Irwanto, Berjuang di atas Kursi Roda [kisah]

Sehari sebelumnya, ia masih sehat wal afiat. Tapi sehari kemudian, akibat salah obat, hidupnya berubah total. Dari seorang yang sangat aktif, tiba-tiba langsung lumpuh.

Juli 2003 barangkali adalah bulan yang paling sulit dilupakan dalam hidup Irwanto. Tahun itu, karier dosen Universitas Indonesia dan Universitas Katolik Indonesia Atma Jaya ini sedang melesat. Waktu itu hidupnya lebih banyak dihabiskan di dalam pesawat terbang, mobil, dan hotel karena harus menghadiri berbagai undangan seminar atau ceramah. Tiap bulan ia pergi ke luar negeri dan berkeliling Indonesia.

Bulan Juli itu, ia dipercaya menjadi penanggung jawab sebuah <i>workshop</i> besar di empat kota yang diselenggarakan oleh Universitas Indonesia. Sebagai “lurah” acara, ia sering bekerja hingga larut malam, karena sibuk mengundang ahli dari Amerika Serikat, menerjemahkan, menyiapkan makalah, sampai mencari hotel.

Minggu tengah malam, 27 Juli 2003, menjelang acara digelar, ia merasakan ada sesuatu yang tidak beres di dadanya. Ada rasa nyeri seolah-olah otot dadanya ditarik. Rasa nyeri ini tetap tidak bisa hilang meskipun ia sudah melakukan latihan napas dan <i>push-up</i>. Atas saran Irene, istrinya, ia memutuskan pergi ke rumah sakit di dekat rumahnya di Bintaro, Tangerang. Waktu itu istrinya khawatir Irwanto terkena serangan jantung. Maklum, waktu itu badannya gemuk dan jarang berolahraga.

Di rumah sakit, ia langsung dibawa ke ICCU (<i>intensive cardiac care unit</i>), unit gawat darurat khusus untuk gangguan jantung. Waktu itu ia sempat bilang kepada dokternya bahwa besok pagi ia harus menghadiri acara.

Pagi harinya, ia masih sehat. Hanya, rasa nyeri di dadanya belum hilang meskipun ia sudah disuntik dua macam obat. Dokter mendiagnosis Irwanto mengalami penyumbatan pembuluh darah jantung. Begitu mendengar vonis itu, ia panik dan langsung menelepon panitia acara bahwa ia tidak bisa hadir. Tak ayal, istrinya pun ikut panik.

Dokter kemudian bilang kepada istrinya bahwa dia harus disuntik dengan streptokinase, obat penghancur sumbatan di jantung. “Tapi waktu itu saya tidak diajak ngobrol <i>sama</i> dokter,” kata doktor jebolan Purdue University, Amerika Serikat ini. “Mungkin saya enggak <i>dianggep</i> karena penampilan saya yang kayak gembel,” sambungnya. Perawat pun sampai keliru menulis jenis kelaminnya perempuan hanya karena rambutnya gondrong dan awut-awutan.

Siangnya ia segera diinfus dengan streptokinase. Dua jam kemudian ia merasakan sakitnya malah semakin parah. Tengkuknya terasa sakit. Gusinya berdarah. Badannya kaku, tidak bisa digerakkan. Gerakan ususnya berhenti. Sejam kemudian dokter baru datang lagi. “Saya waktu itu sudah <i>ngemu getih</i>,” katanya menggambarkan kondisi perdarahan di mulutnya yang sudah parah.

Melihat kondisi Irwanto yang malah parah, dokter pun ikut panik. Istrinya bingung bukan main. Ia sendiri hanya bisa bengong. “Saya betul-betul tidak tahu apa yang terjadi dengan diri saya hari itu,” ucapnya.

<b>Disangka mati</b>

Malam harinya keadaannya terus memburuk. Ia bahkan sudah diperkirakan akan meninggal tak lama lagi. Pastur bahkan sudah didatangkan, untuk memberi upacara kematian secara Katolik.

