Pilih Playgroup Sesuai Kebutuhan Si Cimut [intisari]

Anda punya anak balita? Kesulitan menentukan Playgroup karena banyaknya pilihan?

Tak perlu bingung. Yang perlu Anda lakukan hanyalah: perhatikan beberapa faktor berikut ketika memilih.

1. Pilih playgroup yang visi dan misinya sesuai dengan kebutuhan Anda.

Sebelum memilih, tentukan tujuan Anda terlebih dahulu. Setiap playgroup memiliki visi dan misi yang bisa berbeda satu sama lain. Sebagian playgroup menekanakan aspek bahasa. Playgroup lainnya menonjolkan kreativitas dan kemandirian. Sebagian lagi menitikberatkan seni. Sebagian yang lain memfokuskan pada perkembangan motorik.

Jika Anda berencana untuk pindah ke luar negeri misalnya, Anda bisa memasukkan Si Cimut ke playgroup yang menyediakan kelas bilingual. Dengan begitu ia cepat beradaptasi di lingkungan barunya nanti. Jika Si Cimut masih berjalan doyong di usia yang semestinya sudah bisa berjalan tegak, Anda bisa memilih playgroup yang menekankan kemampuan motorik kasar.

Untuk tujuan ini, Anda tentu harus rajin mengumpulkan informasi mengenai playgroup di sekitar Anda. Meskipun bukan cara yang paling baik, tetapi informasi tutur-tinular bisa membantu Anda memperoleh gambaran lebih dekat.

2. Jangan jadikan gengsi sebagai pertimbangan.

Anak-anak punya banyak keinginan. Tapi sebagai orangtua, Anda perlu menilai kemampuannya. Jangan hanya karena dia merengek, “Ma, Ma, aku ikut balet ya,” lantas Anda memasukkannya ke kelas balet.

Jangan hanya karena alasan gengsi lantas Anda memasukkan buah hati ke playgroup bilingual. Program bilingual kurang bermakna baginya jika kemudian tidak dilanjutkan di TK atau SD bilingual. Menurut Wining Rohani, psikolog pendidikan anak, dalam batas tertentu si kecil bisa mengalami kebingungan jika dalam percakapan sehari-hari bahasa itu tidak pernah digunakan. “Harus ada kesinambungan antara stimulasi yang didapat di kelas dan di rumah,” terangnya.

Resep ini juga sebaiknya Anda perhatikan ketika mempertimbangkan biaya playgroup. Bukan berita baru lagi kini banyak playgroup yang biayanya mencapai belasan juta rupiah. Menurut Wining, korelasi antara besarnya biaya dan stimulasi yang didapat anak tidak selalu berbanding lurus. “Bermain yang aman ‘kan enggak harus mahal,” jelasnya.

Tujuan bermain adalah untuk merangsang kreativitasnya menciptakan sesuatu. Hasil kreasinya bukan untuk dimiliki selamanya, melainkan hanya sementara. Jika bisa memanfaatkan bekas wadah susu dari rumah, mengapa harus pakai kertas baru? Justru dengan begitu kreativitas anak bisa dirangsang. Ternyata barang-barang bekas pun bisa dimanfatkan menjadi televisi atau rumah.

3. Pastikan Si Cimut mendapat perhatian secara personal di kelas.

Salah satu faktor penting yang mempengaruhi perkembangan siswa playgroup adalah rasio antara guru dan siswa. Anak-anak lebih membutuhkan perhatian karena mereka belum sepenuhnya bisa mengelola diri. Semakin banyak jumlah siswa perkelas, semakin berkurang perhatian guru terhadap Si Cimut. Akibatnya, guru tidak bisa membimbing secara pribadi. Padahal itulah yang Cimut butuhkan, apalagi jika dia mempunyai masalah perkembangan, seperti lambat bicara.

Menurut Metia Alfazuna, Koordinator Pembimbing Sanggar Kreativitas Bobo (SKB), semakin belia umur anak, semakin banyak tenaga yang diperlukan. Sebagai contoh, untuk anak usia 3 – 4 tahun, 1 guru bisa menangani 10 siswa tanpa masalah berarti. Sementara untuk anak-anak usia 2 tahun, 1 orang guru mungkin akan kewalahan jika harus menangani lebih dari 7 siswa.

Selain itu, keaktifan siswa pun juga perlu diperhatikan. Untuk merangsang perkembangannya, anak butuh ruang gerak yang leluasa. Jika para kurcaci sangat aktif di kelas, belingsatan ke mana-mana, maka rasio guru-siswa harus lebih besar lagi.

Pastikan juga Anda bisa memantau perkembangan Si Cimut. Bentuknya bisa berbeda-beda antar playgroup. Sebagai contoh, di SKB setiap siswa memiliki buku Catatan Harianku yang merekam, “Hari ini Si Daniel tidak memukul temannya lagi!”

Selain buku ini, untuk merangsang perkembangannya, setiap siswa juga punya Buku Reward. Jika Si Daniel tidak memukul temannya, dia mendapat satu cap yang akan dibawa pulang dan ditunjukkan pada mamanya. Dengan begitu, orangtua bisa mengevaluasi kemajuan anaknya.

