Flu Burung dan Rahasia Ilahi [intisari]

Datang menyerang tanpa diundang, lalu pergi tanpa permisi. Itulah ulah virus flu burung ketika bertandang ke rumah Sumidah, warga Ciledug, Tangerang. Dua anaknya terinfeksi virus maut ini. Yang satu meninggal karena terlambat diobati. Yang satu sembuh setelah mendapat penanganan dini.

=====

Semuanya terjadi dengan cepat dan tiba-tiba. Tak ada mimpi atau ilham yang mendahului.

Cerita bermula di penghujung Ramadan, tiga bulan lalu, ketika Ina Solati (19), anak ketiga Sumidah (46) mendadak demam, batuk, dan sakit kepala. Sehari-hari Ina tinggal di rumah mertuanya di kampung Kebon Manggis yang letaknya bersebelahan dengan kampung Sumidah. Waktu sakit, Ina dirawat di rumah ibunya yang sangat sederhana, di kampung Parung Serab, Ciledug, Tangerang.

Karena sakitnya tak kunjung sembuh, Ina dibawa ke dokter. Begitu minum obat dari dokter, panas tubuhnya turun sesaat, tapi tak lama setelah itu kambuh lagi. Bukan itu saja, gejala sakitnya pun semakin parah. Ulu hatinya terasa sakit, napasnya pun menjadi sesak. “Napasnya sampai di sini nih,” kata Sumidah sambil menunjuk perutnya dan menirukan naik turunnya napas perut. Khawatir penyakit Ina semakin parah, Sumidah membawanya ke RS Husada Insani, Tangerang.

Persis ketika Ina dibawa ke rumah sakit, Ilham Kholid Junaidi (9), adik kandung Ina menderita demam. Oleh Sumidah, Ilham cuma diberi obat yang ia beli di warung.

Waktu itu ia sama sekali tak pernah berpikir tentang flu burung. Satu-satunya sumber informasi di rumahnya adalah televisi. Koran tak ada, majalah tak punya.

Sebetulnya saat itu wabah flu maut ini sudah mulai ramai dibicarakan di televisi. Tapi ia mengaku tak tahu. Maklum, meski punya televisi di rumahnya, ia mengaku tak pernah menonton acara apa pun kecuali sinetron Malin Kundang di SCTV dan Rahasia Ilahi di TPI. Selain dua acara ini, Sumidah tak pernah pirsa.

Tak mengherankan, meski saat itu Ibu Menteri Kesehatan sudah berulang-ulang mengimbau masyarakat soal bahaya flu burung, Sumidah Binti Haji Ismail mengaku tak pernah tahu. Terang saja, di dalam sinetron Malin Kundang maupun Rahasia Ilahi, tak pernah ada lakon tentang flu burung.

Di rumah sakit, kondisi Ina semakin parah. Sebelumnya Ina masih bisa bicara. Begitu di rumah sakit, ia sudah tidak bisa bicara lagi. Panasnya tak kunjung turun, sesak napasanya pun semakin memburuk. Ia sampai harus bernapas lewat selang dan tabun
g oksigen, yang oleh Sumidah disebut “napas dari listrik”.

Setelah tiga hari di rumah sakit, Ina tutup usia. “Kasihan banget anak saya itu. Dia lulus SMA langsung menikah, langsung hamil, punya anak, sakit, trus meninggal,” kata Sumidah tak bisa menyembunyikan sungkawanya, sambil menunjuk foto Ina ketika menjadi pengantin.

Warga panik

Berdasarkan hasil pemeriksaan darah di laboratorium WHO di Hongkong, Ina dinyatakan meninggal karena terinfeksi virus flu burung. Saat itulah, Sumidah baru mendengar nama flu burung. Selama ini yang ia tahu hanyalah flu pilek pada orang.

Sejak Ina meninggal, Sumidah memulai hari-harinya yang lebih menegangkan. Yang dialami Sumidah tak kalah mendebarkan dibandingkan dengan cerita-cerita di dua sinetron kegemarannya. “Saya tiap hari istigfar, berdoa,” akunya. Yang panik dan resah bukan hanya keluarga Sumidah, tapi juga warga kampung, terutama para tetangganya.

