Jika Senjata Api Menjadi Gaya Hidup [intisari]

Jika Senjata Api Menjadi Gaya Hidup

Maka bersiaplah memasuki sebuah tata masyarakat di mana Anda akan terbiasa dengan bunyi …..

Dor! Seorang pengusaha menembakkan pistol ke udara di Kantor Pengadilan Agama Pontianak, ketika istrinya menggugat cerai.

Dar! Seorang pengendara Porsche menembak mobil Kijang yang menyalipnya.

Ceklèk! Seorang anak pejabat menodongkan pistol tepat di kepala satpam yang melerainya berkelahi di sebuah kafe di Jakarta.

Dar! Der! Dor! Seperti inilah jika para bintang film koboi meloncat keluar dari televisi.

“Saya menduga, ini ada kaitannya dengan gaya hidup,” kata Dr. Adrianus E. Meliala, pakar kriminologi dari FISIP Universitas Indonesia.

Adrianus lalu membeberkan analisisnya.

Di zaman dongeng para pelanduk, manusia menciptakan senjata karena menyadari dirinya begitu lemah. Tujuannya masih sederhana, untuk membela diri (self defense) dari serangan binatang buas atau sesama manusia. Dalam perkembangannya, senjata tak hanya untuk membela diri secara pasif, tetapi juga untuk mengalahkan lawan secara aktif (survival).

Lalu zaman pun berubah. Meski pedang telah digantikan pelatuk, namun fungsi bela diri dan survival ini tidak berubah. Bedanya, sekarang variasinya lebih banyak. “Ada bela diri yang aktual, ada juga yang cuma perseptual. Survival pun ada yang riil, ada yang hanya simbolis,” terangnya.

Bela diri perseptual? Survival simbolis? Macam apa pula itu?

Ketika seseorang menembakkan pistolnya saat dihadang dua orang berkelewang, dia sedang melakukan pembelaan diri aktual. Sebab, ada musuh yang memang mengancam jiwanya.

Namun ketika seorang merasa jadi lebih pemberani dengan menyarungi pistol, sesungguhnya ia tidak sedang melakukan pembelaan diri sejati. Dia hanya melakukan self defense yang perseptual. Dengan mengantungi saja, dia mengalami perubahan psikologis, merasa lebih mampu membela diri.

Inilah yang dimaksud sebagai gaya hidup. Sesuatu yang mirip ketika seseorang menjadi lebih pede jika menenteng ponsel kelas premium. “Yang berubah bukan pandangan orang lain terhadap dirinya, tetapi pikirannya sendiri,” tandasnya.

Begitu pula ketika Parto menembakkan pistolnya ke udara. Saat menarik pelatuk, dia tidak hendak mencelakai siapa pun. Yang sedang ia lakukan sejatinya adalah survival simbolis. “Gue enggak mau diganggu!”.

Tidak jauh beda dengan si pengendara porsche ketika menembak mobil kijang yang menyalipnya. Saat pistonya menyalak, sebenarnya itu adalah bentuk lain dari kata-kata, “Gue punya porsche. Lu cuma punya kijang. Berani-beraninya nyalip Gue?” Inilah survival yang simbolis; unjuk senjata sebagai gaya hidup orang-orang ber-uang.

Dalam konteks bela diri perseptual dan survival simbolis, seseorang tidak lagi berurusan dengan ada tidaknya ancaman. Yang menjadi persoalan adalah hal-hal yang bersifat psikologis.

Butuh Rasa Aman

Saat kasus kepemilikan senpi mencuat, banyak kalangan yang secara gebyah uyah, menganggap semua pemilik senpi mengalami gangguan kepribadian. “Kita tidak bisa langsung menyimpulkan seperti itu,” tutur Dr. Yati Utoyo Lubis, psikolog klinis yang juga Wakil Dekan I, Fakultas Psikologi, Universitas Indonesia. “Ketika seseorang membawa senpi, ada banyak kemungkinan,” lanjutnya.

Kemungkinan pertama adalah bahwa dia membutuhkan rasa aman. Dalam kajian psikologi, rasa aman adalah kebutuhan dasar setiap manusia. Yati memberi contoh, seorang yang pernah mengalami trauma perampokan atau kemalingan. Kemungkinan lain, mereka anggota organisasi atau profesi tertentu yang mengharuskan dia punya senpi, macam Perbakin.

Dalam melihat kasus Parto pun, Yati memandangnya sebagai sesuatu yang wajar. “Kita tidak bisa langsung menyimpulkan dia ugal-ugalan. Ketika seseorang panik, dia bisa melakukan apa saja,” terangnya. Masalahnya adalah, dia lupa bahwa dirinya tidak boleh menggunakan pistol dalam kondisi seperti itu.

Meski demikian, Yati mengingatkan, senpi bisa saja menimbulkan pengaruh buruk tanpa disadari. Yati mencontohkan, ketika seseorang telah terbiasa membawa senjata, ia bisa mengalami ketergantungan. Jika tidak membawa, ia merasa ada sesuatu yang kurang dalam dirinya. Pengaruh buruk lain, secara psikologis orang yang membawa senpi bisa terdorong untuk menggunakannya. Ini mesti dihindari betul, sekalipun tujuannya bukan untuk mencederai orang lain.

Namun bagi Yati, masalah utama justru terletak pada prosedur mendapatkan izin kepemilikan senjata api (IKSA). Sebagai psikolog, dia mempertanyakan akurasi tes psikologi yang mesti dilewati sebelum mendapatkan IKSA. Dia memberikan contoh, seseorang yang berkepribadian kurang dewasa dan impulsif (suka memutuskan sesuatu tanpa berpikir panjang), mestinya tidak boleh mendapatkan IKSA. Menurutnya, sepanjang dilakukan dengan benar, prosedur standar ini akan mengurangi kemungkinan pemakaian senpi di tangan orang yang tidak tepat.

