7 Rambu Jika Orangtua Bercerai [intisari]

Tak seorang pun menyukainya. Tapi pilihan bercerai sering kali menjadi satu-satunya jalan keluar. Jika itu memang harus terjadi, pastikan anak-anak tidak ikut “diceraikan”.

Menceraikan anak? Ya! Anak adalah pihak kedua yang selalu ikut bercerai, segera sesudah orangtua berpisah, atau bahkan sebelumnya. Praktik seperti ini sangat lazim di masyarakat kita. Dan biasanya orangtua melakukannya secara tidak disadari. Lalu, apa yang bisa dilakukan orangtua agar anak-anak kedap cerai?

1.Komunikasikan perceraian Anda pada mereka.

Salah besar jika Anda beranggapan anak kecil tidak perlu tahu urusan orangtua. Lagi pula, tidak mungkin orangtua bisa menutup-nutupi terus. Suatu saat, si anak tetap akan mengetahui itu dari bahasa tubuh dan perubahan kebiasaan. Si ibu menjadi gampang marah atau bapak jarang di rumah. Jika ditutup-tutupi, justru dikhawatirkan nanti si anak akan mendapatkan informasi yang tidak benar.

Menurut Rieny Hassan, psikolog keluarga, ketika orangtua sudah memutuskan untuk bercerai, mereka harus memberi tahu putra-putrinya. Bahwa secara perlahan-lahan akan terjadi perubahan-perubahan. “Pada prinsipnya, keharmonisan sebuah keluarga akan lebih terjamin jika ada keterbukaan antara satu dengan yang lain,” terangnya.

Jangan biarkan anak mendapat informasi dari pihak lain. Sopir, misalnya. Bayangkan jika sambil berangkat ke sekolah, anak mendapat informasi, “Masak Kakak enggak tahu, kalau Papa punya pacar lagi!”

Menerangkan perceraian pada anak usia tiga tahun dan sepuluh tahun tentu saja berbeda. Anak remaja sudah bisa memahami konsep keluarga dan perceraian. Sementara anak yang lebih belia, akan lebih sulit memahaminya. Semua penjelasan orangtua harus didasarkan pada usia dan tahapan perkembangan anak. Di sinilah orangtua dituntut punya kedewasaan dan kemampuan komunikasi yang baik.

Daripada sebuah penjelasan panjang tentang perceraian, lebih baik jelaskan padanya tentang aspek-aspek yang akan berubah dalam hidupnya. Lebih baik lagi jika ini dilakukan oleh kedua orangtua secara bersama-sama. Lakukan ini jauh hari sebelum perubahan-perubahan itu terjadi.

Sangat mungkin Anda tidak bisa melakukannya dengan sekali penjelasan, tapi butuh berulang kali. Tak masalah. Usaha ini memang membutuhkan ketelatenan.

2.Jelaskan bahwa perceraian bukan akibat kesalahan mereka.

Menurut Rieny, ada periode tertentu pada si anak ketika dia merasa bahwa perceraian terjadi karena ada sesuatu yang salah dengan dia. Jika ini tidak dijelaskan sejak awal, dia akan menanggung beban mental yang sulit dihapus.

Celakanya, kebanyakan orangtua tidak cukup peka terhadap masalah ini. Mereka lebih sibuk dengan diri sendiri. Kalaupun mereka melibatkan anak, justru untuk mencari dukungan yang bisa diajak untuk berpihak kepadanya dan menjelek-jelekkan pasangannya.

3.Jangan jadikan anak sebagai korban.

Meski orangtua tidak dianjurkan menutup-nutupi keadaan yang sebenarnya, tapi juga tidak boleh membawa anak-anak ke dalam suasana konflik.

Kesalahan orangtua yang paling sering dilakukan adalah bertengkar di depan anak. Apa pun alasannya, pertengkaran seperti itu tidak pernah bisa dibenarkan. Bukan hanya ini akan membuat anak ikut menanggung beban tetapi juga akan mempengaruhi perkembangan kepribadiannya kelak.

Membawa anak ke dalam konflik bisa juga dalam bentuk lain. Rieny menceritakan pengalamannya ketika seorang anak kelas 5 SD di depan teman-temannya bercerita, “Tante, mama saya selingkuh. Kalau menelepon pacarnya, saya dengar. Saya malu sekali. Tapi saya bingung. Apa saya harus cerita sama Papa, ya?” Anda bisa bayangkan, bagaimana anak manis yang masih sepuluh tahun itu harus berada dalam susana konflik seperti itu.

