Pakai Obat Tradisional Harus Rasional [intisari]

Penulis: M. Sholekhudin

Sebagaimana obat modern, obat tradisional juga bisa menjadi obat sekaligus racun. Jika digunakan secara tepat, ia bisa menyembuhkan penyakit yang sulit ditangani oleh obat modern sekalipun. Tapi jika pemakaiannya salah, bisa saja penyakitnya malah tambah parah.

* * *

Obat tradisional, khususnya obat herbal, hingga sekarang masih sering menjadi bahan perdebatan seru yang tak kunjung habis. Para pengobat tradisional mendewa-dewakannya. Tapi kalangan dokter sering berargumen, “Belum ada buktinya!”

Tidak terlalu sulit mencari contohnya. Hampir tiap tahun muncul primadona baru di jajaran obat tradisional. Sebut saja buah mahkota dewa, lalu <i>virgin coconut oil</i> (VCO), kemudian buah merah, dan yang paling mutakhir, sarang semut.

Para pengobat tradisional biasanya mengangkat pamor tanaman primadonanya dengan testimoni para pemakai yang berhasil sembuh. Bagi mereka, pengalaman itu adalah bukti kemujaraban tanaman tersebut. Tapi kalangan dokter selalu bilang bahwa testimoni-testimoni itu belum bisa dijadikan sebagai bukti. Dalam pandangan dokter, yang dianggap sebagai bukti adalah uji klinis, bukan pengakuan orang perorang.

Bagi kebanyakan orang awam, perselisihan kedua kubu ini mungkin bisa membingungkan. Tapi jika kita bisa memahami logika ilmu kedokteran modern, kita akan mafhum. Ilmu kedokteran modern ditegakkan di atas data-data penelitian ilmiah. Dan penelitian ilmiah baru bisa dianggap sah jika telah memenuhi kaidah-kaidah statistik.

Bukan berarti pengalaman-pengalaman para pemakai itu hanya bualan atau omong kosong belaka. Namanya saja cerita. Kita boleh percaya, boleh juga tidak. Masalahnya, kesembuhan beberapa orang belum bisa mewakili populasi karena belum memenuhi kaidah statistik. Itu sebabnya pengakuan beberapa orang belum dianggap sebagai “bukti”.

Agar bisa setara dengan obat modern, obat tradisional harus harus melewati banyak tahap. Persis seperti obat modern. Kita ambil contoh kumis kucing (<i>Orthosiphon stamineus</i>). Secara empiris, tanaman ini sudah biasa dipakai kakek nenek kita sebagai obat tekanan darah tinggi. Pada tahap ini, derajat kumis kucing masih sebagai jamu.

Secara empiris, khasiatnya sudah diakui. Tapi belum ada bukti ilmiah yang mendukungnya. Masyarakat dipersilakan memakai, tapi dokter belum sudi meresepkannya. “Agar bisa diresepkan, obat tradisional harus punya bukti ilmiah dulu,” kata dr. Hedi R. Dewoto, Sp.FK, farmakolog Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia.

Supaya punya bukti ilmiah, tanaman ini harus diuji dahulu efeknya pada binatang coba. Jika terbukti aman dan menunjukkan efek penurunan tekanan darah, dokter baru akan mengakui khasiatnya. Tapi pada tahap ini pun dokter masih belum bersedia meresepkannya.

Kumis kucing baru akan dianggap setara dengan obat modern jika telah diuji pada manusia. Bukan hanya pada binatang coba. Tahapan inilah yang kita kenal sebagai uji klinis. Setelah lulus uji klinis, obat ini baru bisa setara dengan obat-obat modern antihipertensi seperti kaptopril, hidroklorotiazida (HCT), dan sebangsanya.

Begitu lulus uji klinis, obat tradisional bisa memakai baju fitofarmaka yang layak diresepkan dokter dan bisa masuk pelayanan formal seperti di rumah sakit atau puskesmas. Di Indonesia, baru ada beberapa gelintir fitofarmaka, seperti Tensigard Agromed (antihipertensi), X-Gra (antidisfungsi seksual pria), Stimuno (peningkat daya tahan tubuh), Nodiar (antidiare), dan Rheumaneer (antinyeri). Obat tradisional kategori ini sudah layak diresepkan karena memang sudah punya bukti klinis yang mendukung. Bukan sekadar pengakuan Pak Wayan atau Bu Susi.

