Puisi Tanpa Kata [hikayat]

Ini sebuah hikayat kecil, tentang orang-orang remeh, di sebuah tempat yang tak begitu penting, pada sebuah masa yang tak perlu dicatat.

Seorang petani miskin, andaikan saja namanya Sumantri, suatu petang menemukan sebuah robekan kertas lusuh bertuliskan huruf-huruf Arab tanpa harakat. Ia buta huruf, tak bisa membacanya.

Ini pastilah robekan Alquran, pikirnya. Dengan penghormatan seorang penyembah Tuhan, ia membawa robekan kertas kusam yang penuh wibawa itu untuk disimpan di lemari. Entah syirik atau bukan, yang pasti, ia menyimpan kertas itu dengan sebuah doa agar anak-anaknya menjadi orang-orang sholeh, dan agar mereka tidak menjadi orang-orang miskin seperti dia.

Dari umur ke umur, ia terus menyimpan kertas itu sembari menyaksikan anak-anaknya tumbuh dewasa satu demi satu. Entah semu atau bukan, yang pasti, ia merasa doanya terkabul.

Ketika ia merasa sudah semakin tua dan tak lama lagi ajal akan datang, ia memberikan kertas itu kepada anak bungsunya, andaikan saja namanya Ibnusumantri. Ia berpesan agar lembaran itu disimpan baik-baik, seperti ia menyimpannya sepanjang hayat.

Dalam hati, si anak merasa geli karena ia tahu kertas itu adalah robekan sebuah buku pelajaran Bahasa Arab. Tapi dengan ketawadlukan seorang anak kepada bapak, ia menerima kertas kusam itu lalu menyimpannya, seperti pesan bapaknya. Bukan sebagai jimat, tetapi sebagai sebuah kenang-kenangan.

Dan ketika bapaknya benar-benar telah tiada, kertas itu menjadi barang berharga yang selalu mengingatkan dia kepadanya. Jika ia rindu kepada bapaknya, ia akan membuka kertas itu. Dan setiap kali membukanya, ia seperti sedang menikmati sebuah puisi. Puisi paling indah yang pernah ia baca. Puisi tentang cinta seorang bapak kepada anaknya. Seperti ratapan Ya’qub ketika kehilangan Yusuf, anak kinasihnya. Seperti doa Ibrahim ketika meninggalkan Ismail di tengah padang pasir yang penuh fatamorgana: “Tuhanku, jauhkan anak cucuku dari menyekutukan-Mu.”

Tiap kali membuka kertas lusuh itu, ia membayangkan dirinya berada di gerbang ajal lalu mewariskannya kepada anaknya. “Tuhanku, jauhkan anak cucuku dari menyekutukan-Mu.”

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s