Begitu Ina dinyatakan positif flu burung, Sumidah melapor ke Dinas Kesehatan Tangerang. Serombongan petugas kesehatan kemudian datang ke rumahnya. Mereka mengambil sampel darah dari belasan orang anggota keluarga Ina, baik dari keluarga Sumidah di Parung Serab, maupun dari pihak mertua Ina di kampung Kebon Manggis.

Saat pengambilan sampel darah itu, tiga orang kerabat Ina mengalami gejala-gejala ringan, mirip yang dialami Ina. Mereka adalah Ilham Kholid, Indah (putri Ina yang masih berumur 6 bulan), dan Bintang (keponakan Ina yang masih berumur 10 bulan). Saat itu juga mereka diberi Tamiflu. Dengan dijemput ambulans, mereka dibawa ke RSPI Sulianti Saroso, Jakarta, yang oleh orang-orang kampung Sumidah dikenal sebagai “rumah sakit flu burung.”

Bukan hanya keluarga Ina yang diperiksa, unggas di sekitar rumah mereka pun diambil sampel darahnya. Dari hasil pemeriksaan laboratorium di Hongkong, Ilham Kholid dinyatakan positif terinfeksi virus mematikan ini. Tiga hari menjelang lebaran, Ilham terdaftar sebagai salah pasien positif terinfeksi virus H5N1 dan menjadi berita nasional. Dua keponakannya negatif meskipun gejala mereka mirip.

Dua ekor bebek milik tetangga Sumidah juga dinyatakan positif membawa virus maut itu. Tak ayal, ini menyebabkan warga sekitar panik. Mereka langsung menyembelih dan membakar bebek dan ayam-ayam yang dipiara para tetangga Sumidah. Semua ayam di rumah Ina di Kebon Manggis juga dimusnahkan.

Sejak itu suasana sekitar rumah Sumidah lengang. Orang-orang tak berani keluar rumah, takut ketularan. Tak ada seorang pun yang berani bertandang ke rumah Sumidah.

Hingga saat itu belum pernah ada laporan tentang penularan flu burung dari orang ke orang. Namun, pihak rumah sakit tetap mewaspadai kemungkinan Ilham tertular dari Ina. Menurut pengakuan Sumidah, mere
ka biasa memakai satu kasur untuk tidur berjubel empat orang:
Ina, Ilham, Indah, dan Sumidah. Saat buka puasa, Ilham juga biasa minum kolak satu mangkuk dengan Ina.

Di rumahnya, Sumidah memang tak memelihara unggas apa pun. Tapi di Kebon Manggis, Ina punya banyak piaraan ayam bangkok. Sebelum ia sakit, Ilham sering bermain ke rumahnya, menginap di sana, dan membatunya merawat ayam di kandang.

Teka-teki dari mana Ilham terular virus, terjawab setelah pemeriksaan laboratorium di Hongkong membuktikan bahwa virus yang menginfeksi Ilham adalah jenis H5N1. Virus ini menular dari unggas ke manusia, bukan antarmanusia.

Belum “dimutasi”

Selama Ilham di rumah sakit, keluarga Sumidah harus kehilangan keceriaan masa lebaran. Ketika orang-orang berbahagia bersama handai tolan, Sumidah kurang tidur karena menunggui Ilham dirawat.

Dua hari pertama ia menurut ketika pihak rumah sakit menyuruhnya memakai masker. Belakangan ia tak memakai alat pelindung diri itu. Ia merasa tak leluasa, ada sesuatu yang menutupi hidungnya. “Saya gak bisa napas,” akunya polos. Apalagi ditambah oleh suhu ruangan isolasi yang baginya dingin minta ampun. Seumur-umur, ia tak pernah tinggal di ruangan ber-AC.

Di rumah sakit, Ilham masih mendapat Tamiflu, obat batuk, dan vitamin. Tak ada yang istimewa dengan menu makannya sehari-hari. Karena Ilham tak suka makanan ala rumah sakit, Sumidah rajin membelikan nasi di warung, dengan lauk kegemarannya, teri-kacang.

Dengan kecintaan seorang Emak, Sumidah sendirian menunggui anaknya selama di rumah sakit. Sejak anaknya dinyatakan positif flu burung, Sumidah beberapa kali diwawancarai wartawan. Tapi ia selalu berusaha menghindar jika hendak dipotret. “Saya malu melihat saya sendiri,” katanya lugu.

