Pak Moel Mendidik Lewat Menggambar

Oleh: M. Sholekhudin

Ia sarjana seni rupa tapi menghabiskan waktunya menjadi guru informal bagi anak-anak di daerah-daerah miskin. Dikenal sebagai guru nggambar, ia berkeliling dari satu provinsi ke provinsi lain. Lewat permainan coret-coret garis, ia membuktikan bahwa pendidikan tak harus mahal. Tak ada buku, pasir pantai pun jadi. Tak ada gedung, tas kain belacu pun jadi.

=====

Nama aslinya Moelyono (49), tapi ia lebih dikenal dengan sebutan “Pak Moel Guru nggambar”. Sejak berstatus mahasiswa di Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta, wong Tulungagung, Jawa Timur ini telah menunjukkan kepeduliannya terhadap orang-orang miskin. Waktu itu ia gemar membuat lukisan dengan tema kemiskinan. Namun cerita hidupnya berubah di pertengahan 1986 ketika ia ngeluyur ke Teluk Brumbun, sebuah daerah terpencil di bagian selatan kabupaten itu. Sesuai hobinya, ia datang ke sana dengan maksud mencari ide untuk lukisan dengan tema orang miskin.

Menjelang Desa Brumbun, ia bertemu dengan seorang ibu penjual ikan laut. Ketika si ibu bertanya tentang pekerjaanya, pria yang saat itu menjadi guru seni rupa di salah satu SMA swasta Tulungagung itu menjawab enteng, “Guru nggambar!”

Oleh si ibu, ia selanjutnya diperkenalkan dengan Katiran, Kepala SD sekaligus satu-satunya guru yang aktif mengajar di desa itu. Guru-guru lainnya tak betah karena lokasi desa amat terpencil dan banyak nyamuk malaria di situ. Di luar dugaan, Katiran mendapuknya untuk mengajar saat itu juga.

Tanpa bisa menolak, ia kemudian diajak ke kelas dan diperkenalkan kepada murid-murid sebagai guru baru. Di situ ia disambut seperti juru selamat. Anak-anak girang bukan main. Si ibu penjual ikan datang beramai-ramai dengan warga setempat, mengintip dari jendela kelas.

Dalam keadaan grogi, Moelyono mengajak anak-anak itu mengeluarkan alat tulis. Saat itu ia baru sadar bahwa mereka tidak memiliki buku gambar. Dalam keadaan bingung, ia lalu mengajak mereka pergi ke pantai, menggambar di atas pasir. Tanpa dikomando, anak-anak yang tidak memakai sepatu itu langsung berhamburan ke pantai.

Di sana mereka menjadikan hamparan pasir sebagai pengganti buku gambar, dan ranting kayu sebagai pengganti pensil. Mereka menggambar apa saja, mengeluarkan sesuatu yang ada di dalam pikiran mereka.

Pameran gedek

Waktu itu Moel tidak berpikir tentang teori macam-macam. Ia hanya mengajak anak-anak melakukan apa yang mereka sukai. Itu saja. Tapi di luar dugaan, kegiatan mengajar dadakan itu ternyata melahirkan gagasan penting. Permainan menggambar ternyata bisa dijadikan sebagai metode pendidikan yang menyenangkan buat anak-anak.

Ia lalu mengubah niatnya. Tidak lagi mencari ide lukisan tentang orang miskin, tetapi terjun dan ikut terlibat langsung ke dalam kehidupan mereka sehari-hari. Sejak itu tiap akhir pekan Moel mengayuh sepeda pancal, berangkat ke Teluk Brumbun yang jaraknya 28 km dari kota Tulungagung, ditambah jalan kaki melewati jalan setapak sejauh 5 km.

Satu kali terjadi kebakaran di Brumbun yang membumihanguskan beberapa rumah yang semuanya berdinding gedek (anyaman bambu) dan beratap rumbia (anyaman janur). Moel kemudian menggalang sumbangan. Berbekal solidaritas yang telah terbangun dari kegiatan menggambar, Moelyono juga berhasil menggalang bakti sosial, membangun kembali rumah warga yang terbakar.