Juga jangan pernah menjadikan anak sebagai “pembawa pesan”, atau menyuruhnya berbohong. Jika Anda mengalami hambatan komunikasi dengan mantan pasangan, lebih baik minta bantuan keluarga atau teman dekatnya.

4.Usahakan agar anak tidak mendapatkan cerita yang berat sebelah.

Jangan pernah mengajak anak untuk berpihak. “Tuh lihat bapakmu!”. Anda harus tetap memegang ini, meski bagaimanapun buruknya pasangan Anda.

Dalam proses interaksi suami istri, selalau ada rantai yang berkesinambungan antara aksi-reaksi. Jika suami istri bercerai, biasanya kedua belah pihak punya kontribusi. Jarang sekali yang terjadi hanya karena kesalahan satu pihak saja.

Selain itu, kita tidak pernah tahu, bisa saja suami yang buruk adalah seorang bapak yang baik. Atau sebaliknya, istri yang buruk pun bisa saja seorang ibu yang baik.

5.Tanamkan pandangan bahwa yang bercerai hanyalah orangtua. Papa Mama tak pernah menceraikan dia.

Dalam urusan ini, Rienny memberikan contoh tradisi masyarakat Barat yang bisa dicontoh. Di sana, orangtua yang bercerai tetap merasa punya kewajiban yang sama terhadap tugas kepengasuhan anaknya. Tidak ada istilah “bekas anak”.

Tapi di Indonesia, perceraian biasanya dilanjutkan dengan permusuhan. Selalu ada yang jadi korban, dan yang lain menjadi eksekutornya. Jarang sekali orang bersepakat untuk bercerai pada tataran kedudukan perasaan yang sama.

Di Barat, penyebab utama perceraian biasanya akibat hubungan yang tidak harmonis antara pasangan dengan family-in-law. Di sana, begitu orang menikah, langsung menjadi keluarga inti. Akibatnya, mereka menjadi lebih sensitif terhadap campur tangan mertua atau ipar. Masalah seperti ini biasanya lebih membuat mereka marah ketimbang isu selingkuh.

Sementara itu masyarakat Indonesia belum lama meninggalkan tradisi extended family, sehingga umumnya lebih toleran terhadap perilaku keluarga suami atau istrinya. Penyebab utama perceraian di sini biasanya adalah masalah perselingkuhan.

Bedanya lagi, suami istri di masyarakat kita sangat posesif. Begitu tahu pasangannya berselingkuh, maka lagunya adalah Tiada Maaf Bagimu! Dan begitu keduanya berpisah, satu sama lain menjadi musuh, yang bahkan ketika melihat wajahnya pun terasa hendak muntah. Lebih celaka lagi, pandangan seperti ini kemudian ditanamkan pada anak untuk ikut-ikutan membenci bapak atau ibunya.

Perbedaan ini, menurut Rieny, menyebabkan anak-anak Indonesia lebih rentan dibanding mereka yang hidup di masyarakat yang terbuka. Di sana, anak-anak dengan enteng bilang, “My parents are going to divorce.” Ia bisa menceritakan ini seperti menceritakan pengalaman makan bakso, karena memang tidak ada kekhawatiran apa-apa menghadapi perceraian.

Idealnya, setelah perceraian, orangtua masih sering bertemu untuk berdiskusi tentang anak-anaknya. Sayangnya, hal ini terlalu ideal untuk masyarakat kita, sehingga nyaris tidak bisa kita jumpai dalam kehidupan sehari-hari. Kecuali di dalam sinetron-sinetron.

6.Pastikan anak tetap mendapatkan perhatian dan hak-haknya.

Masing-masing anak memiliki kepribadian yang berbeda. Anak-anak yang cenderung bersikap tertutup, biasanya akan lebih banyak mengalami kesukaran untuk mengadakan penyesuaian dibandingkan anak-anak yang lebih ekspresif. “Kalau terbuka, ‘kan orangtua bisa tahu apa perasaanya dan dukungan seperti apa yang dibutuhkan,” terang Rieny.