4. Pastikan Si Cimut merasa enjoy.

Pilihlah playgroup yang lokasinya tidak terlalu jauh dari rumah. Anak-anak sangat mudah mengalami perubahan mood. Jika sebelum tiba di kelas, ia sudah berpeluh dan capek karena melewati jalanan yang macet, maka ia akan mudah uring-uringan, gampang nangis, dan minta ditungguin terus.

Menurut V. Etty Rusiwiani, Pimpinan SKB, usia playgroup adalah usia bermain. Anda tidak perlu memaksakan berbagai kegiatan kelas kepadanya. Meskipun semua konsepnya bermain, tapi anak-anak juga bisa merasa capek. Ada saatnya nanti anak masuk sekolah formal.

Anda juga tidak perlu memaksakan anak untuk mengikuti kelas di atas kemampuannya. Sebagai contoh, jika dia baru berumur 2 tahun, jangan paksakan dia masuk ke kelas yang lebih tinggi, hanya karena Anda merasa dia sudah pintar. Pada anak-anak, perbedaan usia sangat berkolerasi terhadap perbedaan kematangan. Dan tingkat kebutuhan masing-masing kelompok umur berbeda.

5. Coba dulu, baru beli!

Agar orangtua tidak “membeli playgroup dalam karung”, Metia menyarankan orangtua minta supaya anaknya diperkenankan mengikuti kelas percobaan untuk mengetahui bagaimana responnya. Dengan begitu, Anda tidak hanya berpegang pada iklan atau testimoni tutur-tinular, tetapi bisa menilai langsung bagaimana metode pendidikan yang diterapkan di kelas.

Ini merupakan hak setiap orangtua. Biasanya penyelenggara playgroup mengizinkan. Bahkan beberapa playgroup tertentu menyediakan kelas khusus yang memang dibuka tiap bulan tertentu untuk kelas percobaan secara gratis.

Sebagai orangtua, Anda tidak perlu malu untuk bertanya dan melihat-lihat. Ajak anak untuk jalan-jalan, lalu cari yang terbaik. Masing-masing playgroup punya kelebihan dan kekurangan.

Mengapa Cimut Butuh Playgroup

Setidaknya ada empat alasan mengapa Si Cimut butuh playgroup.

· Saat lima tahun pertama dalam masa pertumbuhannya, otak anak mengalami perkembangan yang sangat pesat. Dalam tinjauan psikologis, ini adalah periode di mana otaknya, ibarat kertas putih kosong, dengan mudah menerima stimulasi dari luar. Jika tidak dimanfaatkan dengan baik, masa emas perkembangan ini akan terlewatkan begitu saja.

Stimulasi yang utama tentu saja berasal dari orangtua, pengasuh, teman-teman, dan lingkungan si kecil. Namun kenyataannya, saat ini fasilitas ruang bersama makin sempit, terutama di kota-kota besar.

Sementara itu, kebanyakan orangtua sibuk bekerja, sehingga hanya punya sedikit waktu untuk bermain dengan si kecil. Ditambah lagi, interaksi sosial orangtua maupun si anak dengan lingkungannya sangat rendah. Bahkan dengan tetangga pun sering kali tidak kenal.

Karena alasan-alasan itu, si kecil memerlukan sebuah tempat, di mana ia bisa bersosialisasi dengan lingkungan dan bermain riang dengan teman-teman seusianya. Lingkungan seperti inilah yang bisa merangsang perkembangan bahasa, koginitif, psikomotorik, dan aspek sosial emosinya.

· Setelah lulus playgroup, anak akan lebih matang ketika masuk TK. Mereka lebih mudah mencerna apa yang dikomunikasikan guru, karena mereka sudah tahu aturan, seperti yang mereka pelajari dari playgroup. Di TK, mereka lebih cepat menerima pengetahuan dari guru karena sebelumnya sudah menyerap banyak informasi. Ini sangat diperlukan karena saat ini pendidikan TK menuntut anak sudah mengenal huruf.

Dalam kajian psikologi perkembangan anak, sebetulnya pada usia playgroup, si kecil belum waktunya “sekolah”. Namun karena di sekitarnya banyak objek yang berhubungan dengan huruf dan angka, maka tentu sayang jika itu tidak dimanfaatkan untuk mengenalkannya.

Di playgroup si kecil memang tidak diajari bagaimana cara menulis huruf A B C D, tetapi dikenalkan. Dan hal ini tidak akan membebaninya asalkan tetap dilakukan dengan cara bermain.

· Kadang secara tidak sengaja, orangtua menerapkan pola asuh yang keliru di rumah. Berdasarkan pengalamannya, Metia menuturkan pernah menan
gani siswa umur 4 tahun, tetapi bahasanya kurang lancar. Kosakatanya tidak begitu banyak. Sekali ngomong, kasar. Jika diajak bersalaman, malah menarik tangan dan memukul.

Setelah ditelusuri, ternyata masalah terletak pada pola asuh papanya yang terlalu kaku. Dia tidak pernah mau menanggapi anaknya bercanda. Jika si anak mau bermanja-manja, ia langsung ditepis. Setelah bersosialisasi di playgroup, ditambah komunikasi intensif antara orangtua dan guru, masalah itu sedikit demi sedikit bisa diatasi.

· Dengan mengantar Si Cimut ke playgroup, Anda pun bisa bertukar pengalaman dengan sesama orangtua mengenai permasalahan-permasalahan anak. Dengan kata lain, bukan hanya Si Cimut yang mendapat manfaat, tapi juga Anda.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s