Mulai saat itulah warga desa merasakan manfaat kegiatan menggambar. Anak-anak juga menjadi lebih menikmati kegiatan itu. Mereka menumpakan semua pengalaman mereka dalam bentuk gambar. Mulai dari pengalaman gotong royong menarik jaring, melihat orang berkelahi, hingga menyaksikan ayah mereka menyetorkan kayu gelondongan kepada mandor hutan.

Ketika rumah-rumah gedek yang habis terbakar itu selesai dibangun kembali, Moel mendapatkan ide untuk menyelenggarakan pameran kecil-kecilan buat warga desa. Rumah seorang warga disulap menjadi “galeri”. Dinding-dinding gedeknya dipajangi gambar hasil kreasi anak-anak.Warga berduyun-duyun melihat pameran itu. Tanpa mereka sadari, ternyata anak-anak mereka selama ini telah mengalami kemajuan pesat dalam hal kemampuan mengungkapkan diri, bicara, membaca, dan menulis.

Usai pameran gedek itu Pak Katiran mengusulkan agar pameran juga digelar di luar desa. Moelyono kemudian menghubungi kawan-kawannya semasa kuliah di ISI. Dengan bantuan mereka, gambar anak-anak Brumbun dipamerkan di Bentara Budaya Yogyakarta (BBY) pada Juli 1987. Kegiatan pameran ini diliput luas oleh koran-koran daerah maupun nasional.

Sejak saat itu kegiatan menggambar di Brumbun menjadi pusat perhatian. Lepas dari Yogyakarta, pameran dilanjutkan di kota Tulungagung. Saat pameran, sebagian pengunjung menyumbang uang, baju seragam, buku bacaan, hingga selang air buat warga Brumbun. Setelah kedua pameran itu, warga desa maupun anak-anak semakin yakin bahwa kegiatan menggambar bisa dijadikan cara membangun desa.

Sekolah tas belacu

Sejak ramai diberitakan media massa, Moelyono menjadi terkenal di kalangan para aktivis sosial. Mereka menggelar diskusi, menulis makalah, menganalisis, dan mengajukan teori-teori ilmiah atas apa yang ia lakukan. Padahal ia sendiri tak berpikir tentang teori macam-macam. Ia hanya melakukan apa yang ia anggap perlu dilakukan. “Pokoknya saya ya jalan gitu aja,” kata ayah dari dua anak ini.

Saat itu ia hanya manggut-manggut ketika para aktivis itu mengulas kegiatannya dengan istilah-istilah yang asing di telinganya. Dengan jujur ia mengaku waktu itu baru mengenal istilah metodologi, dialogis, transformatif, partisipatif, partisipatoris, dan semacamnya. Ia juga baru kali itu mendengar nama Paulo Freire, tokoh pendidikan asal Brasil yang kelak banyak mengilhaminya. Maklum saja, saat menjadi mahasiswa seni rupa, ia tidak pernah mempelajari teori-teori ilmu sosial.

Dari diskusi-diskusi itu, Moelyono kemudian banyak belajar tentang ilmu sosial. Belakangan ia tak kalah mahir dari para sarjana sosial jika bicara tentang teori-teori pendidikan masyarakat.

Berbekal pengetahuan baru dan pengalamannya, ia kemudian mendapat stipend (beasiswa) dari Ashoka Indonesia. Dana inilah yang kemudian ia pakai membiayai kegiatan menggambar. Sebelumnya, ia membiayai kegiatan itu dengan gaji yang ia sisihkan dari penghasilan sebagai guru SMA.

Ia juga kemudian dipercaya menjadi fasilitator koalisi dari beberapa LSM internasional di bidang pendidikan anak, salah satunya World Vision Indonesia. Sejak itu ia jarang berada di rumah karena harus berkeliling Indonesia, kebanyakan wilayah timur, mengunjungi daerah-daerah miskin. Di sana, ia mendirikan pusat-pusat pendidikan informal, yang di kalangan para aktivis LSM dikenal sebagai Early Childhood Care for Development (ECCD).

