Jangan Sembarangan Minum Obat Kuat [intisari]

Penulis: M. Sholekhudin

Kalau saja ada penghargaan untuk kategori obat yang paling laku tapi penuh kontroversi, mungkin juaranya adalah golongan obat kuat. Bagaimana tidak, konsumen begitu fanatik menggunakannya, tapi kalangan dokter bilang khasiatnya mitos belaka. Banyak beredar di pasaran, tapi hanya beberapa yang punya izin. Banyak di antaranya bahkan tidak jelas apa isinya.

======

Dari namanya saja, golongan obat ini tidak jelas masuk kategori apa dalam kelas obat-obatan. Tak jelas apakah ia golongan afrodisiak, antidisfungsi ereksi, ataukah suplemen biasa. Yang jelas, semua diklaim bisa membuat pria loyo menjadi perkasa di atas ranjang. Padahal, “Masalah seks itu bermacam-macam,” kata dr. B. Harjono Djatioetomo, Sp. And. dari RS Omni Medical Center, Jakarta.

Pada laki-laki, problem seks yang umum dijumpai adalah disfungsi ereksi dan ejakulasi dini. Kedua jenis gangguan ini sama sekali berbeda dan membutuhkan perawatan yang berbeda pula. Disfungsi ereksi pun penyebabnya bisa bermacam-macam. Bisa karena faktor organik (misalnya penyakit kencing manis atau tekanan darah tinggi), bisa juga faktor psikis.

Tapi konyolnya, banyak orang berusaha menyelesaikan masalah seksualnya dengan minum obat kuat tanpa tahu masalah apa yang dihadapi. Lebih parah lagi, tanpa tahu isi obat yang sedang diminum.

“Biasanya orang minum obat kuat itu tujuannya agar bisa ereksi lebih lama, terus bisa <i>main</i> lebih lama, supaya bisa memuaskan pasangan dan memuaskan diri sendiri. Tapi di dalam medis, kita bedakan antara kuat ereksi dengan kuat <i>main</i> lama,” papar Harjono.

Jika seseorang punya masalah dalam proses ereksi, berarti ia membutuhkan terapi disfungsi ereksi. Kalau penyebabnya organik, dokter bisa meresepkan obat-obat disfungsi ereksi macam Viagra, Cialis, atau Levitra. Tapi jika penyebabnya psikis, yang dia perlukan adalah terapi psikis.

Pada orang-orang lanjut usia, biasanya masalah yang dihadapi adalah disfungsi ereksi organik. “Tapi kalau masih muda, sekitar 30-an tahun, itu biasanya lebih disebabkan karena faktor psikis,” kata Harjono. Ini memang bukan pedoman mutlak, tapi biasanya demikian.

<b>Isinya tidak jelas</b>

Di pasaran, obat kuat tersedia dalam puluhan hingga ratusan nama dagang. Siapa pun bisa mendapatkannya dengan gampang di toko-toko seks di pinggir-pinggir jalan hingga di toko-toko obat berizin. Produsennya sangat beragam. Sebagian diproduksi oleh pabrik-pabrik kecil dalam negeri seperti dari Cilacap, Banyumas, Bandung, atau Madura.

Sebagian yang lain diproduksi oleh produsen-produsen luar negeri yang masuk ke Indonesia secara ilegal, tanpa nomor registrasi. “Ini asli dari Cina, Mas!” kata seorang penjaga toko obat cina di kawasan Glodok, Jakarta, sambil menunjukkan sebuah kemasan obat kuat yang bertuliskan huruf-huruf Cina.

Di kalangan penjual maupun konsumen, komposisi yang tertera di kemasan obat kuat bukan soal penting. Malah mungkin mereka tidak peduli. Mereka justru lebih peduli dari mana obat itu berasal. Seolah-olah kalau obat berasal dari Cina atau India pasti mutunya lebih terjamin. Mereka tak ambil pusing dengan daftar komposisi yang tercantum di kemasan.

