Dengan Jari, Fifi Melihat Dunia [kisah]

NamanyaFitriana (34). Biasa dipanggil Fifi. Sekilas tak ada yang tampak aneh pada dirinya. Wajahnya cantik. Tawanya renyah seperti keripik singkong. Yang mungkin terdengar sedikit aneh, dia sehari-hari bekerja sebagai wartawan padahal matanya cacat. Mata kirinya buta total. Sementara mata kanannya hanya bisa melihat samar-samar.

=====

SebelumnyaFifi tak pernah membayangkan bahwa dirinya akan kehilangan penglihatan seperti yang ia alami saat ini. Sejak usia empat tahun, ia memang telah kehilangan penglihatan di mata kirinya. Meski begitu, ia tidak pernah mengalami kesulitan apa-apa.

Ia menyelesaikan pendidikan seperti kebanyakan orang seusianya. Tahun 1996, ia lulus dari UniversitasRiau, Pekanbaru, sebagai sarjana pendidikan bahasa Inggris. Begitu lulus, ia bekerja sebagai instruktur bahasa Inggris di sebuah perusahaan perminyakan di Pekanbaru.

Selama enam tahun ia bekerja di sana. Jalan hidupnya mulai berubah di akhir tahun 2002 ketika ibunya meninggal. BagiFifi, wafatnya sang ibu adalah cobaan berat dalam hidupnya. Bapaknya telah meninggal delapan tahun sebelumnya. Ibunya adalah tumpuan hidup sekaligus orang yang paling dekat dengan dia. Maklum saja, Fifi adalah anak bungsu dan satu-satunya anak perempuan di keluarganya. Tak mengherankan jika ia mendapat curahan kasih sayang lebih besar daripada saudaranya yang lain.

Sejak ibunya meninggal dunia, Fifi kerap merasa sedih. Beberapa bulan kemudian, ia merasakan penglihatan mata kanannya mulai menurun. Yang mulanya masih bisa membaca seperti biasa, tiba-tiba berubah total. Ia tidak lagi bisa melihat huruf. Semua benda yang dilihat menjadi hanya tampak samar-samar. “Mungkin karena pengaruh terlalu sedih itu,” katanya menduga.

Karena takut kondisinya semakin parah, ia berangkat berobat ke Jakarta. Di sini ia berkonsultasi dengan dokter-dokter mata di RS Cipto Mangunkusumo, RS Mata Aini, hingga RS Jakarta Eye Center. Dokter menawarkan operasi. TapiFifi tak berani menjalani operasi karena dokter tak bisa menjamin keberhasilannya. Risiko gagalnya amat tinggi. Soalnya, mata Fifi tinggal sebelah. Jika operasi gagal, maka ia otomatis akan buta total. “Saya tak mau ambil risiko,” katanya beralasan.

Ia kemudian mencoba pengobatan alternatif. Cara ini pun tidak membuahkan hasil. Saat menjalani terapi alternatif ini, ia bertemu seorang ibu yang menyarankan dia belajar huruf Braile. Waktu itu ia merasa sangat tersinggung. “Wong, saya ingin sembuh kok malah divonis buta,” ujarnya mengenang. Ia menganggap saran itu seperti menyuruh orang yang sakit keras untuk menyiapkan kuburan.

Belajar huruf Braile

Waktu itu ia masih belum bisa menerima jika dirinya buta. Ia tak bisa membayangkan dunia yang gelap tanpa cahaya. Jika ia buta, berarti ia tak bisa lagi bekerja, tak bisa lagi menikmati indahnya hidup. Ia betul-betul merasa tak sanggup menjadi orang buta. Menakutkan!

Sejak itu mentalnya merosot. Berbulan-bulan ia berada di Jakarta tanpa hasil. Selama itu, ia hanya berdiam diri di rumah, bengong sambil merenungi nasibnya yang nahas. Selama di Jakarta ia tak punya kegiatan apa-apa. Waktu itu ia menumpang tinggal di rumah tantenya di Klender, Jakarta Timur.

Kawan-kawannya di pekanbaru pun tidak ada yang ia beri tahu tentang kabarnya. Mereka hanya tahu Fifi pergi ke Jakarta untuk menjalani pengobatan. “Saya tidak mau mereka tahu apa keadaan saya lalu kasihan sama saya,” katanya beralasan.