Tetangganya beberapa kali menyaksikan Ilham dan Sumidah masuk kotak teve. Tapi lucunya, Sumidah sendiri tetap tak tertarik untuk duduk di depan teve. Ia pernah satu kali melihat berita di teve, setelah itu kapok tak melihat lagi.

Waktu itu, ibu dari lima anak ini mendengar berita “Ilham belum dimutasi”. Tampaknya, ia salah dengar tentang kemungkinan virus maut ini mengalami mutasi. Karena tak tahu maksud “mutasi”, ia bertanya-tanya apa gerangan artinya.

“Saya takut bener waktu itu. Apaan tuh dimutasi,” katanya dengan logat Betawi yang encer. Ia khawatir, mutasi berarti dibawa ke ruang instalasi gawat darurat, lalu dipasangi selang oksigen seperti pengalaman Ina sebelumnya. Tunggu ditunggu, ternyata Ilham tidak diapa-apakan. Sejak itu, ia mengaku tak lagi menonton televisi. “Beritanya serem-serem,” katanya.

Terus membaik

Tiap tiga hari, sampel darah Ilham diambil untuk diperiksakan ke Hongkong. Yang menggembiarakan, dalam tempo seminggu di rumah sakit, kesehatan Ilham berangsur membaik. Diduga, ini karena ia segera mendapat Tamiflu dan penganganan dini pada saat awal infeksi, dan ditunjang oleh daya tahan tubuhnya yang kuat.

Kondisi Ilham yang terus membaik membuat Sumidah merasa lebih lega. Saat itu ia yakin betul Ilham akan sembuh. “Masak, empoknya meninggal, adiknya ikut meninggal,” ujarnya berlogika.

Setelah tiga minggu dirawat, Ilham dinyatakan sembuh dan boleh pulang. Ini merupakan kegembiraan luar biasa buat Sumidah, sekaligus catatan besar bagi Departemen Kesehatan RI. Ilham adalah satu dari dua orang yang sembuh setelah dinyatakan positif flu burung. Satunya lagi adalah Firdaus, warga Petukangan Selatan, Jakarta Selatan, yang umurnya sama dengan Ilham.

Beruntung, Sumidah tak perlu membayar biaya perawatan Ilham karena rumah sakit membebaskan biaya perawatan bagi semua pasien flu burung. Kalau saja harus menanggung biayanya, barangkali ia harus berhadapan dengan kesusahan tahap dua. Maklum saja, Sumidah adalah orangtua tunggal yang menanggung biaya hidup Ilham, dengan penghasilannya dari upah menyetrika baju.

Begitu pulang dari rumah sakit, Sumidah mengadakan acara mengaji bersama tiap malam selama dua minggu berturut-turut. Selain syukuran atas sembuhnya Ilham, acara mengaji ini juga untuk memperingati meninggalnya Ina.

Saat ini Ilham sudah kembali menjalani masa kecilnya seperti biasa. Pagi hari, ia bermain gundu bersama kawan-kawannya di bawah rindang pohon kecapi, di samping rumahnya. Siang hari, murid kelas dua yang tak tahu peringkatnya di kelas ini mengengkol sepedanya berangkat ke Madrasah Ibtidaiyah Nurul Iman, Kebon Manggis.

Kehidupan warga sekitar rumah Sumidah juga sudah pulih. Meski demikian, mereka masih belum berani memiara unggas. Yang tampak hanya beberapa ekor burung yang tak ikut dimusnahkan. Usaha ayam bangkok di rumah mertua almarhumah Ina di Kebon Manggis juga dihentikan, diganti lele.

Meski teror flu burung tak lagi menghantui seperti tiga bulan lalu, Sumidah tetap tak bisa melupakannya. Foto Ina di dinding selalu mengingatkan dia pada pengalaman paling menegangkan itu. Sembuhnya Ilham dan meninggalnya Ina seolah menyadarkan dia betapa tipisnya batas antara hidup dan mati.

“Hidup mati itu ‘kan urusan Yang di atas,” katanya. Di luar urusan medis, bagi Sumidah, musibah, kehidupan, dan kematian adalah rahasia ilahi. Persis seperti judul sinetron yang gemar ia tonton.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s