Saya Percaya Lia Aminuddin [igauan]

Ramainya pemberitaan Lia Aminuddin mengingatkan saya pada pengalaman ketika saya menunggui seorang yang saya sayangi, yang menderita skizofrenia di rumah sakit. Dari tempat tidurnya, dia berkhotbah di depan saya. Ia menyuruh saya membangun sebuah masjid di sebuah tempat di Lamongan. Ia juga menyuruh saya membangun istana buat dia, tepat di seberang mesjid itu. Sambil terbaring di atas tempat tidurnya, ia menyuruh saya menuliskan kata-katanya, yang menurut dia adalah sebuah dekrit, dan menyuruh saya menyerahkan dekrit itu kepada wakil presiden Hamzah Haz, waktu itu.

Sebelum itu, ia sempat mengalami serangan skizofrenia episode pertama. Ia mengaku didatangi oleh Gus Dur, yang waktu itu menjadi presiden. Kata dia, Gus Dur memintanya untuk menggantikan posisinya sebagai presiden.

Ketika keluar dari rumah sakit jiwa dan menjalani hidup normal, ia bercerita bagaimana ia merasakan pengalaman itu benar-benar nyata. Seperti Gus Dur betul-betul datang ke rumahnya, menemui dia untuk memintanya menjadi presiden. Sangat nyata!

Saya ingin membuat analogi, tapi tentu saja saya tak hendak mengatakan Lia Aminuddin mengalami episode skizofrenia. Gejala psikiatrik sangat banyak macamnya, sama banyaknya dengan jumlah kombinasi hubungan antarsel-sel saraf otak. Skizofrenia hanya salah satu bentuknya.

Saya yakin Lia tak mengalami serangan skizofrenia. Yang saya yakini, Lia pastilah telah melewati sebuah pengalaman mistis yang membuat dia kehilangan alasan untuk tidak mempercayainya sebagai sesuatu yang nyata, menurut pikirannya. Sebuah pengalaman, entah apa namanya, yang mengharuskan kita percaya kepadanya, bahwa dia tidak sedang mengada-ada. Perkara apakah pengalaman mistis tersebut riil ataukah maya (buat kita), itu urusan lain.

Saya yakin pengalaman itu sedemikian nyata untuk dibagi dengan orang lain, sehingga banyak orang yang percaya. Bahkan psikolog macam Siti Zainab Luxfiati, yang pernah mengasuh rubrik konsultasi psikologi di majalah Suara Hidayatullah, pun beriman dengan nubuatnya.

(Ah, kalau saja Lia tahu saya mengatakan ini, pastilah dia akan mengutuk saya menjadi tapir, kuskus, beruk, atau anoa.)


Di luar semua itu, saya meyakini banyak hal gaib yang tidak sepenuhnya bisa dimengerti.

Saya menduga Lia dan para pengikutnya adalah orang-orang yang lebih baik di mata Tuhan, daripada saya dan kebanyakan orang-orang yang mengutuknya. Sayangnya, Lia hidup di sebuah masyarakat yang tak terlatih untuk hidup berbeda pandangan.

Menganggap Lia Aminuddin menodai agama, buat saya sangat berlebihan. Sama berlebihannya dengan anggapan Lia bahwa proses kejiwaan yang ia alami adalah nubuat. Kalau kita menganggap kita waras (berada di tengah kurva Gauss kewarasan), mestinya kita bisa memahami fenomena Lia sebagai sebuah gejala psikiatri. Bukan penodaan agama ataupun tindak kriminalitas. Mestinya yang perlu dilakukan adalah mujadalah billaty hiya ahsan. Bukan memanfaatkan kekuasaan mayoritas untuk memenjarakan orang-orang yang tak sepaham.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s