Tapi rupanya cerita masih belum berhenti. Kondisi tubuhnya tidak membaik tapi juga tidak meninggal. Kawan-kawannya, yang kebanyakan orang penting, datang menjenguk. Kiriman bunga terus mengalir. Setelah ia dijenguk para pejabat penting, termasuk menteri, pihak rumah sakit baru sadar bahwa pasien yang dirawat itu mestinya diajak bicara sebelum mendapat tindakan medis.

Tapi semua sudah terlambat. Esoknya pihak rumah sakit masih sibuk dengan dugaan semula bahwa Irwanto mengalami penyumbatan pembuluh darah jantung. “Tapi tetap tidak ada yang menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi pada diri saya,” ujarnya. Hingga berhari-hari di rumah sakit, kondisinya terus memburuk. Penyakitnya sendiri masih tidak jelas.

Setelah menjalani bermacam-macam pemeriksaan, diketahui pembuluh darah di bagian tengkuknya pecah. Sementara dugaan penyumbatan jantung juga masih dipertahankan. Obat-obat untuk serangan jantung masih terus disuntikkan. Bahkan, dokter bilang bahwa ia harus menjalani operasi di tengkuk. “Waktu itu badan saya sudah kayak <i>gedebok</i> (pelepah) pisang. Otak saya masih normal tapi badan saya lumpuh,” katanya.

Atas saran dari temannya, seorang wartawan kesehatan, Irwanto kemudian minta <i>second opinion</i>
ke ahli saraf dari
Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. Ternyata pendapat kedua ini bertolak belakang dengan pendapat rumah sakit. Irwanto dinyatakan tidak perlu menjalani operasi.

Karena merasa tidak puas, Irwanto akhirnya memilih <i>cabut</i> dan pindah ke rumah sakit di Kuningan, Jakarta Selatan. Begitu masuk rumah sakit kedua ini, ia langsung divonis terkena infeksi cytomegalovirus (CMV). Selama lima hari di rumah sakit, ia dikeroyok beramai-ramai oleh dokter spesialis penyakit dalam, jantung, paru, dan saraf. Ada yang datang siang hari, ada yang datang tengah malam. Tapi yang jelas, ia tidak diperiksa ulang dan tetap dinyatakan terinfeksi CMV. Plus penyumbatan jantung.

Di rumah sakit, Irwanto malah kelimpungan, tidak bisa tidur. Kondisinya terus memburuk. Ia betul-betul frustasi sampai menderita depresi berat. Ia sampai tidak mau melihat cahaya. Jika dijenguk kawan-kawannya, ia malah stres karena lampu harus dinyalakan. Tak cuma itu, ia semakin stres ketika sebagian kawannya malah bertanya tentang dosa yang ia perbuat.

Sekali lagi, di sini umurnya diperkirakan akan segera berakhir. Dokter bilang kepada istrinya bahwa infeksi sudah naik ke dada dan sebentar lagi akan menyerang otak. Itu artinya, ajal tak akan lama lagi.

Mendapat vonis seperti itu, akhirnya Irwanto nekat angkat kaki dari rumah sakit. Kali ini ia kapok dengan rumah sakit Indonesia. Akhirnya ia memilih pergi ke rumah sakit di Singapura. Baru di sinilah, ia merasa diperlakukan dengan baik. Begitu datang, ia dicek ulang secara menyeluruh. Pihak rumah sakit tidak langsung percaya begitu saja dengan vonis serangan jantung dan infeksi CMV dari dua rumah sakit sebelumnya. Jantungnya diperiksa lengkap.

Hasil pemeriksaan membuktikan bahwa ia sama sekali tidak menderita serangan jantung maupun infeksi CMV. Tapi dokter juga masih belum tahu penyebab sakit yang Irwanto derita. Mereka hanya tahu ada massa yang menekan di tengkuk. Dan, ini sama sekali tidak ada hubungannya dengan sakit jantung.

Pihak rumah sakit kesulitan mencari penyebabnya karena rekam medis dari rumah sakit sebelumnya tidak lengkap. Termasuk obat apa saja yang diberikan kepada Irwanto. Usut punya usut, dokter baru tahu penyebab kelumpuhan setelah diberi tahu bahwa di rumah sakit pertama, Irwanto disuntik streptokinase. Tak diragukan lagi, obat inilah biang keroknya.