Dalam kesedihan itu, ia berusaha lebih mendekatkan diri kepada Tuhan. Banyak-banyak salat dan berdoa. Pelan-pelan akhirnya ia lebih bisa bersabar dan menerima kondisinya. Ia yakin bahwa di balik setiap kesulitan pasti ada kemudahan. Bahwa di balik musibah pasti ada hikmah. Ia sangat yakin akan hal ini. Sebelumnya, ia merasa Tuhan memberinya cobaan terlalu berat karena harus kehilangan ibu, lalu penglihatan, kemudian pekerjaan, sekaligus kawan-kawannya. Semua terjadi berturut-turut dalam hitungan bulan.

Tapi, masalah tidak berhenti sampai di sini. Ia masih punya satu problem lagi. Selama delapan bulan di Jakarta ia tak punya kegiatan apa-apa. Saat itulah ia baru ingat kata-kata si ibu yang menyarankan dia belajar huruf Braile. Ia berpikir, mungkin dengan kegiatan itu, ia bisa melupakan kesedihannya.

Waktu itu ia tidak tahu apa itu huruf Braile. Sepanjang hidupnya ia tidak pern
ah berpikir menjadi orang tunanetra. Selama di Pekanbaru ia juga tidak pernah berurusan dengan tunanetra. Yang ia tahu, huruf Braile itu huruf timbul. “Waktu itu saya kira huruf Braile itu ya huruf biasa yang dicetak timbul gitu aja,” kenangnya menceritakan kekonyolannya.

Ia kemudian meminta seorang abangnya untuk mencarikan buku Braile di toko buku. Tapi hasilnya nihil. Abangnya sudah mengubek-ubek toko Gramedia tapi tak juga menemukan buku yang ia cari.

Dari salah seorang kerabatnya, Fifi akhirnya memperoleh info tentang Yayasan Mitra Netra (YMN), sebuah yayasan bergerak di bidang pendidikan dan pemberdayaan tunanetra. Ia kemudian menelepon kantor YMN, bicara langsung dengan IrwanDwiKustanto, WakilDirekturEksekutif yayasan.

Lewat telepon itu, Fifi curhat, menceritakan masalah yang ia hadapi kepada Irwan. Tentang kesedihan dan kecemasan yang ia hadapi. Dengan tenang, Irwan mendengar keluhan Fifi. Lalu dengan kalem, ia menghiburnya. Irwan mengatakan bahwa dulu ia pun menghadapi masalah seperti itu. “Saya waktu itu baru sadar ternyata pak Irwan itu juga tunanetra,” ucap Fifi.

Irwan tak lupa mengundang Fifi datang ke YMN. “Di sini kamu bisa belajar huruf Braile, bisa belajar pakai komputer yang bisa bicara,” kata Fifi menirukan Irwan.

“Komputer bisa bicara? Emangnya ada, Pak?” tanya Fifi heran. Ia menjadi semakin heran ketika Irwan mengatakan bahwa ia juga bisa browsing di internet. “Saya lebih heran lagi, wong saya enggak bisa ngelihat tulisan di monitor, kok bisa main internet,” katanya masih tidak percaya.

Tapi keheranan Fifi segera sirna begitu ia berkunjung ke YMN. Apa yang diucapkan Irwan ternyata bukan guyonan. Ia baru tahu ternyata memang ada komputer yang bisa bicara. Komputernya tidak beda dengan komputer pada umumnya. Bedanya, komputer ini telah dilengkapi alat dan program khusus yang bisa membaca. Tulisan yang tampil di monitor bisa diubah dalam bentuk suara. Karena itu, meskipun Fifi tak bisa membaca tulisan di monitor, ia tetap bisa bermain internet. “Saya betul-betul terkagum-kagum,” katanya.

Kunjungan ke YMN ini membuat semangat hidupnya bangkit kembali. Ternyata masih ada cara bagi tunanetra untuk tetap berkarya. Dunia belum kiamat hanya karena ia kehilangan penglihatan.