Sebagian merek mencantumkan kandungan yang biasanya berasal dari bahan-bahan alam. Biasanya tertulis dalam bahasa latin yang tidak dimengerti orang awam. Sebagian yang lain mencantumkan daftar komposisi, tapi dengan huruf yang tidak dipahami konsumen, seperti obat-obat “asli Cina” itu.

Umumnya obat-obat kuat itu diklaim seratus persen alami. Tapi, tidak sedikit yang terbukti klaim obat tradisional itu hanya usaha menipu konsumen. Buktinya sangat jelas. Tahun lalu Badan Pengawas Obat dan Makanan (Badan POM) menemukan 15 merek obat kuat yang terbukti dicampur dengan sildenafil sitrat.

Ingat sildenafil? Sekadar mengingatkan, zat ini adalah bahan aktif Viagra, obat yang diindikasikan untuk mengatasi disfungsi ereksi.

Untuk mengelabui konsumen, obat-obat ini juga dilabeli nomor registrasi fiktif. Semua merek tersebut mencantumkan kode TR diikuti oleh sederet angka akal-akalan. Kode ini biasa dipakai untuk obat tradisional yang terdaftar di Badan POM, padahal angka-angka itu seratus persen <i>ngarang</i>. Nama yang dipakai pun sangar-sangar (dan norak): Busur Perkasa, Vi-Gra, X-Mas, Scorpion, Pegasus Kuda, Pastigra, Kuda Mas, Spontan-On, dan lain-lain.

Campuran gelap obat kuat bukan hanya sildenafil sitrat. Bahan lain yang juga sering dipakai adalah metil testosteron. Senyawa kimia ini adalah hormon laki-laki yang biasanya diresepkan dokter untuk pria yang mengalami masalah penurunan gairah seksual akibat problem hormonal. Bukan untuk problem lain seperti disfungsi ereksi atau ejakulasi dini.

<b>Efek sugesti</b>

Seperti namanya, obat kuat punya akar kuat di masyarakat. Meskipun Badan POM telah menginstruksikan penarikan obat-obat kuat ilegal, konsumen tetap saja tidak terpengaruh. Mereka masih biasa saja mengonsumsi obat-obat kuat yang beredar di pasar gelap. Popularitas obat-obatan ini beredar secara “MLM” (mulut ke mulut), persis seperti keampuhan tangkur buaya, darah ular, lalat spanyol, cula badak, dan sebangsanya.

“Kalau yang <i>nyari</i> banyak, berati obat itu memang manjur. Kalau enggak manjur ‘kan enggak ada yang <i>nyari</i>,” kata penjual berlogika dan beralasan. Tentang masalah ini, Harjono berpendapat lain. Menurutnya, khasiat obat-obat kuat itu lebih dikarenakan sugesti yang tertanam kuat akibat mitos.

Dalam urusan seks, sugesti merupakan faktor yang sangat berpengaruh. Salah satu buktinya, banyak pasien yang mengaku menjadi lebih kuat di ranjang setelah minum “obat” dari dokter. Padahal obat itu hanya berisi plasebo, tepung saja. Di sini terlihat jelas, pasien menjadi lebih percaya diri hanya karena merasa telah minum sesuatu yang akan membuatnya perkasa.

Mitos ini semakin tertanam kuat karena testimoni yang tidak berimbang. “Kalau ada orang minum lalu merasa berhasil, ia akan cerita ke mana-mana. Tapi kalau gagal, diam <i>aja</i>,” kata Harjono.

Harjono mengibaratkan efek sugesti ini dengan berkendara. Bagi mereka yang percaya mitos-mitos ini, obat kuat seolah-olah Surat Izin Mengemudi (SIM). Jika tidak minum, ia akan dihantui ketakutan tidak perkasa di ranjang. Persis seperti orang yang selalu waswas ketika tidak membawa SIM, meskipun sepanjang perjalanan tidak ada razia polisi.

Harjono menandaskan, kalaupun benar-benar ada pengaruhnya terhadap kejantanan, obat-obat kuat hanya merupakan solusi instan dan sementara. Tidak memecahkan masalah utamanya.

