Menurut Profesor Ini, Kata Doktor Itu [gedabrusan]

Tiap kali menulis artikel tentang obat tradisional, saya selalu teringat lelucon tentang suku Apache. Saya pertama kali membaca lelucon ini di (almarhum) majalah HumOr waktu masih kuliah. Setelah kenal internet, saya baru tahu lelucon ini beredar luas di dunia maya.

Alkisah, saat menghadapi musim dingin, warga suku Apache berbondong-bondong bertanya ke tukang ramal mereka yang sangat kondang. Si tukang ramal memberi jawaban, “Udara musim dingin nanti akan sangat dingin!” Maka semua orang mengumpulkan kayu banyak-banyak sebagai persiapan menghadapi musim dingin yang sangat dingin itu. Tapi ketika musim dingin itu datang, mereka kecewa. Ternyata musim dingin tidak sesuai dengan ramalan.

Tahun berikutnya, mereka datang dan bertanya lagi kepada si tukang ramal. “Musim dingin tahun ini akan sangat sangat dingin!” ramalnya lagi. Maka, lagi-lagi, semua orang mengumpulkan kayu bakar sebagai persiapan menghadapi musim dingin. Tapi, lagi-lagi, mereka kecewa karena ramalan meleset untuk kedua kalinya. Musim dingin ternyata tidak sedingin yang mereka bayangkan.

Tahun berikutnya, mereka datang lagi kepada si tukang ramal. Tapi kali ini dengan ancaman, “Kalau ramalanmu meleset lagi, kami akan mencincang tubuhmu!” Dengan badan gemetar, si tukang ramal minta waktu sehari untuk menegakkan ramalan. Ia diizinkan.

Malam harinya, ia diam-diam turun gunung, pergi ke kantor Badan Meteorologi dan Geofisika setempat, menyamar sebagai warga kota. Kepada pejabat jawatan itu ia bertanya tentang ramalan musim dingin nanti. Si pejabat menjawab, “Musim dingin tahun ini akan betul-betul sangat dingin!”

Bagaimana Anda tahu?” tanya tukang ramal.

“Karena sudah dua tahun ini penduduk suku Apache mengumpulkan kayu bakar!”

***

Ini persis seperti hubungan saling kutip di dalam ilmu tanaman obat. Para ilmuwan universitas meneliti tanaman obat, katakanlah daun kumis kucing, berdasarkan data empiris bahwa daun ini telah digunakan secara luas oleh masyarakat tradisional untuk mengobati penyakit ini dan itu. Begitu penelitian selesai, mereka menerbitkannya sebagai tulisan ilmiah. Lalu, orang-orang mengutip penelitian ini sebagai pembenar.

Advertisements

2 thoughts on “Menurut Profesor Ini, Kata Doktor Itu [gedabrusan]

  1. Salam kenal…Membaca tulisan sampeyan di atas, saya jadi ingat tulisan Ahmad Wahib tentang in searching for the meaning of religion, yang spiritnya hampir sama dengan maksud tulisan sampeyan di atas.Wahib bercerita bahwa ketika hendak memahami agama, yang dia dapatkan adalah agama menurut si anu, si itu etc, dan ketika hendak merumuskan agama menurut versinya sendiri, orang lalu bertanya tentang otoritas.Tentang kegelisahan Wahib dan tulisan anda di atas; saya bisa berkomentar demikian; bahwa memang sejenis quotation (sebagai pembenar) tentang obat-obatan spt tulisan sampeyan atau tentang agama seperti kegelisahan wahib, menurut saya memang diperlukan. Dalam banyak hal, misal menyangkut agama, quotation itu bisa dimaklumi pembenarannya karena itulah yang menghubungkan kita dengan tradisi awal agama. Soal tulisan ilmiah ttg obat2an dari profesor anu, doktor itu etc tentu muncul dan bisa di quot sebagai pembenar karena tradisi itu terutama yang terkait dengan tulisan, memang kurang berkembang dalam masyarakat tradisional. Intinya: saya, Wahib dan sampeyan mungkin harus ingat kalimat ini: Wa lam nastafid min bahtsina thula ‘umrina siwaan wa jam’na fihi qila wa qolu (pengetahuan dan ilmu kita cuman kliping perkataan si anu, si itu etc, makanya ada yang mengatakan ILMUWAN=TUKANG OPLOS).

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s