Penuh Risiko

Meski kepemilikan senpi sah secara hukum, Adrianus mengingatkan, alat bela diri ini bisa saja berubah menjadi senjata makan tuan. Ini merupakan risiko yang jarang disadari, bahkan oleh pemiliknya sendiri. “Dengan memiliki senpi, seseorang justru terpapar dengan kemungkinan dirinya menjadi pembunuh,” tandasnya. Kalaupun tidak membunuh, setidaknya mencelakai.

Adrianus memberi contoh kasus Parto (lagi). Ketika ia menarik pelatuk, pistol langsung menyalak. Itu berarti pistol sudah dalam keadaan terkokang di dalam sarung. Jelas ini sangat berbahaya. Jika pemakainya salah duduk saja, pistol bisa menyemburkan peluru. Bukan hanya akan membahayakan orang lain, tetapi juga pemiliknya.

Selain itu, saat pertama picu ditarik, pistol langsung menyalak. Padahal untuk keamanan, isi pistol harus diatur sedemikian rupa sehingga pelor tidak langsung dimuntahkan pada tarikan picu pertama, tetapi pada tarikan kedua.

Bagi Adrianus, ini adalah masalah-masalah mendasar yang ternyata justru luput dari perhatian. Karena berbagai risiko itulah, ia menyarankan siapa pun yang hendak melengkapi diri dengan atribut untuk bela diri, lebih baik memilih cara lain yang risikonya minimal. Mempekerjakan sopir yang sekaligus bodyguard, misalnya. Secara berkelakar Adrianus mencontohkan dirinya sendiri, “Ke mana-mana saya enggak perlu bawa senjata. Cukup bawa kartu nama POLRI. Kalau ada apa-apa, tunjukin aja!”

Sebagai pakar kriminologi, ia prihatin. Senjata, yang mestinya menjadi penyelesai masalah paling akhir, kini bergerak posisinya menjadi penyelesai masalah yang remeh-remeh. Padahal, sangat mungkin cara ini justru akan menimbulkan masalah-masalah baru yang lebih besar, alias….. menyelesaikan masalah dengan masalah.

Boks

Dijual, Pistol untuk Warga Sipil

Melihat banyaknya kasus kepemilikan senpi, mungkin Anda menduga perizinannya sedemikian mudah. Kenyatan di tingkat legal formal sejatinya tidak. Untuk memperoleh IKSA, prosesnya panjang dengan peraturan yang ketat. Masalahnya, menurut Andrianus Meliala yang juga penasihat POLRI, peraturan itu sering dipraktikkan secara proforma saja.

Sebelum memperolehnya, pemohon harus mengajukan aplikasi dulu. Pihak kepolisian akan mereview. Selanjutnya pemohon harus menjalani tes kesehatan, tes psikologi, dan pelatihan.

Tidak semua kalangan diperkenankan. Untuk sipil, dipersyaratkan setingkat direktur atau pemimpin perusahaan. Celakanya, persyaratan ini sering dikadali dengan cara membuat perusahaan fiktif. Walhasil, semua orang pun bisa jadi direktur.

Karena dipraktikkan sebagai formalitas saja, pemilik senpi sering tidak mengetahui rambu-rambu pemakaiain. Adrianus memberi contoh kasus-kasus penggunaan pistol yang belakangan marak. Secara keliru mereka menganggap, menembakkan pistol ke udara (seperti polisi) bukan suatu kesalahan, asalkan tidak mencederai orang lain. Padahal, setiap pemegang IKSA mestinya tahu bahwa pistol hanya boleh digunakan untuk bela diri aktual. Bukan untuk survival, apalagi yang perceptual dan simbolis.

Untuk bela diri aktual pun, tidak semua kondisi diperkenankan. Hanya untuk keadaan bahaya tak terelakkan (imminent</i>). Misalnya ketika berhadapan dengan penjahat bersenjata yang membahayakan jiwa. Jika hanya berhadapan dengan copet kerempeng yang bisa dibekuk dengan tangan kosong, itu belum masuk kategori imminent</i>. Apalagi hanya karena kesal dengan orang lain.

Tapi dalam urusan ini, Adrianus berpendapat, wajar jika warga sipil bereksperimen dengan kepemilikan senpi. Menurutnya, kesalahan tidak boleh hanya ditimpukkan pada publik. Yang keliru adalah pihak yang mengeluarkan izin.

Bagi meraka yang sanggup beli mobil ratusan juta rupiah, harga pistol yang hanya puluhan juta bukan masalah berarti. Apalagi dengan sekian banyak manfaat. Mulai dari sekadar gagah-gagahan, sampai untuk menekuk lutut perampok.

Sebagai kriminolog, dia berharap pemerintah menerapkan sistem total restriction—pelarangan sama sekali. Konsekuensinya, semua senpi yang ada di tangan sipil saat ini harus ditarik. Berizin maupun tidak.

Adrianus mengibaratkan Indonesia saat ini seperti Amerika Serikat era akhir 60-an. Saat itu belum banyak senpi di kalangan warga sipil. Tapi sekarang negara ini mencatat angka lima ribu kematian pertahun, yang diakibatkan oleh senpi di tangan sipil. “Negara kita sudah punya banyak bom waktu. Jika masih mau menambah, ya terserah,” katanya mengingatkan.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s