Perang Melawan Hepatitis C [intisari]

[ini untuk kali pertama saya sadar bahwa lomba menulis buat wartawan bisa menjadi praktik amplop gaya baru]


Virus penyakit ini seperti agen rahasia. Menular secara sluman slumun slamet. Banyak yang terinfeksi, tapi selama bertahun-tahun tak merasa apa-apa. Umumnya, pengidap baru sadar setelah dirawat di rumah sakit atau setelah berada di kamar periksa dokter.

Dibanding dua saudara tuanya, hepatitis A dan B, penyakit ini memang kalah populer. Padahal, bagi para dokter, virus hepatitis C jauh lebih bengal karena susah dicegah maupun diobati. Jika dua kakaknya bisa dicegah dengan vaksin, vaksin hepatitis C belum ditemukan. Meski namanya berurutan alfabetis, dia tak punya hubungan famili dengan dua kakaknya yang lebih dulu ditemukan.

Di dunia, pengidapnya diperkirakan 170 juta. Di Indonesia, jumlahnya sekitar 6 – 7 juta, atau 3% dari total penduduk. Sebagai penyakit rakyat yang sulit disembuhkan, angka ini jelas sangat merisaukan. Celakanya, mayoritas penderita berasal dari kalangan usia produktif. Karena itu tak mengherankan jika Departemen Kesehatan perlu melakukan kampanye peduli hepatitis C pada tanggal 1 Oktober yang lalu.

Sekitar 10 – 20%, infeksi memang akan sembuh sendiri karena dilawan oleh reaksi kekebalan tubuh. Namun sisanya 80-90%, akan terus menggerogoti lever dan menjadi kronis. Jika dibiarkan terus, kira-kira 25 – 35% akan menjadi sirosis dan karsinoma yang bisa mengancam jiwa. Sebagian lainnya berkembang sangat lambat sehingga tidak mengancam kesehatan penderita sampai serius.

Menumpang Sisir

Seperti virus hepatitis yang lain, virus hepatitis C dapat berpindah inang. Tidak pandang bulu, tak lihat uban, tak peduli kaya atau miskin. Cara penularannya pun berbagai-bagai.

Pertama, lewat tranfusi darah. Ini terutama perlu diwaspadai oleh mereka yang menjalani tranfusi sebelum tahun 90-an. Pada masa itu, darah pendonor belum bisa dipastikan terkontaminasi virus ini ataukah tidak. Sebab, metode pemeriksaan virus hepatitis C (anti-HCV) belum dikembangkan.

Kedua, lewat pemakaian bersama jarum suntik, persis seperti penularan HIV. Menurut Prof. Dr. dr. Suwandhi Widjaja, Sp.PD, dari Rumah Sakit Medistra, Jakarta, kelompok paling rentan adalah pemakai narkoba suntik, tindik, atau tato. Berdasarkan pengalamannya, golongan usia antara 20 – 30 tahun menempati ranking pertama dalam urusan jumlah. “Saya punya bukti tentang ini,” tandasnya sambil menunjukkan data di notebook-nya.

Ketiga, pemakaian bersama alat perawatan tubuh seperti silet cukur, sikat gigi, sisir, gunting kuku, dan koin kerok. Ini adalah masalah remeh-cemeh yang luput dari perhatian kebanyakan orang—tapi mudah-mudahan Anda tidak. Sambil mengutip hasil penelitiannya di Kali Anyar, Jakarta Barat, Suwandhi menandaskan, “Penularan dalam satu keluarga bukan hanya dugaan, tapi benar-benar terjadi”.

Mungkin terdengar aneh, alat-alat bersih diri bisa menularkan hepatitis C. “Kalau nyisirnya keras kan bisa nggaruk sampai luka,” terang guru besar Fakultas Kedokteran Universitas Atmajaya ini. Begitu pula dengan sikat gigi, silet cukur dan gunting kuku, yang sangat mungkin menyebabkan luka, meskipun kecil dan tidak kelihatan. Demikian juga dengan kerokan, pengobatan rakyat yang sangat populer. “Jangan pinjamkan koin kerok untuk dipakai bersama,” pesannya. Bagi virus ini, luka sekecil apa pun bisa menjadi jalan masuk.

