluarga pun tak ada lagi. Dua orang putrinya harus bermain satu ruang dengan karyawan yang sedang melayani pesanan. “Tapi saya menganggap itu sebagai investasi, pengorbanan untuk masa depan,” ujarnya.

Yang harus dicatat, kata Yanty, bisnis rumahan tak boleh selamanya memanfaatkan rumah sebagai kantor. Artinya, ketika memulai bisnis, Anda harus menghitung, setelah sekian tahun kantor harus pisah dari rumah tinggal. “Saya j
uga begitu. Dalam beberapa tahun ke depan, saya pun harus pindah ke kantor baru,” tutur Yanty.

Agar perhitungan bisa matang, bisnis harus dijalankan dengan profesional, tidak asal-asalan. Meski usahanya kelas rumahan, Yanty tak mau bisnisnya berkelas murahan. Karena itu, ia mengelola bisnisnya dengan cara seperti mengelola perusahaan besar. Semua aturan pendirian usaha ia penuhi. Produk-produknya terdaftar di Departemen Kesehatan dan memperoleh sertifikat halal.

Semua tata cara kerja dibuat dalam bentuk prosedur tetap (protap). Mulai dari cara meracik bumbu sampai prosedur pengolahan data administrasi. Semua punya <i>standard operating procedure</i> (SOP).

Dengan adanya protap, bisnis bisa tetap berjalan meskipun karyawan tidak diawasi terus-terusan. “Henry Nestle itu sudah lama meninggal, tapi bisnisnya masih tetap jalan. Itu karena sistemnya jalan,” papar ibu dari dua anak ini.

Adanya protap juga menjamin kualitas produk selalu tetap meskipun dikerjakan oleh karyawan yang berbeda. Ini untuk menjamin rasa ayam gorengnya tetap sama meskipun dimasak oleh si Amir ataupun si Budi. Pada bisnis bumbu masak dan makanan cepat saji yang mengandalkan cita rasa, faktor ini tentu saja memegang peranan penting.

Persis seperti manajemen perusahaan besar, ia pun mendelegasikan wewenang manajerial harian kepada seorang <i>kepala suku</i> yang kebetulan memiliki saham di perusahaan itu. Urusan keuangan pun ia percayakan kepada <i>kepala suku</i>. Ia hanya perlu mengaudit laporan keuangan secara berkala.

Berkat sistem manajemen mutu ini, bisnis rumahan Yanty kini telah membuka lapangan kerja buat 40-an orang. Sementara waralaba Red Crispy telah memberi kesempatan kerja bagi ratusan orang di seluruh Indonesia.

Semua berawal dari ruang tamu dan garasi rumah.

Advertisements

3 thoughts on “Mendulang Rupiah dari Rumah [intisari]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s