Karena kompleksnya problem seks dan banyaknya permasalahan obat kuat, Harjono memberikan beberapa rambu.

Rambu pertama, kenali dulu masalah seks yang dihadapi, apakah penurunan gairah seksual, disfungsi ereksi, ataukah ejakulasi dini. Kalau masalahnya sudah jelas, cari penyebabnya, apakah faktor organik ataukah psikis. Ini penting dilakukan agar terhindar dari pemakaian obat-obat yang sebetulnya tidak perlu. Pemakaian obat yang tidak jelas, bukan saja mubazir, tapi bisa-bisa malah membahayakan peminumnya.

Ini bukan untuk menakut-nakuti, tapi memang demikianlah faktanya. Mau bukti? Baca saja koran-koran berita kriminal. Di situ, kita akan gampang menemukan berita tentang penenggak obat kuat yang harus dilarikan ke rumah sakit karena efek buruk yang sebelumnya tidak diperkirakan. Sambil senyum-senyum dan mengelus dada, kita bisa menemukan berita tentang pria yang penisnya mengalami tegang terus, tidak bisa tidur (priapisme), atau bahkan bapak-bapak yang ditemukan tewas di hotel bersama selingkuhannya, setelah minum obat kuat dicampur <i>energy drink</i>.

Rambu kedua, jangan membiasakan diri menggunakan obat sebagai penyelesai untuk semua masalah. Bisa jadi masalahnya bisa diselesaikan tanpa harus minum obat. Misalnya untuk keluhan ejakulasi dini. Secara salah kaprah, banyak orang awam mencoba menyelesaikannya dengan minum obat kuat padahal sebetulnya masalah ini bisa diatasi dengan teknik pengendalian diri. Obat kuat, baik dari golongan afrodisiak maupun antidisfungsi ereksi, tidak ada yang bekerja memperlambat ejakulasi.

Jika problem seks yang dihadapi jelas, terapi pun bisa lebih fokus. Mungkin saja penyelesaiannya bukan obat tapi, misalnya, pengendalian diri, komunikasi dengan istri, atau mungkin latihan fisik.

“Saya enggak pernah minum obat kuat dan enggak pernah punya masalah <i>tuh</i>. Saya bisa mengatur kapan mau ejakulasi. Kalau sudah mau <i>keluar</i>, saya alihkan pikiran saya ke sesuatu yang lain,” kata Gie, seorang bapak dari dua orang anak yang mengaku masih kuat di atas ranjang meskipun usianya sudah menjelang kepala lima.

Ada pasien yang punya masalah sulit ereksi, setelah ditelusuri ternyata penyebabnya ia rendah diri karena selalu khawatir tidak bisa memuaskan istrinya” kata Harjono. Untuk masalah-masalah seperti ini, tentu saja yang bersangkutan tidak memerlukan obat kuat. Yang ia perlukan adalah kepercayaan diri.

<b>Suplemen, bukan obat</b>

Rambu ketiga, jangan pernah minum obat kuat yang tidak jelas isinya. Sebaiknya hati-hati terhadap obat-obat yang diproduksi oleh produsen-produsen tak dikenal, seperti para pengoplos sildenafil sitrat yang produknya ditarik tahun lalu.

Sebagian orang beranggapan minum obat-obat sildenafil oplosan tidak berbahaya karena sama saja dengan minum Viagra. Anggapan ini tentu saja logika yang ngawur.

Baik sildenafil sitrat maupun metil te
stosteron termasuk golongan obat keras yang hanya bisa didapat dengan resep dokter. Jika digunakan secara sembrono tanpa indikasi jelas, kedua obat ini bisa saja menimbulkan masalah lain yang lebih parah. Sildenafil misalnya, tidak boleh diminum oleh pasien yang menggunakan obat golongan nitrat. Obat ini biasanya diresepkan dokter buat penderita gangguan jantung. Jika dua jenis obat ini bekerja bersamaan, tekanan darah peminumnya bisa anjlok tajam.

