Agar Si Kecil Sadar Lingkungan [intisari]

Jika Anda berpikir bahwa sampah, asap, dan polusi hanya urusan orang dewasa, Anda salah besar. Justru, sikap peduli lingkungan lebih jitu Anda tanamkan sejak si kecil masih di nol besar. Jika ditanamkan ketika anak sudah beranjak dewasa, proses internalisasi lebih lambat.

Sebaliknya, jika ditanamkan sejak dini, kesadaran terhadap lingkungan ini akan menjadi perilaku sehari-hari.Dia akan merasa bersalah jika membuang sampah sembarangan, atau menciptakan sampah yang semestinya bisa dihindari.

Kuncinya sederhana. Pahamai psikologi anak, lalu mainkan!

Beri Contoh Nyata

Anda bisa menanamkan sikap peduli lingkungan sejak anak mulai belajar memahami dan mengenal bahasa. Fase ini berlangsung saat anak berumur satu tahun, yakni ketika dia sudah bisa diajak berkomunikasi dan mengerti kata-kata perintah.

Namun secara tidak langsung, idealnya sikap ini harus mulai ditanamkan sejak anak belum lahir. Ya, sikap peduli lingkungan harus dimulai dari orangtua. Tidak bisa tidak.

Pada akhir usia 2 tahun, anak sudah mulai belajar mengingat serta menggunakan simbol-simbol. Menurut Fajriati Maesyaroh, psikolog perkembangan anak, pada usia tersebut si anak memang belum bisa berkomunikasi secara ekspresif. Meski demikian, sesungguhnya dia sudah bisa merekam perilaku orangtua yang suka membuang sampah sembarangan atau memetik tanaman di jalan.

“Mungkin orangtua tidak begitu sadar, tetapi itu akan diingat oleh si anak,” terangnya. Dan pada akhirnya, kebiasaan semacam itu akan menjadi pelajaran tak langsung bagi dia. Semakin bertambah usia, yang ditiru anak bukan hanya perilaku orangtua yang tampak (overt) saja, tetapi juga yang tak tampak (covert).

Kenalkan pada Alam

Pada usia 2 – 5 tahun, anak berada dalam periode “animisme”. Ia menganggap semua benda hidup seperti dia. Periode ini bisa Anda tandai, ketika si anak tersandung kursi, ia cenderung akan menyalahkan dan memukul kursi. Dalam fase ini orangtua harus menanamkan sikap untuk tidak menyalahkan lingkungan.

Pada usia ini, daya imajinasi anak tinggi. Orangtua bisa memanfaatkannya untuk menjelaskan bahwa binantang dan tumbuhan sama seperti manusia, bernapas, bergerak, dapat merasakan sakit dan senang. Si Kitty akan merasa sakit jika ditendang. Tumbuhan akan sakit jika dicabut. Dengan begitu anak bisa berempati pada lingkungan.

Pada masa balita – TK, daya ingat dan kemampuan bahasa anak mengalami kemajuan yang pesat. Jangan sia-siakan usia ini untuk mengenalkan anak pada alam lewat gambar-gambar, boneka, atau dongeng. Selain bisa Anda manfaatkan untuk mengasah kepeduliannya terhadap lingkungan, hal ini juga akan menambah kosakatanya.

Ajak dia berkunjung ke kebun binatang, taman buah, Sea World, Taman Safari, kebun raya, taman bunga, planetarium, atau tempat-tempat lain yang bisa digunakan untuk mendekatkan anak pada alam.

Pilih Cara yang Menghibur

Ajak si kecil mencintai alam dengan menikmati acara Discovery Channel, Seri National Geographic, film The Lion King, Stuart Little, atau James and The Giant Peach. Dampingi mereka, sebab setiap saat ia akan bertanya, “Mamalia itu apa’an sih, Ma?” Jangan malu untuk bilang “Mama belum tahu. Biar jadi PR buat Mama, ya?” Dengan begitu Anda bisa menjadi guru sekaligus teman buat si kecil.

Budi Susilorini, aktivis pendidikan lingkungan dari LSM Dana Mitra Lingkungan, memberi resep kuno tapi masih sangat manjur: dongeng. Cara ini sering ia praktikkan jika sedang memberi pendidikan lingkungan buat anak-anak. “Agar lebih interaktif, ajak mereka untuk ikut memberi nama tokoh di dalam dongeng,” saran Encus, panggilan akrabnya.