Di luar cara-cara di atas, ada cara penularan lain yang disertai catatan. Pertama, lewat hubungan seksual. Menurut Suwandhi, hepatitis C relatif kurang menular lewat cara ini dibandingkan hepatitis B. “Kemungkinannya sangat kecil, sepanjang dilakukan dengan pasangan tetap,” papar doktor lulusan Faculteit Geneeskunde Katholieke Universiteit Leuven, Belgia ini. Tetapi bila dilakukan dengan berganti-ganti pasangan, garansi ini tidak berlaku.

Kedua, penularan vertikal dari ibu ke bayi. Kemungkinannya juga sangat kecil. Center For Disease Control and Prevention, Amerika Serikat, bahkan memberikan jaminan tegas bahwa hepatitis C tidak menular lewat air susu ibu (ini juga berlaku untuk hepatitis B).

Suwandhi menambahkan, untuk masyarakat Indonesia, kesadaran ini harus ditanamkan betul. Selain karena ASI sangat diperlukan untuk pertumbuhan dan imunitas, harga susu kemasan masih terhitung mahal bagi banyak keluarga Indonesia. Jika ibu-ibu tidak menyusui anaknya karena takut menulari, maka dikhawatirkan si anak justru akan mengalami malagizi.

Yang harus dicatat, kita tidak perlu takut untuk bersentuhan dengan penderita dalam hubungan sehari-hari. Sebab, virus ini tidak menular lewat senggolan badan, jabat tangan, dan sejenisnya. “Kita tidak boleh mengucilkan penderita, apalagi sampai menganjurkan untuk mengeluarkannya dari lingkungan kerja!” lanjutnya. Dalam pandangan Suwandhi, stigma masyarakat dapat menjadi kendala yang negatif dalam memerangi penyakit ini.

Bisa Sembuh

Hingga kini, masih banyak yang beranggapan penyakit ini adalah vonis akhir sembari menunggu kematian. Anggapan ini mungkin benar untuk satu dasawarsa lalu. Sebab, terapi interferon biasa waktu itu hanya memberi harapan sembuh sekitar 10 – 15%.

Namun, dengan terapi paling muta
khir, angka ini sekarang telah berubah menjadi sekitar 80% untuk genotipe tipe 2 atau 3. Khusus untuk tipe 1b, harapan sembuh masih fifty-fifty.

Penyebab utamanya adalah kelihaian virus ini berubah-ubah bentuk. Ajian malih rupo ini didapat karena ia tergolong virus RNA (ribonucleic acid), sehingga cetak birunya berubah-ubah. Sampai saat ini dikenal ada 6 genotipe yang penyebarannya berbeda-beda. Di Indonesia, paling banyak tipe 1b, sedang di Afrika tipe 4.

Dalam satu genotipe pun ada berbagai subtipe. Karena itulah vaksin hepatitis C belum bisa diciptakan. Sebab, vaksin hanya bisa bekerja jika virus tidak mengalami mutasi terus-menerus. Ini berbeda dengan virus hepatitis B yang tergolong virus DNA (deoxyribonucleic acid). Cetak birunya relatif stabil dan bagus.

Meski demikian, hepatitis C tetap bisa disembuhkan dengan kombinasi pegylated interferon dan ribavirin. Sayangnya, teknik pengobatan ini bisa memindahkan virus dari hati ke dompet penderita. Sebagai gambaran, harga pegylated interferon dan ribavirin sekitar Rp.8 – 10 juta perbulan. Sementara pengobatan butuh waktu enam bulan untuk genotipe 2 dan 3, dan satu tahun untuk genotipe 1b. Tak perlu ambil kalkulator untuk menghitung.

Kelemahan lainnya, pengobatan ini memiliki efek samping yang bisa membuat kualitas hidup pasien justru menurun selama menjalani terapi. Saat mendapat suntikan interferon pertama kali, pasien bisa menggigil, pegel linu, dan nafsu makan berkurang, seperti ketika menderita influenza (untungnya, berbagai keluhan ini berkurang pada suntikan-suntikan berikutnya).