Berbeda dengan pandangan umum, menurut Rieny, anak laki-laki justru sering kali kurang tegar dibanding anak perempuan. Ini terjadi karena mereka umumnya kurang ekspresif sehingga lebih sulit melakukan penyesuaian diri ketika orangtuanya bercerai.

Orangtua sangat dituntut untuk memperhatikan anak, terutama jika ia memasuki masa puber. Dalam kondisi seperti itu, dia mendapat dua masalah sekaligus. Perceraian, dan konflik batin memasuki masa remaja.

Dalam hal materi, setelah bercerai pun orangtua harus tetap menjalankan tanggung jawabnya. Jangan sampai menunggu tiap tanggal muda, si anak berteriak dari pintu pagar, minta uang SPP.

Jika Anda adalah ibu cerai, maka—mohon maaf—ini memang fakta buruk di Indonesia. Menurut Rieny, perceraian di Indonesia lebih sering merugikan pihak perempuan dibanding laki-laki. Setelah cerai, umumnya anak-anak ikut ibunya. Namun celakanya, pihak bapak bisa dengan mudah menghindari kewajiban dan tanggung jawab terhadap anaknya.

Berbeda dengan di Amerika, misalnya. Di sana, setelah bercerai, tiap bulan mantan suami harus membayar uang alimony. Ke man pun ia pindah kerja, gajinya selalu dipotong untuk diberikan pada mantan istrinya. Dan ia tidak akan pernah bisa menghindar karena punya social security number.

7. Tetap jaga komunikasi setelah cerai.

Dengan rajin menelepon, sms, atau berkirim surat, yakinkan dia bahwa ia masih dicintai, sehingga tidak ada perasaan ditinggalkan.Ini sangat perlu dilakukan, terutama jika si anak ikut mantan pasangan Anda.

Secara kodrati, pada umumnya si ibu lebih bisa mengasuh anaknya daripada si bapak. Karena itu sebaiknya ketika anak-anak masih belum masuk sekolah formal, ia diasuh oleh ibunya. Setelah mereka dianggap bisa membuat keputusan sendiri, beri mereka kebebasan untuk menentukan pilihan mau ikut siapa. Yang penting, selama masa bersama itu, si ibu sudah menanamkan investasi emosional bahwa ia mencintainya.

Tapi Rieny menambahkan, “Ini jika si ibu memang benar-benar ibu. Bukan sekadar ibu biologis. Sebab tidak jarang pula justru pihak ibulah yang tidak punya komitmen terhadap perkawinan.”

Jangan Hanya Memikirkan Diri Sendiri

Penyebab utama orangtua lupa terhadap anaknya, adalah karena kesibukannya memikirkan diri sendiri. Ini memang bisa dipahami. Tapi tetap bukan alasan sehingga anak boleh dilupakan.

Jika tidak ada jaminan anak memperoleh hak-haknya seperti di atas, maka sebaiknya orangtua berpikir seribu kali untuk bercerai. Tanpa perhatian ekstra, si anak akan menghadapi masa-masa sulit dalam hidupnya.

Anak-anak sangat membutuhkan perasaan aman, bahwa ada dua orang yang bisa menerima dia. Jika kedua orang itu tiba-tiba berpisah, dia akan bingung. Apalagi jika ia ikut ibunya, dan kebetulan si ibu tidak punya penghasilan. Maka dengan pola pikirnya yang masih kekanak-kanakan itu, tiap hari dia akan diliputi oleh kecemasan.

Jika berlangsung terus-menerus, hal ini bisa membuatnya mengalami kemunduran perkembangan. Yang awalnya sudah tidak ngompol, bisa ngompol lagi. Prestasinya menurun, malas bergaul, mengurung diri, kehilangan rasa percaya diri.

Pada tingkat yang lebih parah, anak bisa saja mengalami trauma psikologis yang akan ia bawa hingga dewasa. Ia menjadi takut menjalin hubungan dengan lawan jenis dan bahkan takut dengan institusi perkawinan.

Karena semua pertimbangan itulah, perceraian hendaknya hanya dilakukan jika memang sudah tidak ada pilihan lain. Jika Anda punya masalah dengan pasangan, sebaiknya tulis pesan Socrates di dompet, “Menikahlah! Jika engkau mendapatkan jodoh yang baik, engkau akan bahagia. Jika tidak, engkau akan menjadi filsuf.”

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s