<b>Berteman burung</b>

Di Singapura, depresi yang ia derita tidak hilang begitu saja. Jika mengingat dokter yang membuatnya lumpuh, ia merasa sangat jengkel, lalu badannya tiba-tiba menggigil dan kejang. “Kalau emosi saya enggak stabil, kelihatannya saya malah akan sengsara,” pikirnya waktu itu. Akhirnya, ia belajar pelan-pelan untuk memaafkan.

Untungnya, di Singapura ia punya banyak waktu untuk diri sendiri, untuk merenungkan hidupnya, dan belajar menerima kenyataan. Ia sadar, kalaupun keluar dari rumah sakit, hidupnya akan sangat tergantung kepada orang lain karena ia harus hidup di atas kursi roda.

Saat-saat sendirian di kamar rawat, ia juga sering “mengobrol” dengan seekor burung yang tiap pagi hinggap di dekat kamarnya. Selama berada di rumah sakit, ia juga banyak belajar dari pasien-pasien lain. “Banyak dari mereka yang lebih parah dari saya, tapi mereka tetap bersemangat,” katanya. Ini kemudian membuat semangatnya bangkit kembali. Dengan usaha mati-matian ia menjalani latihan fisik untuk menggerakkan tubuhnya yang telah lumpuh.

Pelan-pelan ia belajar menggerakkan jari, tangan, memakai baju sendiri. “Waktu belajar <i>makai</i> baju itu rasanya kayak <i>ngangkat</i> barang 50 kilo. Sakit <i>bener</i>! Tapi kalau enggak latihan kayak <i>gitu</i>, mungkin saya sudah lumpuh total,” kenangnya.

Saat awal belajar duduk di kursi roda, ia berkali-kali pingsan karena tekanan darahnya anjlok. Tapi dengan telaten, para perawat melatihnya sedikit demi sedikit. Awalnya cuma mampu bertahan 5 menit, lalu 10 menit, kemudian 15 menit, dan seterusnya. Di sini, ia juga belajar menggerakkan jari dan tangan dengan latihan menekan dan mengangkat beban. “Pertama kali latihan, rasanya kayak disuruh <i>ngangkat</i> truk,” kisahnya. “Sekarang saya bisa <i>ngangkat</i> empat kilo,” katanya sambil menunjukkan otot lengannya.

Selama sekitar dua bulan, ia dirawat di Singapura. Badannya yang semula gemuk, menjadi kurus kering karena bobotnya turun belasan kilogram. Dengan berbagai pertimbangan, ia memutuskan untuk kembali ke Jakarta akhir Oktober 2003.

Saat hendak pulang, dokter bertanya apakah Irwanto akan memperkarakan dokter yang menyebabkan ia lumpuh. Pihak rumah sakit menawarkan surat keterangan yang berlaku di penga
dilan.
Tapi Irwanto tidak menerima tawaran itu. Ia memfokuskan diri pada pemulihan kondisi fisiknya yang lumpuh. Ia hanya minta surat pengantar untuk perawatan lanjutan di Jakarta.

Selama tiga bulan di rumah sakit, ia harus mengeluarkan uang ratusan juta rupiah. Semua tabungannya ludes. Bukan itu saja, rumahnya pun sampai dilego untuk melunasi utangnya kiri kanan. “Yang penting, saya masih bisa balik dan menata hidup saya lagi,” ujarnya. Yang terpikir olehnya saat itu adalah merencanakan hidupnya ke depan. Ia masih harus menjadi kepala keluarga buat istri dan kedua anaknya yang masih bersekolah.

Sebelum sakit, ia sudah menjanjikan untuk menguliahkan anaknya di perguruan tinggi di luar negeri. Tapi begitu ia jatuh sakit, semua rencana diralat. Untungnya, anaknya pun bisa menerima kenyataan ini. “Kita sudah menjalani hidup sampai di sini. Tidak mungkin mundur lagi,” kata Irwanto menirukan ucapan anaknya waktu itu.