Libatkan Secara langsung

Pada usia 2 – 3 tahun, anak berada dalam fase imitasi. Ia mulai senang meniru tingkah laku orang-orang di sekitarnya. Pada tahun-tahun awal perkembangannya, orangtua dan orang-orang dekatnya adalah role model bagi anak.

Fase ini bisa Anda manfaatkan dengan cara mengajak dan melibatkan dia melakukan sesuatu sendiri. Bimbing dia untuk membiasakan diri membuang sampah di tempatnya. Tiap minggu, ajak dia bersih-bersih. Jika hendak keluar rumah, bimbing dia mematikan lampu yang tidak diperlukan. Selesai mandi atau jika bak telah penuh, bimbing tangannya menutup keran air.

Fajriati menyarankan, jika mungkin ajak si kecil untuk memelihara binatang kesayangan di rumah dan menanam di halaman. Anjurkan dia untuk memberi nama buat hewan piaraannnya. Ajak dia memberi makan dan merawatnya setiap hari. Selain berfungsi sosialisasi terhadap lingkungan, cara ini juga bermanfaat untuk melatih tanggung jawabnya. Tapi karena tanggung jawab anak belum seperti orang dewasa, Anda harus rajin bertanya, “Si Kitty udah dikasih makan, belum?”

Pada usia SD, Anda sudah bisa mulai memberi tanggung jawab sederhana, misalnya berupa kegiatan merawat rumah tiap minggu. Tapi supaya dia tetap melakukannya secara enjoy, suruh dia memilih sendiri kegiatan yang ia sukai. Menyapu lantai, menyiram tanaman, atau merawat binatang piaraan. Dengan begitu ia bisa berlatih tanggung jawab tanpa merasa terbebani.

Jangan Pelit dengan Hadiah

Pada usia balita dan TK, perkembangan moral anak masih berorientasi pada hukuman dan imbalan. Kepatuhannya untuk melakukan sesuatu hanya didasarkan atas ketakutan akan hukuman, atau keinginan terhadap imbalan.

Fase ini bisa Anda manfaatkan dengan cara memberinya imbalan jika melakukan sesuatu yang benar, atau memberinya hukuman jika melanggar. Namun perlu dicatat, hukuman di sini bukan berarti hukuman yang menyakitkan. Bentuknya bisa berupa sanksi pencabutan sesuatu yang disenangi, misalnya, “Kalau buang sampah sembarangan, nanti sore Dafa enggak boleh nonton film kartun.”

Yang lebih penting, kontrol terhadap perilaku anak bukan hanya dalam bentuk hukuman, tetapi juga dalam bentuk imbalan. Ini yang sering dilupakan. Orangtua harus membuang jauh-jauh sifat pelit kepada anak. Beri dia pujian, atau sesuatu yang dia sukai. “Kalau Dafa menghabiskan makan, nanti Mama kasih biskuit.”

Anda juga bisa memberi imbalan dengan cara poin. Setiap kali ia membuang sampah di tempatnya, atau menghabiskan jatah makan, beri dia satu bintang. Bentuk bintang bisa berupa gambar atau cap di buku. Jika Anda cukup kreatif, ajak buah hati membuat bintang-bintangan dari kertas. Setiap kali menepati aturan, ia berhak mendapat satu bintang.

Bimbing dia untuk mengumpulkan bintang-bintang itu sebagai poin. Setelah jumlah tertentu, dia berhak menukarkan bintang-bintang itu (seperti voucher) dengan sesuatu yang dia sukai.

Selalu Konsisten dan Konsekuen

Sekali Anda menetapkan peraturan, seterusnya Anda harus menerapkannya. Termasuk buat orangtua. Semua pesan Anda tentu menjadi omong kosong jika si kecil melihat Anda membuang sampah di jalan lewat kaca mobil.

Untuk mengatasi masalah ini, Fajriati menyarankan agar orangtua sering introspeksi. Jangan-jangan secara tidak sengaja memberikan contoh yang keliru. Jika perlu, ajak si kecil untuk mengoreksi Papa Mamanya. Siapa pun yang membuang sampah sembarangan, harus mendapat hukuman. Dengan begitu, langsung maupun tidak, orangtua juga akan terpacu.