Begitu juga dengan metil testosteron. Jika dipakai tanpa indikasi, kelebihan hormon di dalam tubuh justru akan merusak kesehatan. Fungsi liver bisa terganggu. Bahkan, pada mereka yang punya bakat kanker, kelebihan hormon ini juga bisa mempertinggi risiko kanker.

Di luar itu, masih ada bahaya lain yang siap mengintai karena kita tidak tahu dengan tepat bahan kimia yang terdapat di dalamnya. Mungkin saja pengaruh jangka panjangnya merusak liver atau ginjal. “<i>Lha wong</i> isinya <i>aja</i> kita enggak tahu,” tandas Harjono. Bisa saja kandungan lain ini berinteraksi dengan sildenafil dan menghasilkan efek membahayakan.

Rambu keempat, jika ingin mencoba obat kuat, pilihlah obat yang komposisinya jelas dan terdaftar di Badan POM. Tidak semua obat kuat ilegal tentunya. Obat-obat yang legal ini biasanya banyak diiklankan terang-terangan di televisi atau media-media berpengaruh. Bukan di iklan baris, seperti obat-obat ilegal. Isinya biasanya berasal dari bahan-bahan tradisional seperti ekstrak ginseng, yohimbin, pasak bumi, tribulus, dan sebangsanya. Sekadar menyebut contoh merek dagang: X-Gra, Irex, Kuku Bima, dan yang paling gres New Padibu.

Tanaman-tanaman ini di kalangan medis memang telah diteliti mempunyai pengaruh terhadap kesuburan pria maupun sebagai afrodisiak. Meski demikian, menurut Harjono, efektivitasnya baru sekitar 50 persen. Karena itu, obat-obat ini masih masuk kategori suplemen, belum masuk “obat” dalam pengertian sebenarnya.

Sebagaimana obat tradisional lainnya, suplemen-suplemen ini bukan dimaksudkan untuk memberikan efek seketika, begitu diminum langsung <i>ngejos</i>. Khasiat suplemen-suplemen tradisional ini baru akan optimal jika diminum secara teratur dalam jangka waktu tertentu, katakanlah satu bulan.

Terakhir, tak perlu malu berkonsultasi ke dokter. Menurut pengamatan Harjono, biasanya pasien baru datang ke dokter setelah gagal mencoba berbagai macam obat kuat. Jika punya masalah seks, mereka lebih suka minum obat yang bisa dibeli bebas. Kalau bisa, tidak perlu pergi ke dokter. Obat-obat ilegal pun tidak masalah. Padahal, eksperimen dengan obat-obat yang tidak jelas bisa saja justru merugikan kesehatan.

Dengan berkonsultasi ke dokter, masalah bisa diketahui dengan jelas. Kalaupun perlu obat, obatnya dijamin jelas. Kandungannya diketahui pasti, indikasinya tertentu, cara pakainya gamblang, efek sampingnya juga tidak ditutup-tutupi. Berbeda dengan obat-obat kuat ilegal yang beredar di pasar gelap, isinya remang-remang, khasiatnya masih dipertanyakan, efek sampingnya juga kabur.

Lebih baik sedikit malu-malu di kamar periksa dokter daripada <i>malu-maluin</i> di atas ranjang.

Advertisements

One thought on “Jangan Sembarangan Minum Obat Kuat [intisari]

  1. Nice BlogSUKSES terus yah buat BlognyaSilakan mampir ke Blog kamihttp://sehatalaherbal.wordpress.comKAMI MENYEDIAKAN:1. BLACK JADE, GIOK hitam penguat, pembesar organ vital, meningkatkan kualitas mani dan kepuasan, badanpun sehat bugar2. PROPOLIS PLATINUM, (Anti Bakteri, Anti Virus, Anti Jamur, Antioksidan, Anti Radang, mengandung Flavonoid)Konsumsi cukup di tetes saja3. Kaos Kaki ANTI BAKTERI4. PAKAIAN PELANGSING yang membakar lemak lebih cepat.5. Produk PENGHEMAT BBM hingga 30% (120.000/packs)6. KLOROFILTerimakasih

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s