Selama pengobatan, ribavirin akan membuat pasien menjadi kurang darah. Selain itu, interferon juga bisa membuat pasien mengalami depresi. Karenanya pengobatan ini tidak dianjurkan untuk mereka yang mengalami gangguan mental. “Bisa-bisa bunuh diri,” katanya sambil terkekeh.

Paling akhir, pengobatan ini tetap tidak bisa memberikan jaminan sembuh 100%. Pada orang-orang tertentu, terapi ini menghasilkan respons parsial. Saat dibombardir interferon dan ribavirin, virusnya turun. Namun begitu obat dihentikan, virusnya langsung nongol lagi.

Bahkan pada sebagian penderita, terapi ini sama sekali tidak menghasilkan respos. Meski dihajar dengan dua obat tersebut, virusnya tetap saja mentheleng. “Ini semua harus diketahui pasien. Jangan sampai mereka mengeluh. Sudah menghabiskan banyak uang, kok enggak sembuh-sembuh,” paparnya.

Menurut Suwandhi, ada empat faktor yang mempengaruhi berhasil tidaknya terapi ini. Pertama, tingkat keparahan. Berdasarkan pengalamannya, semakin dini ditangani, semakin besar tingkat keberhasilannya. Namun jika kondisi lever sudah sampai sirosis, maka hanya 10% yang dapat disembuhkan.

Kedua, usia saat terinfeksi. Jika seseorang terinfeksi pada usia 50-an tahun, maka setelah sepuluh tahun kemudian, kondisinya mungkin sudah sirosis. Namun jika infeksi terjadi pada usia muda, biasanya dalam jangka sepuluh tahun kemudian, fungsi levernya masih belum terlalu mengkhawatirkan.

Ketiga, jenis kelamin alias gender. Meski belum diketahui penjelasannya, namun umumnya laki-laki memberikan respon lebih jelek daripada perempuan.

Keempat, genotipe virus. Dari berbagai genotipe yang sudah berhasil dikenali, tipe 1b merupakan genotipe paling badung di antara genotipe yang lain. Karena itulah, angka kesembuhan hepatitis C tipe ini paling kecil (50%) dengan waktu terapi paling panjang (1 tahun).

Obat Tradisional

Karena harga interferon dan ribavirin yang menguras kantung itulah, tidak sedikit penderita hepatitis C yang berpaling pada obat-obatan tradisional. Tak jarang, dokter pun memberikan buat pasiennya. Mulai dari obat-obat tradisonal cina atau jepang yang biasanya mengandung glycyrrhizin dan alkaloid schizandrae, silymarin, hingga temu lawak dan meniran.

Meski belum bisa disepadankan dengan penelitian internasional, namun berdasarkan pengamatan Suwandhi, obat tradisional memang bisa memperbaiki fungsi hati. Umumnya pasien mengaku merasa lebih baik. Sayangnya, perbaikan fungsi hati ini tidak diikuti dengan hilangnya virus dari dalam darah. Sebab itu, hingga kini penelitian-penelitian yang lebih rinci dengan standar baku internasional masih terus dipikirkan.

Karena alasan biaya dan tingkat kesulitan terapi inilah, Suwandhi menandaskan, jalan utama memerangi hepatitis C adalah pencegahan dan pencegahan—selain tentunya dengan perbaikan kondisi sosial ekonomi. Persis seperti slogan HIV/ AIDS: Anda bisa kena, tapi Anda bisa mencegahnya. Semua lapisan masyarakat harus mendukung upaya pemerintah. Hanya dengan kerja sama yang padu, kita boleh berharap prevalensi penyakit hepatitis C dapat diturunkan dan dikendalikan.

So, hindari penggunaan jarum secara berjamaah. Jika ada yang meminjam silet cukur atau sikat gigi, Anda tak perlu ragu untuk minta maaf. Ayam sori….! Mulai sekarang, pikirkanlah alasan yang tepat dan halus, sehingga tak perlu menyinggung perasaan orang lain. Jika perlu, tunjukin artikel ini.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s