<b>Bisa berefek buruk</b>

Selama ini obat tradisional diyakini tidak punya efek sampingan. Atau, kalaupun ada, efek sampingannya boleh diabaikan. Menurut Hedi, pandangan ini tidak sepenuhnya benar. Bagaimanapun, obat tradisional tetap bahan asing bagi tubuh.

Dalam ujian disertasinya di Institut Pertanian Bogor belum lama ini, Dr. dr. Aris Wibudi, Sp.PD, menceritakan sebuah kasus yang bisa menjadi pelajaran. Dia pernah menangani kasus pasien yang mengalami hipoglikemia berat akibat minum obat tradisional secara salah. Sebelumnya, pasien sudah mendapat obat antidiabetes dari dokter. Tapi tanpa sepengetahuan dokter, pasien juga minum obat tradisional yang berisi beberapa macam tanaman. Dua di antaranya adalah sambiloto (<i>Andrographis paniculata</i>) dan brotowali (<i>Tinospora crispa</i>).

Padahal kedua tanaman ini diketahui punya efek menurunkan kadar gula darah. Walhasil, bukannya sembuh, pasien justru mengalami hipoglikemia berat. Efek ini diyakini timbul karena kerja sinergi dari obat antidiabetes dari dokter, ditambah efek hipoglikemia dari sambiloto dan brotowali.

Kasus ini hanya salah satu contoh dari banyak kasus lain yang tidak sempat terdokumentasi. Efek buruk lain misalnya timbulnya perdarahan atau hipotensi berat setelah minum obat tradisional tertentu. Ini semua membuktikan bahwa jamu pun bisa menimbulkan efek buruk jika diminum tanpa hati-hati. Efek buruk ini sulit diperkirakan karena dokter pun tidak tahu bagaimana mekanisme kerja obat tradisional di dalam tubuh.

Ini memang salah satu kekurangan obat tradisional. Berbeda dengan obat-obat modern yang cara kerjanya diketahui jelas. Kita bisa membandingkan antara sari kumis kucing dengan kaptopril atau HCT. Baik kaptopril maupun HCT punya berjibun data penelitian yang menunjukkan mekanisme kerjanya.

Kaptopril diketahui bekerja menurunkan tekanan darah dengan cara memperlebar dan memperlentur pembuluh darah. Sedangkan HCT menurunkan tekanan darah dengan cara mengurangi volume cairan di dalam pembuluh darah. Cara kerja kedua obat ini telah diketahui jelas. Tapi pada kumis kucing, mekanisme kerjanya masih sebatas dugaan.

Para peneliti belum bisa memastikan cara kerjanya karena kandungan obat tradisional jauh lebih kompleks daripada obat modern. Sebagai gambaran, dalam sehelai daun kumis kucing terdapat puluhan hingga ratusan macam senyawa fitokimia (fito: tumbuhan). Begitu pula di dalam buah pace, pare, mahkota dewa, buah merah, dan sebagainya. Lain di buah, beda di akar. Sebagian besar senyawa fitokimia ini tidak diketahui strukturnya. Apatah lagi mekanisme kerjanya. Semuanya masih gaib.

<b>Isinya bermacam-macam</b>

Menurut Hedi, penelitian-penelitian obat tradisional hingga sekarang kebanyakan masih dalam tahap farmakodinamika. Maksudnya, para peneliti hanya menguji ada tidaknya efek tertentu pada hewan coba. Misalnya, apakah memang benar ekstrak buah mahkota dewa mempunyai efek menurunkan kadar gula darah pada binatang coba.

Karena itu, penelitian-penelitian tersebut belum bisa menjawab pertanyaan lebih lanjut: senyawa apa yang punya efek menurunkan kadar gula darah; bagaimana strukturnya; dan bagaimana mekanisme kerjanya. Semua masih samar-samar.

Kebanyakan penelitian masih berhenti sampai di sini. Ini terjadi pada hampir semua tanaman obat. Para peneliti baru bisa membuktikan bahwa ekstrak buah pace memang bisa menurunkan tekanan darah. Tapi mereka hanya bisa menduga-duga cara kerjanya di dalam tubuh. Masih <i>wallahu a’lam</i>.