Sebelumnya, ia membayangkan tunanetra identik dengan peminta-peminta, gelandangan, atau paling-paling tukang pijit. Tapi di YMN, ia melihat sisi lain tunanetra. Di sini banyak tunanetra yang pintar dan berprestasi. Tak kalah dengan orang-orang yang berpenglihatan normal. (Mereka menyebutnya dengan istilah orang awas. “Kami juga orang awas. Tapi, awas nabrak!” kelakarnya)

Awalnya, ia belajar Braile dengan mendatangkan guru dari YMN yang datang ke tempat tinggalnya di Klender, seminggu sekali. Belakangan ia kemudian pindah kos di dekat yayasan, di daerah LebakBulus, Jakarta Selatan. Sejak punya kegiatan ini, ia mulai bisa melupakan kesedihannya.

Beberapa bulan kemudian ia memperoleh kesempatan untuk menjadi instruktur bahasa Inggrisdi YMN, dua kali dalam seminggu. Ia menganggap ini sebagai peluang untuk mengembangkan diri. Paling tidak, agar ilmunya tidak hilang atau mandek.

Setahun kemudian, ia mendapat tawaran yang lebih menantang lagi. Di akhir 2004, YMN bekerja sama dengan PT Samsung Electronics menerbitkan situs berita online di internet. Fifi ditawari menjadi wartawan.

Awalnya ia ragu karena ia sarjana pendidikan bahasa Inggris. Tidak punya latar belakang jurnalistik. Tapi keraguan ini berhasil ia kalahkan setelah ia mengikuti pelatihan jurnalistik khusus buat tunanetra. Instrukturnya dari KantorBeritaAntara dan Detik.com. Setelah mengikuti pelatihan selama seminggu, ia pun resmi menjadi wartawan, penulis artikel di www.mitranetra.or.id. Ini adalah profesi yang tidak pernah ia bayangkan ketika penglihatannya masih awas.

Ketemu Suami

Saat awal menjalani profesi ini, tak jarang ia menemui kesulitan karena kondisi matanya yang cacat. Satu kali ia punya janji mewawancarai Ariyani, KetuaHWPCI (HimpunanWanitaPenyandangCacatIndonesia), di daerah CempakaPutih.

Dari kantornya di Lebak Bulus, ia berangkat pukul 13.00 WIB bersama seorang temannya. Keduanya sama-sama penyandang cacat mata. Karena belum begitu hapal wilayah Jakarta, keduanya sempat tersesat. Tak terhitung berapa kali mereka bertanya kepada orang yang dijumpai di jalan. Semua jenis angkutan sudah mereka naiki, mulai dari bis, mikrolet, taksi, bajaj, sampai jalan kaki. Tapi, alamat yang mereka cari tak juga ditemukan. Setelahcapek muter-muter, akhirnya mereka sampai di tujuan pukul 17.00 sore. Empat jam sejak berangkat!

Meski sering menemui kesulitan, Fifi tak pantang surut. Ia bahkan mengaku ia menjadi lebih percaya diri dengan kondisinya sekarang. Ia bahkan merasa lebih pede dibandingkan dulu, ketika mata kanannya masih awas. “Enggak tahu kenapa,” katanya heran.

Setelah menjalani profesi sebagai wartawan, ia merasa semakin menemukan hikmah di balik cacat matanya. Sebagai wartawan, ia meliput banyak hal, perihal kecacatan secara umum. Bukan hanya soal tunanetra. Ia juga sering bertemu dan mewawancarai orang-orang terkenal. “Di situ saya melihat dunia baru. Ketemu orang-orang yang sebelumnya tidak pernah saya bayangkan,” ungkapnya. Meski matanya tinggal sebelah, prestasinya tak bisa dipandang sebelah mata.

Di YMN ini pula Fifi bertemu dengan belahan jiwanya, HardiPrayitno, sesama wartawan yang juga sama-sama berpenglihatan lemah. Mereka berdua jatuh cinta, meskipun keduanya tak bisa tahu wajah masing-masing dengan jelas. Awal April 2006, mereka berdua menikah.

Kini, bersama suaminya tercinta, Fifi menjalani hidupnya yang ceria. Sekarang tugas kewartawanannya juga lebih mudah karena ke mana-mana ia bersama seorang fotografer, yang sekaligus bertindak sebagai pemandu jalan.

Ia mengaku makin menemukan hikmah di balik cacat matanya. Dunia yang sekarang ia masuki ternyata tak kalah indah daripada dunianya yang dulu, ketika penglihatannya masih awas. “Begitu penglihatan saya berkurang, ternyata saya malah bisa melihat dunia yang lebih luas. Tuhan betul-betul sayang sama saya,” katanya.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s