Di daerah-daerah miskin itu, ia berhasil membuktikan bahwa pendidikan bisa dilakukan di mana saja secara swadaya dan murah. Tanpa gedung pun, proses pendidikan tetap bisa dilangsungkan. “Esensi sekolah itu ya ini,” katanya sambil menenteng sebuah tas sederhana dari kain belacu. Agar bisa menjadi sebuah “sekolah”, tas itu diisi dengan materi pelajaran dan alat permaian. Kelas bisa diselenggarakan di mana saja. Di daerah nelayan, anak-anak bersekolah di pantai. Di daerah perkebunan seperti di Papua, anak-anak belajar di pondokan yang dibangun di tengah kebun.

Target pendidikan ala Moelyono bukanlah menyelesaikan kurikulum, tetapi pemberdayaan masyarakat setempat. Para orangtua dilatih agar bisa menjadi guru mandiri. Materi pendidikan disesuaikan dengan potensi budaya setempat. Buat anak-anak Papua misalnya, bercocok tanam ubi menjadi salah satu materi pelajaran. Sementara buat anak-anak pesisir, materi pendidikan berisi tentang laut dan ikan. Alat bantu belajar pun tak perlu mahal-mahal. Semua jenis mainan lokal bisa dimanfaatkan.

Pendek kata, dalam kamus Moelyono, kemiskinan bukan alasan untuk meniadakan pendidikan. Dengan pendidikan murah itulah Moel mencoba “menggambar” masa depan Indonesia yang lebih baik.

Boks

Tidak Sekadar Menggambar

Meski digelari guru nggambar, Moelyono berbeda dengan guru gambar pada umumnya. Dalam mazhabnya, menggambar adalah sebuah metode pendidikan. Yang utama bukan produk gambarnya, tapi proses pendidikan di dalamnya.

Ia memberi contoh, guru SD (di mana pun) dulu mengajari kita melukis pemandangan alam dengan dua buah gunung dan matahari terbit di tengahnya. Gambar yang indah mendapat nilai tinggi, sementara yang jelek mendapat nilai rendah. Dalam pandangan Moelyono, pelajaran menggambar macam ini hanya melatih kognisi (nalar). Murid harus meniru.

Apresiasi terhadap anak juga didasarkan pada produk visual. Karena orientasinya hanya pada produk visual, anak-anak yang gambarnya jelek menjadi kurang percaya diri dan akhirnya tidak menyukai kegiatan menggambar. Ini bisa berpotensi menimbulkan sikap frustasi dan bandel.

Dalam kegiatan menggambar ala Pak Moel, tidak ada gambar yang jelek. Gambar tidak dinilai dari tampilan visualnya tapi dari proses yang melatarbelakangi penciptaannya. Saat menggambar, anak-anak diajak menggunakan daya khayal untuk melatih afeksi (imajinasi, emosi). Kegiatan tidak dimulai dengan proses meniru tapi bermain membuat garis, coretan, dan bulatan. Mereka bebas menyelesaikan coretan itu menjadi apa saja sesuai daya khayal mereka. Setelah itu anak-anak diberi kesempatan untuk menceritakan apa yang baru saja mereka gambar. Dengan begitu mereka terlatih untuk percaya diri.

Ia memilih metode menggambar karena cara ini dinilai efektif, murah, mudah, dan secara intrinsik semua anak bisa melakukannya. Ia sengaja memilih target anak-anak, terutama usia prasekolah, karena menurutnya kelompok ini paling kurang diperhatikan. “Program wajib belajar ‘kan tidak sampai ke usia nol tahun. Apalagi di pelosok-pelosok itu tidak ada TK,” ujarnya beralasan.

Padahal usia ini adalah usia emas yang jika dilewatkan begitu saja, anak-anak akan kehilangan potensi diri dan mengalami, ia menyebutnya, cacat permanen. Pada usia dini anak-anak mempelajari banyak kemampuan, seperti gerak motorik, kognisi, afeksi, dan kepekaan pancaindera.

Menurut Moel, bermain saja tidaklah cukup. Anak-anak perlu bimbingan orangtua untuk mencerna pengalaman baru mereka dan menghubungkan pengetahuan baru itu dengan pengetahuan yang telah mereka miliki sebelumnya. Itulah sebabnya mereka perlu sekolah, meski tak harus berupa sebuah gedung. Sekolah bisa dibuat dari kain belacu, bekas spanduk, maupun karung tepung terigu.

Advertisements

2 thoughts on “Pak Moel Mendidik Lewat Menggambar

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s