Bahkan sediaan fitofarmaka yang layak diresepkan dokter pun masih belum jelas betul mekanisme kerjanya. Kandungan aktifnya masih sebatas dugaan. Mekanisme kerjanya pun masih kira-kira. Kalapun para peneliti mengetahui kandungan fitokimianya, kebanyakan masih sebatas golongan umum. Misalnya alkaloid, flavonoid, antioksidan, minyak atisiri, asam amino, dan sejenisnya. Nama-nama ini bukanlah nama sebuah senyawa fitokimia tertentu, tapi nama golongannya. Jika dianalogikan dengan orang Indonesia, nama-nama ini adalah nama suku, bukan nama orang. “Alkaloid itu jenisnya sangat banyak. Flavonoid juga begitu,” ujar Hedi.

Jika suatu tanaman mengandung alkaloid, tidak berarti ia pasti berkhasiat sebagai obat diabetes atau hipertensi. Begitu pula, jika suatu tanaman mengandung antioksidan atau flavonoid, tidak otomatis ia punya efek antikanker. Sama persis seperti logika kita sehari-hari. Orang Madura tidak otomatis berprofesi sebagai penjual sate. Orang Padang tidak mesti punya warung padang.

<b>Menyimpan potensi</b>

Kompleksitas kandungan fitokimia ini di satu sisi memang menimbulkan masalah bagi peneliti. Tapi di sisi lain, hal ini justru menjadi rahasia yang menantang. Jika dokter mengatakan belum ada buktinya, itu sama sekali tidak berarti tanaman tersebut tidak berkhasiat. Bisa saja tanaman tersebut memang berkhasiat. Masalahnya, belum ada penelitian yang mendukung.

Buktinya melimpah. Banyak obat modern yang awalnya adalah obat tradisional. Kita bisa menyebut contoh vinkristin, vinblastin, digitalis, artemisin, morfin, kodein, dan masih banyak lagi. Semua nama ini merupakan contoh senyawa tunggal yang masuk kategori obat modern.

Vinkristin dan vinblastin, dua senyawa antikanker, diisolasi dari tapak dara (<i>Vinca rosea</i>). Digitalis, obat jantung, berasal dari tanaman <i>Digitalis purpurea</i>. Artemisin, obat antimalaria, berasal dari tanaman <i>Atemisia annua</i>. Morfin, obat penekan sistem saraf pusat yang sering disalahgunakan itu, berasal dari tanaman opium (<i>Papaver somniverum</i>). Dari morfin, para ilmuwan kemudian mengembangkan kodein yang biasa dipakai sebagai obat batuk. Semua contoh ini membuktikan bahwa tanaman obat punya potensi menghasilkan senyawa tunggal untuk obat modern.

Dalam pandangan Hedi, salah satu kendala penelitian obat tradisional adalah masalah waktu dan biaya. Agar jamu bisa naik kelas menjadi obat modern yang diketahui mekanisme kerjanya, penelitiannya membutuhkan waktu hinga dua puluhan tahun. “Biayanya <i>gak kebayang, deh</i>!” ucap Hedi sambil geleng-geleng kepala. Lebih susah lagi, para peneliti sejauh ini biasanya bekerja sendiri-sendiri, tidak fokus meneliti suatu tanaman tertentu mulai dari A sampai Z. “Jadi, kalau sekarang kita ditanya bagaimana mekanisme kerjanya, itu masih jauh,” tandasnya, msih dengan geleng-geleng kepala.

Artinya, kita tidak perlu tergesa-gesa menyimpulkan bahwa tanaman anu pasti punya khasiat anu. Tapi, kita juga tidak boleh meremehkan dan menganggap bahwa khasiat tanaman obat hanya mitos belaka. Semua harus dipandang secara rasional dan objektif.

Bisa saja suatu saat nanti kita berhasil mengisolasi obat antihepatitis dari meniran atau temu lawak. Siapa tahu nanti kita bisa menemukan obat antikanker dari buah mahkota dewa, atau obat anti-HIV dari buah merah.

Kita boleh berharap ‘kan?

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s