Ucapan anaknya ini menjadi pembangkit semangat yang luar biasa baginya. Ia bertekad akan membuktikan kepada anaknya bahwa ia pun tidak akan menyerah. Kakinya memang lumpuh, tapi otaknya masih segar bugar. Ia masih bisa produktif menulis, mengajar, memberi ceramah. Ia pun mulai menyusun cita-cita hidupnya lagi. Ia bertekad harus menjadi orang yang berguna, bukan hanya bagi keluarganya, tapi juga bagi masyarakat, seperti sebelum ia sakit.

Sambil terus melalukan latihan fisik, ia mulai lagi kegiatan membaca dan menulis. Saat awal-awal menulis di komputer, ia tidak menggunakan ujung jari, tetapi ruas jari-jari, sekenanya. Beberapa bulan kemudian, ia kembali aktif sebagai ketua Lembaga Penelitian Atma Jaya (LPA). Jika harus memipin rapat, ia melakukannya dalam keadaan berbaring.

Ia juga mulai aktif mengajar lagi meskipun harus memberikan kuliah dari kursi roda. Tak jarang, saat memberikan kuliah, kejangnya kambuh. Dalam sehari, ia bisa kejang 15 – 20 kali. Tapi ia tak pernah malu dengan kondisinya itu.

Setelah lumpuh, ia juga tidak bisa menahan buang air. Ngompol dan buang air besar di celana adalah bagian hidupnya sehari-hari. Karena itu, ke mana pun pergi, ia selalu sedia popok. Tiap tiga jam sekali, ia pergi ke kamar kecil. Nyeri di tubuhnya adalah makanannya sehari-hari.

Sejak lumpuh, ia juga menjadi sangat sensitif terhadap panas. Jika gerah di dalam mobil, ia bisa megap-megap karena <i>shock</i>. Karena itu, ke mana pun pergi, ia selalu membawa bekal handuk dan es batu untuk mendinginkan badan. Tapi semua kesengsaraan itu tidak membuatnya putus asa. “Saya menerima kesengsaraan itu sebagai bagian dari hidup saya’” katanya.

Secara bertahap, ia juga mulai menghadiri undangan ke luar kota, bahkan ke luar negeri, meskipun untuk naik turun pesawat terbang ia harus digotong. Ke mana-mana ia harus ditemani istri dan seorang perawat.

Satu kali, berita tentang kelumpuhannya menjadi <i>head line</i> sebuah harian ibu kota. Di luar dugaan, ternyata berita ini memaksa dia berperkara di pengadilan, dengan pihak rumah sakit tempat ia jatuh lumpuh. Ini sesuatu yang tidak pernah ia rencanakan sebelumnya.

Tapi belakangan ia melihat kasusnya sudah mulai melenceng dari tujuan semula. Yang terjadi waktu itu adalah perang antara dokter dan pasien, antara rumah sakit dan masyarakat. “Tujuan saya waktu itu hanya memberi pendidikan masyarakat bahwa pasien punya hak untuk <i>second opinion</i>. Orang terdidik seperti saya saja bisa begini, apalagi orang yang lebih awam,” tuturnya. Akhirnya, setelah melewati enam belas kali sidang tanpa hasil, akhirnya kedua pihak sepakat menyelesaikan masalah di luar meja hijau. Meski begitu ia tetap rajin menulis dan memberikan ceramah tentang hak pasien.

Selain itu, lewat Yayasan Pulih, ia juga rajin berbagi pengalaman dengan sesama penderita trauma. Di situ ia bukan hanya bertindak sebagai psikolog, tapi juga sebagai orang yang punya pengalaman langsung bergelut melawan trauma. Paling mutakhir, ia juga membagi ilmunya di UI dengan mendirikan Pusat Studi Disabilitas (kecacatan).

Buat dirinya sendiri, kelumpuhan itu banyak membawa hikmah. Ia mengaku, sebelum lumpuh dirinya seorang yang tidak sabaran. Apa saja ingin ia kerjakan sendiri. Tapi setelah hidup di atas kursi roda dan tergantung pada orang lain, ia banyak belajar untuk lebih penyabar. Ia juga lebih mampu mengendalikan emosi. “Saya sangat senang jika orang lain bisa belajar dari pengalaman saya,” ungkapnya mantap.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s