Seluruh anggota keluarga juga harus kompak. Jangan sampai ketika si kecil melanggar aturan, orangtua memberi hukuman, tapi ia mendapat pembelaan dari nenek atau kakeknya ketika mengadu.

Asah Kreativitasnya

Sejak usia kanak-kanak, kreativitasnya sudah mulai tumbuh. Jangan kekang hanya karena alasan kebersihan. Biarkan dia “memorak-porandakan” mainannya atau menggambar di lantai. Namun begitu selesai, ajak dia membereskan mainan dan membersihkan lantai dari coretannya. Dengan begitu ia belajar bertanggung jawab untuk membersihkan kotoran yang ia buat.

Agar si kecil lebih kreatif, tantang dia untuk memecahkan masalah sampah di rumah. Encus menyarankan agar orangtua mulai mengenalkan konsep reduce, reuse, recycle pada anak.

Jangan lupa, ajak mereka berkomunikasi. Anak-anak sekarang jauh lebih kritis daripada kita saat seusia mereka. Anda harus bisa menjelaskan kepadanya, mengapa dia harus menghabiskan makan, mematikan lampu dan menutup keran air.

Support untuk Ikut Kegiatan Lingkungan

Meskipun saat ini banyak materi pendidikan audio visual, tetap lebih baik jika anak diperkenalkan langsung dengan alam yang sesungguhnya, seperti kelompok pecinta alam atau pramuka. Di sana mereka akan berinteraksi langsung dengan gunung, sungai, dan hutan.

Jika putra Anda gemar menulis, support dia untuk ikut lomba-lomba tentang lingkungan. Siapa tahu dia menjadi Pangeran dan Puteri Lingkungan Hidup.

Boks:

Reduce, Reuse, recycle

Berikut beberapa contoh praktis yang diberikan Encus dan Uni, aktivis lingkungan dari XSProject, untuk menanamkan kepedulian anak terhadap lingkungan.

Reduce:

· Biasakan si kecil mengambil makan secukupnya. Kalau kurang,
tambah lagi.

· Kalau memakai kertas tulis, gunakan bolak-balik.

· Waktu hendak belanja ke supermarket, ajak si kecil menyiapkan tas dari rumah.

· Jangan biasakan anak bergantung pada bungkus makanan disposable yang sulit terurai, seperti styrofoam.

· Jika membeli produk isi ulang, pilih yang volume besar.

Reuse:

· Ajak si kecil mencuci botol selai untuk wadah garam, gula, atau kelereng.

· Ajak dia mencuci botol sirup untuk dipakai sebagai wadah air minum di kulkas.

· Waktu kenaikan kelas, ajak dia mengguntingi sisa halaman kosong di buku lamanya. Jilid, agar bisa dipakai sebagai block note atau tempat coretan.

· Ajak dia menyumbangkan baju atau mainannya yang sudah tidak dipakai. Selain mengurangi sampah, cara ini juga akan memupuk kepekaan sosialnya.

Recycle:

· Ajak mereka membuat kompos. Kumpulkan sampah organik seperti potongan sayur dan kulit buah. Timbun di dalam tanah. Biarkan sampai menghitam, sekitar dua minggu, lalu gunakan sebagai tempat menanam.

· Ajak si kecil bermain membuat kertas daur ulang. Potong kertas kecil-kecil. Rendam atau rebus agar mudah lumat. Blender jadi bubur. Tambahkan air hingga mencapai kekentalan secukupnya. Bentuk dengan cetakan sesuai dengan ukuran yang diinginkan. Keringkan dengan matahari. Lalu sim salabim, jadi dah!

· Ajak dia memanfaatkan karton bekas wadah susu sebagi bungkus kado.

· Jika Anda cukup kreatif, ajak si kecil memanfaatkan kemasan-kemasan isi ulang untuk membuat tas atau tempat pensil.

Jelaskan padanya untuk tidak bersikap egois: yang penting rumah kita bersih, perkara sampah mau menggunung atau menutupi sungai, itu urusan orang lain. Sampah adalah masalah bersama. Setiap keluarga harus punya kesadaran terhadap lingkungan.

Mungkin terdengar klise, tetapi resep berikut teta
p akan menjadi cara yang bisa diandalkan. Mulai dari hal-hal kecil. Mulai dari diri kita. Mulai sekarang, sejak mereka masih kanak-kanak.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s